
Matahari pagi menyingsing tembus jendela mengenai wajah Lylia yang tampak pucat dengan mata bengkak,
Lylia menangis semalaman, lylia melihat lantai kamarnya yang basah karena air hujan, semalam setelah lelah menangis Lylia bangun dan tidur dengan pakaian dalamnya saja, Lylia terlalu lelah untuk berganti pakaian yang basah karena air hujan dan memilih untuk tidur hanya dengan pakaian dalam dan berselimut.
Lylia bangun dalam keadaan yang kurang sehat, kepalanya pusing, tetapi Lylia memilih untuk mengabaikan rasa pusingnya, dan keluar kamar untuk sarapan, perutnya terasa sangat lapar karena dia tidak makan apa pun sejak malam dan juga kelelahan karena menangis, tenaganya hilang entah ke mana.
"Aaahh... rasanya mau pinsan..." lirih Lylia sambil menuruni anak tangga satu per satu.
di saat yang sama Abisal pun terlihat keluar dari kamarnya dan juga ikut bergabung dengan Lylia untuk sarapan di dapur.
ketika hendak duduk Abisal menatap Lylia, dan dia merasa ada yang aneh.
"Kak! kau menangis lagi kan semalam!?"
Tanya Abisal kepada Lylia, bu Diana yang juga di dapur menoleh ke arah Lylia, dan menatap wajah anaknya, terlihat jelas bu Diana menunggu jawaban dari Lylia, walaupun sebenarnya jawaban yang mereka tunggu sudah terlihat jelas di wajah, wajah yang pucat dan mata bengkak, hidung yang merah, itu semua sudah cukup menjawab pertanyaan mereka di pagi itu, tetapi bu Diana dan Abisal tetap menunggu jawaban dari Lylia.
"Tidak... mengapa juga aku menangis, aku hanya kelaparan, dan sedikit flu, semalam hujan dan aku kebasahan ketika menutup jendela."
Jawab Lylia, yang mana jawaban itu di ketahui oleh bu Diana dan Abisal bahwa itu hanya kebohongan. namun mereka tetap menghargai jawaban Lylia dan memilih untuk pura-pura tidak tahu.
"Baiklah jika itu alasannya, setelah sarapan minumlah obat agar flunya membaik, dan segera berkemas. bukankah kau akan berangkat ke kota besok?"
Pungkas bu Diana, Abisal yang tidak mengetahui apa yang terjadi kemarin pun merasa bingung dengan percakapan ibu dan kakaknya.
"Berangkat ke kota? kakak kau jadi pergi memulai hidup barumu di kota? benarkah!?"
Tanya Abisal yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Abisal hentikan reaksi berlebihan mu itu, bukankah kemarin kita baru membahasnya dan kau sangat setuju, bagaimana kau bisa berubah pikiran dalam semalam? bagaimana pun kakakmu sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri dan mandiri sesuai dengan keinginannya, kau pun jika sudah cukup dewasa akan pergi mencari petualangan mu sendiri, dan juga ini adalah hal yang terbaik untuk kakakmu, kau tahu sendiri kan.?"
pungkas bu Diana kepada Abisal.
Lylia terlihat tidak terlalu peduli dengan reaksi adiknya, dan hanya melanjutkan sarapannya hingga selesai, dan tidak lupa meminum obat yang sudah di sediakan oleh ibu di sampingnya.
"Bu.. aku merasa sedikit pusing, aku akan istirahat sebentar di kamar, setelah itu aku akan berkemas."
ucap Lylia kepada ibunya.
"Iya baiklah... istirahatlah dengan baik, jangan memikirkan apa pun lagi, kau harus sehat jika ingin mandiri." pungkas bu Diana.
"Baik bu..." Jawab Lylia yang langsung pergi menuju ke kamar.
Di kamar Lylia duduk di kasurnya melihat ke luar jendela, pemandangan yang sangat indah dan tentu akan dirindukannya nanti ketika berada di kota.
saat sedang melihat ke luar jendela Lylia melihat ada seorang pria yang sedang menatap ke arah jendelanya, Lylia yang penasaran mendekati jendela agar pandangannya jelas, dan Lylia menduga jika itu Samuel.
