
Lylia sampai ke terminal bus dengan tepat waktu setelah menurunkan semua barangnya lylia pergi ke bus yang di tuju di bantu oleh seorang pekerja di terminal untuk mengangkat beberapa barang masuk ke dalam bagasi bus dan Lylia pun masuk ke dalam bus sambil melihat nomor bangku yang tertera di tiket sampai akhirnya dia menemukan bangku yang sesuai dengan nomor tiketnya.
bangku yang terletak di sebelah jendela. Lylia pun duduk sambil membenarkan posisi tas yang berisikan barang-barang penting, seperti dompet, handphone, dan barang-barang wanita lainnya,
Sambil menunggu keberangkatan bus, Lylia hendak mengecek handphone nya, dia ingat sejak tadi belum mendengar suara notif apa pun, saat sedang ingin mengambil handphone terlihat seorang laki-laki datang dan duduk di bangku sebelah Lylia namun dia tidak begitu memperhatikan karena sedang mencari handphone di dalam tas yang seperti tas sihir Hermione di serial Harry Potter, yang bisa mengeluarkan benda apa pun, yah begitulah kira-kira tas kecil yang secara ajaib bisa muat semua barang. dan saat meraba-raba isi tas Lylia merasa sudah mendapatkan handphone nya saat tangannya di tarik keluar malah kotak blush ons yang muncul, dengan kesal kotak blush ons nya ditaruh di pangkuannya untuk sementara lalu tangannya mulai mencari cari lagi sehingga akhirnya handphone yang di cari pun dapat. helaan nafasnya pun begitu kuat yang menandakan rasa lega karena frustrasi mencari handphone di dalam tas ajaibnya, karena helaan nafasnya lelaki di sebelah nya menoleh dan Lylia yang sadar telah mengganggu orang di sebelahnya pun ikut menoleh dengan senyuman yang penuh rasa malu. namun betapa terkejutnya Lylia ternyata laki-laki yang duduk di sebelahnya adalah Silvan widmer.
"yang benar saja. dari semua tempat mengapa harus di bus ini?" batin Lylia dengan wajah tidak percayanya dengan apa yang dia lihat.
"hai" ucap Silvan.
"ha.. hai" balas Lylia dengan gagap karena masih tidak percaya.
"Bagaimana kau bisa ada di sini? ah tentu saja kau bisa di sini tetapi wow bukankah ini sebuah kebetulan yang luar biasa? padahal baru tadi pagi kau datang ke rumahku, lalu kau ada di sini? di sebelahku?" ucap Lylia yang masih tidak percaya dengan kebetulan ini. Lylia mencurigai bahwa silvan mengikutinya,
"apa jangan-jangan dia penguntit? masa sih?" batin Lylia yang berpikiran buruk untuk Silvan,
"ah... ku harap kau tidak salah paham, aku sudah memesan bus ini sejak kemarin, aku harusnya pulang ke appenzel kemarin sore tetapi karena nenekku sakit aku memilih untuk menundanya dan pulang pagi ini. jadi ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku bahkan tidak tahu jika kau akan pergi mengunakan bus ini"
Ujar Silvan yang seakan tahu apa yang di pikirkan oleh Lylia, namun Silvan juga sangat terkejut melihat Lylia ada di sebelahnya, sungguh kebetulan yang menarik.,
"Hmmm yah! aku suka berpergian mengunakan bus, karena dapat melihat pemandangan desa grindelwad yang indah di sepanjang perjalanan. baiklah kalau begitu dan ini sungguh kebetulan yang luar biasa," Ucap Lylia sambil tersenyum dan berharap tidak ada pembicaraan lagi.
"Kau benar, dengan bus ini tidak ada satu pun pemandangan desa yang terlewatkan. baiklah kalau begitu selamat menikmati perjalanan. oh iya... jangan sampai tertidur kalau tidak kau akan melewatkan pemandangan indah ini, di depan nanti kita akan melewati pemandangan lautan, aku yakin kau tidak akan ingin melewatinya" ucap Silvan kepada Lylia.,
"Iya... terima kasih, begitu juga denganmu selamat menikmati perjalanan" ucap Lylia kepada Silvan.
