Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
BUKET BUNGA DAISY



Hari yang di tunggu pun datang, sejak pagi Bu Diana sudah sangat sibuk di dapur mempersiapkan berbagai jenis masakan untuk sarapan dan juga untuk bekal Lylia selama perjalanan, Abisal pun ikut membantu ibunya, Lylia yang sedang sibuk mempersiapkan diri dan mengeluarkan semua barang yang akan di bawanya, tas, kotak dan koper.


"Kakak, sepertinya kau akan pergi tanpa berniat untuk kembali, barang bawaanmu banyak sekali, apa itu semua akan berguna untukmu di sana?" tanya abisal yang merasa barang bawaan kakaknya sangat banyak untuk ukuran satu orang.


"Yah, walaupun begitu ini barang yang aku butuhkan"


jawab Lylia.


Di luar terlihat ada seseorang sedang menuju kerumah keluarga Trisier, Bu Diana melihatnya dari jendela dapur sambil menyipitkan matanya agar pandangannya terlihat jelas.


"Siapa itu?" tanya Bu Diana yang merasa penasaran,


Lylia dan Abisal pun merasa penasaran juga ikut melihat dari balik jendela.


"Ibu... laki-laki itu tampan sekali" ucap Abisal, Lylia dan Bu Diana juga merasa ucapan Abisal itu benar,


lelaki itu berjalan makin dekat dengan pintu depan rumah, dan pandangan mereka semua menuju ke pintu rumah, menunggu ketukan dari sang tamu yang mereka lihat melalui jendela.


"tok tok tok" suara ketukan pintu.


"permisi" ucap laki-laki di balik pintu, lylia dan bu diana saling bertatapan, lalu bu diana pergi membukakan pintu.


"Yaa... dengan siapa ya?" tanya Bu Diana kepada laki-laki tampan yang memakai setelan Jaz dengan sebuah buket bunga Daisy putih di tangannya, terlihat di wajahnya terukir senyum yang kaku namun masih terlihat tampan.


"Ya Tuhan... anak muda ini begitu tampan" ucap Bu Diana di dalam hati.


"Permisi bu, perkenalkan saya Silvan Widmer, apa Lylia ada di rumah?" tanyanya.


Bu Diana langsung melihat ke dalam rumah, Lylia yang tahu jika pria itu mencarinya pun terlihat paham akan tatapan ibunya yang seakan bertanya "Siapa laki-laki tampan ini", namun sama seperti ibunya yang tidak tahu mengapa laki-laki itu mencarinya, Lylia tidak mengenali laki-laki tampan itu, namun Lylia tetap keluar menemui lelaki tampan yang tidak di kenali itu dengan rasa penasaran.


"Hmmm ada apa ya?" tanya lylia dengan tatapan penuh rasa penasaran,


"Ah, maaf aku datang pagi-pagi begini, perkenalkan namaku Silvan Widmer, aku datang membawa hadiah perpisahan dari nenekku". ungkap Silvan sembari menyodorkan buket bunga yang di bawanya sejak tadi, Lylia masih belum mengerti, nenek yang mana yang memberikan buket bunga perpisahan untuknya, sembari menerima buket bunga yang indah Lylia bertanya akan siapa nenek yang di maksudnya itu,


"maaf, tetapi nenek yang mana yang kau maksud?" tanya Lylia.


"Aah ya kau benar, ada banyak nenek di desa ini" jawab Silvan dengan candaan.


"Namanya Viola Amherd, sebelumnya nenek sering membeli bunga segar, namun sudah beberapa hari nenek tidak melihat penjual bunga gadis yang biasa dia jumpai, nenek berkata jika gadis itu sangat cantik dan begitu baik, nenek begitu menyukainya, lalu nenek mendengar kabar jika gadis itu akan pergi ke luar kota untuk bekerja, nenek juga mengetahui jika gadis itu akan berangkat hari ini dan sangat ingin mengantar kepergiannya, namun sayangnya nenek tidak bisa melakukannya, nenek sedang sakit, maka dari itu nenek meminta ku untuk datang dan membawa bunga kesukaanmu".


jawab Silvan dengan panjang lebar berharap Lylia memahaminya, Lylia yang mendengarkan jawaban Silvan pun merasa terharu dan juga sedih.


"Aku turut prihatin dengan kondisi nenek Viola, aku berharap nenek Viola baik-baik saja, apakah sakitnya parah?" tanya Lylia merasa khawatir dengan nenek Viola,


Lylia mengenal nenek Viola, beliau adalah pelanggan tetap di toko bunga,


"Iya terima kasih, nenek tidak apa-apa, ada kakek bersamanya yang selalu setia menjaga nenek, begitupun sebaliknya, aku datang untuk mengunjungi nenek dua hari yang lalu, hari ini aku juga harus pergi, Lylia.. senang bertemu denganmu, aku harap kita akan sering bertemu kedepannya, kalau begitu aku permisi dahulu, bye Lylia" Silvan berpamitan kepada Lylia dan pergi.


Lylia masuk ke dalam rumah sambil memandangi bunga Daisy yang begitu cantik, di saat yang sama Lylia merasa sedikit aneh dengan ucapan Silvan tadi, bagaimana mungkin mereka akan sering bertemu,? dan Lylia baru menyadari jika Silvan juga bekerja di kota Appenzel.


"Apakah mungkin untuk saling bertemu di kota sebesar itu? entahlah". tidak ingin larut dengan pikirannya sendiri Lylia pun pergi menuju ke dapur untuk sarapan, namun saat hendak duduk Lylia mendengar suara panggilan dari luar, Lylia pun pergi untuk melihat, ternyata itu Lean Bloom bersama tunangannya Gabriel.