"Samuel..? bukankah dia mengatakan akan kembali ke kota setelah mengunjungi saudaranya!?" batin Lylia.
Namun jarak Samuel terlalu jauh, Lylia juga sedang tidak ingin menyapa siapa pun, dia memilih membiarkan Samuel berdiri sambil bersandar di bawah pohon ek seberang jalan yang berhadapan dengan rumah Lylia, Lylia yang makin merasa pusing pun memilih untuk tidur, kesehatannya harus di prioritaskan jika ingin melakukan perjalanan besok pagi.
----------------
~POV SAMUEL~
Samuel berada di dalam mobil mewah jaguar XE yang melaju menuju kota Appenzel, dia duduk di kursi belakang sambil melihat keluar jendela, sopir pun melajukan mobil dengan nyaman di jalanan yang di peluk oleh pemandangan alam yang indah, gunung dengan rerumput hijau dan terlihat juga binatang ternak di bukit-bukit yang hijau di sepanjang jalan. sehingga membuat perjalanannya begitu indah dan nyaman.
"Begitu indah" celetuk sang sopir.
"Iya benar... sangat indah." jawab Samuel dan di tutupi oleh keheningan.
Di dalam keheningan itu Samuel mengingat hal yang terjadi kemarin.
"Ternyata gadis itu anak dari bu Diana, aku tidak menyangka sama sekali, hampir gila rasanya untuk menahan detak jantung ini agar tidak meledak, dan bagaimana bisa aku menunjukkan sisi lemah ku di hadapannya, di pertemuan pertama, haaa.. sungguh membuat gila." batin Samuel.
Samuel mengingat saat pertama kali melihat Lylia. saat itu mata Samuel tidak berkedip sekalipun. tatapannya seperti tersihir oleh kecantikan Lylia. saat itu Samuel sedang duduk di cafe bersama rekannya, Samuel duduk di balkon cafe dan menikmati kopi sambil melihat pemandangan desa grindelwad. tidak sengaja matanya tertuju ke arah toko bunga yang bertema vintage itu, Samuel melihat seorang gadis yang sangat cantik, rambut cokelat panjang sedikit gelombang terikat dengan pita pink, ujung rambut yang sedikit terurai terlihat begitu indah di mata Samuel, baju bermotif bunga daisy yang bewarna putih, berpadu rok mekar selutut, terlihat sederhana tetapi begitu cantik, membuat jantung Samuel berdetak kencang, tangan Samuel dengan sendirinya memegang dada, seolah menahannya agar tidak meledak, matanya tetap menatap ke arah Lylia, senyum Lylia begitu indah.
"Apa itu.? mengapa bisa begitu cantik.?" ucap Samuel tanpa di sadarinya. rekannya yang duduk bersebelahan dengannya pun bereaksi dengan kata-kata Samuel.
"Ada apa? apanya yang cantik? desa ini? bukankah ini memang hal yang biasa, maksudnya iya ini memang cantik.! pemandangannya memang cantik, tetapi bukankah reaksi mu terlalu berlebihan?" ucap rekannya yang merasa aneh terhadap reaksi Samuel.
"Bukan.... bukan itu.. liat lah ke bawah, di seberang jalan, di toko bunga itu, apa itu? apakah itu bidadari? dia begitu cantik." ucap Samuel lagi keepada rekannya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Ya kau benar, dia begitu cantik." ucap rekannya.
Ucap Samuel kepada rekannya yang bernama Luki. Luki melihat Samuel yang sepertinya telah jatuh cinta pada pandangan pertama, dia tidak percaya masih ada orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama di zaman yang penuh tipu daya ini.
"Apa.? mengapa aku akan memilikinya.? Kawan... aku peringatkan sebaiknya kau jangan terjatuh terlalu dalam, kau bahkan tidak tahu wanita itu sudah punya pasangan atau tidak, dan kau juga tidak tahu gadis seperti apa dia, kau baru melihatnya hari ini, beberapa menit yang lalu, dan kau sudah menganggapnya sebagai milikmu.?" pungkas Luki kepada Samuel, namun Samuel terlihat tidak menggubris peringatan dari Luki.
