Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
BERMAIN DENGAN TAKDIR



Perjalanan bus yang panjang membuat Lylia merasa mengantuk, mata yang awalnya terbuka lebar berubah menjadi kecil, matanya menutup sedikit demi sedikit walau mempertahankan kesadarannya yang hanya tinggal sedikit namun akhirnya matanya benar-benar tertutup. dengan sisa kesadarannya Lylia menyandarkan kepalanya ke jendela bus.


Lylia pun tertidur pulas, Silvan yang melihat Lylia tertidur pun tersenyum.


"Akhirnya dia tertidur juga, sepertinya semalam dia tidak tidur dengan baik" batin Silvan.


Saat sedang memandang wajah Lylia tiba-tiba bus berbelok di tikungan yang membuat kepala Lylia terangkat dan hendak terbentur dengan jendela, Silvan yang melihat itu pun reflek menaruh telapak tangannya di jendela, kepala Lylia terhempas kedalam telapak tangan Silvan yang lebar sehingga tidak membuat kepala Lylia terbentur dan Lylia masih tertidur karena tidak menyadari apa yang terjadi, begitulah... Lylia dapat tidur dengan nyenyak di mana saja, seperti kata Lean, Lylia dapat tertidur di mana pun seperti sapi betina.


Dengan hati-hati Silvan mengarahkan kepala Lylia bersandar ke bahunya yang bidang, Silvan merasa canggung namun di saat yang sama merasa senang karena berada begitu dekat dengan Lylia.


----------------


~POV SILVAN~


Suatu sore di rumah


"Silvan... datanglah kemari sebentar, ada yang ingin nenek minta dari mu, nenek harap kau mau melakukannya"


"Iya nek, ada apa? aku akan melakukan apa pun untuk mu nek, katakan saja apa itu?" Silvan berlutut di hadapan neneknya, tangan nenek viola membelai lembut kepala Silvan.


"Nak... aku mengenal seorang gadis yang sangat baik hatinya, dia periang dan juga cantik, namun akhir-akhir ini aku tidak melihatnya lagi, aku sering datang ke toko bunga tempatnya bekerja tetapi dia tidak ada lagi di sana, lalu temannya yang juga bekerja di toko bunga itu mengatakan bahwa gadis itu tidak lagi bekerja di toko bunga itu, dia akan pergi bekerja ke kota Appenzel. aku mendengar kalau kekasih yang sudah lama dia tunggu kepulangannya telah menikah dengan gadis lain, aku sangat tahu bagaimana perasaannya saat ini, dia sering menceritakan tetang kekasihnya itu kepadaku, iyaa kami sering saling berbagi cerita, dia seorang gadis yang sangat baik, maka dari itu aku sangat ingin pergi mengantar kepergiannya tetapi keadaan ku seperti ini, temannya mengatakan kepadaku jika dia akan pergi besok pagi, jadi nenek ingin meminta tolong kepadamu untuk mengirimkan bunga untuknya sebagai salam perpisahanku, mau kah kau melakukanya?".


Mendengar permintaan neneknya Silvan merasa permintaan neneknya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, Silvan hanya harus mengantarkan bunga untuk teman neneknya itu, sepertinya neneknya sangat menyukai gadis itu, Silvan merasa sedikit cemburu karena tidak ingin membagi neneknya dengan siapa pun.


"Hanya itu nek? aku hanya perlu mengantarkan bunga saja kan? tetapi kelihatannya nenek sangat menyukai gadis itu ya? aku merasa sedikit cemburu padanya" Canda Silvan kepada neneknya.


"Iya, dia gadis yang baik, sama sepertmu" jawab nenek.


"Oh iya nek, katanya kemarin kakak datang? apa dia mampir ke sini?" tanya Silvan,


"Kemarin aku mendapat kabar jika kakak datang ke Grindelwad, aku pikir dia akan singgah menjumpai nenek" jelas Silvan kepada sang nenek


"Sammy? nenek tidak tahu kalau dia ada di desa, mungkin saja dia datang karena pekerjaannya lalu kembali ke kota". jawab sang nenek.


"Baiklah nek, aku akan pulang besok pagi saja, aku sudah mengatur ulang jadwal bus yang akan ku tumpangi, nenek mari berbaring saja dahulu, duduk di kursi roda terus akan membuat punggung nenek sakit dan tidak nyaman" pinta Silvan kepada neneknya.


