Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
KISAH SAMUEL



Cahaya pagi bersinar menembus jendela kamar Lylia, cahayanya pun memenuhi kamarnya, membuat Lylia terbangun dari tidurnya karena cahaya matahari menyilaukan mata.


Jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi, perut Lylia sudah memberikan alarmnya, saat hendak bangun Lylia tampak meringis di karenakan kakinya yang masih sakit, Lylia pun menggapai tongkatnya yang ia taruh di samping tempat tidurnya, lalu ia pun bangun menuju ke toilet yang juga ada di kamar, namun rasa sakit di kakinya membuat Lylia terus meringis, denga tertatih Lylia terus memaksakan diri ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dengan penuh perjuangan Lylia pun selesai membersihkan dirinya dan berganti pakaian, Lylia menuju ke dapur untuk melihat apa yang bisa ia masak.


Sesampainya di dapur Lylia langsung membuka kulkas, terlihat benda yang membuat nya teringat akan kejadian kemarin yaitu microwave, benda itu masih di atas meja, tak ingin menghiraukannya lylia kembali melihat isi dalam kulkas, terlihat ada beberapa makanan yang dapat di panaskan, namun tidak membuat selera untuk sarapan, akhirnya lylia hanya mengambil telur dan roti untuk di masak, Lylia hanya membuat omelet untuk sarapan paginya, Samuel banyak membeli telur dan beberapa makanan olahan yang dapat di panaskan, namun Lylia hanya memilih telur.


Siap memasak omelet Lylia pergi ke depan tv untuk makan sarapan sembari menonton tv, denga tertatih Lylia berjalan, tangan kiri mengapit tongkat dan tangan kanannya memegang omelet, kaki kiri yang terkilir terlihat masih sangat bengkak, dengan berhati-hati ia pun sampai ke tempat tujuannya.


"Haaa... Sungguh sial... lusa sudah harus masuk kerja, kaki ku bengkak seperti ini.." Lylia bergumam sendiri memikirkan nasibnya yang kurang baik.


Lylia sarapan sembari menonton siaran tv, tak banyak yang bisa di lakukannya, hanya menonton tv dan rebahan saja, semua rencananya untuk berjalan-jalan menikmati pemandangan kota semua telah gagal, tiba-tiba Lylia teringat akan ibunya.


"Ahh... Benar, aku lupa menghubungi ibu, haaa anak macam apa aku ini..." Lylia ingat belum menghubungi ibunya sejak sampai ke kota Appenzel.


"Hallo ibu... Maaf ibu kemarin aku lupa menghubungi ibu untuk memberi kabar, aku sudah sampai dengan selamat, dan telah berjumpa dengan Samuel." Lylia menghubungi ibunya dan langsung menjelaskan keadaannya.


"Ahh iya... iya... tidak apa-apa, bagaimana keadaan kaki mu? apa sangat sakit? haruskah ibu kesana untuk menemani kamu?" perkataan Bu Diana membuat Lylia terkejut.


"Ibu... Bagaimana ibu tau?" tanya Lylia yang penasaran.


"Tentu saja dari Samuel, dia menelpon ibu semalam, dan memberitahukan keadaan mu, katanya kamu terjatuh saat hujan kemarin, dan dia mengatakan bahwa kamu baik-baik saja, dan menyuruh ibu agar tidak khawatir karna kondisi mu tidak terlalu parah, apakah benar begitu?" Bu Diana menceritakan apa yang di katakan Samuel,


"Ahh iya bu benar, kaki ku memang terluka tapi tidak apa-apa, hanya tergores sedikit, ibu jangan khawatirkan ya, Samuel menjagaku dengan baik seperti adiknya sendiri, ibu bagaiman disana? Abisal tidak melakukan hal-hal aneh yang menyusahkan ibu kan?" tanya Lylia.


"Iya kamu tenang saja, Abisal anak yang baik, kamu tau itu kan, dia hanya sedang melalui masa-masa pubertas, apakah Samuel benar-benar menjaga mu dengan baik? Kamu yakin dia memperlakukan mu seperti seorang adik? Ibu berharap dia memiliki perasaan lebih padamu, Samuel adalah orang baik Lylia, kamu harus bisa membuka hati untuknya, kamu harus melanjutkan hidup dan merasakan cinta kembali." Bu Diana mengatakan hal yang sangat tidak ingin di dengar oleh Lylia.


