
Dua hari telah berlalu semenjak malam itu, Lylia tidak mendapat kabar dari Samuel dan juga Silvan, bahkan satu pesan pun tidak ada, Lylia yakin malam itu dia ketiduran di sofa tapi dia bangun di dalam kamar saat pagi hari, Lylia yakin bahwa Samuel yang memindahkannya dari sofa ke kamar, karena hanya Samuel lah yang tahu sandi pintu apartemennya.
Lylia bersiap-siap untuk pergi kerja, ini adalah hari pertamanya, kakinya masih di gips tapi sudah lebih baik, Lylia berniat akan kerumah sakit sepulang kerja untuk melepas gips di kakinya karena merasa tidak nyaman, apa lagi kakinya di rasa sudah sedikit membaik.
Lylia terlihat mengunakan one piece dress berwarna celadon green dan rambut cokelat ikal yang di biarkan tergerai menambah kesan dewasa, penampilannya hampir sempurna jika dia bisa memakai sepatunya dengan benar.
Merasa sudah siap Lylia pun pergi ke hotel tempatnya bekerja, namun walaupun Lylia sudah lulus melalui pendaftaran dan wawancara online, Lylia masih harus bertemu dengan HRD untuk menyerahkan dokumen fisik, perasaan kalut tidak dapat di sembunyikan karena di hari pertama Lylia harus datang dengan kaki di gips, benar mimpi buruk.
Lylia pergi ke hotel mengunakan taxi, karena belum paham rute bus yang beroperasi, ternyata lokasi antara hotel dan apartemen tempat Lylia tinggal tidaklah begitu jauh, hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk bisa sampai ke hotel saat mengunakan taxi.
Akhirnya Lylia sampai di sebuah hotel yang mewah dan megah, hotel bintang lima yang mempunyai beberapa cabang, Lylia yang melihat betapa mewahnya hotel itu pun langsung merasa lemas, bagaimana tidak dia bekerja di hotel itu sebagai orang yang akan membersihkan kamar-kamar hotel dan bagian-bagian lainnya.
"Nasibku... apa aku akan bisa bekerja di sini? dengan keadaan kaki begini, saat mereka melihatku pasti mereka akan langsung memecat ku" Lylia bergumam meratapi nasibnya yang belum tentu akan terjadi seperti itu.
Akhirnya Lylia masuk dan menuju ruang HRD, ternyata HRD nyan seorang perempuan yang kelihatan sebaya dengan dirinya, rambut hitam lurus yang di biarkan tergerai namun tatapan matanya tidak bersahabat, sosoknya memiliki aura yang dingin, dengan perasaan ragu Lylia mencoba menyampaikan maksud kedatangannya.
"Permisi... nama saya Lylia Trisier, saya datang untuk mengatar dokumen..." belum selesai Lylia bicara sang HRD langsung menimpali nya.
"Iya saya sudah tau, kamu Lylia trisier dari desa Grindelwad kan?" tanya sang HRD memastikan.
"Aahh i-iya... saya..." lagi omongan Lylia di timpali
"Ada apa dengan kaki mu? bagaimana kau bisa bekerja jika kaki mu seperti itu?" tanya sang HRD yang melihat kaki Lylia dalan keadaan tidak memungkinkan untuk bekerja.
"Aaahh... saya terkilir saat hendak menuju apartemen, saya tidak melihat jalanan yang licin." ucao Lylia yang memberikan alasan.
"Haaa... kau jelas tidak mungkin bekerja dengan kaki seperti itu, silahkan duduk dan baca kontrak ini." ucap sang HRD.
"Aahh baik... tapi.. boleh saya tau nama anda? saya tidak tau harus memanggil anda dengan sebutan apa." tanya Lylia.
"Nama saya Sophia lautner, panggil saja Shopie, lalu apakah masih ada hal yang ingin kau tanyakan.?" ucap HRD yang bernama Shopia dengan wajah datar.
"Aah sebenarnya ada" jawab Lylia.
"Katakan apa itu.?" tanya sophie.
"Kau menyuruh ku untuk membaca kontrak ini sebelum aku tanda tangan.?" tanya Lylia yang merasa kebingungan.
"Tentu saja, bukankah kau sudah lulus interview online? berkasmu juga bagus dan lengkap, hari ini kau hanya perlu mengatar dokumen fisik dan menanda tangani kontrak. lalu bagian mana yang kau tidak mengerti.?" jelas sophie dengan panjang lebar.
