
Hari sudah mulai sore, Lylia sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, banyak barang kenangannya bersama Jio yang dipisahkan ke kontak lainnya, setelah selesai, lylia memberikan kotak itu pada ibunya,
"Ibu.. tolong bakar ini untuk ku" pinta Lylia kepada ibunya.
"Apa ini? apa kau yakin" tanya bu diana yang sudah tahu apa isi kotak tersebut.
"Baiklah, nanti akan ibu bakar semuanya, semua barang-barang mu sudah dimasukkan semua ke dalam koper? tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Bu Diana.
"Sudah ibu, semua barang penting sudah aku masukkan semua, aku tinggal berangkat saja" Ucap Lylia pada ibunya.
"Baiklah besok kau berangkat pukul 8 pagi? apa Lean sudah tahu kau akan pergi?" tanya Bu Diana.
"Iya bu, Lean juga sudah tahu, ibu aku ingin berjalan-jalan sebentar, langit sore ini terlihat sangat cerah, sepertinya sunset akan terlihat jelas" ucap Lylia pada ibunya.
"Iya.. jangan pulang terlalu malam" pesan Bu Diana pada Lylia.
"Baik bu" jawab Lylia yang bergegas keluar, Lylia hanya mengunakan baju biasa namun terlihat sangat indah, rambut oranye ikalnya di biarkan tergerai, kulitnya yang putih bersinar di bawah sinar matahari sore.
Lylia berjalan setapak di jalanan yang selalu di lewatinya sejak kecil hingga hari ini, memunculkan kenangan masa kecilnya, desa ini begitu indah, gunung dan bukit hijau mengelilingi desa, pantai indah dengan air birunya tidak ingin tertinggal untuk menjadi salah satu bagian dari ke indahan desa kecil ini.
Ketika musim dingin desa ini juga sering di datangi oleh pariwisata dari berbagai daerah untuk mendaki gunung di saat musim panas, dan ketika musim dingin tiba banyak turis datang untuk bermain ski, desa ini juga terkenal dengan seluncuran skinya, dan ketika musim semi datang pegunungan yang tadinya di selimuti salju putih menjadi taman bunga, dan saat musim gugur datang seluruh desa benar-benar terlihat seperti desa dari negeri dongeng, daun-daun berubah warna dan berguguran menjadikan desa ini seperti berada di dunia lain, warna vintage tidak dapat di lepas dari desa ini, ketika malam tiba suasana desa menjadi makin indah dengan gemerlapan lampu-lampu.
Tidak sedikit turis yang datang ke sini akan kembali lagi untuk tinggal menetap atau bahkan hanya untuk menikmati keindahan yang tak dapat ditemukan di tempat lain.
Lylia berjalan melewati bukit cinta, pandangannya tertuju ke bukit itu dengan tatapan penuh kerinduan,
sudah melewati beberapa bulan sejak Lylia menerima surat dari Jio, tak sekalipun Lylia kembali ke bukit itu, Lylia hanya menatap bukit cinta yang penuh kenangan itu dari kejauhan, rasa sesak di dadanya membuatnya sulit bernafas, Lylia begitu naif akan cintanya, cinta pertamanya yang diharapkan akan menjadi cinta terakhirnya dan berakhir begitu saja, terlalu kejam untuk menjadikannya sebuah kenyataan, setiap malam Lylia berharap bangun dalam keadaan yang berbeda, berharap apa yang di hadapinya itu hanyalah sebuah mimpi buruk yang panjang, namun sayangnya itu adalah kenyataan yang pahit.
Tidak jarang Lylia mencoba menjadi kuat, dengan melupakan semuanya, namun dia menemukan dirinya sedang menangis walau dalam keramaian, air matanya keluar dengan sendirinya, tidak jarang pula Lylia memaki Jio namun kembali mengatakan kerinduan dalam kesunyian seperti seorang munafik, berkata benci namun merindukan ketika dalam sendirian, sungguh perasaan yang tidak dapat dimengerti.
Lylia berpikir satu-satunya cara baginya untuk melupakan Jio adalah dengan pergi dari desa ini, mencari suasana baru, Lylia berharap ada yang datang untuk mengobati luka hatinya, menceritakan semua rasa sakitnya, agar dadanya yang sesak itu dapat menjadi sedikit lebih ringan karena sudah membaginya dengan orang kain, namun di sisi lain Lylia terlihat ragu untuk membuka hatinya kepada pria lain, rasa sakit yang di alaminya begitu berbekas, bisa dikatakan saat ini Lylia mengalami trust issue terhadap laki-laki.
