
Lylia terus memikirkan Samuel sejak Silvan memberitahukan kisah hidup Samuel di masa kecil, Lylia tidak berpikir jika dia yang berada di posisi Samuel pasti tidak sanggup untuk memberikan cinta untuk orang lain.
"Silvan... apakah kau memasak hanya untuk kita saja?" tanya Lylia.
"Tidak... aku juga memasak untuk kakak, kelihatannya dia sedang demam, tadi aku melihat wajahnya sangat pucat." Jawab Silvan yang membuat Lylia kagum, ternyata Silvan sangat perhatian.
"Baiklah kalau begitu, oh ya... Silvan, bagaimana jika kita mengajak Samuel untuk ikut makan dengan kita?" tanya Lylia.
"Sepertinya itu bukan ide yang bagus, seperti yang aku katakan tadi, dia sangat tidak menyukai aku." ucap Silvan sembari memotong daging.
"Hmmm kalau gitu biar aku saja yang mengantar makanannya untuk Samuel, kamu bantuin aku membawakannya." ucap Lylia yang memberikan idenya lagi kepada Silvan.
"yasudah jika memang kamu mau melakukannya." balas Silvan.
Lylia ke dapur ingin melihat Silvan masak, dengan tertatih Lylia sampai ke dapur dan duduk di meja makan, Lylia terlihat ingin menanyakan sesuatu ke pada Silvan.
"Silvan... Sepertinya aku akan menggunakan kesempatan ku untuk bertanya padamu hari ini" ucap Lylia yang membuat Silvan menoleh ke arahnya.
"Wow! baiklah... kau akan bertanya perihal apa? tanyakan saja." ucap Silvan yang antusias.
"Hmmm... ini perihal apa yang terjadi kemarin sore, bagaimana kau bisa ada di sana juga? Maksudku di toko suvenir, apa kau yang menyelamatkan aku?" tanya Lylia yang sejak awal mendung jika itu adalah Silvan, namun ia masih ragu.
Silvan terdiam untuk sementara sebelum menjawab pertanyaan Lylia, dengan wajah penuh senyuman namun terlihat kesedihan di mata Silvan.
"Tidak... Itu bukan aku, kebetulan saja aku sedang ada di toko suvenir itu, Eric teman ku, dan dia juga teman Samuel, aku, Eric, Luki dan Samuel berada di sekolah yang sama saat SMA, saat itu aku sangat terkejut melihat Samuel mengendong kamu yang pinsan dalam keadaan basah kuyup, aku sangat penasaran apa yang terjadi antara kamu dan Samuel." Ucap Silvan yang berbohong kepada Lylia, Silvan sangat pintar menutupi kenyataan yang sebenarnya, Lylia yang mendengar itu pun awalnya sedikit ragu dengan perkataan Silvan, namun di saat yang sama Lylia juga percaya,
"Aku dan Samuel hanya sedikit salah paham, aku keluar untuk mencari udara dan terus berjalan sehingga tanpa ku sadari aku berjalan cukup jauh dari apartemen, saat ingin kembali aku tidak tau lagi arah jalan pulang, cuaca saat itu pun dengan cepat berubah jadi mendung dan berangin, lalu hujan pun turun dengan derasnya, aku yang kebingungan pun merasa sangat lelah sehingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh, lalu aku melihat seseorang tapi aku tidak yakin itu siapa, dan semua menjadi gelap, sepertinya saat itu aku sudah jatuh pinsan, aah... Kalau di ingat-ingat lagi aku merasa sangat sial."
Lylia mengingat kejadian kemarin dan menceritakannya ke Silvan, mendengar itu pun Silvan tampak sedih, namun tidak berkomentar hanya melanjutkan memasak.
Suasana pun menjadi hening untuk sementara, sampai akhirnya suara bel rumah mengagetkan mereka berdua, Lylia dan Silvan menatap ke arah pintu sampai akhirnya saling bertatapan, seolah bertanya siapa yang menekan bel, namun di pikiran mereka menebak orang yang sama yaitu Samuel.
Lylia hendak bangun untuk membuka pintu namun di tahan oleh Silvan.
"Biar aku saja, kamu duduk saja di sini, kamu terlalu banyak bergerak kamu tau itu? cobalah untuk bersantai selama aku disini." Ucap Silvan yang merasa gerah akan Lylia yang tidak bisa berdiam diri dalam keadaan kaki yang di gips.
