
Di sofa Samuel tidur dengan tubuh yang di penuhi keringat, lekuk tubuhnya pun terbentuk begitu terlihat otot-otot nya yang mencuat di balik baju kemeja yang basah oleh keringat. Samuel adalah sosok yang gemar berolahraga, setiap pagi ia sempatkan untuk lari pagi keliling taman, dan setiap tiga hari dalam seminggu ia juga selalu ke tempat Gym untuk melati ototnya, itulah kenapa tubuh Samuel sangat atletis seperti atlet.
Lylia terus mengompres dahi Samuel berharap panasnya akan segera turun, Silvan di dapur sedang berkutat dengab alat masaknya, ia ingin memasak bubur untuk Samuel.
"Silvan.!? tidakkah ini sudah terlalu lama.? dimana temanmu yang akan membawa dokternya.? aku sangat khawatir, apakah panas tubuh seperti ini tidak apa-apa.? keringatnya banyak sekali tapi tubuhnya juga sangat panas." ucap Lylia yang terlihat sangat mengkhawatirkan Samuel.
"Aku juga tidak mengerti soal itu, tapi aku akan coba menghubungi Luki lagi." Silvan mengambil ponselnya dan menghubungi Luki.
Saat hendak menghubungi Luki, terdengar suara berisik di depan pintu rumah Lylia, penasaran akan siapa yang berada di luar, Silvan pun pergi membuka pintu, dan ternyata Luki yang telah sampai bersama seorang wanita yang sangat cantik, untuk beberapa detik Silvan sempat terpesona akan kecantikan sang dokter.
"Luki.! disini.!" Silvan memanggil Luki yang kelihatan kebingungan, karena seingat nya rumah Samuel di depannya, namun Silvan malah keluar dari pintu sebaliknya.
"Loh.? Silvan.? kenapa kau keluar dari pintu itu.?" tanya Luki kebingungan.
"Udah nanti kamu paham sendiri, sini masuk, silahkan masuk dok." ucap Silvan yang juga mempersilahkan dokter wanita itu masuk dengan nada yang sangat sopan.
Luki dan dokter pribadi Samuel pun masuk, mereka melihat interior yang simpel namun penuh dengan nuansa mewah, bagi orang yang paham akan sangat tau berapa mahal apartemen ini, dari interiornya saja orang akan tau seberapa mahal apartemen yang di tempati oleh Lylia.
"Luki... Samuel dia... tubuhnya sangat panas." Silvan mencoba menjelaskan kondisi Samuel kepada Luki.
"Silvan tenang saja, dokter ini adalah dokter yang di pilih sendiri oleh Samuel, tidak ada suatu penyakit pun di tubuh Samuel tanpa sepengetahuannya, dia setiap bulan sekali Samuel selalu melakukan chek up bersama beliau, perkenalkan ini dokter Jany jane, seperti yang aku katakan tadi beliau adalah dokter pribadi Samuel, jadi serahkan saja padanya." Terang Luki kepada Silvan dan Lylia dan juga sekaligus memperkenalkan dokter pribadi Samuel kepada mereka.
"Hai... Salam kenal... baiklah kalau begitu aku harus mengechek kondisi Samuel terlebih dahulu." ucap Jany.
"Ahh... baik dok, mohon bantuan nya dok." Lylia terlihat sangat menghormati dokter tersebut sekaligus merasa minder akan dirinya.
Tanpa di sadari Lylia telah membandingkan dirinya dengan Jany, yang membuatnya semakin tidak percaya diri.
Jany terlihat sangat serius memeriksa keadaan Samuel, dan akhirnya dia mengetahui apa penyebab dari demamnya Samuel.
"Hmm... sepertinya kemarin Samuel hujan-hujanan ya?" tanya jany kepada Lylia dan Silvan, yang di jawab serentak oleh Lylia, Silvan dan Luki dengan jawaban yang sama.
