Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
POV SAMUEL



"Samuel... jika nanti ibu telah tiada, tolong kamu jaga ayah mu ya, dia terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memperhatikan dirinya sendiri, kamu janji ya sama ibu..."


terlihat sesosok wanita yang terbaring lemah di tempat tidur yang sangat mewah dan indah, ruang kamar yang begitu luas namun tidak banyak cahaya yang masuk, di samping wanita itu terlihat seorang anak laki-laki yang duduk sembil menggenggam tangan yang kurus dan pucat, wanita itu adalah ibu dari Samuel, yaitu Helena Amherd.


"Kenapa ibu sangat peduli kepada ayah? ayah bahkan tidak pernah menjenguk ibu, suami macam apa yang tidak mengurus istrinya yang sedang sakit?" jelas Samuel muda yang yang masih berumur 10 tahun dan tidak mengerti dengan apa yang ibunya pikirkan.


"Jangan berkata seperti itu terhadap ayahmu, bagaimana pun ayah mu lah yang membiayai semua yang ibu butuhkan, ibu masih bertahan hingga hari ini berkat kerja keras ayahmu." ucap Helena dengan suara lemahnya, denga kekuatan yang hanya tinggal sedikit Helena tetap ingin mengajarkan Samuel muda tentang norma dan sopan santu.


"Ibu... tidakkah ibu khawatir tentang aku? bagaimana aku akan hidup tanpa mu ibu? aku bisa hidup tanpa harta dan kemewahan ini semua, tapi aku tidak bisa hidup jika ibu tidak ada, ku mohon ibu berjuang lah, berjuang lah demi aku ibu, ibu pasti sembuh." Samuel muda terlihat putus asa akan kondisi ibunya, dan hanya menangis tak ingi di tinggal oleh ibu yang sangat di cintainya.


"Ibu... jika ibu tiada, aku akan sendirian di rumah sebesar ini, ayah tidak pernah ada untuk ku, dia hanya datang sesekali dan tidak pernah memarahi atau berkata sayang kepadaku, aku membuat onar agar di perhatikan olehnya, tapi ayah hanya mengabaikan ku, aku memenangkan banyak kejuaraan namun tidak ada sepatah kata pujian pun yang keluar dari mulutnya, sebenarnya aku ini siapa baginya ibu? apakah benar aku anaknya?"


Samuel muda terlihat sangat frustasi dan terus menangis sembari mengeluarkan isi hatinya, Samuel memeluk tangan ibunya, Helena hanya mampu mengelus kepala Samuel sambil menahan tangisannya, Helena tidak mau Samuel semakin khawatir.


Samuel menangis hingga tertidur di tangan ibunya, sore berganti malam, Samuel di bangunkan oleh salah satu pelayannya untuk menghadiri makan malam bersama ayahnya, namun Samuel di haruskan untuk mandi dan berganti pakaian, karena Samuel sudah harus bertemu klien ayahnya juga.


Sedari umur 7 tahun Samuel sudah di latih untuk menjadi pewaris dari semua perusahaan ayahnya, yaitu perusahaan penyedia alat-alat militer dan juga hotel bintang lima yang sudah mempunyai lima cabang di seluruh negara Bern.


Samuel yang sudah rapi pun bersiap untuk menghadiri makan malam dengan ayahnya dan juga bersama klien untuk membahas bisnis, namun pertemuan itu harus du batalakan, karena tiba-tiba ibu Samuel Helena mengalami kondisi kritis, Samuel yang mendengar kabar itu pun seperti di sambar petir, tubuhnya lemas, kakinya yang kecil itu tidak mampu menahan berat tubuhnya hingga membuat Samuel terjatuh terduduk di lantai, pelayan yang melihat itu pun dengan sigap menahan tubuh Samuel yang lemas, untuk sesaat Samuel kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"Samuel! Samuel! Sadarlah, kamu harus kuat jika ingin menemui ibu mu" Samuel mendengar suara ayahnya yang mencoba menyadarkan Samuel yang shock.


Samuel mengumpul kan kekuatannya dan mencoba untuk bangun, ia pun bangun di bantu oleh ayahnya, namun dengan cepat Samuel menepis tangan ayahnya dan berlari menuju kamar ibunya.


"Samuel! tunggu! Samuel!" ayah Samuel terus memanggilnya namun tidak di hiraukan oleh Samuel dan meninggal kan ayahnya begitu saja.


Samuel terus berlari di lorong rumahnya menuju kamar , lorong yang biasanya dia lewati, namun saat itu lorong yang biasanya tidak jauh itu terasa sangat berbeda, lorong yang di penuhi cahaya lampu itu terasa semakin gelas dan semakin jauh sehingga tidak dapat di ngapai olehnya, lorong itu semakin menjauh yang membuat Samuel muda kelelahan dan terjatuh di lantai sembari terus berteriak memanggil ibunya.


"Ibu! Ibu!!!!" Samuel terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi tubuhnya, ternyata itu semua adalah mimpi Samuel.