Langit oranye menghiasi senja itu, lampu-lampu jalan sudah mulai menyala walaupun langit masih memiliki cahaya oranye yang akan segera berganti menjadi gelap yang akan di hiasi Sinaran bintang berkelip bagaikan permata,
Lylia pergi ke salah satu bukit yang tidak begitu tinggi tetapi cukup untuk memperlihatkan indahnya lautan di saat senja, matahari terbenam terlihat begitu indah, Lylia duduk di atas rumput yang di temani beberapa tangkai bunga daisy, angin yang menghembus sayup-sayup menambah suasana sendu.
Malam pun tiba, Lylia menuruni bukit, cahaya lampu jalan menuntun lylia menuruni bukit, ketika hendak melanjutkan langkahnya lylia di kejutkan oleh suara deringan telepon genggamnya,
terlihat nomor yang tidak di kenal, Lylia tidak begitu peduli, merasa terlalu malas untuk berbicara dengan orang asing saat ini, bukan tanpa alasan, selama beberapa minggu lalu Lylia banyak di datangi laki-laki asing untuk melamarnya, namun tentu dia menolak semuanya, kabar bahwa Lylia dan Jiordan putus entah bagaimana telah menyebar dan menjadi bahan pembicaraan orang-orang di desa, bagaimana tidak? hubungan Jio dan Lylia di ketahui oleh penduduk desa, karena mereka berpacaran sudah sangat lama, bermula dari teman masa kecil berubah menjadi pasangan remaja hingga mereka dewasa, Jio pergi meninggalkan Lylia saat berumur 20 tahun, saat itu Jio melakukan tes kemiliteran dan di terima sebagai anggota militer muda dan harus menjalani tugas di ibu kota Appenzel, sejak saat itu hingga sekarang tidak sekalipun Jio pulang, hanya mengirimi surat untuk keluarganya dan Lylia hingga akhirnya hubungan mereka juga berakhir dengan secarik kertas, sungguh kisah cinta yang menyedihkan.
oleh karena itu ketika orang-orang mengetahui Jio dan Lylia putus banyak laki-laki bahagia dengan kabar itu, bagaimana tidak, Lylia adalah wanita yang cantik berpenampilan sederhana, memang tidak ada yang mewah dari dirinya selain senyumannya namun dapat membuat banyak laki-laki ingin menjadi pendampingnya, tidak sedikit orang yang menganggap Jiordan sebagai laki-laki bodoh karena telah mencampakkan seorang wanita seperti Lylia.
Malam makin larut Lylia lanjut berjalan-jalan menuju arah pulang, namun handphone nya kembali berdering, masih Dengan nomor yang sama, namun kali ini Lylia memilih untuk menerima panggilan itu.
"Hallo" jawab Lylia dengan nada dingin.
"Hallo Lylia, ini aku Samuel"
"Samuel? Samuel Britz?" tanya Lylia memastikannya.
"Iya tentu saja Samuel Britz, memang ada berapa Samuel yang kau kenal?" Tanya Samuel kepada Lylia.
"Ahh maaf, aku hanya tidak menyangka kau menelpon" Ucap Lylia.
"Sudah tidak apa lupakan saja, bagaimana kabarmu? apa kau sampai ke kota dengan selamat?" tanya Lylia yang juga mengingat saat pagi itu, Lylia yakin melihat Samuel berdiri di bawah pohon ek, namun Lylia tidakau bertanya apakah itu benar dia atau bukan.
"Iya aku sampai dengan selamat, besok kau jadi pergi? aku tidak sabar untuk bertemu denganmu"
Samuel tidak dapat menyembunyikan rasa rindunya lagi.
"Iya, aku akan berangkat besok sekitar jam 8 pagi, aku akan pergi mengunakan Bus, jadi mungkin akan sampai terlambat" ucap Lylia.
"Baiklah aku akan menjemputmu di terminal, tetapi mengapa tidak mengunakan kereta saja? akan lebih cepat sampai" tanya Samuel.
"Aku hanya tidak ingin terlalu cepat meninggalkan desa, dengan Bus juga aku dapat melihat pemandangan desa sedikit lebih lama dan juga dapat melihat pemandangan desa di sepanjang perjalanan" ungkap Lylia.
