Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
DESA GRINDELWAD AKU KEMBALI



Akhirnya Samuel dan Lylia pun berangkat ke desa Grindelwad, di perjalanan Samuel dan Lylia banyak membicarakan hal-hal tentang diri mereka masing-masing, mulai dari makanan kesukaan, kegiatan yang di suka, hal yang tidak di suka, dan banyak lagi, mereka berdua sangat terbuka satu sama lain, sampai akhirnya Samuel menanyakan sesuatu mengenai masa lalu Lylia. Lylia terlihat berpikir untuk beberapa menit sebelum menjawab pertanyaan Samuel.


"Apa ada tempat yang membuat ku ingat akan mantan ku!? tentu saja ada, namun aku sudah menguburnya dalam-dalam, tidak ada yang perlu di ingat dari masa lalu yang buruk, sekarang aku hanya menganggap itu semua itu hanyalah sebuah mimpi, mimpi' buruk di musim semi, sekarang aku sedang berjalan di sebuah jalan menuju masa depan, aku harap kau akan menjadi masa depanku, aku akan terus berusaha untuk bisa mencintai mu sepenuh hati ku, sebagaimana kau mencintaiku." Jawaban Lylia membuat Samuel terharu, air mata pun menetes membasahi pipi nya.


"Ternyata kau memiliki hati yang lembut, tidak seperti tampilan mu yang terlihat dingin. Samuel... apa aku merupakan cinta pertama mu?" Tanya Lylia.


"Tidak, kau cinta kedua ku," jawab Samuel dan membuat Lylia terlihat sedih, ternyata Lylia berharap jawaban lain. Lylia berharap Samuel menjawab iya.


"Cinta pertama ku adalah wanita yang hebat, dia begitu Tabah dan sabar, tubuhnya lemah tapi hatinya sangat kuat, memiliki prinsip yang tegas dan kuat, aku selalu ingin menjadi seperti dirinya." Samuel terlihat begitu bangga saat menceritakan tentang wanita cinta pertama nya itu yang membuat Lylia cemburu.


"Lalu... jika memang dia sehebat itu kenapa kau putus dengannya?" tanya Lylia, Samuel terkekeh melihat Lylia yang cemburu, dan samuel terus mempermainkan Lylia.


"Kami tidak putus," jawan Samuel yang tentu saja membuat Lylia terkejut, dalam detik itu juga Lylia membuat ekspresi marahnya.


"Apa kau bercanda?? Samuel itu tidak lucu." Lylia merasa sangat marah kepada Samuel, namun Samuel hanya tertawa yang membuat Lylia semakin kesal.


"Lylia... dia sudah meninggal," jawab Samuel yang terkekeh melihat reaksi Lylia.


"Apa!? me-meninggal? cinta pertama mu meninggal?" tanya Lylia, ekspresi nya Langsung berubah, yang tadinya marah dan kesal berubah menjadi sedih dan bingung.


"Wanita itu adalah ibu ku Lylia... ibu ku adalah cinta pertama ku, dia meninggal saat aku masih kecil, bagaimana aku bisa putus dengannya?" jawab Samuel, wajahnya terlihat baik-baik saja, tapi hatinya terus menahan rindu kepada ibunya.


"Samuel... maafkan aku, aku yakin ibu mu bahagia dan bangga padamu, karna kau tumbuh menjadi laki-laki yang hebat, hati mu begitu tulus dan lembut, dan tentu saja kau tumbuh dengan wajah yang tampan juga, aku yakin ibu mu sangat-sangat bahagia." mendengar perkataan Lylia yang memuji dirinya membuatnya terus terkekeh,


"Hahaha... kau memang sesuatu ya?" ucap Samuel.


"Apa maksud mu?" tanya Lylia yang tidak mengerti perkataan Samuel.


"Tidak, lupakan saja." jawab Samuel lagi.


"Kau membuatku penasaran, akan ku balas nanti " ucap Lylia yang membuat Samuel tertawa.


Perjalanan panjang mereka pun berlanjut, Lylia benar-benar menikmati perjalanannya kembali ke desa yang sangat di rindukan, padahal baru beberapa hari dia meninggalkan desa untuk memulai kehidupan baru di ibukota namun sayangnya perjalanannya di ibu kota tidaklah mulus, ada saja hal yang terjadi menimpa dirinya, beruntungnya Samuel selalu ada di sampingnya.


Perjalanan panjang pun tidak terasa, Lylia dapat melihat pohon Ek di hadapan rumahnya, pohon Ek yang besar dan rindang.


Akhirnya Lylia dan Samuel pun sampai, mereka berdua terlihat sangat bahagia dan langsung masuk kerumah untuk memberikan kejutan untuk ibunya.


"Ibu.. Ibu.. aku pulang.." Lylia memanggil ibunya yang sedang berada di dapur, Bu Diana sangat terkejut saat melihat Lylia berada di hadapannya.


"Lylia... kenapa kau ada di sini? apa kau tidak betah di sana?" tanya Bu Diana yang tidak menyangka Lylia akan pulang secepat ini setelah kepergiannya beberapa hari lalu.


"Ibu.. aku sangat merindukan ibu, padahal baru beberapa hari aku pergi tapi terasa seperti setahun, aku benar-benar merindukan ibu..." Lylia memeluk ibunya seperti anak kecil dan menangis dalam pelukan ibunya, Lylia menangisi dirinya sendiri, ia yang tidak becus menjaga diri sendiri dan terus tertimba hal-hal sial, padahal baru beberapa hari dia hidup tanpa ibunya, Lykia tidak ingin menceritakan apa yang di alaminya kepada ibunya, karena sudah pasti nanti Lylia tidak di izin kan tinggal sendiri.