"nenekku yang malang, apa yang harus kulakukan untuk mu, besok aku harus pergi, walaupun ada suster yang merawat mu tetapi tetap saja aku khawatir" batin Silvan saat mengendong neneknya menuju ke kasur, dan dengan perlahan Silvan membaringkan neneknya.


"Beristirahatlah nek, aku akan berkeliling sebentar, sunset di sini sangat indah, sangat rugi jika di lewatkan begitu saja, aku pergi dahulu ya nek, beristirahat lah" Silvan berpamitan kepada neneknya dan tidak lupa kecupan kecil di dahi sang nenek.


"Haaaaa suasana di desa ini memang sesuatu, ke indahan desa ini sangat lengkap, dari daratan sampai lautan memiliki keindahan tersendiri yang di pancarkan, seandainya sedang musim dingin mungkin akan seru jika main ski" Silvan terlihat berbicara sendiri sambil berjalan menikmati suasana sore hari.


Matahari terlihat terbenam begitu cepat, Silvan sampai ke atas bukit namun sunset yang sangat ingin dilihatnya sudah menghilang terbenam langit pun berganti malam, perasaan Silvan yang awalnya sedih tiba-tiba menghilang karena Silvan dapat melihat keindahan lainnya, yaitu keindahan desa Grindelwad pada malam hari, sangat jelas terlihat dari bukit tempatnya berdiri, tak ingin menyia-nyiakan keindahan malam desa Grindelwad, Silvan memilih untuk duduk memandangi keindahan desa yang di penuhi cahaya lampu, Silvan tidak menyangka jika keindahan desa Grindelwad bagaikan dalam cerita dongeng, pantas saja banyak pelancong yang datang ke desa Grindelwad, bahkan ada yang menetap, keindahan yang dapat di nikmati di segala musim.



Perjalanan bus yang panjang membuat Lylia merasa mengantuk, mata yang awalnya terbuka lebar berubah menjadi kecil, matanya menutup sedikit demi sedikit walau mempertahankan kesadarannya yang hanya tinggal sedikit namun akhirnya matanya benar-benar tertutup. dengan sisa kesadarannya Lylia menyandarkan kepalanya ke jendela bus.


Lylia pun tertidur pulas, Silvan yang melihat Lylia tertidur pun tersenyum.


"Akhirnya dia tertidur juga, sepertinya semalam dia tidak tidur dengan baik" batin Silvan.


Saat sedang memandang wajah Lylia tiba-tiba bus berbelok di tikungan yang membuat kepala Lylia terangkat dan hendak terbentur dengan jendela, Silvan yang melihat itu pun reflek menaruh telapak tangannya di jendela, kepala Lylia terhempas kedalam telapak tangan Silvan yang lebar sehingga tidak membuat kepala Lylia terbentur dan Lylia masih tertidur karena tidak menyadari apa yang terjadi, begitulah... Lylia dapat tidur dengan nyenyak di mana saja, seperti kata Lean, Lylia dapat tertidur di mana pun seperti sapi betina.


Dengan hati-hati Silvan mengarahkan kepala Lylia bersandar ke bahunya yang bidang, Silvan merasa canggung namun di saat yang sama merasa senang karena berada begitu dekat dengan Lylia.


----------------


~POV SILVAN~


Suatu sore di rumah


"Silvan... datanglah kemari sebentar, ada yang ingin nenek minta dari mu, nenek harap kau mau melakukannya"


"Iya nek, ada apa? aku akan melakukan apa pun untuk mu nek, katakan saja apa itu?" Silvan berlutut di hadapan neneknya, tangan nenek viola membelai lembut kepala Silvan.


"Nak... aku mengenal seorang gadis yang sangat baik hatinya, dia periang dan juga cantik, namun akhir-akhir ini aku tidak melihatnya lagi, aku sering datang ke toko bunga tempatnya bekerja tetapi dia tidak ada lagi di sana, lalu temannya yang juga bekerja di toko bunga itu mengatakan bahwa gadis itu tidak lagi bekerja di toko bunga itu, dia akan pergi bekerja ke kota Appenzel. aku mendengar kalau kekasih yang sudah lama dia tunggu kepulangannya telah menikah dengan gadis lain, aku sangat tahu bagaimana perasaannya saat ini, dia sering menceritakan tetang kekasihnya itu kepadaku, iyaa kami sering saling berbagi cerita, dia seorang gadis yang sangat baik, maka dari itu aku sangat ingin pergi mengantar kepergiannya tetapi keadaan ku seperti ini, temannya mengatakan kepadaku jika dia akan pergi besok pagi, jadi nenek ingin meminta tolong kepadamu untuk mengirimkan bunga untuknya sebagai salam perpisahanku, mau kah kau melakukanya?".


