Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
PERNYATAAN CINTA SAMUEL



Mendengar perkataan Eric, Samuel dan Silvan langsung berlari menuju ke ruang belakang, meninggalkan Eric di ruang toko yang tidak lama kemudian Luki pun masuk dengan banyak barang bawaan.


"Hai!!!"


ucap Luki kepada Eric dengan melambaikan tabgannya, terlihat barang bawaan di tangan Luki, yaitu tas baju pesanan Samuel, Eric pun hanya membalas lambaian tangan dan senyum yang terlihat sangat tidak ikhlas.


"Barang bawaan mu lumayan banyak juga ya?" singgung Eric kepada Luki, yang malah membuat Luki tampak kesal, Luki tau Eric sedang sarkas kepadanya.


"Ahh... Katakan saja jika kau senang melihatku seperti ini, kau tidak tau apa saja yang sudah ku lalui karena anak itu." jawab Luki kesal, yang hanya di balas senyum meledek dari Eric.


"Dimana Samuel? Apa dia ada di ruang belakang?" tanya Luki akan keberadaan Samuel.


"Iya... Oh.. Silvan juga ada di dalam, dan juga... Seorang gadis" jawab Eric yang membuat Luki tercengang, tidak percaya dengan apa yang di katakan Eric.


"Silvan!? Silvan Widmer? kau serius? Sedang apa dia disini?" tanya Luki yang masih tidak percaya, dan hanya di balas dengan mengangkat bahu oleh Eric.


"Kau lihat saja sendiri." jawab Eric dan menyuruh Luki masuk ke ruang belakang.


"Haaa..." jawab Luki dengan helaan nafas, dan berjalan masuk ke ruang belakang.


Luki tiba di ruangan tempat Samuel berada dan melihat pemandagan yang tidak biasa, Samuel dan Silvan mereka berada di ruang yang sama, selain meja makan keluarga, ini adalah hal yang sangat langka dan mengejutkan bagi Luki, karena Samuel dan Silvan tidak pernah akur, samuel sangat tidak menyukai Silvan, alasannya? Hanya Samuel sajalah yang tau.


"Samuel... Ini baju kamu minta, katamu ada hal darurat?" tanya Luki yang merasa bingung ketika melihat Lylia.


"tunggu... gadis ini terlihat tidak asing" ungkap Luki yang mencoba mengingat dimana dia pernah melihat Lylia.


"Sudahlah... Bawa kesini bajunya." jawab Samuel yang tidak menghiraukan perkataan Luki.


"Lylia... Ini pakaian untuk mu, kau harus berganti pakaian dulu sebelum kita kerumah sakit ya?" Samuel coba membujuk Lylia.


Lylia yang masih sedikit pusing pun menerima pakaian terusan yang memang agak kebesaran, Lylia melihat ke arah Samuel, Silvan dan Luki, yang mengisyaratkan dia ingin memakai baju, jadi mereka harus keluar dulu.


"Owh... Ya! Tentu kami akan keluar, Ayo... Luki, Silvan!" Samuel yang peka langsung keluar mengajak Luki dan Silvan.


"Lylia, panggil aku jika kau sudah siap." pinta Samuel yang hanya di balas anggukan oleh Lylia.


Lylia melihat keadaan nya sendiri, ia merasa sangat malu, dia melihat tubuh kecilnya di balik selimut dan berpikir siapakah di antara Samuel dan Silvan yang telah melepaskan bajunya, walaupun tidak semuanya di buka karena hanya meyisakan pakaian dalam yang basah, tetap saja hal ini sangat memalukan baginya.


Merasa tidak punya pilihan, Lylia pun pasrah saja, dan segera memakai baju dress yang jelas kebesaran untuknya, leher baju yang kebesaran mengekspos tulang leher hingga pangkal dadanya, yang semakin memancarkan aura kecantikannya, rambut yang basah tergerai membuat Lylia terlihat seksi, Lylia sedikit merasa tidak nyaman dengan bajunya dan terus menarik leher baju agar tidak terlalu terbuka, merasa sudah siap memakai pakaian Lylia pun memanggil Samuel.


"Samuel... aku sudah siap."


Mendengar panggilan Lylia, Samuel dan Silvan pun langsung masuk, dan terlihat mereka berdua terpana dengan pesona Lylia,


rambut ikal orange nya menutupi sebelah bahu Lylia, dress biru langit dengan corak pasque flower membuat Lylia tampak imut dan cantik.


Samuel yang tersadar langsung menghampiri Lylia, Silvan yang awalnya juga ikut melangkah akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke ruang toko, Silvan merasa dia hanya akan menjadi penganggu antara Lylia dan Samuel, Silvan tidak mau Samuel semakin membencinya dan memilih untuk mundur.


"Lylia... Maafkan aku... Aku sungguh tidak berniat menyakitimu, aku hanya..." Samuel berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan tadi namun di hentikan oleh Lylia.