Silvan pun pergi membukakan pintu, benar saja itu Samuel, namun Samuel terlihat sangat kacau, wajahnya memerah, rambut yang acak-acakkan, dengan pakaian yang sama dengan yang di bawakan oleh Luki, terlihat Samuel sangat lemah seakan tubuhnya bisa ambruk kapan saja.
"Kakak! kau kenapa? ayo masuk dulu." Silvan sangat terkejut melihat keadaan kakaknya dan langsung memopong kakaknya masuk kendalam rumah Lylia dan langsung di rebahkan di sofa tempat biasanya Lylia duduk bersantai di depan tv.
Lylia yang melihat pemandangan itu pun juga sangat terkejut.
Samuel bernafas dengan terengah-engah, tubuhnya sangat panas, Silvan dan Lylia sangat panik,
"Silvan bagaimana ini? tubuhnya sangat panas, dia harus di bawa kerumah sakit." ucap Lylia namun Silvan hanya menatap Lylia dengan panik.
"Lylia... Silvan phobia dengan jarun suntik, dia tidak pernah kerumah sakit sejak kematian ibunya." ucap Silvan yang panik namun tidak tau harus melakukan apa.
"Apa? apa yang kau katakan? kemarin dia kerumah sakit bersamaku, dan melihatku di obati, tidak ada yang terjadi kepadanya" ucap Lylia yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Silvan.
"Lylia nanti akan aku jelaskan padamu, tapi untuk sekarang kita tidak bisa sembarangan membawanya kerumah sakit, kita harus menghubungi Luki, dia yang paling tau akan Samuel." ucap Silvan.
"Ya kalau begitu hubungi Luki cepat, aku akan mengompres nya untuk mengurangi suhu panasnya." Lylia pergi kedapur mengambil baskom dan juga kain, dan juga mengambil es batu di dalam kulkas, Silvan yang melihat itu pun segera membatu Lylia membawakan baskom yang berisikan air dan es itu ke tempat Samuel.
"Lylia... aku tau kau mengkhawatirkan Samuel tapi liat kondisi mu juga, kalau kau terjatuh lagu bagaimana? berhati-hatilah, jika Samuel melihat mu seperti ini kau pasti sudah di marahi." ucao Silvan kepada Lylia.
"Iya maafkan aku..." Lylia tampak sedih karena di marahi oleh Silvan karena kecerobohannya sendiri.
"Kau tidak perlu minta maaf, sini biar aku bukakan baju kakak, agar panasnya bisa keluar." ucap Silvan yang ingin membuka baju Samuel.
"Apa? untuk apa di buka? bukankah orang yang demam itu harus di selimutkan? Mereka memang kepanasan dari luar tapi sebenernya mereka sebenarnya kedinginan." ucap Lylia dengan teori nya.
"Haaa?? jika memang seperti itu, untuk apa kau mengompres nya dengan air dingin? bukankah itu akan membuatnya semakin kedinginan?" timpal Silvan yang membalas teori dari Lylia.
Samuel yang berada di tengah-tengah Lylia dan Silvan pun merasa kesal karena mereka berdua sangat berisik.
"Kalian berdua ingin membunuhku?" ucao Samuel yang membuat Lylia dan Silvan terdiam.
"Silvan apa kau sudah menghubungi Luki?" tanya Lylia yang mengalihkan pembicaraan.
"Ahh ya kau benar, aku harus menghubungi Luki, tunggulah sebentar kak." ucap Silvan kepada Samuel sembari bangun menuju kedapur untuk mengambil handphone nya dan menghubungi Luki.
"Hallo Luki, ini aku Silvan... Kakak demam tubuhnya sangat panas, bisa kah kau kesini? bukankah kakak memiliki dokter pribadi yang di percayainya? tolong hubungi dokter itu dan datanglah ke apartemen kakak, aahh... tapi kakak tidak sedang di rumahnya, pokoknya kalau sudah sampai tekan saja bell di depan rumah kakak." Silvan menjelaskan kondisi Samuel kepada Luki tanpa membiarkan Luki bicara sepatah kata pun.
"Silvan! Apa maksud mu Samuel tidak ada di rumah? lalu dimana dimana juga dia?" Tanya Luki yang masih tidak mengerti maksud Silvan.
"Datang sajalah kesini dengan dokternya, nanti kau akan mengerti saat melihatnya." ucap Silvan dan memutuskan panggilannya.
"Dasar adik kakak sama saja mereka berdua, walau tidak satu darah tapi wataknya sama saja." Luki terlihat kesal kepada Silvan yang menurut nya Silvan dan Samuel memiliki kemiripan meski tidak sedarah.