Tidak dapat di pungkiri setiap perkataan Luki itu benar, namun tidak ada gunanya memperingati orang yang sedang di mabuk cinta.
Keesokan harinya, di jam yang sama Samuel datang lagi ke kafe itu berharap dapat melihat gadis toko bunga itu lagi, dan terus berlanjut setiap Samuel ke desa grindelwad, Samuel ke desa grindelwad jika pekerjaannya tidak terlalu banyak, jarak perjalanan dari kota Appenzel ke desa grindelwad hanya memakan waktu 3 jam jika mengunakan mobil, maka itu bukan apa-apa bagi Samuel yang mempunyai sopir.
Di suatu hari Samuel datang seperti biasanya. berniat melihat orang yang di sukainya dari kejauhan, sembari mengerjakan pekerjaannya, namun tidak seperti biasanya gadis itu terlihat murung dan bersedih, tidak ceria seperti dahulu.
"Kawan... sudah berapa lama kau hanya memandangi wanita itu? tidakkah ada keinginan mu untuk datang dan menyapanya? setidaknya kau tanyakan nama dan nomor teleponnya..." ucap Luki yang juga sedang mengerjakan pekerjaannya bersama Samuel.
"Aku tidak bisa melakukannya sekarang, pekerjaan ku tidak selesai, dan lagi besok kita harus pergi ke ST Shaporin untuk tangan tangan kontrak dengan perusahaan anggur di sana, aku tidak punya waktu. aku akan menemuinya ketika pekerjaanku selesai, pasti.!"
Jawab Samuel, ada alasan mengapa dia memilih untuk hanya melihat gadis itu dari kejauhan.
Beberapa hari kemudian Samuel datang lagi seperti biasanya, di cafe yang sama dan tempat yang sama. namun dia tidak melihat keberadaan gadis yang di sukai nya itu, dia hanya melihat gadis lain di sana.
Dan beberapa hari pun berlalu, Samuel ke tempat itu namun tetap tidak melihat gadis itu, Samuel pun sangat khawatir dan penasaran ke mana perginya gadis yang di sukai itu.
Tak tahan akan rasa penasaran dan kerinduannya itu, Samuel akhirnya memutus untuk pergi ke toko bunga dan menanyakan ke mana perginya gadis itu.
"Permisi..." ucap Samuel yang mendatangi toki bunga.
"Yaa... silakan.. mau pesan bunga apa?" jawab Lean.
"Aah.. saya mencari wanita yang dulunya bekerja di sini, akhir-akhir ini aku tidak melihat dia bekerja, apakah terjadi sesuatu kepadanya? sebelumnya aku melihat dia sedikit murung, apa dia baik-baik saja.?" Tanya Samuel.
Lean merasa aneh terhadap laki-laki di depannya ini, dia menanyakan orang yang bahkan dia tidak tahu namanya.
"Jika saya boleh tahu, anda siapa ya? ada keperluan apa dengan Lylia?" tanya Lean yang penuh rasa curiga dan juga sangat penasaran.
"Ahh.... saya... namanya Samuel, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepadanya, apa mungkin ada cara agar saya dapat menemuinya?" tanya Samuel kepada Lean.
Lean yang melihat ada sedikit kekhawatiran di mata Samuel membuatnya luluh, Lean memberikan alamat toko tempat bu Diana bekerja.
melihat itu Samuel sedikit bingung, namun tidak lama kemudian dia langsung menyadarinya, alamat yang di berikan itu adalah alamat toko tempat bu Diana bekerja, dan ini juga tertera nama Diana Trisier.
merasa yakin, Samuel langsung bergegas ke toko bu Diana, tetapi sayangnya bu Diana tidak sedang di toko. lalu Samuel memutuskan untuk pergi ke rumah bu Diana, karena buru-buru Samuel tidak menelpon bu Diana.
