Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
PERASAAN YANG SULIT



Lylia sudah di perolehan untuk pulang, Lylia menolak memakai kursi roda dan hanya memilih memakai tongkat penompang saja, yang membuat Samuel khawatir namun ia tak dapat melakukan apapun.


Mereka pun akhirnya pergi dari rumah sakit, tentu Luki masih menjadi supir mereka, selama perjalanan tidak ada percakapan sama sekali, Lylia tampak sangat mengantuk, malam pun sudah semakin larut, namun Samuel mencoba membuka pembicaraan.


"Lylia? apa kau merasa jauh lebih baik" tanya Samuel.


"Iya aku sudah baik-baik saja, aku bersyukur ini hanya terkilir." jawab Lylia lembut.


"Lylia katakan saja padaku jika kau memerlukan sesuatu, jangan malu untuk minta bantuan dariku ya?" pinta Samuel, ia tau Lylia akan sangat kesulitan nanti.


Akhirnya mereka sampai di Apartemen, Samuel membantu Lylia turun dari mobil, ketika Samuel hendak membantu Lylia berjalan dengan sigap Lylia menolak bantuan Samuel dengan lembut,


"Aku tidak apa-apa Samuel, aku bisa berjalan sendiri, tongkat ini sangat membantu." pungkas Lylia yang menolak bantuan Samuel,


"Apa kau yakin?" tanya Samuel.


"Ya, aku tidak apa-apa" jawab Lylia mencoba menyakinkan Samuel lagi.


"Baiklah kalau begitu, aku akan berjalan pelan-pelan mengikuti mu, aku boleh melakukan itu kan?" jawab Samuel yang masih ingin menjaga Lylia.


"Ya... Terserah kamu saja." jawab Lylia yang kehabisan kata-kata untuk membuat Samuel tidak membantu nya lagi.


"Baiklah kalau begitu, Luki kau bisa pulang sekarang, bawa saja mobil ini, dan selamat berlibur." pungkas Samuel kepada Luki yang juga masih ada di situ.


"Libur? libur pantat mu, kau tidak ingat kemarin kau memberikanku dokumen untuk ku selesaikan karena kau mengajukan cuti? saat aku sedang menyelesaikan dokumen itu kau menghubungi ku untuk datang menemui mu karena hal darurat?!" jawab Luki dengan kesal.


"Aahh kau benar, hahahaha maaf-maaf, maksud ku bukan selamat berlibur tapi selamat bekerja." jawab Samuel dengan candaan tipisnya yang membuat Luki semakin kesal.


"Selamat bekerja? Kau tidak tau inu sudah jam berapa? sudahlah, meladeni mu samakin membuat tensiku naik, apa umur ku akan panjang jika terus menghadapi mu?" Luki semakin kesal namun tidak dapat berbuat apa-apa kepada Samuel, karena Samuel adalah teman sekaligus bosnya di kantor, Luki merupakan teman Samuel sejak berada di bangku sekolah senior.


"tentu saja kau akan hidup lebih lama, sudah... Pulang sana, aku juga akan masuk dengan Lylia..." ucap Samuel yang melihat Lylia sudah berjalan lebih dulu menuju pintu lift dengan terpincang-pincang.


"Astaga anak itu," ucap Samuel untuk Lylia.


"Lylia.! Tunggu aku." panggil Samuel namun Lylia tidak menggubrisnya dan melanjutkan jalannya yang terpincang-pincang hingga Samuel berhasil menyusulnya.


"hah.. hah.. Lylia... kenapa kau langsung pergi?" tanya Samuel.


"Aku hanya merasa ingin segera sampai ke kamarku, dan beristirahat." jawab Lylia.


"Tidak perlu meminta maaf, akulah yang harusnya minta maaf, karena sudah merepotkan mu, bahkan dari awal pertama kali kita berjumpa pun aku sudah merepotkan mu dengan berbagai hal." jawab Lylia yang merasa selama ini terus merepotkan Samuel.


"Kenapa kau bicara seperti itu? Itu semua kemauan ku, aku yang menawarkannya pertama kali, karena aku menyukai mu." jawab Samuel yang tidak ingin membuat Lylia merasa merepotkannya, namun Lylia tidak lagi membalas perkataan Samuel, dia merasa tidak akan ada habisnya jika terus menghadapi Samuel yang keras kepala.


Lift pun naik menuju lantai sepuluh, melihat itu Lylia jadi mengerti kenapa pemandangan yang dilihat begitu indah dari jendela apartemennya, ternyata dia tinggal di lantai paling atas, yang membuat nya tersenyum tidak percaya.