"Ibu... sudahlah... Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun sekarang, apalagi menggunakan orang lain sebagai pelarianku, saat ini aku hanya ingin hidup untuk mencintai diriku sendiri, selama ini cinta aku hanya membuang rasa cintaku untuk orang yang salah, dan juga Samuel... Dia hanya menganggap ku seorang adik, tidak lebih, jadi aku mau ibu berhenti memikirkan hal-hal seperti itu, ibu mengerti kan maksudku?" Ucap Lylia yang tidak ingin ibunya menjodohkannya dengan Samuel.


"Baiklah ibu... Aku tutup dulu ya, aku ingin istirahat, ibu baik-baik ya di sana, jaga diri ibu." Lylia langsung memutuskan panggilannya dan menghela nafas.


"Haaaa.... Sangat melelahkan sekali, aku harus terus melatih kaki ku, agar cepat sembuh... tidak mungkin aku bisa bekerja dengan kondisi kaki seperti ini, jangan sampai aku di pecat sebelum mulai bekerja sehari pun, haaa... aku ingin berjalan-jalan, cuaca di luar sangat bagus." Lylia terlihat sedih dan bergumam sendiri sembari memandang langit luar yang sangat indah.


Suara musik bergema di seluruh ruangan apartemen yang di tempati Lylia, lagu yang membuatnya tenggelam dalam lamunannya.


🎶song


Tak ada kisah tentang cinta


Yang bisa terhindar dari air mata


Namun kucoba menerima


Hatiku membuka


Siap untuk terluka


Cinta tak mungkin berhenti


Secepat saat aku jatuh hati


Jatuhkan hatiku kepadamu


Sehingga hidupku pun berarti


Cinta tak mudah berganti


Tak mudah berganti jadi benci


Walau kini aku harus pergi


'Tuk sembuhkan hati


Walau seharusnya bisa saja


Dulu aku menghindar


Dari pahitnya cinta


Namun kupilih begini


Biar kuterima


Sakit demi jalani cinta


Cinta tak mungkin berhenti


Secepat saat aku jatuh hati


Jatuhkan hatiku kepadamu


Sehingga (hingga) hidupku (hidupku) pun berarti


****************


Mendengar lagu yang galau turut mempengaruhi suasana hati Lylia saat ini, sehingga membuatnya tertidur namun air matanya menetes membasahi pipinya, Lylia masih menangis dalam tidurnya, luka hatinya begitu dalam, semua lirik lagu yang di dengarnya sangat sesuai dengan perasaannya sekarang, mendengarkan lagu adalah kesukaannya.


Saat akan terlelap dalam tidurnya tiba-tiba handphone Lylia berbunyi yang membuatnya terbangun.


"Hallo Silvan..." Lylia menjawab telpon dari Silvan.


"Lylia... Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah merasa mendingan?" Silvan terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Lylia.


"Aku baik-baik saja, kamu jangan terlalu khawatirkan aku, aku sudah bisa berjalan, lukanya tidak separah yang kau bayangakan." jawab Lylia yang mencoba menenangkan Silvan.


"Baiklah jika kau berkata seperti itu... tapi... Lylia bolehkah aku mengunjungi mu? aku ingin menjenguk mu..." ucap Silvan.


"Sungguh aku tidak apa-apa, kau tidak perlu sampai datang kesini untuk melihat kondisi ku, aku tidak terluka separah itu." ucap Lylia yang mengulangi perkataannya untuk meyakinkan Silvan bahwa dirinya memang baik-baik saja.


"Lylia... Bukankah seorang teman harus saling memperhatikan satu sama lain? Aku hanya ingin melakukan tugas ku sebagai seorang teman, ayolah..." Silvan masih belum menyerah dan terus membujuk Lylia.


"Haaaa Silvan... Baiklah kalau begitu, aku kirim alamat nya, tekan saja bel jika kau sudah sampai." akhirnya Lylia luluh terhadap Silvan.


"Akhirnya hahaha... baiklah kirim sekarang ya alamatnya, aku akan segera ketempat mu." jawab Silvan kegirangan.


"Iyaa... Hati-hati di jalan ya" pesan Lylia yang juga ikut tertawa mendengar Silvan yang tertawa.


"Baiklah..." jawab Silvan yang langsung memutuskan panggilannya.


"Haaaa... ada-ada saja, tapi bagus juga jika Silvan datang, aku jadi punya teman bicara, keseharian ku yang biasanya bekerja tidak akan tahan jika hanya duduk berdiam diri di rumah seperti ini." Lylia terlihat menantikan kedatangan Silvan.