"jadi namanya Lylia? dan juga dia adalah anaknya bu Diana?"
ucap Samuel yang terlihat tidak percaya dengan kebetulan ini, bu Diana sering menceritakan tentang anak-anaknya saat sedang memperbaiki bajunya. Jonathan, Lylia dan Abisal Trisier, walaupun Samuel tidak pernah bertemu dengan anak-anak ibu Diana tetapi Samuel merasa cukup mengenal mereka karena bu Diana selalu menceritakannya setiap kali bertemu dengannya.
Dan seperti biasa, Samuel merusak bajunya agar punya alasan untuk bertemu bu Diana, namun kali ini berbeda, niat kali ini Samuel ingin bertemu dengan Lylia.
jantung Samuel berdebar kencang hanya dengan membayangkan bertemu dengan Lylia.
Saat bertamu ke rumah Lylia, Samuel merasa kesulitan menahan dirinya, dan juga Samuel merasa sangat bersyukur karena dalam pertemuan yang singkat itu dia dapat membantu orang yang di cintainya yang sedang dalam kesulitan akan mencari tempat tinggal di kota Appenzel, tentu saja Samuel tidak membuang kesempatan dan menghubungi pemilik Apartemen dan membelinya tanpa sepengetahuan Lylia, Samuel hanya memberi tahu jika apartemen itu kosong dan akan segera di sewakan dengan harga terjangkau, Samuel membuat Lylia jadi makin dekat dengannya.
Setelah bertamu ke rumah bu Diana Samuel pun kembali, dia tidak kerumah kerabatnya, melainkan menyewa hotel untuk bermalam.
"Bodoh sekali aku, mengapa aku menangis di depannya! sangat memalukan, aahh... dilihat dari dekat wajahnya begitu kecil, dan terlihat rapuh, aku makin menggilai nya."
Samuel menyesal namun di saat yang sama dia sangat bahagia, sekarang gadis yang di sukainya akan tinggal bersebelahan dengannya, dan dia berhasil membuat Lylia terikat dengannya melalui utang sewa apartemen selama setahun, sekejap Samuel merasa penasaran di mana Lylia akan bekerja, namun tak ingin terlalu memikirkan hal lain Samuel memilih untuk tidur cepat, dan berharap memimpikan Lylia, Samuel melihat ke jendela, di luar terlihat hujan deras.
"Hujan ya? sepertinya tidurku makin nyenyak malam ini, aahhh... desa ini sangat indah, aku makin mencintai desa ini tetapi aku lebih mencintai Lylia..." ucap Samuel yang merasa sangat bahagia.
Pagi pun tiba, Samuel bergegas untuk pulang ke Appenzel, karena jadwal siang ada meeting, jadi Samuel memilih pergi di pagi hari, namun Samuel merasa ada yang kurang jika langsung pergi dari desa ini, Samuel pun memilih untuk mampir ke rumah bu Diana, di dalam perjalanan Samuel membatalkan niatnya untuk mampir ke rumah bu Diana karena masih pagi dan takut merepotkan.
Samuel pun memilih berhenti di seberang jalan yang langsung berhadapan ke rumah bu Diana, Samuel keluar dari mobilnya, dan berjalan untuk mendapatkan jarak yang lumayan dekat dengan rumah bu Diana.
Kebetulan ada pohon ek besar di pinggir jalan dan Samuel pun memilih untuk berdiri dan bersandar sejenak di pohon ek sambil menatap jendela kamar Lylia, awalnya Samuel tidak yakin jika itu jendela kamar Lylia, namun tidak lama kemudian terlihat Lylia berdiri di jendela dan menatapnya.
"Aku tahu kau dapat melihatku Lylia, tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi, aku akan menunggu mu di sana."
Ucap Samuel dengan lirih, hatinya berat untuk pergi. perasaan yang tidak dapat di jelaskan ini makin hari makin besar, rasa rindunya juga tidak tertahankan.
Samuel pun pergi menuju kota Appenzel, membawa rasa rindu bersamanya.