
Alvarendra membawa Prima ke ruang kerjanya setelah Prima memeriksa keadaan Aera yang masih tertidur,Alvarendra tidak berbicara apapun saat ada di dalam kamar agar tak membangunkan Aera.
Dia bahkan menyuruh orang tuanya berbalik pergi dari kamarnya dan meminta melihat Aera nanti setelah ia bangun.
Alvarendra duduk berhadapan dengan Prima yang ikut merasakan ketegangan dari raut wajah temannya itu.
"Apa dia baik - baik saja?"
Tanya Alvarendra langsung pada intinya,Prima menghela nafas mengetahui Alvarendra sedang khawatir setengah mati.
"Dia baik - baik saja,hanya kelelahan tapi..."
Prima sengaja memancing ekspresi yang lebih ekspresif dari temannya
"Tapi?"
Alvarendra mulai tak sabar dengan penjelasan Prima yang menggantung
"Dari ceritamu pada dokter jaga di IGD,nampaknya Aera mempunyai serangan panik"
Jelas Prima,serius kali ini
"Serangan panik?"
Alvarendra semakin khawatir dengan diagnosa Prima.
"Ya,serangan panik yang membuat dia cemas dan takut berlebihan hingga kesulitan bernafas hingga tak sadarkan diri.Ternyata Aera juga berkunjung beberapa kali ke psikiater sebelumnya"
Prima mengeluarkan selembar rekam medis milik Aera dan menyodorkannya pada Alvarendra yang langsung meraihnya meski dia sama sekali tak mengerti apa yang tertulis di kertas itu.
"Separah itu kah? Apa penyebabnya?"
Cecar Alvarendra pada Prima yang masih nampak tenang menikmati kegelisahan Alvarendra yang jarang ia lihat.
"Dr.Grace berbincang denganku sebentar sebelum kemari,dia psikiater yang menangani Aera beberapa bulan lalu.Aera punya trauma hebat akibat kecelakaan yang merenggut nyawa Ayah dan Adiknya,sejak saat itu Aera berkendara dengan cepat karena tak ingin mengingat hal itu ketika berkendara.Dia juga menutup rapat perasaannya karena takut melukai perasaan ibunya.Baginya menangis tak membuat apapun lebih baik,dan membuat orang - orang yang berniat menghancurkannya senang."
Alvarendra memegangi kepalanya mendengar penjelasan panjang Prima.
"Itu mengapa dia tak ingin aku melihatnya menangis"
Alvarendra mulai mengerti sikap Aera selama ini,sikap dinginnya adalah benteng agar dia merasa aman.
"Kau mulai tertarik padanya ?"
Prima mulai menilisik hati Alvarendra.
Alvarendra memandang temannya itu tajam,dia ingat beberapa minggu lalu dia mengumpat kesal karena menikahi orang yang tak dia kenal.
"Dia menarik bukan?tak semudah wanita lainnya?"
Prima tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang rapih di hadapan Alvarendra.
"Awalnya,aku hanya ingin membuatnya menyesal telah menikah denganku sampai Javeline mengkhianatiku."
Alvarendra membuka suara dengan nada pasrah,dia tahu betul Prima yang hanya sedang meyakinkan feelingnya itu.
"Aku pikir,aku hanya menjadikannya pelarian,tapi setiap melihat gerak geriknya hatiku berdesir.Dan tiap mendengar isakannya hatiku terasa sedih sekalipun aku tak tahu apa yang membuatnya sedih "
Alvarendra menunduk mengakui perasaannya sendiri.
"Hahaha! Baru kali ini aku mendengarmu seperti pujangga menceritakan perasaanmu pada seorang wanita!"
Prima tak dapat menahan rasa geli di hatinya lagi melihat Alvarendra yang sudah jadi budak cinta.
"Diam !"
Satu sentakan itu berhasil membuat Prima merapatkan mulutnya meski hatinya masih ingin tertawa kencang.
"Aku kesulitan membaca keinginannya,dan nampaknya dia sama sekali tak menyadari perasaanku padanya"
Desah Alvarendra sedikit kesal,membuat Prima kembali terkekeh namun langsung kembali menutup rapat mulutnya saat Alvarendra menatapnya tajam
"Maafkan aku,tapi aku baru kali ini melihatmu kewalahan menghadapi seorang wanita"
Ujar Prima sambil tersenyum lebar
"Seperti yang kau bilang barusan,dia tak semudah yang lainnya"
Menatap lurus pada Prima,berharap temannya memberikan saran yang baik.
"Kau sudah mengungkapkan perasaanmu?"
Tanya Prima dengan wajah serius
"Aku sepertinya sudah mengungkapkannya"
Alvarendra nampak sedikit berpikir
"Kau tidak mengatakannya dengan nada mengancamkan?"
Tahu persis ego Alvarendra yang masih saja tinggi
Alvarendra mengusap wajahnya kasar,mengiyakan ucapan Prima itu.
"Saat itu situasinya sedang kacau"
Alvarendra membela dirinya.
"Itu tak termasuk hitungan kalau begitu"
Ucap Prima menyadarkan tubuhnya di kursi
"Dia sepertinya menganggap aku sedang bermain-main dengannya,dia masih mengingat ancamanku untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan cemburu pada Javeline.Tapi aku sudah tak lagi bersama Javeline,seharusnya dia mengerti"
membaca kembali penolakan dari sikap Aera padanya sambil memejamkan mata.
"Lakukan perlahan,buat dia nyaman bersamamu dan membutuhkanmu lebih dari sekedar suami pura-puranya"
Ucapan Prima membuat Alvarendra kembali menatapnya tajam
"Hey! aku ini suami sahnya!di mata agama dan hukum!"
tak terima dengan sebutan suami pura - pura untuk dirinya,Prima mengangkat bahunya santai.
"Lalu apa sebutan yang tepat? kau tak memiliki hatinya apalagi tubuhnya"
Ucapan Prima lagi - lagi menancap tepat di hatinya.
"Pergilah! kau sama sekali tak membantu!"
Mulai jengah dengan ucapan - ucapan sahabatnya itu.
Prima beranjak berdiri dan tersenyum pada Alvarendra yang masih memasang wajah sebal.
"Buat dia nyaman dulu,dan jangan biarkan dia mengendarai mobil dulu"
Saran terakhir Prima sebelum pergi dari ruang kerja Alvarendra.
Alvarendra menanamkan saran sahabatnya itu dalam pikirannya.Mungkin dia harus lebih halus mendekati Aera dan mulai mengesampingkan gengsinya,toh Aera adalah istrinya saat ini dia tak perlu ragu lagi untuk mendapatkan hati Aera.
Tak ada yang lebih berhak dari dirinya untuk memiliki hati Aera seutuhnya,meski tak semudah yang dia bayangkan.