Selama di lift Lylia dan Samuel hanya berdiam saja, tidak ada yang memulai pembicaraan, masing-masing di antara mereka hanya bergelut dengan hati dan perasaan masing-masing.


Pintu lift terbuka menandakan mereka telah sampai ke lantai yang di tuju, Samuel segera keluar dan langsung memegang tangan Lylia, melihat itu Lylia tidak dapat berbuat banyak dan hanya membiarkan Samuel membantu nya keluar.


"Terima kasih atas semuanya, aku masuk dulu, selamat beristirahat." ucap Lylia yang ingin segera masuk ke kamarnya.


"Iya.. Selamat beristirahat juga." balas Samuel yang juga tidak tau harus berkata apa lagi, dan hanya membiarkan Lylia masuk untuk beristirahat, hari ini merupakan hari yang panjang untuk Lylia.


Samuel juga masuk ke kamarnya, melepaskan semua pakaiannya, memperlihatkan tubuh yang sangat maskulin, otot-otot nya menonjol, dadanya sangat bidang, bahu yang lebar, mampu meluluhkan setiap wanita yang melihatnya.


Samuel masuk ke kamar mandi dan menghidupkan kran air pancuran, yang segera membasahi rambut hingga ke seluruh tubuhnya, saat air mengucur di kepalanya membuat Samuel mengingat kejadian saat dia mencari Lylia tadi sore.


"Haaa... apa yang telah aku lakukan.." batin Samuel.


Saat Samuel berlari mencari Lylia ia melihat Silvan yang berlari memasuki sebuah gang yang menjual alat-alat suvenir, gang yang biasanya di lalui olehnya, namun apa yang membuat Silvan berlari seperti melihat sesuatu, curiga akan apa yang di lihatnya adalah Lylia maka Samuel juga berlari mengikuti Silvan, namun siapa sangka, ternyata Silvan menolong Lylia yang kehujanan dan terjatuh pinsan, saat itu Samuel tidak bisa melakukan apapun, dan hanya bisa terdiam mematung, melihat orang yang di cintainya mengalami hal buruk seperti itu membuat Samuel sangat merasa bersalah,


Namun rasa cemburu menyadarkan dirinya, melihat Silvan memopong Lylia membuat tubuh Samuel terasa panas, dia tau Silvan akan menjadi penghalang baginya untuk mendapat kan Lylia, jika sekarang dia tidak mengejar dan melakukan sesuatu untuk Lylia maka dapat di pastikan nanti Lylia tidak akan pernah bisa bersamanya, apa lagi mengingat apa yang telah di lakukannya kepada Lylia.


"Lyliaaa... kenapa sangat sulit untuk mendapatkan mu?" Samuel bergumam sendiri.


"Aku akan mencari tau, siapa laki-laki yang membuatmu menderita hingga takut untuk mencintai lagi." batin Samuel, dan mematikan keran air.


Di sisi lain Lylia yang tampak sangat lelah langsung masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhnya ke samping kasur, mencoba mengingat kejadian hari ini, perasaan yang tadinya bahagia, senang, sampai akhirnya dia mengalami kesialan ini.


"Samuel... Kenapa kau melakukan itu?" Batin Lylia yang mengingat ciuman hangat dan membara dari Samuel, meski singkat tapi Lylia mengingat sensasinya yang malah mengingatkannya kepada Jiordan.


Sebenarnya Lylia kabur bukan karena tidak dapat menerima ciuman dari Samuel, hanya saja ciuman itu yang pertama kali dia rasakan selain dengan Jiordan, ciuman pertama setelah empat tahun lamanya.


Perasaan yang sulit untuk di ungkap kan, rasa trauma akan rasa sakit karena kerinduan, dan rasa sakit karena pengkhianatan yang di lakukan oleh Jiordan, sungguh perasaan yang tidak mudah untuk di atasi, mungkin banyak orang akan berkata jika ia adalah gadis yang bodoh, tinggal lupakan dan menjalin hubungan dengan orang lain makan dengan mudah akan membuatnya melupakan rasa sakitnya, namun yang terjadi tidaklah semudah itu untuk di lakukan.


Lylia yang merupakan gadis polos yang hanya jatuh cinta sekali seumur hidupnya yaitu hanya kepada Jiordan, namun cintanya yang tulus dan polos itu dengan mudah di hancurkan oleh Jiordan, namun bagi Lylia cintanya tidak dapat semudah itu untuk di hilangkan, kesetiaan seperti apa yang sanggup menunggu dan menahan rindu hingga empat tahun lamanya, bahkan tidak ada kabar sekalipun, sungguh penantian yang sia-sia.