Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
POV LYLIA



Hari menunjukkan pukul satu siang. Samuel dan Lylia sudah bersiap-siap untuk berangkat balik ke kota Appenzell. semenjak kejadian tadi, Lylia sudah merasa sedikit tenang, sekarang dia benar-benar tidak ingin mengingat Jiordan lagi. untuk sekarang Lylia fokus kepada Samuel seorang.


susana hati Samuel sedang ceria, sebelum berangkat Samuel membeli buket bunga mawar putih untuk di berikan kepada Bu Diana. melihat itu Bu Diana merasa sangat bahagia. Bu Diana terkenang kejadian tadi pagi yang sangat mengejutkan. Lylia mengatakan cinta kepada Samuel dan tidak lama kemudian Samuel mengatakan ingin melamar Lylia secara resmi di depan banyak orang. Samuel ingin sekali mengenalkan Lylia kepada koleganya.


Di sisi lain di sebuah Villa yang berada di perbukitan tepatnya tempat Jiordan berada bersama istrinya. Jiordan dan istrinya sedang bersiap-siap untuk pergi kembali ke kota Appenzell. raut wajah Jiordan terlihat tidak baik dan istrinya menyadari ada yang aneh dengan tingkah Jiordan sejak tadi pagi, terlebih lagi ada luka di bagian ujung bibirnya, saat di tanyai Jiordan beralasan kena tinju temannya saat mereka berlatih boxing.


"Apa kau benar-benar tidak apa-apa? kelihatannya perasaan mu sedang tidak baik sejak pagi tadi. apa terjadi sesuatu tadi malam?" tanya Selena kepada Jiordan yang sedang membereskan barang.


"Tidak ada yang terjadi. semalam aku hanya minum terlalu banyak." jawab Jiordan sembari terus memasukkan pakaiannya ke dalam koper.


"Kamu tau? kemarin sore aku tidak sengaja menguping pembicaraan ibu bersama adik mu. siapa itu Lylia?" seketika tubuh Jiordan membeku, nama yang tidak pernah di duga akan di ucapkan oleh istrinya Selena.


"Apa dia kenalan mu?" tanya Selena kepada Jiordan.


"Kenalan? tentu saja, dia juga orang dari desa ini, memang nya apa yang kamu dengar?" tanya Jiordan yang ingin memastikan apa yang di ketahui oleh istrinya Selena.


"Hmm.. tidak banyak, aku hanya mendengar jika dia mengalami depresi karena di tinggal nikah oleh pacarnya setelah menunggu lebih dari empat tahun lamanya, aku merasa kasihan kepadanya walaupun kami tidak kenal satu sama lain, tapi kasihan sekali dia membuang waktunya hanya untuk laki-laki yang tidak setia, jika aku jadi dia aku pasti sudah memiliki laki-laki lain bahkan mungkin tidak sampai satu bulan aku di tinggal aku sudah berpacaran dengan orang lain. menjalani hubungan jarak jauh itu memang sangat rentan, apa yang membuat wanita itu bisa setia sampai empat tahun?" ucap Selena yang merasa kasihan akan kisah hidup Lylia. Jiordan sedikit merasa lega karena Selena tidak mengetahui tentang dirinya dan Lylia.


"Yaa... siapa tau ternyata dia juga mempunyai selingkuhan di sini kan? kita tidak pernah tau, sudah dari pada kamu memikirkan hal yang tidak penting mending kamu minum vitamin agar tidak mual." ucap Jiordan yang menyuapkan vitamin untuk istrinya yang sedang hamil muda.


Di sisi lain Lylia sudah di dalam mobil, mereka sudah mulai melakukan perjalanan pulang. Lylia duduk sambil melihat pemandangan di luar yang memperlihatkan landscape desa Grindelwad yang tidak pernah tidak indah. namun bedanya saat ini Lylia hanya memandang tanpa rasa kagum, pikirannya terus berputar mengingat kejadian semalam.


...----------------...


POV LYLIA


Dari banyaknya tempat dan waktu kenapa aku harus bertemu dengannya sekarang? seluruh tubuhku gemetar, kepala ku terasa pusing, kaki yang terluka membuat ku merasa sangat memalukan saat ini, kenapa aku harus bertemu dengannya dengan tampilan seperti ini? padahal aku sudah berencana jika bertemu dengannya aku akan berada dalam situasi terbaik ku, bukan malah sisi lemah dan memalukan seperti ini. kenapa dia mendatangi ku saat ini?


"Jiordan..!?" ucap Lylia yang terkejut.


B**agiamana ini? aku tidak boleh jatuh, aku harus bangun dan pergi. tapi kaki ku tidak dapat ku gerakkan, kenapa tubuh ku terus gemetaran?