"Oh iya... gimana keadaan Samuel ya? pagi ini aku tidak mendengarkan suara apapun dari rumahnya, atau memang tidak akan kedengaran, apa dia sedang sakit? Kemarin dia juga kehujanan, hmmmm...." Lylia terlihat sangat penasaran akan keadaan Samuel, bagaimana pun Samuel sangat baik kepadanya, Lylia jadi sedikit merasa bersalah kepada Samuel.


Lylia berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke pintu rumahnya dan mencoba melihat keluar melalui lubang pintu, Lylia berharap dapat melihat pintu rumah Samuel yang memang berhadapan langsung dengan pintu rumahnya, namun bukan pintu rumah Samuel yang dilihatnya melainkan bagian dari tubuh seseorang, yang membuat Lylia kesulitan melihat dengan jelas. namun siapa sangka ternyata itu bagian tubuh dari Silvan, yaitu bahunya yang bidang, ternyata Silvan sudah berada di depan pintu rumah Lylia yang membuat Lylia sangat terkejut dan langsung membukakan pintu yang juga mengejutkan Silvan.


"Silvan!!! bagaimana bisa kau langsung sampai ke sini? apa semua itu yang kau bawa?? kau mau masak?" tanya Lylia yang merasa sangat terkejut akan kehadiran Silvan dan di tambah barang bawaan Silvan yang begitu banyak.


"Apa? Aku lah yang harusnya terkejut, ternyata kau tinggal di atas ku, bagaimana bisa kau disini? Kau tau? Aku berada dua lantai di bawah mu, sungguh kebetulan yang aneh, dan ini bahan-bahan untuk aku masak, kau akan makan masakan ku hari ini, kau harus senang karena ini jarang sekali terjadi."


jawab Silvan yang ternyata juga tinggal di apartemen yang sama dengan Lylia dan Samuel, Silvan membawa banyak bahan makanan untuk dimasak.


Saat silvan dan Lylia bicara di depan pintu tiba-tiba Samuel keluar dari kamarnya.


"Kenapa kalian ribut di depan pintu rumah orang lain?" ucap Samuel dengan nada marah, merasa kesal karena terlalu berisik.


"Lylia... bagaimana bisa kau membukakan pintu untuk laki-laki lain?" lanjut Samuel yang melihat Silvan yang hendak masuk ke rumah Lylia, dan semakin membuat Samuel terbakar api cemburu.


Wajah Samuel terlihat sangat merah dengan bibir dan yang pucat, Samuel sedang demam namun tidak memperlihatkan kepada Lylia dan Silvan dan hanya bersikap seperti biasa.


"Samuel... maafkan kami jika kami menganggu istirahat mu, kami akan segera masuk, ayo Silvan masuk dulu, barang-barang itu pasti berat, kapan kau belanja semua barang ini? " jawab Lylia yang merasa bersalah karena terlalu berisik dan langsung mengajak Silvan masuk.


"Tunggu!!! bagaimana keadaan mu? Apa kaki mu sudah merasa lebih baik?" tanya Samuel yang mengkhawatirkan kaki Lylia.


"Ahh iya... Sudah agak mendingan, mungkin besok sudah bisa berjalan walau masih sedikit sakit." jawab Lylia yang menjelaskan keadaannya kepada Samuel.


"Begitu yaa.. baiklah kalau begitu..." Samuel terlihat tidak ada bahan lagi untuk membuat Lylia tidak masuk ke dalam rumahnya.


"baiklah kami masuk dulu, silahkan lanjutkan istirahatnya, kami akan berusaha tidak berisik." ucap Lylia yang berpamitan kepada Samuel,


Lylia tidak begitu memperhatikan keadaan Samuel, karena Lylia masih merasa tidak begitu nyaman ketika melihat Samuel, karena kejadian saat Samuel menciumnya akan selalu terlintas dan membuatnya malu saat melihat Samuel, sebisa mungkin Lylia ingin menghindari Samuel.


Silvan menyadari ada yang aneh dengan kakak tirinya itu, Silvan ingin bertanya namun takut akan di abaikan oleh kakaknya, namun hatinya merasa sangat khawatir dan memutuskan untuk memberanikan diri untuk bertanya.


"Kak... apa kau baik-baik saja? kau terlihat sakit, apa kau demam karena kejadian kemarin?" tanya Silvan yang berujung pengabaian dari Samuel.


Samuel tidak menjawab pertanyaan dari Silvan dan langsung masuk kembali ke rumahnya, meski begitu Silvan merasa lega karena sudah berani bertanya, namun Lylia merasa terkejut saat mendengar Silvan memanggil Samuel dengan sebutan kakak.


"Kakak? Silvan? Samuel itu kakak mu?" tanya Lylia yang kembali terkejut dengan apa yang di dengarnya.