Terlihat jelas jika Lylia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
Lylia kembali sibuk dengan tas dan handphonenya. Silvan pun memilih memakai headset dan memejamkan mata sembari menunggu perjalanan di mulai.
Lylia yang sibuk dengan handphone nya terlihat terkejut karena notif di handphone nya, ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Samuel dan ada satu pesan dari Samuel yang bertanya apakah Lylia sudah berangkat atau tidak, sepertinya Samuel sangat menantikan kedatangan Lylia,
tidak menunggu lama Lylia melakukan panggilan ke Samuel.
"Hallo Lylia, mengapa kau tidak menjawab panggilan ku? aku begitu khawatir aku bertanya-tanya apakah kau jadi berangkat hari ini atau tidak" Samuel langsung menghujani Lylia dengan pertanyaan yang sudah di perkirakan olehnya.
"Ah... maafkan aku, aku tidak sempat, aku sedikit sibuk mempersiapkan barang-barang yang harus ku bawa dan sekarang sedang di dalam bus, busnya baru akan berangkat" jawab Lylia.
"baiklah... maafkan aku yang terlalu khawatir dan membuat mu merasa tidak nyaman aku akan menunggu mu di terminal, nikmati saja perjalananmu dengan nyaman" jawab Samuel dengan lembut dan menutup panggilan rasa khawatir berlebihan nya ini di karenakan rasa rindunya kepada Lylia begitu besar.
Lylia menghela napas sembari merilekskan tubuhnya pandangannya pun tertuju ke luar jendela, bus yang sudah memulai perjalanan pun memperlihatkan keindahan desa Grindelwad, bukit-bukit dan gunung-gunung menjulang tinggi dengan hiasan bunga daisy dan rerumputan hijau, salju putih pun menghiasi puncak gunung Eiger yang megah.
Perjalanan bus pun melewati lautan, pemandangan indah lautan mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya,
Cuaca cerah memperlihatkan pantulan cahaya matahari pagi yang mengenai air laut sehingga menimbulkan efek sinar bagaikan berlian yang menyilaukan mata.
"indah sekali" ucap Lylia.
"Ya sangat indah" balas Silvan.
Mendengar jawaban dari orang di sebelahnya Lylia pun menoleh ke arah Silvan, untuk beberapa saat mata mereka saling bertemu dan beradu pandang untuk beberapa detik, sadar mata mereka sedang memandang Lylia pun mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, suasana di antara mereka pun menjadi canggung.
Silvan tetap memandang Lylia, walaupun Lylia mengalihkan pandangannya namun Silvan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lylia sama sekali.
"Lylia... apa aku boleh bertanya sesuatu?" Silvan mulai membuka pembicaraan dan memecahkan suasana canggung di antara mereka.
"iya tentu" jawab Lylia dengan percaya diri.
"kau ke Appenzel untuk berkerja?" tanya Silvan
"iya" jawab Lylia.
"ah iya tentu. tidak lama ini aku melakukan interview daring dengan pihak hotel Hof Weissbad, dan aku di terima sebagai housekeeping. aku akan mulai bekerja senin ini maka dari itu aku berangkat hari ini aku harus sedikit berkeliling agar tidak tersesat nanti nya"
Jawab Lylia dengan girang. yah begitulah Lylia selalu bersikap ramah dan tersenyum. Lylia sadar sudah lama dia tidak tersenyum lepas seperti hari ini, perasaannya pun sedikit membaik karena hatinya berdebar tidak sabar menjalani hari-hari nya yang baru.
Silvan tampak terkejut dengan jawaban Lylia, namun karena melihat senyuman Lylia dia pun akhirnya ikut tersenyum dan tidak sengaja berkata hal yang membuat Lylia terdiam dan bingung.
"Senyum mu indah sekali. apa kau tahu itu? seseorang bisa pinsan karena tidak bisa bernafas" jawab Silvan
"Bagaimana bisa senyumanku dapat membuat orang lain pinsan? apa kau sedang mengejek ku?"
Tanya Lylia yang terlihat kesal. wajah kecilnya sangat imut saat sedang kesal.
"Tentu saja bisa karena jantungnya berdebar kencang sehingga tidak bisa di kendalikan lagi yang akan membuat orang pinsan. kau harusnya tahu itu maka dari itu kau..."