"Samuel... aku mohon... jangan ingatkan aku lagi akan apa yang terjadi tadi, semua sudah cukup jelas juga untukku, sekarang aku hanya ingin pulang dan beristirahat." ucap Lylia yang terlihat tidak ingin membahas masalah tadi.


"Baiklah... Aku akan mengantar mu pulang, tapi sebelum itu kamu akan aku antar ke rumah sakit dulu ya? Kamu butuh pengobatan serius di kaki mu, lihat? kakimu sedang tidak baik-baik saja, kau harus segera di obati." jawab Samuel yang menjelaskan kondisi Lylia saat ini, walaupun di hatinya masih menganjal perasaan bersalah.


Lylia yang melihat kondisi kakinya pun tidak punya pilihan, kakinya memang terlihat cukup parah.


"Iya... baiklah..." jawab Lylia yang menunduk, karena masih merasa tidak nyaman terhadap Samuel.


"Lylia... Kau tidak bisa berjalan, jadi aku akan menggendong mu, apa kau mengizinkan nya?" tanya Samuel yang belajar dari kesalahan nya, dan mencoba untuk meminta izin terlebih dahulu.


Dengan berat hati Lylia mengiyakan Samuel dengan mengangguk, bagaimanapun ini demi kebaikannya juga, dua hari lagi dia harus bekerja, dan kakinya harus sudah bisa digunakan saat itu.


"Baik..." jawab Lylia lemas dan malu, kepala Lylia tampak tertunduk kedalam pelukan Samuel, Lylia pun bisa mendengar suara detak jantung Samuel yang berdetak sangat kencang.


Samuel pun berjalan keluar sembari memopong Lylia dalam pelukkannya, Silvan yang melihat itu pun merasa sedikit kecemburuan, hatinya sakit, namun dia hanya bisa merelakannya saja.


"Luki... Ayo cepat kita harus segera ke rumah sakit terdekat." Samuel mengajak Luki untuk menemaninya membawa Lylia, Samuel langsung keluar meninggalkan Eric san Silvan tanpa sepatah kata pun.


"Ahh iya.. Eric, Silvan, terima kasih, aku pergi dulu" Luki berpamitan kepada Eric dan Silvan.


Di luar Samuel dan Lylia masuk ke dalam mobil, yang juga di susul oleh Luki dari belakang walaupun sedikit basah karena masih hujan.


"Lylia... bersandarlah, dan kemarikan kaki mu agar merasa nyaman" pinta Samuel kepada Lylia yang tentu di tolak olehnya.


"Tidak apa, ini tidak begitu terasa sakit, aku masih bisa menahannya" jawab Lylia yang memperbaiki dress nya, baju baju yang kebesaran membuatnya merasa tidak nyaman karena terus turun, Samuel yang melihat itu pun langsung mengambil jas yang memang di sangkut di mobil.


"Lyliaa, pakai lah ini agar kau tetap hangat" Samuel memakaikan jasnya kepada Lylia.


"Terima kasih" ucap Lylia dengan lembut tanpa menatap wajah Samuel sama sekali.


Suasana dingin pun tidak dapat di hindari, Samuel terus melihat ke arah Lylia dengan perasaan bersalah, namun Lylia malah sebaliknya, dia sibuk menata hatinya, menata perasaannya kepada Samuel, kini dia tau dengan jelas jika Samuel mencintainya, sedangkan dirinya sendang berjuang untuk sembuh dari rasa sakit yang di terima dari Jiordan, rasa sakit yang masih membekas jelas membuat Lylia tidak berani membuka hatinya lagi kepada siapa pun.


Perjalanan menuju ke rumah sakit pun di penuhi dengan suasana dingin dan tidak ada satu orang pun yang berbicara, Luki terus menerus melirik keadaan belakang, saat melihat Lylia lagi Luki barulah ingat jika gadis ini adalah gadis yang sama yang di lihatnya bersama Samuel ketika mereka berada di desa grindelwald.


Tiba-tiba Luki membuka pembicaraan dan menghancurkan suasana dingin.


"Benar! kau gadis itu... Grindelwald... Yang bekerja di toko bunga, benarkan!? aku dan Samuel melihat mu disana untuk pertama kali" Luki mengejutkan Samuel dan Lylia.


Lylia terlihat terkejut mendengar kata Grindelwald dan toko bunga, dan langsung menoleh ke arah Samuel, seolah menanyakan maksudnya, Samuel yang mengerti tatapan Lylia pun mencoba menjelaskan.


"Ahh... Bukan apa-apa, kau ingat kan ketika aku mengatakan jika aku sudah lama mengenalmu, hanya saja aku tidak tau bahwa gadis itu anak ibu Diana." Samuel mencoba mengingat kan Lylia akan cerita bagaimana Samuel mengenali Lylia untuk pertama kali.


