
Aera tak bergeming sedikitpun saat Alvarendra masuk ke kamar.
Pengorbanannya untuk menikahi pria yang sama sekali yang tidak mencintai terasa sia - sia karena ibunya sudah pergi.
Alvarendra duduk di tepi tempat tidur sambil menatap lekat Aera yang terdiam dengan tatapan kosongnya,ada perasaan tak nyaman yang ia rasakan saat ia melihat Aera.
Dia melirik kaki Aera yang penuh dengan darah yang sudah mengering,ada perasaan bersalah di hatinya mengingat kejadian semalam.
Alvarendra meraih kotak obat di dalam laci dan melemparkannya tepat di pangkuan Aera,namun Aera masih mematung.
"Obati kakimu"
Aera menatap kotak obat itu dan menyimpan kotak obat itu disampingnya,dia beranjak berdiri dan duduk di depan laptopnya tak menghiraukan Alvarendra.
Aera mengalihkan kesedihannya dengan mulai mendesain lagi dan lagi,sikapnya itu membuat Alvarendra merasa frustasi.
Namun Alvarendrea masih enggan menunjukan perhatian pada wanita yang ia ragukan keberadaannya,dan memilih membiarkan Aera.
****
Selama dua hari Aera hanya berkutat dengan laptopnya tanpa mempedulikan siapapun,dia bahkan menolak makanan yang dibawakan pelayan untuknya.
Hal itu membuat khawatir Tuan dan Nyonya Jayadi.
Tuan Dian mondar mandir di depan istrinya yang menatap tiap gerakannya dengan hati gelisah.
"Sayang,sepertinya Aera sangat terpukul.Dan aku melihat rendra tak menghiraukannya dan tetap bekerja menggantikanmu beberapa hari ini"
nada kekhawatiran terdengar jelas dari Wanita tengah baya yang masih nampak anggun dengan tatapan penyanyangnya.
Tuan Dian duduk di samping istrinya menghela nafas berat
"Aku merasa bersalah telah menikahkannya dengan Rendra,anak itu benar - benar tidak bisa bersikap lembut pada Aera"
Bagaimanapun pernikahan putranya dengan Aera adalah hasil keputusan sepihaknya,dan dia sekarang menyadari siapa korbannya dalam keadaan ini.
Di tengah kerisauan hati mereka,Alvarendra pulang menyapa kedua orang tuanya.
Dia melihat kerisauan di mata kedua orang tuanya dan duduk dihadapan mereka.
"Ada apa?"
tanya Alvarendra seraya melepas jasnya.
"Rendra,kau harus bisa menghibur Aera"
tegas Tuan Dian
Alvarenda mendesah muak mendengar nama wanita yang dia anggap merusak rencana masa depannya bersama Javeline.
"Kenapa?aku menikahinya karena Ayah menyuruhku,dan aku tidak mencintainya sama sekali.Hatiku hanya untuk Javeline!"
Tuan Dian menggebrak meja keras,membuat istrinya terperanjat kaget dan menahan lengan suaminya itu.
"Setidaknya,saat ini lakukan karena kau menganggapnya sesama manusia!"
Alvarendra menciut dengan nada ayahnya yang mengeras
"Rendra,Aera sudah tak punya siapa-siapa lagi.Dia sangat terpukul dengan kepergian ibunya,setahun yang lalu bahkan dia harus kehilangan adik dan Ayahnya dalam sebuah kecelakaan...setidaknya hibur dia karena kau merasa iba."
Hati Alvarendra bergetar mendengar kisah pilu Aera yang baru dia ketahui dari ibunya,dia mengepalkan tangannya.
Dengan sikap baiknya pada Aera,Alvarendra merasa sudah mengkhianati Javeline kekasihnya.Namun disisi lain,hati nuraninya tersentuh mendengar cerita Aera yang menyedihkan.
"Aera tidak makan atau minum selama dua hari,dia juga tidak berbicara apapun sejak pemakaman ibunya.Ibu khawatir dia akan jatuh sakit.."
Ibu Alvarendra mendekap tubuhnya sendiri penuh rasa khawatir,dia tahu persis gadis seusia Aera seharusnya sedang ceria bercengkrama dengan teman - temannya.
Alvarendra semakin bergetar,dia tak menyadari itu karena dia berangkat dan pulang di malam hari tanpa memperhatikan Aera.
Mata Alvarendra berlarian,mengingat bahwa gadis dikamarnya itu bahkan tak tidur sejak kejadian itu.
Dia berdiri dihadapan orang tuanya,tak menjawab apapun dan bergegas menuju kamarnya.