"Lylia? apa kabar mu!?" tanya Jiordan dengan wajah matang dan dewasa, Lylia mengenali wajah itu walaupun sudah empat tahun tidak bertemu, tubuh dan wajah tampan yang matang dan sempurna, walau berbeda namun Lylia langsung mengenali Jiordan, begitu pula Jiordan yang langsung tau jika itu Lylia, perubahan selama empat tahun membuat Lylia terlihat sangat cantik dengan tubuh yang molek dan pastinya semakin dewasa sangat berbeda dengan empat tahun lalu dimana mereka masih baru beranjak remaja namun kini sudah sama-sama dewasa. namun selama empat tahun satu hal yang tidak berubah dari Lylia yaitu rasa cinta dan kesetiaan nya kepadamu Jiordan tidak pernah berubah. namun kini semua sudah hancur, wajah tampan Jiordan tidak mampu memperbaiki hati Lylia yang telah hancur berkeping-keping.


Apa katanya? apa kabarmu? apa dia gila? setelah mencampakkan aku dan sekarang dia datang untuk menanyai kabar ku? ingin rasanya aku memukul kepalanya dengan tongkat ini, tapi seluruh tubuhku gemetaran hebat, kenapa seperti ini? apa karena aku terlalu syok?


"Kau... kau... aku tidak ingin melihatmu pergilah!" ucap Lylia yang gagap karena syok.


Aku harus pergi dari sini. kaki sialan, kenapa tidak mau bergerak. kepala ku juga sangat pusing, aku harus kuat agar bisa pergi dari situasi ini.


"Lylia... aku tidak tau harus mulai dari mana, tapi aku sungguh ingin minta maaf padamu, aku mendengar dari teman-teman ku jika kau pergi dari desa tidak lama ini, tapi kenapa sekarang kau kembali?" tanya Jiordan dengan wajah yang menunjukkan kesedihan, entah apa yang di rasakan oleh Jiordan saat melihat kondisi Lylia saat ini.


"Bukan urusan mu!" aku harus pergi dari sini, situasi ini sangat memalukan, aku tidak ingin di kasihani oleh nya, kenapa tubuh ku tidak berhenti bergetar? ahh sial air mata ku hampir menetes, aku tidak ingin lagi menangisi dirinya, air mata ku sudah sangat banyak ku tumpah kan hanya untuk laki-laki sepertinya. aku harus memaksa kan kaki ku untuk berjalan. sial sepertinya aku akan terjatuh, pandangan ku mulai kabur, kepalaku sangat pusing. Samuel.. kau dimana?


Saat Lylia akan terjatuh Jiordan dengan sigap menahan tubuh Lylia yang akan terjatuh namun berakhir dalam pelukan Jiordan menyadari itu Lylia pun memberontak.


Tidak! jangan menyentuh ku, lebih baik biarkan saja aku terjatuh dan pingsan dari pada berada dalam pelukan mu seperti ini.


"Lepaskan aku.! jangan menyentuh ku.!" dengan suara bergetar Lylia memaksa dirinya untuk minta di lepaskan dari pelukan Jiordan.


"Siapa bilang dia sendirian!? Lepaskan dia.! apa kau tuli? bukan kah dia sudah meminta untuk di lepaskan!?" ucap Samuel dengan penuh amarah.


Samuel... kenapa kau lama sekali? aku.. rasanya aku akan pingsan sekarang juga.


"Kau!? bukankah Kau CEO Hotel Weissbad? sedang apa kau di sini? apa hubungan mu dengan Lylia?" tanya Jiordan yang terkejut dengan kehadiran Samuel yang juga sangat dekat dengan Lylia seakan mereka adalah sepasang kekasih.


"Aku sangat yakin bahwa itu bukan urusan mu! urus saja istri mu. sepertinya dia lebih membutuhkan mu di sana.!" ucap Samuel yang menunjukkan arah dimana istri Jiordan sedang mual di seberang jalan, melihat itu Jiordan panik dan pergi meninggalkan Lylia dan Samuel.


Akhirnya dia pergi, apa dia membawa istrinya ke sini? istrinya hamil? ahh... aku tidak tahan lagi, semuanya sangat memusingkan dan tenaga ku rasanya habis terkuras. aku mendengar percakapan Samuel dan Abisal namun semuanya tampak samar-samar, aku tidak dapat mendengar dengan jelas namun satu yang bisa ku pastikan, suara Samuel sangat berat, kelihatannya dia sangat marah.


hati ku sangat sakit, apa ini rasa trauma? apakah hati dapat menyimpan memori rasa sakit? besok aku akan menyelesaikan semuanya dengan Jiordan, aku akan menemuinya, untuk saat ini aku akan istirahat karena tidak ada yang dapat ku lakukan dengan kondisi saat ini.


pagi pun tiba kepala ku terasa sakit mungkin karena angin malam yang membuat ku masuk angin, sepertinya aku bangun kesiangan, tidak ada suara panggilan dari ibu seperti biasa, mungkin karena kejadian semalam yang membuat ibu membiarkan ku tidur hingga siang hari.


aku harus segera bersiap-siap untuk pergi menemui Jiordan, tidak ada waktu lagi. nanti aku harus kembali ke Appenzell bersama Samuel, jadi aku harus bergegas menemui Jiordan, aku ingin terus melanjutkan hidup tanpa ada rasa yang tertinggal dari masa lalu. aku sudah memutuskan untuk membuka hati untuk Samuel, aku tidak ingin mengecewakan orang yang sudah sangat baik dan tulus kepadaku.


ah! aku harus mengajak Lean untuk ikut menemani ku menemui Jiordan. sudah tidak ada waktu lagi, aku harus bergegas. tapi sebelum itu aku harus menghubungi Lean terlebih dahulu, entah kenapa aku sangat bersemangat pagi ini, kaki ku tidak begitu terasa sakit seperti nya sudah tidak apa-apa.