"Jadi namamu Lylia?" tanya Luki memastikan namun tidak di jawab olehnya.


"Kau tau Lylia? Samuel sangat menggilai mu, hampir setiap hari dia berangkat dari sini ke Grindelwald hanya untuk melihat mu, dan dia membawa semua pekerjaan kesana agar tetap bisa bekerja sembari melihat mu, rasanya dia akan gila jika satu hari saja tidak melihat mu, sampai akhirnya dia memiliki pekerjaan yang tidak bisa diabaikan." Luki menceritakan bagaimana perjuangan Samuel hanya untuk melihatnya.


"Luki diamlah, atau kau akan menyesal, kemudikan saja mobilnya, Lylia butuh di obati." timpal Samuel yang kesal melihat Luki yang cerewet.


Lylia yang mendengar perkataan Luki pun semakin galau, jujur di hatinya tidak ada keraguan akan ketulusan Samuel, namun ini terlalu cepat bagi Lylia, Lylia merasa butuh waktu untuk menata hatinya yang hancur agar bisa di mencintai lagi.


"Ok... kita sudah sampai." Luki memarkirkan mobilnya di depan pintu darurat, dan langsung turun untuk memanggil perawat.


"Lylia... kita sudah sampai, ayo kita obati kaki mu agar kau bisa berjalan lagi." Samuel kembali memopong Lylia, terlihat perawat datang membawa kursi roda, Samuel langsung menurunkan Lylia agar duduk di kursi roda.


Samuel mengikuti perawat yang membawa Lylia masuk ke ruang IGD (Unit Gawat Darurat), Lylia pun di haruskan tidur di bed khusus tindakan.


Perawat dan dokter IGD pun melakukan tugasnya dengan baik, kaki, lutut, tangan dan siku Lylia telah di obati dan di perban, namun kaki Lylia terlihat di berikan gips oleh dokter agar pemulihan nya berjalan lancar, syukurnya kaki Lylia hanya terkilir saja, Dokter juga memberikan resep obat tidak lupa juga dokter meresepkan vitamin untuk Lylia, karena Lylia menderita anemia, itulah sebabnya Lylia merasa lemah dan membuatnya pinsan.


"Lylia... Sebenarnya aku masih ingin membahas perihal tadi, kau seperti ini karenaku, aku tidak bisa mengabaikan fakta ini, hal ini juga menyakitkan untukku, jadi... Ku mohon Lylia... berikan aku kesempatan untuk menyakinkan mu, aku ingin kau melihat ketulusanku..."


Samuel masih mencoba membujuk Lylia, mencoba membuat Lylia memberikan kesempatan untuknya, melihat Lylia yang tidak memberikan respon apapun, akhirnya Samuel berlutut di hadapan Lylia, karena Lylia duduk di kursi roda membuat Samuel tidak bisa bertatap mata Lylia, melihat Samuel yang berlutut di hadapannya membuat Lylia terkejut akan tindakan Samuel, Lylia pun menatap mata Samuel yang terlihat sendu.


"Lylia... aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama, ini bukan rayuanku, tapi ini pengakuan perasaanku yang sebenarnya padamu, jadi aku mohon padamu untuk memberikan kesempatan padaku, kamu tau? hatiku sangat sakit tiap kali aku merindukanmu." Samuel membuat pengakuan kepada Lylia, jelas hal ini membuat Lylia tidak tau harus melakukan apa.


"Samuel... berikan aku waktu, bukannya aku tidak menyadari ketulusanmu, hanya saja aku belum siap menjalin hubungan dengan siapa pun, aku hanya bisa memberimu kesempatan untuk berteman denganku, tidak lebih dari itu, karena aku butuh waktu untuk diriku sendiri." Lylia mengungkap perasaannya yang tidak bisa membuka hatinya untuk siapapun.


"Baiklah... Itu lebih dari cukup, menjadi temanmu juga sudah bagus, dari pada di jauhi olehmu." jawab Samuel yang memahami perasaan Lylia yang masih terluka, tentu karena Silvan yang sudah memberitahukan tentang masa lalu Lylia kepada Samuel sebelumnya, jika tidak mungkin Samuel benar-benar merasa patah hati karena di tolak.


Luki menyaksikan pernyataan cinta Samuel kepada Lylia di ruang tindakan IGD, Luki merasa sangat terkejut karena melihat Samuel yang berlutut di hadapan seorang gadis, laki-laki dingin dan arogan itu bertekuk lutut di hadapan seorang gadis, membuat Luki tidak dapat berkata-kata.


"Power of love???" Luki bergumam sendiri melihat keajaiban cinta dari seorang yang dikenalnya sebagai orang yang dingin dan arogan kepada siapapun, bahkan kepada ayahnya sendiri pun terkadang Samuel bersikap dingin.