Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
TINJU SAMUEL



Karena hari mulai gelap Lylia dan Samuel pun memilih untuk kembali ke rumah, menyisir jalan setapak yang di penuhi lampu, Samuel merasa takjub setiap kali melihat keindahan desa Grindelwad, dia bertanya-tanya dalan hatinya bagaimana bisa ada sebuah desa yang suasananya sama seperti dongeng.


Lylia merasa sangat bahagia dan bersyukur Samuel selalu ada untuknya.


"Samuel... terima kasih untuk semuanya, hari ini kau telah melakukan banyak hal untuk ku, sejak pagi hingga sekarang kau telah banyak membantu ku, walaupun kaki ku seperti ini aku masih bisa berjalan walau harus tertatih dan mengunakan tongkat, kau sangat sabar menghadapi ku, terima kasih." ucap Lylia sembari terus berjalan di samping Samuel.


"Ini bukan apa-apa, aku bisa melakukan ini selamanya asal bersama mu.." jawab Samuel, tangannya mengelus kepala Lylia lembut.


"Lylia, mau kah kau tunggu di situ sebentar?" Samuel menunjuk kursi taman yang ada di depannya.


"Kenapa?" tanya Lylia yang merasa heran.


"Aku ingin membeli sesuatu, tunggulah sebentar saja, tidak lama, aku akan ke toko seberang sana, kau tau kan?" Jawab Samuel yang menunjukkan toko yang menjual aksesoris.


"Aahh.. baiklah, aku tunggu di sini, jangan lama ya? aku sudah lapar." jawab Lylia yang duduk di kursi yang di tunjuk oleh Samuel.


"Iya aku tidak akan lama." Samuel berlari kecil ke toko yang ditujunya.


Lylia duduk sendirian di kursi taman, angin malam mulai berhembus, Lylia merasa sedikit kedinginan, Lylia melipat lengannya agar tetap hangat.


"Angin malam di desa ini selalu dingin, kira-kira Samuel ingin membeli apa ya?" gumam Lylia.


Lylia melihat pemandangan sekitar, sesekali matanya tertuju ke arah toko yang di masuki oleh Samuel, namun sayangnya sosok Samuel belum terlihat, ini sudah lima menit sejak Samuel masuk ke toko itu. Lylia mulai sedikit kesal karena di tinggal sendirian malam-malam dengan angin malam yang dingin, Lylia merasa ada seseorang yang datang dari arah toko aksesoris, sontak saja Lylia menoleh dengan wajah yang kesal dan siap-siap ingin mengomel, namun ternyata yang datang bukanlah Samuel, melainkan laki-laki yang sangat tidak ingin di temuinya, bahkan dalam mimpi pun dia tak ingin melihatnya


"Jiordan!?" Lylia sangat terkejut, tubuhnya bergetar, nafasnya pun tidak beraturan, perasaan Lylia saat ini bercampur aduk, tanpa di sadari air mata pun jatuh membasahi pipinya yang memerah.


"Lylia? apa kabar mu?" Jiordan mulai membuka pembicaraan.


"Kau.. kau... aku tidak ingin melihat mu, pergilah.!" Lylia memaksa dirinya untuk bicara walau dengan suara yang bergetar,


"Lylia... aku tidak tau harus mulai dari mana, tapi aku sungguh ingin minta maaf padamu, aku mendengar dari teman-teman ku jika kau pergi dari desa tidak lama ini, tapi kenapa sekarang kau kembali?" Jiordan mencoba mendekati Lylia yang bagun dari kursi dan terlihat ingin pergi dengan tubuh yang bergetar.


"Bukan urusan mu.!" Lylia mecoba berjalan dengan sekuat tenaga namun karena tubuh bergetar Lylia tidak dapat berjalan dengan benar, Lylia terlihat menahan perasaannya, jika tidak dia akan memalukan dirinya di hadapan Jiordan, namun saat akan berjalan Lylia terlihat akan jatuh , Jiordan dengan sigapnya menangkap Lylia yang membuat Lylia terjatuh dalam pelukannya.


"Lepaskan aku.! jangan menyentuh ku.!" dengan nada suara bergetar Lylia meminta Jiordan untuk melepaskannya.


"untuk berdiri saja kau tidak bisa, kenapa orang yang kakinya sakit berjalan-jalan sendirian di malam hari!?" ucap Jiordan dengan nada tinggi yang menunjukkan kepeduliannya terhadap Lylia.


"Siapa bilang dia sendirian!? Lepaskan dia.! apa kau tuli? bukankah dia sudah meminta untuk di lepaskan!?" Samuel datang dengan wajah penuh kemarahan, tangannya menggenggam erat lengan Jiordan yang membuat Jiordan mengernyitkan alis nya.