Mendengar permintaan neneknya Silvan merasa permintaan neneknya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, Silvan hanya harus mengantarkan bunga untuk teman neneknya itu, sepertinya neneknya sangat menyukai gadis itu, Silvan merasa sedikit cemburu karena tidak ingin membagi neneknya dengan siapa pun.


"Hanya itu nek? aku hanya perlu mengantarkan bunga saja kan? tetapi kelihatannya nenek sangat menyukai gadis itu ya? aku merasa sedikit cemburu padanya" Canda Silvan kepada neneknya.


"Iya, dia gadis yang baik, sama sepertmu" jawab nenek.


"Oh iya nek, katanya kemarin kakak datang? apa dia mampir ke sini?" tanya Silvan,


"Kemarin aku mendapat kabar jika kakak datang ke Grindelwad, aku pikir dia akan singgah menjumpai nenek" jelas Silvan kepada sang nenek


"Sammy? nenek tidak tahu kalau dia ada di desa, mungkin saja dia datang karena pekerjaannya lalu kembali ke kota". jawab sang nenek.


"Baiklah nek, aku akan pulang besok pagi saja, aku sudah mengatur ulang jadwal bus yang akan ku tumpangi, nenek mari berbaring saja dahulu, duduk di kursi roda terus akan membuat punggung nenek sakit dan tidak nyaman" pinta Silvan kepada neneknya.


"nenekku yang malang, apa yang harus kulakukan untuk mu, besok aku harus pergi, walaupun ada suster yang merawat mu tetapi tetap saja aku khawatir" batin Silvan saat mengendong neneknya menuju ke kasur, dan dengan perlahan Silvan membaringkan neneknya.


"Beristirahatlah nek, aku akan berkeliling sebentar, sunset di sini sangat indah, sangat rugi jika di lewatkan begitu saja, aku pergi dahulu ya nek, beristirahat lah" Silvan berpamitan kepada neneknya dan tidak lupa kecupan kecil di dahi sang nenek.


"Haaaaa suasana di desa ini memang sesuatu, ke indahan desa ini sangat lengkap, dari daratan sampai lautan memiliki keindahan tersendiri yang di pancarkan, seandainya sedang musim dingin mungkin akan seru jika main ski" Silvan terlihat berbicara sendiri sambil berjalan menikmati suasana sore hari.


Matahari terlihat terbenam begitu cepat, Silvan sampai ke atas bukit namun sunset yang sangat ingin dilihatnya sudah menghilang terbenam langit pun berganti malam, perasaan Silvan yang awalnya sedih tiba-tiba menghilang karena Silvan dapat melihat keindahan lainnya, yaitu keindahan desa Grindelwad pada malam hari, sangat jelas terlihat dari bukit tempatnya berdiri, tak ingin menyia-nyiakan keindahan malam desa Grindelwad, Silvan memilih untuk duduk memandangi keindahan desa yang di penuhi cahaya lampu, Silvan tidak menyangka jika keindahan desa Grindelwad bagaikan dalam cerita dongeng, pantas saja banyak pelancong yang datang ke desa Grindelwad, bahkan ada yang menetap, keindahan yang dapat di nikmati di segala musim.


Malam makin larut, Silvan memilih untuk turun dari bukit, dalam perjalanannya dia melihat seorang wanita yang sedang termenung sendirian di bukit yang tidak jauh dari tempatnya.


Tidak lama kemudian gadis itu turun mengikuti cahaya lampu dan berjalan ke arah jalanan setapak.


Silvan pun turun mengikuti gadis itu dari kejauhan, Silvan mengagumi rambut gadis itu yang indah, rambut ikal berwarna oranye, sangat jarang ada gadis dengan warna rambut oranye, rambutnya terlihat bersinar ketika berada di bawah cahaya lampu jalan yang juga berwarna oranye.