Samuel paham apa yang di rasakan oleh Lylia, ini adalah kali pertamanya pergi dari desa yang dicintainya itu, Samuel pun bertekad akan menjaga Lylia apa pun yang terjadi, namun sebelum itu Samuel harus memikirkan cara agar Lylia menjadi miliknya terlebih dahulu, agar dia dapat menjaga Lylia dengan baik.
Lylia adalah bunga desa bagi Samuel, Samuel tidak tahu tentang masa lalu Lylia, dan terlihat tidak ingin tahu,
rasa cinta dan kagumnya telah membutakannya, tidak peduli dengan masa lalu orang yang di cintainya itu adalah bentuk cinta yang tulus, the real definisi love is love.
"Baiklah kalau itu maumu, kabari aku lagi ketika kau berangkat" pinta Samuel.
"Baik, aku akan mengingatnya" jawab Lylia dengan senyum.
"Simpanlah nomorku ini" pinta Samuel lagi.
"Iyaa baik, akan segera aku simpan" jawab Lylia yang mengiyakan permintaan Samuel.
"Baiklah, selamat malam Lylia" ucap Samuel yang mengakhiri panggilan telepon,
"Selamat malam sam" jawab Lylia, panggilan pun di tutup.
Lylia kembali berjalan pulang, sesampainya di rumah Lylia menuju ke dapur, melihat ibunya menyiapkan makan malam.
"Ibu" panggil Lylia.
Lylia memeluk ibunya yang sedang memasak dari belakang, Bu Diana yang terkejut langsung mengangkat tangannya yang juga sedang memegang spatula.
"Lylia.. kamu mengapa lagi? ini bahaya, bagaimana jika kau kecipratan? ini kan panas" bu Diana mengomeli Lylia yang sedang memeluknya, Bu Diana membalikkan tubuhnya agar Lylia dapat memeluknya dengan benar.
"Ibuuuuu... besok aku akan pergi dan meninggalkan ibu.. aku merasa sedikit ragu untuk pergi, bagaimana jika aku nanti tersesat? bagaikan jika nanti aku merindukan masakan ibu?" Ungkap Lylia yang bertingkah manja, dan memberikan berbagai pertanyaan kepada ibunya, pertanyaan yang sebenarnya adalah alasan Lylia.
"Ya ampun mengapa lagi dengan anak ini? Lylia.. ibu tidak pernah meminta kamu untuk pergi, kamulah yang menginginkannya, bukankah niatmu pergi untuk memperbaiki hidupmu, agar kau dapat melupakan masa lalu? ada apa dengan alasan-alasan mu ini? hilangkan keraguanmu itu, jadikan rasa sakit mu sebagai kekuatan, buktikan bahwa kau bisa bangkit, kau tidaklah lemah seperti kelihatannya".
Bu Diana mencoba mengingatkan alasan Lylia bertekad untuk pergi memulai hidup barunya, dan itu berhasil membuat Lylia menghilangkan keraguannya itu,
"Yaah!!! ibu benar! aku tidak boleh ragu sekarang. sekarang aku punya motivasi yang lebih besar untuk melanjutkan niatku ini"
Ucap Lylia yang juga teringat hutangnya kepada Samuel sebesar 24.000 franc, Bu Diana tidak tahu perihal kesepakatan antara Lylia dan Samuel.
Bu Diana memberikan uang saku untuk Lylia sebesar 1.500 franc, gaji yang di sepakati Lylia dengan tempat kerja barunya sebesar 4.500 franc, dan itu akan di terimanya jika sudah mulai bekerja selama satu bulan, yah tidak sebesar gaji karyawan lainnya, ini di karenakan Lylia masih karyawan kontrak, dan juga Lylia bekerja sebagai housekeeping di salah satu hotel di kota Appenzel, jika dia menjadi karyawan tetap maka gajinya akan menjadi 5.140 franc, lebih kecil dari gaji pekerja lainnya yang menerima gaji sebesar 6.500 franc, ini di karenakan Lylia hanyalah seorang lulusan Sekolah menengah atas, bisa dapat pekerjaan saja sudah sangat beruntung.
Franc adalah mata uang negara Bern. negara kecil namun sangat makmur dan indah, di ketahui gaji pekerja di negara ini adalah tertinggi jika di bandingkan dengan gaji pekerja di negara-negara tetangganya, itu di karenakan negara Bern memiliki pemasukan tinggi dari segi bisnis wisatanya. dan juga negara Bern adalah satu-satunya negara penghasil keju terbesar jika di bandingkan dengan negara tetangganya.