"Benar! Kau tidak akan bisa bekerja dengan kondisi kaki seperti ini, tapi bukan berarti kau tidka di terima bekerja disini, aku akan mengganti bagian yang bisa kau kerjakan dengan kaki seperti itu. kau tunggu saja telpon dariku, aku akan menjadwalkan hari kerjamu, dan nanti kau akan ku berikan baju seragam hotel ini, jadi sekarang baca kontrak itu dengan benar lalu tanda tangani jika kau setuju."jawab sophie yang menjelaskan semuanya kepada Lylia.
"Aahh baik... Maaf sudah banyak bertanya." ucap Lylia.
"Untuk apa kau minta maaf? Lebih bagus bertanya jika tidak tau dari pada merusak semuanya karena sembarang mengasumsi." ucap sophie dan duduk di depan meja kerjanya, Lylia duduk di meja sebelahnya.
"Baik.. Terima kasih" ucap Lylia dengab senyumnya.
Selesai menanda tangani kontrak Lylia di berikan baju seragam untuk bekerja di hotel, Lylia tampak sangat senang saat menerima baju seragam pertamanya.
"Lylia kirimkan surat dokter melalui email agar aku bisa membuat absensi untuk mu, karena seharusnya kau sudah mulai bekerja besok, jadi aku butuh surat dokter." ucap Sophia.
"Baik... terima kasih atas bimbingannya.. Sophie.. kalau begitu aku permisi pulang." ucap Lylia dengan perasa bahagia, karena menurutnya Sophie itu adalah orang baik, walau memiliki karakter yang dingin, tapi sikap sebenarnya begitu hangat.
Lylia keluar dari ruang HRD yang berada di lantai 5 hotel dan menuju lift untuk turun, saat Lylia masuk Lift untuk beberapa detik Lylia merasa melihat orang yang dia kenal sedang keluar dari lift, namun sayang saat hendak keluar untuk memastikan siapa yang di liatnya tadi, pintu lift malah akan tertutup.
Dalam Lift Lylia merasa yakin dengan apa yang dilm lihatnya walaupun hanya beberapa detik, Lylia yakin sangat mengenali wajah pria tadi, Lylia ingat akan Jiordan, Lylia mulai memikirkan Jiordan lagi, seka hatinya kembali galau, Lylia tau jika Jiordan berada di kota ini, Lylia yakin jika mereka tinggal di kota yang sama.
Pintu lift terbuka, saat hendak keluar Lylia berhadapan dengan Samuel, keduanya terlihat sangat terkejut, saat Lylia hendak keluar dari Lift, Samuel malah mendorong nya kembali masuk ke Lift dan langsung menekan tombol lantai 5.
Saat ini Lylia sangat shock akan perlakuan Samuel yang mendorong nya masuk ke lift san memeluknya tanpa bicara sepatah kata pun, Lylia yang masih terkejut ingin meronta agar di lepaskan namun pelukan Samuel begitu erar, Lylia di peluk oleh Samuel melalui belakang yang membuat Lylia tidak dapat melihat wajah Samuel.
"Samuel apa-apaan kamu.? kenapa kau melakukan ini? ini adalah hotel tempat ku bekerja, biasakah kau melepaskan aku? sebenarnya ada apa ini? apa ada yang ingin kai katakan?" ucao Lylia sembari terus meronta namun masih di abaikan oleh Samuel.
Akhirnya pintu Lift pun terbuka, Samuel langsung menarik Lylia untuk masuk ke kamar hotel VIP yang sangat mewah, Lylia sangat terpukau dengan dekorasi kamar hotel yang seperti istana.
"Kau tunggu disini, aku harus masuk ke ruang ku dulu sebentar, karena ada klien penting yang harus ku tangani, aku tidak akan lama, aku janji, tunggulah... nanti akan ku jelaskan semuanya" ucap Samuel dan berlalu pergi meninggalkan Lylia sendiri di kamar yang super mewah, bahkan Lylia dapat menciun aroma kekayaan dari ruangan ini.
Samuel masuk ke ruang kerjanya yang memang ada seorang tamu yang sudah menunggu nya, ruang kerja Samuel juga berada di lantai yang sama dengan kamar VIP dan HRD.
Samuel duduk di depan cliennya, dan mulai membahas pekerjaannya.
"Nama saya Jiordan scar, saya dan istri saya akan mengadakan pesta perayaan pernikahan kani di sini, maka dari itu aku ingin tau pelayanan yang seperti apa saja yang akan kami dapatkan?" ucao Jiordan tanpa basa basi.
"Nama saya Samuel Britz.. salam kenal kembali, jadi kau ingin tau pelayanan sepet apa saja yang kau dapat.? Itu tergantung berapa yang akan kau keluarkan, bukankah seperti itu?"