Silvan berjalan lebih cepat sehingga melewati gadis itu, di ujung jalan ada sebuah cafe, Silvan memilih duduk di cafe itu dengan arah menghadap jalan yang tadi dilewati, ternyata Silvan penasaran dengan wajah gadis itu. meski remang-remang wajah gadis itu sedikit terlihat sampai akhir dia berhenti di bawah lampu, kelihatan sedang berbicara dengan teleponnya, Silvan terus melihat ke arah gadis itu sampai pandangan teralihkan oleh seorang pelayan cafe yang menanyakan pesanannya.


"maaf apakah ada pesanan yang di inginkan?" Tanya sang pelayan cafe.


"Ahh iya tolong bawakan segelas ecspreso panas satu" pinta Silvan.


"Baik, hanya itu saja?" tanya sang pelayan lagi.


"Iya, oh sebentar ada yang ingin saya tanyakan, kau lihat itu di luar? apa kau melihat seorang gadis di sana? yang berdiri di bawah tiang lampu" Jelas Silvan kepada pelayan yang ingin di tanyai itu sambil menunjuk-nunjuk ke arah luar jendela.


"Ohh iya saya melihatnya, ada apa ya? apa ada yang salah dengannya?" tanya si pelayan.


"Ahh tidak, tidak ada yang salah, aku hanya ingin tahu saja, siapa gadis itu? apa kau tahu namanya?" Tanya Silvan lagi kepada si pelayan cafe.


"Tentu saja saya tahu dia siapa, dia keponakan paman William yang berjualan di toko bunga yang berada tidak jauh dari sini, namanya Lylia Trisier, kabarnya besok dia akan berangkat ke kota Appenzel untuk memulai hidup barunya setelah di campakkan oleh kekasihnya yang sudah di tunggu kepulangannya selama 4 tahun, lalu di tinggal nikah begitu saja, dan mirisnya lagi dia mendapat kabar dari kekasihnya itu hanya melalui secarik kertas, lelaki itu mengirimi dia surat, zaman sekarang siapa yang memutuskan hubungan hanya melalui secarik kertas? bukankah itu sangat ironi?"


Si pelayan menjawab terlalu banyak pertanyaan dari Silvan bahkan hal yang tidak di tanyakan pun di ceritakan, namun tidak di pungkiri saat mendengar cerita itu Silvan merasa ingin merangkul gadis itu, namun dia sadar dia hanya orang asing, ada rasa kasihan dan ingin melindungi muncul dari diri Silvan,


"Baiklah, terima kasih" Ucap Silvan kepada si pelayan cafe tersebut.


"Bagaimana bisa gadis seperti itu mengalami hal menyedihkan seperti itu? menunggu selama 4 tahun? seberapa besar rasa cintanya kepada mantan kekasihnya itu, sungguh kesetiaan yang sulit di dapati di dunia ini" batin Silvan yang terus memandang gadis itu, perlahan gadis itu pergi menuju ke seberang jalan yang ada di depannya, ternyata dia menuju kerumahnya,


"Rupanya rumahmu di situ? ku harap kita bisa berjumpa di kota Appenzel" batin Silvan yang berharap berjumpa lagi dengan gadis itu.


"jika nanti kita berjumpa di kota Appenzel, maka kau akan ku jadikan milikku, akan ku berikan semua kebahagiaan untuk mu, jika kau tidak menyukai ku maka akan ku buat kau tidak dapat melupakan ku, tetapi jika setelah hari ini kita tidak berjumpa maka inilah takdir kita" Ucap batin Silvan yang membuat janji kepada dirinya sendiri atau lebih tepatnya sedang menguji takdir tuhan atas dirinya dan gadis yabg bernama Lylia Trisier.


Malam pun berlalu, matahari fajar sudah menyingsing menyinari pagi dengan langit cerah,


"Silvan, tolong belikan bunga Daisy di toko Will florist, tidak jauh dari sini, gadis itu akan berangkat jam 8 pagi ini, cepatlah atau kau tidak akan sempat mengirim buket bunganya" Pinta sang nenek, suasana pagi hari yang seperti biasa bagi Silvan namun berbeda dengan neneknya.


"iya nek, ini aku sudah siap, berikan alamat rumah teman nenek aku akan sampai ke sana dalam waktu 5 menit" jawab Silvan dengan percaya diri.


"Ini, sampaikan salamku untuk nya" pinta nenek viola.