"Haa... anak ini padahal sudah di ingatkan agar tidak kena hujan untuk sementara waktu." ucap Jany yang kesal karena Samuel tidak menuruti perkataan nya, Jany mengeluarkan alat tulis berupa pulpen dan secarik kertas, lalu menulis resep obat untuk Samuel lalu memberikannya kepada Luki.
"Luki tolong belikan obat yang sudah saya resep kan, dan kamu (Jany menunjuk ke arah Lylia) saya harap kamu bisa menjaga Samuel untuk sementara waktu, sepertinya trauma psikis nya sedang kambuh, di saat seperti ini dia tidak bisa di tinggal sendirian." Ucap Jany yang memberitahukan keadaan Samuel.
"Baiklah tidak ada yang serius dari Samuel, dia hanya demam karena flu, dan gangguan psikis, kalau mau tahu lebih jelas, tanyakan saja kepada Samuel." lanjut Jeny yang kembali menjelaskan kondisi Samuel, dan pamit pulang yang di antarkan oleh Luki sekalian jalan membeli obat yang telah di resep kan.
Silvan terlihat sudah siap memasak dan menyusunnya di meja makan, saat Silvan sedang membereskan dapur dari sisa-sisa bahan makanan telponnya pun berbunyi, Silvan terlihat tidak senang dan membiarkan telponnya berbunyi hingga tiga kali dan pada akhirnya ia menyerah dan menjawab telponnya.
"Ya.." jawab Silvan cuek.
"Kamu sedang dimana?" tanya si penelpon.
"Sedang di rumah teman, ada apa?" jawab Silvan dengan dingin.
"Hmmm... pulang lah sebentar, kamu sudah beberapa hari ini tidak pulang, ibu sangat kangen padamu, dan juga ibu sedang bersama Shasha, pulanglah sekarang jika tidak kamu tau kan apa yang terjadi jika ayah tau.?" mendengar nada ancaman dari ibunya semakin membuat Silvan marah dan muak, namun tidak bisa menolak permintaan ibunya untuk pulang setelah mendengar nama wanita yang disebutkan oleh ibunya.
"Sedang apa dia disitu.? bukankah aku sudah mengatakan jika kami sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi, kenapa ibu masih mencoba membuat aku kembali padanya.? Terlebih setelah ibu tahu alasan kami putus.? haaa... aku bisa gila jika terus seperti ini, baiklah aku akan pulang untuk menyelesaikan ini semua dan aku harap ayah ada dirumah." Silvan terlihat sangat frustasi dengan situasi nya saat ini, hatinya juga terus terbakar rasa cemburu saat melihat Lylia yang merawat Samuel dengan penuh perhatian.
Di hati kecil Silvan terbesit penyesalan karena sudah menceritakan sisi lemah Samuel yang membangkitkan rasa empati dari Lylia, Silvan takut rasa empati itu akan menjadi cinta.
Silvan selesai membereskan dapur dan menjumpai Lylia untuk berpamitan.
"Lylia... maaf sepertinya aku tidak bisa menemani mu makan, aku harus pulang sebentar, ibu terus menyuruhku pulang, dan makanan nya sudah siap semua, bubur Samuel juga ada di situ, apa harus aku bawakan kesini? Mengingat kaki mu pasti akan sangat kesulitan, di tambah kau harus mengurus kakak." ucap Silvan yang merasa khawatir akan kondisi Lylia yang belum pulih di tambah harus membantu Samuel.
*Baiklah jika seperti itu, hubungi aku jika ada sesuatu." pinta Silvan kepada Lylia, lalu pergi meninggalkan Lylia berdua Bersama Samuel.
Setelah kepergian beberapa orang, suasana rumah terasa sepi dan sunyi, Lylia yang duduk di sofa yang sama dengan Samuel terus terpikirkan perkataan dari dokter pribadi Samuel yang mengatakan jika Samuel memiliki masalah dengan psikis nya, dan juga Lylia memikirkan cerita Silvan tentang Samuel di masa kecil, Lylia menduga jika masalah psikis Samuel berhubungan dengan masa kecilnya.