"Kau!? bukankah Kau CEO Hotel Weissbad? sedang apa kau di sini? apa hubungan mu dengan Lylia?" Jiordan terlihat bertanya-tanya akan hubungan apa yang di milikinya dengan Lylia.


"Aku sangat yakin bahwa itu bukan urusan mu! urus saja istri mu, sepertinya dia lebih membutuhkan mu di sana.!" ucap Samuel sambil menoleh ke arah istri Jiordan yang berada di seberang jalan, istrinya terlihat sedang muntah-muntah karena bawaan kehamilannya.


Jiordan melihat istrinya yang sendang muntah-muntah pun langsung pergi meninggalkan Lylia dan Samuel.


"Lylia... maafkan aku sudah meninggal kan mu sendirian, apa kau bisa berjalan? Lylia katakan lah sesuatu." Samuel memeluk Lylia yang tidak dapat berjalan, kakinya masih gemetaran di karenakan syok yang di alaminya. akhirnya Samuel membopong Lylia dan membawanya pulang, sepanjang perjalanan Lylia tidak berkata sepatah kata pun, Samuel merasa sangat marah kepada Jiordan.


Dengan terburu-buru Samuel membawa pulang Lylia, di rumah Bu Diana dan Abisal menyambut mereka, wajah yang awalnya tersenyum berubah khawatir karena melihat Lylia yang di bopong oleh Samuel.


"Samuel apa yang terjadi?" tanya Bu Diana yang mengkhawatirkan Anaknya.


"Kakak? apa yang terjadi dengan kakak?" timpal Abisal lagi dan menatap Samuel dengan harapan sebuah jawaban.


"laki-laki itu kembali." ucap Samuel dengan wajah Yang menahan amarah.


"Laki-laki itu..?" Bu Diana terlihat memikirkan siapa yang dial maksud oleh Samuel hingga akhirnya ia sadar siap yang di maksud oleh Samuel.


"Jiordan.." Abisal bergumam dengan mengerakkan giginya, dan langsung berpaling ingin pergi menemui Jiordan namun Samuel menahannya.


"Tetaplah di sini, aku yang akan mengurusnya, kau... jagalah kakak mu bersama ibu, Jiordan biar aku saja yang mengurus nya." Pinta Samuel, ia tau jika Abisal yang menemui Jiordan maka tidak ada masalah yang selesai melainkan masalah lainnya yang akan muncul, mengingat kepribadian Abisal yang masih panas dan ingin membuktikan diri sebagai seorang pria.


"Baik nak, jangan selesaikan masalah ini dengan kekerasan, bicaralah baik-baik." Ucap Bu Diana yang masih mencoba memberikan masukan yang positif.


"Aku tidak yakin bu, kak Samuel terlihat sangat marah saat ini... bu.. sepertinya kakak dan Kak Samuel memiliki hubungan spesial." Abisal mengungkapkan kecurigaannya kepada sang Ibu.


"Tentu saja." jawab Bu Diana singkat yang seolah mengetahui hubungan antara Samuel dan Lylia.


Samuel pergi ke luar mencari Jiordan namun sayangnya Jiordan sudah tidak ada di tempat tadi mereka bertemu, tiba-tiba Abisal datang menghampiri Samuel.


"Kak.. aku tau di mana si brengsek itu duduk biasanya, aku yakin dia sedang tidak di rumah sekarang." ucap Abisal yakin akan keberadaan Jiordan.


"Di mana? bawa aku ke sana." pinta Samuel.


"Tapi kak, apa kakak akan menghajarnya?" tanya Abisal yang ingin tau apa yang akan di lakukan oleh Samuel.


"Menghajarnya? tentu saja aku ingin melakukan itu, tapi tidak sekarang, aku yakin dia tidak sendiri, apa kau tidak tau dia itu seorang letnan, sudah pasti memiliki ajudan di sekelilingnya, kau cukup antar kan saja aku padanya, ada hal yang akan aku sampaikan." jawab Samuel dan mereka bergegas menuju ke tempat Jiordan.


Desa Grindelwad tidaklah besar, penduduk desa tidak mengunakan kendaraan kecuali sepeda, itu pun sangat jarang mereka gunakan, Abisal dan Samuel berjalan selama 10 menit untuk sampai ke tempat Jiordan, mereka menaiki bukit dan terlihat satu villa yang sangat indah, villa yang terbuat dari kayu menghadap ke arah Danau yang di kelilingi gunung dan bukit, tempat yang sangat indah, Samuel merasa takjub dengan keindahan danau di malam hari, banyak cahaya kunang-kunang mengeluarkan cahayanya di pinggiran danau.