"Lylia!!! kau belum pergi kan!!" teriak Lean di depan pintu.


"Oh Tuhan Lean masuk sajalah, tidak perlu berteriak seperti itu, semua orang akan terganggu dengan teriakanmu itu". Lylia yang tidak habis pikir dengan tingkah Lean berteriak di pagi hari.


"Lyli... aku akan sangat merindukan mu, bagaimana ini? bahkan sekarang saja aku sudah mulai merindukan mu" Lean memeluk sahabatnya sambil menangis, Lylia yang melihat Lean menangis pun juga ikut menangis sambil berpelukan.


"Lean.. aku juga akan sangat merindukan mu, hubungi lah aku sesering mungkin, aku juga akan menghubungi mu saat aku memiliki waktu luang".


Jawab Lylia sambil menangis.


"Kalian berdua, hentikan tingkah kekanak-kanakan itu, ingatlah usia kalian, lagian Lyli bukannya pergi untuk selamanya, dia hanya akan pindah ke kota Appenzel, kau tahu? kota yang jarak tempuhnya hanya 3 jam, bahkan akan lebih cepat jika menggunakan kereta, jadi hentikan itu dan mulailah sarapan kak, lihatlah ke dinding sudah jam berapa ini, sadarlah!" ucap Abisal.


Abisal tidak tahan melihat tingkah kakaknya yang menurutnya itu kekanakan, kata-kata Abisal memecahkan suasana haru di pagi itu.


kata-kata Abisal memang sering menyakitkan tetapi semua itu adalah kebenarannya, Abisal sosok yang serius, kesabaran yang setipis tisu begitu pun dengan candaannya yang juga setipis tisu itu sangat jarang di keluarkan, candaannya hanya keluar di saat-saat tertentu, dan ya lebih banyak kata-kata yang menyakitkan keluar dari mulutnya ketimbang hal yang menyenangkan, tetapi entah mengapa walaupun menyakitkan tidak ada yang bisa marah kepadanya, karena apa yang di katakan itu selalu benar.


Yaah begitulah... terkadang kebenaran memang menyakitkan, tidak sedikit orang yang denial akan kenyataan dan memilih untuk membohongi diri sendiri, berharap akan kebahagiaan yang semu, lalu pada akhirnya kembali dengan rasa kecewa.


Abisal memang masih muda, usianya masih 17 tahun. tetapi dia memiliki pikiran yang dewasa, itu di karenakan keadaan yang memaksanya menjadi dewasa, saat usianya masih lima tahun ayahnya gugur dalam tugasnya, dan saat usianya tiga belas tahun kakak pertamanya Jonathan masuk akademi militer dan sangat jarang pulang, ibu yang hanya bekerja sebagai tukang jahit dan hanya menerima pensiunan ayahnya setiap bulan membuat Abisal memilih bekerja sambil sekolah, kakaknya memang sering mengirimkan uang untuk ibunya, namun Abisal ingin dia menjadi anak yang berguna untuk keluarga dan menjadi pelindung keluarga, sebenarnya dalam lubuk hatinya Abisal tidak ingin kakaknya pergi, dia khawatir akan hidup kakaknya di sana, namun dia tidak dapat melakukan apa pun, dia juga sangat ingin bertemu Jiordan.


Jiordan sudah di anggap seperti kakaknya, dia mengajarkan banyak hal kepadanya, namun siapa sangka jika Jiordan akan menyakiti dan merendahkan kakaknya dengan memutuskan hubungan hanya melalui surat, sungguh pengecut, akan lebih baik jika memutuskan kakaknya secara langsung, atau minimal menelponnya, tetapi dia memilih surat? setelah 4 tahun tidak ada kabar? hanya mengabari keluarganya saja, sekarang bagi Abisal, Jiordan tidak lebih buruk dari sampah, pecund*ng egois, rasa benci Abisal kepada Jiordan sangat besar, bahkan rasa benci Lylia tidak lebih besar dari bencinya Abisal kepada Jiordan.


Jam dinding menunjukkan ke arah tujuh tiga puluh pagi, Lylia buru-buru menyelesaikan sarapannya, karena jam delapan pagi bus berangkat.


"Lihatlah siapa yang bicara, bukankah kau juga masih anak-anak, bersikaplah sesuai usiamu, jadilah anak-anak, kau di larang untuk cepat dewasa" ucap Lean kepada Abisal.


Abisal hanya diam tidak menggubris perkataan Lean, bagi Abisal itu hanya angin lalu.


"Sudah-sudah, apa yang di katakan Abisal benar, ayo cepat sarapan, kalian juga Lean, Gabriel, duduklah di kursi dan sarapan lah bersama kami". ucap Bu Diana, Abisal dan Lean saling melirik namun Abisal terlihat menyeringai karena ucapan ibunya, Lean yang melihat seringai Abisal pun terlihat sedikit kesal, harga dirinya sedikit terluka.


"Oh Tuhan.. aku akan terlambat, ibu aku sudah selesai sarapan, aku kan berangkat sekarang".


Lylia buru-buru membereskan sarapannya lalu mengangkat barang-barangnya keluar rumah di ikuti Lean dan Gabriel, Gabriel langsung keluar untuk mencari taksi, taksi pun datang, dan Lean membantu Lylia mengangkat beberapa barangnya untuk di masukkan ke mobil.


Dan tibalah saat mereka untuk berpisah, pelukan dan tangisan pun menghiasi kepergian Lylia menuju hidup barunya, Lylia pun masuk ke dalam taksi, sambil menangis dia melihat ke belakang sambil terus melambaikan tangan dengan buket bunga Daisy. perasaan yang senang, sedih dan haru bercampur menjadi satu, mengawali langkah beraninya untuk menata hatinya kembali dan menjadi lebih baik.