Lylia terus mengecek suhu badan Samuel sembari terus membasahi kain untuk mengompres dahu Samuel dengan air dingin, namun saat di cek ternyata suhu badan Samuel sudah menurun, tubuhnya tidak lagi panas, Lylia merasa bangga akan dirinya yang telah berhasil membuat Samuel menjadi sedikit lebih baik, senyum pun merekah di wajah Lylia.
Waktu terus berlalu jam menunjukkan pukul dua siang, Lylia dan Samuel terlihat tertidur di sofa yang sama, Lylia duduk di sisi kepala Samuel sedangkan samuel tidur terlentang, Luki belum terlihat batang hidungnya, rumah Lylia terasa sangat aman dan nyaman, keheningan memenuhui rumahnya, hanya terdengar suara dentangan jam dinding.
Lylia terlihat tertidur sambil duduk namun tidak menghalanginya dari tidur nyenyak seperti orang yang tidur di kasur, Samuel pun akhirnya terbangun dari tidurnya, dan melihat sekitar rumah yang sangat familiar, Samuel masih mencoba memikirkan dia sedang dimana, yang akhirnya Samuel ingat jika dia sedang di rumah Lylia,
Samuel bangkit dari tidur nya dan menyadari jika bajunya sangat basah yang membuat nya tidak nyaman, Samuel merasa benar-benar tidak nyaman dengan bajunya yang basah karena keringat dan langsung memilih membuka bajunya, saat telah membuka baju mata Samuel mengarah kebarah Lylia yang sedang tertidur.
"Pemandangan yang indah seperti biasanya, alangkah bagusnya jika aku bisa melihat pemandangan bagus ini setiap hari, setiap pagi saat aku membuka mata, dan setiap malam saat aku akan menutup mata." Samuel bergumam sendiri sembari terus mendekat ke arah Lylia.
Samuel memandangi wajah Lylia secara dekat, mulai dari rambutnya, alis, mata, hidung dan bibirnya, bibirnya yang sudah pernah di kecupnya, jantung Samuel terus berdetak kencang seakan jantungnya bisa keluar saat itu juga.
Samuel terus mendekat ke arah Lylia dan akhirnya hampir tidakbada jarak antara mereka berdua, Samuel terlihat sangat ingin memeluk Lylia, namun ia ingat akan kejadian kemarin yang membuat Lylia terluka, Samuel menahan dirinya, dan hanya menatap Lylia secara dekat, sangat dekat, hingga nafas yang di keluarkan Samuel dapat dirasakan oleh Lylia yang membuat Lylia juga terbangun.
Lylia membuka matanya dengan perlahan saat merasakan nafas Samuel, saat sadar jika wajah Samuel berada begitu dekat dengan wajahnya, Lylia terlihat tidak panik, dan hanya menatap mata Samuel yang membesar karena terkejut melihat Lylia yang tiba-tiba membuka mata.
Samuel dan Lylia pun saling menatap satu sama lain, Samuel yang melihat tidak ada penolakan dari Lylia pun akhirnya mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Lylia secara perlahan dengan perasa ragu takut akan di tolak oleh Lylia, namun siapa sangaka jika Lylia lah yang maju dan mengecup bibir Samuel, yang membuat Samuel sangat terkejut.
Melihat reaksi yang tidak terduga, Samuel tidak membuang kesempatannya dan langsung membalas kecupan Lylia, namun tidak seperti Lylia yang hanya mengecup bibirnya, Samuel malah mencium bibir Lylia dengan penuh hasrat ingin memiliki, Samuel mengulum bibir Lylia dan terlihat Lylia juga menerima ciuman penuh nafsu dari Samuel,
Akhirnya ciuman panas antara Lylia dan Samuel pun tidak dapat di hindari, Samuel yang tidak memakai baju pun terus merasakan sentuhan langsung dari Lylia yang membuatnya merasa hampir gila, Samuel tidak lagi mampu menahan hasratnya untuk memiliki Lylia.