Kata-kata Silvan terhenti, Lylia terlihat sedang menunggu kalimat lanjutan dari Silvan.
Silvan tidak ingin melanjutkan perkataannya dan memilih menutup wajahnya dengan jaket dan menutup telinganya dengan headset. wajah merah Silvan tidak dapat di kendalikan.
"Haaaa!? maka dari itu apa??? mengapa kau malah tidur? kau! barusan kau mengejek senyumku dan sekarang kau tidur!? yang benar saja. baiklah kalau begitu aku tidak akan tersenyum lagi di hadapanmu" jawab Lylia yang sangat kesal.
Lylia mengambil kaca tangan mungil miliknya dan berkaca sambil tersenyum di kaca, Lylia melihat apa yang salah dengan senyumannya apakah se mengerikan itu sehingga dapat membuat orang lain pinsan?
Silvan membuka sedikit jaketnya dan melirik Lylia yang sedang berkaca dan mempraktekkan berbagai bentuk senyuman, dari senyuman manis sampai senyuman yang aneh, silvan yang melihat itu malah tertawa kecil rasanya geli sekali.
"mengapa dia membuat wajah aneh seperti itu? Apa dia benar-benar tidak mengerti maksud dari perkataanku tadi?" Batin Silvan.
Lylia menoleh ke arah Silvan dan menyadari sesuatu, perbedaan tubuhnya dan tubuh silvan sangat besar, Lylia melihat ukuran tangan Silvan dan membandingkan dengan tangannya.
'"wow! apa ini tangan manusia? sepertinya sebelah tangannya saja dapat meremas wajahku hingga remuk, banyak sekali urat yang muncul di tangannya seperti cacing yang terperangah di bawah kulit.
apa dia Hulk? kalau dilihat-lihat lagi bahunya juga besar sekali, aku harus berhati-hati dengan orang ini, dia bisa dengan mudah meremas dan meremukkan tulang-tulang ku yang kecil ini"
Lylia yang mengira Silvan tidur dan tidak mendengar suara apa pun itu mengoceh dengan leluasa.
"Ternyata kau tahu bahwa tubuhmu ini kecil sekali ya? apa kau tidak makan? atau kau melakukan diet ketat? nikmatilah hidupmu dan makanlah yang banyak"
Celetuk Silvan yang masih menutup wajahnya dengan jaket, lylia pun sangat terkejut mendengar perkataannya silvan.
"Kau mengagetkan ku, aku pikir kau tidur dan tidak mendengar apa pun karena memakai headset, dasar licik sekali" jawab lylia yang kembali kesal,
"Lylia jangan pernah melihat sesuatu dari luarnya saja, meskipun tubuhku seperti ini tetapi hatiku lembut seperti marsmallow" ungkap Silvan sembari memalingkan wajah Lylia ke arah jendela.
"mars.. mars apa?". Lylia kaget dengan tindakan Silvan yang memalingkan wajahnya.
"berpalinglah lah kau lihat laut itu?? kita semua dapat melihat bagian luar laut yang sama, tetapi tidak semua orang dapat melihat isi lautan, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihat isi lautan yang indah itu" ucap Silvan kepada Lylia,
"Apa kau paham dengan apa yang aku katakan?" tanya Silvan kepada Lylia,
"tidak, aku tidak mengerti" jawab Lylia dengan polosnya.
"Haaaaa, baiklah liat saja keluar jendela, akan lebih baik untuk mu dan untuk ku, pembicaraan kita tidak ada gunanya"
Silvan terlihat menyerah dengan sifat polosnya Lylia dan menyuruh Lylia untuk hanya melihat pemandangan saja sampai puas dan Silvan memilih untuk tidur kembali dengan wajah di tutupi jaket. Lylia yang awalnya memandangi pemandangan dengan wajah bahagia tiba-tiba berubah menjadi sedih dan melow.
"Ku harap ibu dan Abisal baik-baik saja, aku sudah mulai merindukan mereka".
Bus pun berjalan melewati perbatasan desa dan meninggalkan desa Grindelwad dalam kejauhan.
"Selamat tinggal desa Grindelwad"