Samuel terlihat sangat terpesona dengan ke indahan sehingga membuatnya tidak mendengar perkataan Abisal.


"Samuel? Kak Samuel!?" panggil Abisal yang menepuk bahu Samuel.


"Ahh ya, ada apa? apakah ini tempatnya?" tanya Samuel yang terkejut namun langsung berlagak tidak terjadi apa-apa.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Abisal yang merasa aneh melihat Samuel termenung untuk sementara.


"Ya, tentu" jawab Samuel dengan percaya diri dan terus berjalan mendekati Villa.


"kak, sepertinya benar apa yang kakak katakan tadi, lihat itu.. bukankah itu para penjaganya?" Ucap Abisal yang menunjuk ke arah sekitar villa.


"Ya... benar," jawab Samuel dan mengambil telepon seluler nya.


Samuel terlihat menelpon seseorang.


"Bisakah kau keluar sekarang? aku di depan Villa mu sekarang, ku tau kan ada hal yang harus kita bicarakan" ucap Samuel tanpa basa-basi dan mematikan telepon nya.


"Apa tadi itu Jiordan? kakak menelpon Jiordan? bagaimana kakak bisa mendapatkan nomor telponnya?" tanya Abisal yang terkejut melihat Samuel menelpon Jiordan.


Tidak lama kemudian Jiordan terlihat keluar dari Villa nya dan berjalan menuju ke arah tempat Samuel dan Abisal menunggu nya.


Samuel menyuruh Abisal untuk pergi menjauh sementara, karena tidak ingin Abisal mendengar percakapan antara dia dan Jiordan.


Jiordan pun sampai ke tempat Samuel berada, tatapan mereka jelas saling menusuk satu sama lain.


"Jiordan... aku peringatkan kau untuk tidak pernah lagi bertemu dengan Lylia, sebagaimana selama ini kau yang tidak pernah menemuinya maka lakukan itu untuk seterusnya, aku tidak akan memohon padamu, aku tau siapa istri mu, dan aku tau kenapa kau menikahinya, jadi jika kau tidak ingin aku mengusik rumah tangga mu, lebih baik kau jauhkan wajahmu dari Lylia. paham!?" ucap Samuel yang kesal.


"Tidak! apa hak mu melarang ku bertemu dengannya? memangnya kau suami nya?" Jawab Jiordan yang menolak perintah dari Samuel.


Telinga Samuel langsung panas, tangannya mengepal erat, Samuel yang tadinya berbalik arah karena ingin pergi menghentikan langkah nya saat mendengar perkataan Jiordan, Samuel yang memang sejak tadi telah menahan amarahnya menjadi tidak dapat di kendalikan dan akhirnya melayangkan sebuah tinju ke wajah Jiordan yang membuat Jiordan tersungkur ke belakang.


"Kau sebut dirimu manusia? kau sebut dirimu sebagai pria? kau telah meyakiti hati seorang wanita, membuat nya hancur hanya dengan secarik kertas?! waktunya yang di buang sia-sia hanya untuk menunggu mu selama bertahun-tahun kau hancurkan hanya melalui kertas! bajingan!!! dan kau masih ingin menunjukkan wajah mu di depannya!? apa kau ingin mati? hah!? dasar kau pecundang! jika kau mengabaikan perkataan ku, kau akan tau akibatnya." Samuel pergi setelah meluapkan kemarahannya meninggalkan Jiordan yang tidak lama kemudian di datangi ajudannya, mereka hendak membalas namun Jiordan mencegahnya karena tidak ingin masalahnya di ketahui oleh istrinya, masalah akan menjadi rumit jika mereka terus melanjutkan pertengkaran ini, dan itu tidak baik untuk dirinya sendiri.


Samuel pergi menuruni bukit dan Abisal pun mengikuti nya dari belakang, selama jalan pulang tidak ada sepatah kata pun yang keluar antara Samuel dan Abisal, jelas Abisal tidak berani bicara karena Samuel masih dalam keadaan marah,


"Tunjukkan aku dimana bar dengan beer paling keras di sini" tanya Samuel yang membuat Abisal terkejut.


"Ahh jika kau tanya bar yang bagus maka akan ku tunjukkan, tapi jika kau ingin Beer yang keras lebih baik kita pulang, di rumah ada beer yang bagus dan enak buatan bibi." jawab Abisal yang memberikan pilihan kepada Samuel.


"Baiklah kita pulang saja." jawab Samuel yang jelas lebih memilih beer yang enak dan keras.