Lylia yang juga tenggelam dengan kenikmatan yang di berikan oleh Samuel pun tidak dapat memikirkan apapun, dan terus mencoba menerima perasaan Samuel, Lylia telah memilih untuk mencoba membuka hatinya untuk Samuel, walaupun ia tau apa yang dilakukannya dengan Samuel ini terlalu cepat, namun tidak dapat di pungkiri Lylia juga sangat merindukan sentuhan yang penuh dengan hasrat, seolah ingin melampiaskan semua rasa frustasi nya yang selama ini telah di pendamnya.
Samuel terus membelai dan mencumbui Lylia yang juga di balas dengan belaian oleh Lylia, Lylia akhirnya memeluk Samuel yang membuat Samuel merasa jika ia sudah di izinkan untuk bertindak lebih lanjut, Samuel tidak lagi menunggu dan langsung memeluk Lylia lalu di jatukannya ke sofa, Samuel dan Lylia akhirnya melakukan hubungan intim di sofa, yang membuat mereka kembali tertidur karena kelelahan, kali ini Lylia tertidur di lengan Samuel sambil memeluka tubuh Samuel.
Pakaian Samuel dan Lylia terlihat berantakan di lantai, Samuel yang terbangun terlebih dahulu merasa sangat bersyukur dengan sakitnya hari ini, dan juga perasaan yang sangat bahagia, wanita yang sudah lama di cintainya akhirnya menjadi miliknya sepenuhnya, Samuel menatap wajah Lylia yang tertidur pulas di lengannya, terlihat wajah Samuel terus dihiasi dengan senyuman, Samuel membelai rambut Lylia dengan lembut, namun Samuel teringat akan sesuatu yang penting yang membuatnya reflek memukul jidatnya sendiri, Lylia yang terkejut karena reflek dari Samuel pun terjatuh dari sofa.
"Aahhh... kaki ku sakit sekali, Samuel apa yang kau lakukan.?" Lylia meringis kesakitan saat jatuh kakinya terbentur.
"Ah.! maaf Lylia... aku tidak sengaja." ucap Samuel.
Namun untuk beberapa detik suasana jadu hening hingga akhirnya Lylia dan Samuel sama-sama berteriak, Lylia berteriak sambil menutup matanya, begitu pun dengan Samuel yang juga reflek berteriak karena Lylia yang berteriak sambil menunjuk ke arah bawah perut Samuel, Samuel yang menyadari itu pun langsung menutupnya dengab tangannya, Lylia akhirnya sadar jika dia juga tidak memiliki pakaian sehelai pun di tubuhnya, mereka berdua benar-benar dalam keadaan tanpa busana.
"Aaarrrggh.!!!" teriak Lylia dengan satu tangan menutup mata dan tangan satunya menunjuk kearah pusar Samuel.
"Aarrgh.!!" Samuel yang juga ikut berteriak saat melihat dirinya tanpa busana.
Lylia mengambil pakaiannya berlari dengan terpincang-pincang ke kamar sambil menutup bagian bawahnya, rasa sakit di kakinya seakan menghilang di karena rasa malunya,
"Ya ampun... betapa memalukannya ini." ucap Lylia yang sudah berada dalam kamar.
"Tidak.! ini memang sangat memalukan, tapi aku sudah memilih, aku sudah memutuskan dan melakukannya secara sadar, meski ini terlalu cepat, aku akan membiarkan waktu yang bekerja, seiring waktu kita dapat melupakan, dan seiring waktu juga kita dapat merasakan sesuatu yang baru." Lylia bergumam mencoba menyemangati diri sendiri.
Tak ingin terlalu larut akan kejadian tadi Lylia memilih untuk mandi membersihkan dirinya, si luar terlihat Samuel yang sudah per pakaian tentu masih dengan pakaian yang sedikit basah tadi.
Samuel kembali tiduran di sofa dengan tangan di kepala, Samuel terlihat kembali lemas, ia merasa tubuhnya kembali panas, namun yang benar membuatnya pusing adalah fakta bahwa mereka telah melakukan hubungan intim tanpa adanya alat pelindung, alias kontrasepsi berupa k*ndom, Samuel sedang memikirkan bagaimana caranya menjelaskannya kepada Lylia.