Sikap itu membuat ibunya semakin khawatir menyangka bahwa anaknya tidak setuju untuk menghibur Aera.
Sesaat sebelum Alvarendra pulang,Aera berdiri dengan gontai menuju lemari pakaian besar di sudut kamar lalu masuk ke dalam sana.
Dia meringkuk di antara baju - baju yang bergantungan di dalamnya,dia menangis terisak di dalam sana dan terus memanggil ibunya.
Aera tak ingin seorang pun melihat air matanya,dia tak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun.
"Ibu kenapa kau pergi secepat ini?aku tak punya siapapun lagi sekarang!"
Dia menunduk dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan,sampai Alvarendra membuka pintu lemari perlahan membuat Aera segera menghapus air matanya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Alvarendra menatap Aera yang memalingkan wajahnya dengan sedih.
Aera tak menjawabnya,menahan sisa isakannya agar tak terdengar Alvarendra.
"Menangis?"
tebak Alvarendra masih menunggu respon Aera,namun Aera masih tak bergeming.
Alvarendra frustasi dengan sikap Aera,dia menarik tangan Aera dan meletakan tubuh Aera hingga terduduk di tepi tempat tidurnya.
Aera masih menyembunyikan wajahnya yang sembab,tubuhnya semakin kurus dan terasa ringan saat Alvarendra menariknya.
Alvarenda tak ingin menunggu respon Aera lagi,dia membawa kotak obat dan berlutut meraih kaki Aera.
Aera sempat menarik kakinya enggan,namun Alvarendra menahan kaki Aera dipangkuannya dan mulai mengobatinya.
"Menangislah,aku tak mendengar dan melihatmu"
Alvarendra fokus mengobati telapak kaki Aera yang penuh dengan luka.
Ucapan Alvarendra seketika membuat pecah tangis Aera,ia sudah tak lagi bisa menahan kepedihan hatinya.
Sementara Alvarendra sengaja berlama - lama mengobati luka Aera,menunggu suara tangis Aera mereda.
Setelah merasa lelah Aera kembali diam dengan sisa isakannya dan berusaha mengusap air matanya,Alvarendra sudah selesai mengobati kakinya lalu duduk disampingnya.
Menyibak rambut Aera yang berantakan memperlihatkan luka bekas lemparan vas bunga malam itu,Alvarendra sedikit kaget melihat lukanya terlihat dalam namun dia segera menutupi keterkejutannya dan mengobati dahi Aera dengan lembut.
Aera merasa Alvarendra berbeda hari ini,jarak yang dekat memperlihatkan paras Alvarendra yang menganggumkan untuk dilihat.
Mata sayunya dan bentuk hidungnya yang sempurna membuat siapapun menelan salivanya.
Namun ternyata rasa kekaguman Aera yang menyadari paras Alvarendra yang sempurna bukan hanya di rasakan Aera.
Alvarendra kembali mengulur waktunya dengan mengobati luka Aera pelan - pelan,sambil memperhatikan wajah wanita yang adalah istrinya itu.
Kulit putih bersih Aera terlihat berkilau walau tanpa riasan,bibirnya berbentuk penuh sempurna membuat darah Alvarendra berdesir.
Alvarendra berdehem menutupi kegugupannya,baru kali ini dia merasakan desiran tak biasa yang tak pernah ia rasakan bahkan saat bersama dengan Javeline.
"Maafkan aku"
Alvarendra menundukan kepala penuh penyesalan,dia seakan menyadari pernikahan ini juga tidak Aera harapkan.
Tujuan pernikahan ini bagi Aera bukan untuk menyelamatkan perusahaannya,melainkan ibunya yang sedang sakit.
"Aku akan bersikap sepertimu kalau aku ada diposisimu"
Aera memahami benar perasaan Alvarendra,lelaki itu sudah mempunyai tambatan hati yang dia idamkan menjadi istrinya dan dalam sekejap mimpi itu dia hancurkan karena keegoisannya yang ingin ibunya hidup lebih lama.
Mereka sejenak terdiam,seakan menyadari kesalahannya masing - masing di dalam hati.
Malam itu,Aera tidur walaupun tidak nyenyak karena demamnya di tempat tidur.
Alvarendra menyuruh Aera tidur di tempat tidur sementara dia tertidur di sofa tempat biasa Aera terbaring dengan perasaan gelisah sambil sesekali melirik Aera yang terlihat tidak sehat.
"Bagaimana dia bisa tidur dia sofa ini!ini sungguh tidak nyaman!"
Alvarendra akhirnya terlelap setelah berniat mengganti sofa yang dia tiduri dengan sofa yang lebih besar dan empuk.
****