"Iya nenekku sayang, serahkan saja kepadaku" jawab Silvan yang merasa gemes dengan tingkah neneknya di pagi hari tetapi sudah sangat bersemangat.


"Yasudah aku pergi dahulu ya nek, aku pergi menggunakan sepeda jadi akan cepat sampai, desa ini tidaklah besar, oh iya nek, setelah mengantar bungamu aku akan langsung pergi ke kota, jadi jaga dirimu dengan baik nek, jangan sampai kau sakit lagi, hati-hatilah saat ke kamar mandi, aku akan minta suster untuk menjaga mu dengan ketat" Ucap Silvan panjang lebar kepada neneknya, dan tidak lupa ciuman kening dari Silvan untuk neneknya.


Silvan pun pergi ke toko bunga yang si katakan oleh neneknya m, ternyata cuma ada dua toko bunga di desa ini, dan ini toko ini merupakan toko bunga yang paling dekat dengan rumah neneknya,


"Pantas saja nenek sering ke sini, ternyata tokonya lumayan dekat" batin Silvan,


Silvan bertemu paman William di toko bunga, William yang mengetahui ada pelanggan pun segera menghampiri dan bertanya apakah ada yang bisa dia bantu.


"Selamat datang, apakah ada bunga yang kau sukai?" tanya paman William kepada Silvan.


"Apa ada bunga Daisy? aku tidak mengetahui nama dan bentuk bungan, bisa tolong buatkan satu buket besar bunga Daisy? untuk ucapan selamat tinggal dari seorang teman" tanya Silvan kepada paman William.


"Tentu saja, tunggulah sebentar" jawab William sembari menyusun setiap tangkai bunga Daisy,


"Apa kau akan memberikannya kepada kekasihmu?" Tanya William.


"Ahh tidak, ini pesanan nenek viola untuk di berikan kepada temannya, oh iya ini, tolong tuliskan pesan ini di buket bunganya" jawab Silvan yang juga terlihat memberikan secarik kertas kecil yang berisikan nama untuk penerima buket.


"Aahh apa teman nenek mi itu Lylia Trisier? yang dahulu bekerja di sini?" Tanya William kepada Silvan, mendengar itu Silvan merasa nama yang di sebut tadi tidak asing, sepertinya dia pernah mendengar nama itu, tidak lama dia sadar bahwa ternyata teman neneknya itu adalah gadis yang dia lihat semalam, gadis yang akan di jumpainya hari ini untuk di berikan buket bunga.


"Sepertinya begitu, tetapi aku tidak mengenalnya" jawab Silvan.


"Tentu saja, kau cucunya viola kan, kau tinggal di Appenzel, wajar daja jika kau tidak mengenal, jadi bunga ini untuknya dari viola? ahh mereka memang berteman baik, viola sering datang ke sini untuk membeli bunga dan berbincang-bincang dengan Lylia, tetapi sekarang dia akan pergi, kuharap dia bisa menemukan kebahagiaannya di sana" pungkas William.


"Yaa aku juga berharap begitu" ucap Silvan singkat agar pembicaraan cepat selesai karena dia harus bergegas menuju ke rumah Lylia.


"Ini buketnya" William memberikan buket bunga yang di pesan Silvan.


"Terima kasih" Jawab Silvan singkat.


"Yaa datanglah lagi lain waktu untuk membeli bunga buat kekasihmu" Pinta William.


"Yaa baik akan aku ingat" jawab Silvan dan keluar menuju sepedanya yang langsung di kayuh sekuat tenaga menuju ke rumah Lylia, dia ingat jalan semalam, dan dia melihat Lylia masuk ke sebuah rumah, Silvan yakin itu rumahnya.


Dengan perasaan gugup Silvan berjalan menuju ke rumah Lylia, Silvan memarkirkan sepedanya jauh dari rumah Lylia, Silvan terus berjalan hingga sampai ke depan pintu rumah Lylia dan langsung mengetuk pintu, Silvan tidak melihat bel karena merasa gugup, bagaimana tidak, baru semalam dia mengatakan kepada dirinya sendiri jika dia bertemu lagi dengan gadis yang semalam dia lihat maka akan di jadikan sebagai miliknya, namun dia berharap akan bertemu di Appenzel bukan di depan rumah gadis itu, bukankah ini terlalu cepat!.