"Kalau kau sangat ingin tau, kenapa kita tidak masuk dulu agar lebih nyaman." jawab Silvan santai menanggapi pertanyaan dari Lylia.


"Ahhh ya kau benar, ayo silahkan masuk." jawab Lylia sangat ingin tau akan hubungan antara Silvan dan Samuel.


Sesampainya di dalam rumah Lylia, Silvan langsung menuju kw dapur dan menaruh semua barang belanjaan nya di atas meja dapur, yang membuat Lylia takjub,


"Silvan... Ini bukan bahan-bahan yang mahal kan?" tanya Lylia yang melihat barang belanjaan Silvan, terlihat berbagai bentuk roti, daging, sayuran salad, salmon dan beserta kawan-kawannya.


"Kamu tenang saja, duduk saja di depan biar aku yang memasak, kamu akan merasakan masakan dari chef bintang lima." Silvan menyombong kepada Lylia yang tentu saja Lylia tidak percaya dan hanya tersenyum melihat tingkah Silvan.


"Iyaa... tentu saja, terima kasih tuan chef, ku harap masakan mu benar-benar enak." ucap Lylia dengab nada meledek.


"Owh ternyata kau sedang meledekku ya? lihat saja kau akan segera menikmati makanan yang tak akan bisa kau lupakan." ucap Silvan yang menanggapi ledekkan dari Lylia.


"Hahahaha... iyaa... iyaa... baiklah." Lylia dan Silvan tampak lebih akrab seolah tidak ada hal yang bisa membuat mereka merasa tidak nyaman, keduanya merasa nyaman bersenda gurau.


"Oh iya... mengenai hal yang tadi ingin kau jelaskan, hubungan mu dan Samuel." ucap Lylia yang kembali mengungkit pembicaraan yang tadi berhenti, Lylia tampak masih penasaran dengan hubungan Silvan dan Samuel.


"Owh iya, aku hampir lupa, yaah... sebenarnya aku dan Samuel merupakan saudara tiri, ibu ku menikahi ayahnya ketika kami masih kecil, saat itu usia ku masih 7 tahun, dan Samuel berumur 8 tahun, kami memang hanya selisih umur setahun tapi sifat Samuel sudah sangat dewasa, saat pertama kali aku datang kerumahnya, Samuel tampak sangat tidak menyukai kami, dia bersikap sangat dingin kepada ku dan ibuku, aku hanya dapat melihatnya saat kamu makan bersama, itu pun tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya, dia benar-benar hanya duduk dan makan setelah itu langsung pergi tanpa berpamitan, pernah satu hari aku penasaran dan masuk ke kamarnya dan berakhir dengan kepala ku yang bocor karena di lempar dengan buku yang sangat tebal, kau tau? lucunya aku tidak pernah bisa membencinya, yaah awalnya aku benci melihatnya yang bersikap tidak sopan begitu apalagi kepada ibuku, tapi setelah mendengar kisah tentang ibunya... Sampai saat ini aku tidak bisa membencinya, aku ingin berada di sampingnya..." Silvan terlihat sangat sedih saat menceritakan hubungannya dengan Samuel.


"Memangnya apa yang terjadi kepada ibunya?" Tanya Lylia yang penasaran.


"Ibunya sakit-sakitan sejak melahirkannya, sedangkan ayah sibuk mengurus perusahaan dan hotel, Samuel hidup dalam kesepian, tiap kali dia datang menjenguk ibunya, Samuel hanya melihat pemandangan yang mengerikan, ibunya hanya terbaring lemah, dan sering kali muntah mengeluarkan darah, tubuhnya yang kurus, membuatnya terlahir seperti mayat hidup, namun Samuel tetap menggenggam tangan ibunya sampai ibunya menghembus nafas terakhirnya, dan saat itu juga ayah tidak ada, dan tidak lama ibu Samuel meninggal, ayah membawa kami masuk kerumah Samuel, jadi setelah aku pikir-pikir, wajar saja jika Samuel membenci kami dan ayah, karena bisa di pastikan ayah sudah menjalin hubungan dengan ibuku saat ibu Samuel sedang menderita sendirian." Silvan yang menceritakan kisah sedih Samuel turut menjatuhkan air matanya, begitu pun Lylia yang menangis sampai sesenggukan.


"Apa ini benar-benar kisah hidup Samuel? bagaimana bisa dia terlihat begitu ceria dan penuh dengan cinta, sedangkan dia tidak pernah menerima rasa cinta dari orang yang dia sayang." ucap Lylia sambil menangis.