"Ibu... apa kabar?" sapa Samuel sembari menyerahkan buket bunga tulip berwarna kuning.


"Iya bu, semua baik-baik saja, Lylia hanya merindukan ibu dan karena memiliki sedikit pekerjaan di sini sekalian saja saya mengajak Lylia untuk ikut agar dia dapat melepas rindu dengan ibu." ucap Samuel dengan alasan yang sudah di karangnya sejak di jalan tadi.


"Begitu ya? sudah ah Lylia kenapa kau seperti anak-anak? sudah duduk saja dulu, kalian pasti kelelahan karena perjalanan, sebentar lagi masakkan nya juga siap." ucap Bu Diana.


"Terima kasih bu, tapi saya mau berkeliling desa dulu, sayang sekali jika sudah sampai di sini tapi hanya duduk saja di rumah, cuacanya juga sangat bagus, tidak terlalu dingin, saya pergi dulu ya bu." jawab Samuel yang memang niatnya sejak awal adalah berkeliling desa, dia begitu penasaran akan perasaan apa yang di simpan Lylia selama ini, kenangan seperti apa yang terus membuatnya teringat akan mantan kekasihnya itu.


"Lylia? kau tidak ikut dengan Samuel? ikutlah bersama nya, ajak dia berkeliling desa." pinta Bu Diana kepada Lylia. jelas Lylia tau niat asli ibunya itu.


"Ibu... aku tau niat ibu... iyaa aku akan pergi menemani Samuel." jawab Lylia sambil melihat wajah ibunya yang tersenyum, Lylia akhirnya pergi mengikuti Samuel dari belakang walaupun sebenarnya sangat berat untuk di lakukan. Lylia lebih senang berjalan-jalan sendiri.


Samuel dan Lylia pun akhirnya berjalan-jalan bersama berkeliling desa, banyak pemandangan indah yang di lihat oleh Samuel lalu memotretnya dengan kamera yang sudah di persiapkan sejak awal, Samuel memotret apapun yang di lihatnya namun hampir di setiap gambar yang di potret nya ada Lylia di dalamnya, sepertinya niat Samuel adalah memotret Lylia dengan pemandangan desa yang indah,


Saat sedang duduk beristirahat Samuel melihat Lylia sedang sibuk memetik bunga Daisy liar, diam-diam Samuel memotret Lylia dari belakang, rambut ikal coklatnya tampak indah dengan pita kupu-kupu yang menghiasi rambutnya, Lylia yang memeluk bunga Daisy yang di petiknya tampak begitu cantik meski di lihat dari belakang.



"Cantik sekali... semua yang ada di sini sangat indah, aku mengerti kenapa Lylia begitu mencintai tempat ini, bodoh sekali lelaki yang menyia-nyiakan mu, dia meninggalkan permata hanya untuk mendapatkan batu bara." Samuel bergumam sendiri saat melihat kecantikan Lylia.


"Lylia.. kemari lah... apa kau tidak lelah? kau sudah memetik bunga begitu banyak, mau kau apakan bunga sebanyak itu?" Samuel memanggil Lylia agar dapat duduk bersamanya, Lylia pun menuruti perkataan Samuel dan ikut duduk di sebelah Samuel sembari melihat pemandangan.


"Lylia... ini benar-benar seperti gambaran pemandangan di cerita dongeng, sekarang aku mengerti kenapa kau begitu mencintai desa ini." ucap Samuel kepada Lylia.


"Benarkah? tunggu saja saat matahari terbenam, kau akan melihat hal yang tidak kau dapatkan di tempat lain." ucap Lylia dengan sedikit menyombongkan keindahan desanya.


"Tidak akan ku ragukan, aku akan menanti saat matahari terbenam bersama mu di sini." jawab Samuel dengan menatap mata Lylia dengan dalam.


"Samuel... apa kau selalu seperti ini? bersikap manis dan selalu menunjukkan perasaan mu? kau seperti tidak memiliki penghalang sedikit pun, rasanya aku bisa tau segalanya tentang mu jika aku bertanya" ucap Lylia kepada Samuel.


"Tentu saja, Lylia aku tidak seperti ini pada banyak wanita, hanya di depan mu aku seperti ini, aku selalu menunjukkan perasaan ku kepada orang yang aku suka, aku menyukai mu itulah kenapa aku seperti ini, kau bebas bertanya apapun pada ku, apapun akan aku jawab jika memang harus, jadi apa ada yang ingin kau tanya kan?" jawab Samuel.


"Tidak, untuk saat ini tidak ada yang ingin aku tanya kan, mungkin nanti suatu hari nanti." jawab Lylia.


"Baiklah, jika tiba saatnya nanti bertanya lah, aku akan sama seperti hari ini." jawab Samuel.


"Samuel kemari lah, matahari terbenam akan lebih indah jika di lihat dari sini." Lylia tiba-tiba bangu dan menarik tangan Samuel untuk mengikutinya.


"Lihat indah bukan?" tanya Lylia dengan bangga.


"Iya indah, Lylia bolehkah aku mencium mu?" tanya Samuel dan hanya di balas dengan anggukan dari Lylia, melihat itu Samuel langsung mencium Lylia, ciuman romantis yang pernah mereka lakukan sejauh ini.


Ciuman yang singkat namun cukup membuat kenangan karena bertepatan dengan matahari terbenam, membuat suasana cukup romantis dan ternyata Samuel telah menaruh kameran untuk memotret mereka berdua saat matahari terbenam.