Lean sedang menunggu ku di tempat biasa aku harus bergegas, aku akan segera menyelesaikan ini semua. agar rasa sakit yang berada di hatiku ini akan segera hilang, karena penyebab dari rasa sakit di hati ku di karenakan rasa tidak rela, tidak rela di campakkan begitu saja, setidaknya ini harus di selesaikan dengan empat mata. agar aku dapat menerima semuanya.


Karena begitu bersemangat aku terus berlari hingga tidak menyadari kaki ku yang kesakitan dan juga lecet sampai akhirnya Samuel menyadari aku.


"Lylia! kau kenapa? ada apa?" Tanya Samuel dengan rasa khawatir.


"Samuel lepaskan aku, aku harus pergi ke sesuatu tempat." ucap Lylia yang ingin menghempaskan tangan Samuel yang menggenggam erat tangannya, tentu saja tangan Samuel tidak semudah itu lepas.


"Lylia!! sadarlah!! kaki mu berdarah! demi tuhan Lylia katakan ada apa? apa yang hendak kau lakukan!?" Samuel berteriak frustasi melihat tingkah Lylia.


*Samuel... ini untuk yang pertama kalinya kau berteriak kepada ku, apa yang sudah aku lakukan? seketika tubuh ku runtuh dan air mata yang ku tahan sejak kejadian semalam akhirnya meluap. air mata ini tidak dapat ku bendung lagi. perasaan bersalah ku kepada Samuel yang hingga kini belum mampu sepenuhnya membuka hati untuknya, padahal aku sudah berjanji dan lagi aku sudah melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan hanya karena rasa kesepian ku, rasa rindu ku yang tidak kesampaian. dan juga rasa malu ku kepada Jiordan. sisi lemah ku yang tidak ingin ku perlihatkan kepadanya, aku tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapannya, namun semua itu di luar kuasa ku. sepertinya kesialan ku belum berakhir.


Aku yang terjatuh dan menangis di bawa masuk ke dalam rumah oleh Samuel. kenapa orang sebaik dirinya harus terlibat dalam kesialan dan kesulitan ku ini.


di dalam seperti biasa ibu paling histeris saat melihat ku terjadi sesuatu. namun seolah paham ibu tidak menanyakan hal-hal yang aneh, ibu menunggu hingga aku menjadi tenang. namun tidak lama kemudian Lean pun datang, sepertinya biasa juga Lean selalu ada di saat aku ke sulitan. melihat Lean yang menangis karena ku membuatku semakin sedih, namu semua kesedihan ini haru segera ku hentikan, mau sampai kapan aku seperti ini terus? aku harus melupakan semuanya. aku akan benar-benar menikahi Samuel dan membuat semuanya menjadi baik-baik saja. ibu tidak perlu lagi mengkhawatirkan aku yang sendirian dan ibu bisa fokus untuk menyekolahkan Abisal. dan juga Samuel.. pria yang sangat baik dan tulus. dari awal perkenalan kami hingga hari ini dia terus berada di samping ku, dengan sabar dan tulus membantu ku dalam banyak hal, seolah cintanya terus meluap hanya untuk ku. aku akan menerima Samuel sepenuh hati ku, aku yakin, seiring waktu rasa cinta ku akan tumbuh untuk nya*.


"Lylia? apa yang terjadi pada mu?" tanya Lean yang memeluk Lylia saat melihat Lylia sudah sedikit tenang.


"Aku tidak apa-apa Lean, aku hanya terjatuh, maaf aku membuat mu menunggu lama." ucap Lylia sambil tersenyum tipis.


"Ah.. Lean perkenalkan ini Samuel, dia... dia tunangan ku." ucap Lylia yang memperkenalkan Samuel sebagai tunangannya.


"Apa!?" Lean sangat terkejut mendengar pengakuan Lylia.


"Iya Lean, Samuel adalah tunangan ku, aku akan menikah dengannya, Samuel telah melamar ku tidak lama ini." ucap Lylia. Bu Diana merasa sangat bahagia, begitu pula dengan Samuel.


*Akhirnya aku mengungkapkan hal yang tidak ingin aku ungkapkan. awalnya aku tidak ingin hubungan ku dengan Samuel di ketahui oleh siapapun terutama oleh ibu. namun hari ini aku sadar bahwa selama ini aku hanya menahan diri ku, dan menutup hati ku untuk Samuel karena aku masih menginginkan Jiordan. namun setelah pertemuan yang tidak di sengaja semalam, aku dapat menyakinkan diriku bahwa tidak ada tempat lagi bagi Jiordan dalam hati ku, yang ada hanyalah rasa benci dan jijik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...