"Ahh... kenapa aku bermimpi ibu... Aahh... kepalaku pusing sekali." Samuel bangun dari tempat tidur nya dan hendak mengambil air untuk di minum, saat sedang minum Samuel mendengar suara berisik di depan rumahnya, ia mendengar suara yang tidak asing di telinganya,


"Itu seperti suara Silvan, sedang apa dia sini?" Samuel yang penasaran pun membuka pintunya, san benar saja itu Silvan dan Lylia yang terlihat sangat akrab sedang bersenda gurau di depan pintu.


"Lylia... bagaimana bisa kau membukakan pintu untuk laki-laki lain?" lanjut Samuel yang melihat Silvan yang hendak masuk ke rumah Lylia, dan semakin membuatnya terbakar api cemburu.


"Samuel... maafkan kami jika kami menganggu istirahat mu, dan Silvan itu temanku, sama seperti mu, tentu saja aku bisa membukakan pintu untuknya, baiklah kalau begitu kami akan segera masuk, ayo Silvan masuk, barang-barang itu pasti berat kapan kau belanja semua barang ini? " jawab Lylia dan mengajak Silvan untuk masuk yang semakin membuat hati Samuel panas saat mendengar jawaban Lylia, Samuel yang merasa tidak di anggap pun mencoba menahan Lylia sebentar lagi, walaupun kepalanya terasa sangat pusing.


"Tunggu!!! bagaimana keadaan mu? Apa kaki mu sudah merasa lebih baik?" tanya Samuel yang penasaran akan keadaan Lylia.


"Ahh iya... Sudah agak mendingan, mungkin besok sudah bisa berjalan walau masih sedikit sakit." jawab Lylia singkat tanpa bertanya apapun kepada Samuel, padahal Samuel sangat menunggu Lylia menanyakan bagaimana kabarnya.


"Begitu yaa.. baiklah kalau begitu..." Samuel terlihat tidak memiliki hal yang bisa di tanyakan lagi, pembicaraan mereka pun berakhir disitu, namun hati Samuel masih sangat di bakar api cemburu.


"Baiklah kalau begitu kami masuk dulu, silahkan kamu lanjutkan istirahatnya, kami akan berusaha untuk tidak berisik." ucap Lylia yang berpamitan kepada Samuel sembari melambaikan tangan, Samuel hanya dapat menatap Lylia masuk dengan tatapan sedih, bagaimana bisa dia masuk membawa laki-laki lain, sedangkan dirinya yang berada tepat di depan pintu rumahnya malah tidak dianggap bahkan untuk menanyakan kabarnya pun tidak.


"Lylia bagaimana bisa kau kejam sekali kepadaku." batin Samuel dengan ekspresi pasrah.


Samuel menatap Silvan dengan tatapan tajam, dan mengingat saat Silvan menggendong Lylia di hari hujan itu, Samuel takut jika Lylia akan membuka hatinya untuk Silvan karena terharu akan aksi pertolongan dari Silvan.


"Kak... apa kau baik-baik saja? kau terlihat sakit, apa kau demam karena kejadian kemarin?" tanya Silvan yang berujung pengabaian dari Samuel.


Samuel tidak menggubris pertanyaan dari Silvan, pertanyaan itu seharusnya di tanyakan oleh Lylia untuk nya bukan malah keluar dari mulut Silvan.


Samuel masuk dan menutup pintu rumahnya, kepalanya terasa berat dan sakit, rasa pusing pun tak tertahankan, dengan pandangan yang kabur Samuel berusaha berjalan ke tempat tidur, sesampainya di tempat tidur Samuel langsung tertidur namun tubuhnya terasa panas jika di sentuh dan di saat yang sama merasa kedinginan, awalnya Samuel merasa pendingin ruangannya terlalu dingin, akhirnya Samuel pergi mematikan pendingin ruangan.


Samuel kembali tidur, perutnya yang kelaparan pun tidak bisa berbohong, perutnya terus membunyikan suara alarm yang mengingatkan jika perutnya sudah sangat kelaparan namun Samuel tidak peduli dan mm tertidur untuk beberapa saat sampai perutnya kembali mebunyikan alarm sehingga Samuel terbangun.


*Aahh... aku sangat lapar, Silvan si bocah licik itu pasti mau menggoda Lylia denga masakannya, aaahh... aaahh... ini tidak bisa si biarkan" nafas Samuel mulai terengah-engah.


Samuel beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba untuk pergi keluar, berharap bisa ikut makan bersama dengan Lylia, Samuel membuang harga dirinya untuk pergi ke tempat Lylia yang dimana disana ada Silvan, Samuel memang merasa lapar karena dari malam belum makan apapun, dan ini sudah jam sebelas pagi, sebentar lagi akan masuk jam makan siang, Samuel telah melewatkan makan malam dan sarapan, yang kini membuat tubuhnya kehilangan tenaga.


Dengan tatapan yang kabur Samuel berusaha membuka pintu rumahnya, dan berusaha keras untuk bisa sampai ke pintu rumah Lylia, dengan terengah-engah Samuel sampai dan langsung menekan bel rumah Lylia, tidak lama kemudian pintu rumahnya pun terbuka, dan Silvan yang membukakan pintu.


Samuel tidak lagi jelas mendengar suara Silvan namun dia yakin Silvan memanggil namanya sampai akhirnya Samuel kehilangan kesadarannya di pelukan Silvan.