Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
MAKAN MALAM KELUARGA



Di sisi lain Silvan yang berada di rumah yang terlihat sangat megah dan mewah, pergi menemui ibunya yang berada di ruang tamu pribadi.


Silvan terlihat sangat dingin ketika melihat ibunya bersama dengan seorang wanita yang terlihat sangat cantik dengan gaya yang elegan.


"Sasha... sedang apa kau di sini? bukankah aku sudah memperingati mu untuk tidak datang lagi ke sini?" Silvan terlihat sangat tidak menyukai kedatangan mantan kekasihnya itu, dan menarik paksa tangan Sasha dan di tepis oleh ibunya.


"Silvan! Sasha tamu ibu! bagaimana bisa kau melakukan hal yang tidak sopan seperti ini? dia memang sudah putus dengan mu, akan tetapi dia tetap tamu ibu." ujar Ibunya yang terlihat marah dengan sikap tidak sopan Silvan kepada Sasha.


"Haaa... hahaha... aku benar-benar bisa gila, aku benar-benar tidak tahan berada di rumah ini, aku akan pergi kembali ke apartemen, tolong jangan hubungi aku hanya karena hal-hal sepele seperti ini, aku punya banyak pekerjaan." ujar Silvan yang merasa sangat kesal kepada ibunya, dan beranjak pergi.


"Silvan!!! kau mau ke mana? kau baru datang! kembalilah! ada yang ingin ibu bicarakan dengan mu!" ibu Silvan berteriak ingin menghentikan Silvan namun tidak di gubris sama sekali olehnya.


Silvan pergi dengan perasaan kesal, melihat sang mantan yang dekat dengan ibunya membuat Silvan merasa di khianati oleh ibunya sendiri, bagaimana bisa seorang ibu masih bisa menerima perempuan yang telah menyakiti anaknya.


Silvan dan Sasha putus setelah sasha tertangkap basah sedang selingkuh dengan laki-laki lain di sebuah bar tiga bulan lalu dan langsung di putuskan oleh Silvan, namun semenjak saat itu Sasha mengejar Silvan ke mana pun dia pergi.


Silvan yang kesal pergi menuju pintu keluar dengan perasaan yang sangat kesal, dia meninggalkan Lylia dan Samuel yang sedang sakit hanya untuk ini, Silvan ingin membuka pintu keluar namun di kagetkan oleh laki-laki tua yang penuh dengan karisma berdiri pas di depan pintu, terlihat ingin masuk ke dalam rumah mewah itu.


"Ayah?" ucap Silvan.


"Mau ke mana kau? jangan pergi dulu. ada yang ingin ayah bicarakan, ini perihal pekerjaan, dan jangan pergi. menginap lah di sini untuk beberapa hari, kau sangat jarang datang ke sini, hari pun sudah hampir gelap." ujar Laki-laki tua yaitu Jost Britz sosok yang penuh karisma dengan rambut putih yang di pangkas pendek layaknya komandan pasukan keamanan negara, dengan wajah yang di penuhi dengan bulu namun di cukur serapi mungkin sehingga menambah kesan dingin dan arogan.


Silvan terlihat tidak dapat membantah ucapan sang ayah, dan kembali ke dalam rumah. tak ingin terjebak dengan sang ibu, Silvan pun memilih pergi ke kamar secepat mungkin dan menghabiskan waktu bermain game di kamarnya.


Sedangkan di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen mewah, Lylia terlihat sedang melatih kakinya, Lylia sangat bekerja keras untuk segera bisa bekerja dengan kondisi optimal, tinggal dua hari lagi sebelum dia akan bekerja di sebuah hotel berbintang, pekerjaannya akan sangat membutuhkan kedua kakinya dalam kondisi maksimal.


Namun saat sedang berlatih berjalan Lylia terbayang apa yang dia lakukan dengan Samuel, Lylia sadar jika ini terlalu cepat dan sangat impulsif.


Perasaan bersalah tidak dapat di pungkiri, fakta bahwa Lylia menerima perasaan Samuel adalah agar dia dapat melupakan mantan kekasihnya, agar bisa melanjutkan kisah cinta yang baru. Lylia berharap waktu akan membuatnya jatuh cinta kepada Samuel.


Meskipun mereka telah melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh suami istri namun tidak ada perasaan yang mampu membuat hatinya benar-benar berdebar.


Apa yang di lakukannya bersama Samuel hanya karena perasaan yang bercampur dengan rasa frustrasi karena patah hatinya dan tubuhnya yang di penuhi hasrat dan kerinduan yang tidak dapat di bendung.


Berbeda dengan Samuel yang memang benar-benar ingin melakukannya karena rasa cinta dan ingin memiliki seutuhnya, perasaan yang selama ini di pendamnya, dan akhirnya dapat di salurkan, sekarang Lylia dan Samuel menjalin hubungan serius, ini juga satu-satunya cara bagi Lylia untuk bisa melupakan masa lalunya, seperti apa yang di katakan oleh ibunya.


"Cara yang tepat untuk melupakan seseorang adalah dengan menjalin hubungan dengan orang lain."


Merasa lelah dengan pikirnya sendiri, Lylia akhirnya memilih untuk duduk di sofa sembari melihat ke arah jendela yang memperlihatkan langit mendung,


"Sepertinya sebentar lagi akan hujan deras... haaa... sayang sekali aku belum bisa pergi berkeliling, aku harap saat sudah mulai bekerja nanti aku sempat untuk berjalan-jalan." gumamnya dengan tatapan kosong.


"Haaa... apa pilihan ku ini sudah benar? menerima perasaan Samuel begitu saja, jujur aku tidak merasakan apa pun padanya, tidak seperti ketika bersama Jio, aneh padahal aku sudah melakukan hal-hal yang dilakukan oleh suami istri, jelas aku menikmatinya, tetapi kenapa perasaan ku seperti hampa, apakah aku benar-benar tidak akan pernah bisa merasakan cinta lagi?"


Lylia membatin memikirkan apa yang telah dia lakukan bersama Samuel.


Saat sedang melamun Lylia di kejutkan oleh suara ponselnya, pesan masuk dari Samuel.


"Kenapa dia mengirimkan pesan? Padahal dia ada tepat di balik pintu kamarku." ucap Lylia yang melihat pesan Samuel.


"Lylia... aku akan pergi sebentar, baik-baiklah di rumah, jika ada apa-apa hubungi aku segera." isi pesan dari Samuel.


"Haa.. dia tidak mengatakan akan pergi ke mana, yasudah lah, aku hanya perlu membalas pesannya." ucap Lylia yang terlihat tidak begitu peduli.


"Baik... hati-hatilah saat di jalan." Balas nya singkat.


Tidak lama kemudian hujan pun turun dengan sangat deras, Lylia merasa sangat mengantuk dan tertidur di sofa.


saat semua sudah menyelesaikan makannya, terlihat para pelayan membersihkan meja makan.


yang bernama Jost Britz berusia 54 tahun terlihat membuka pembicaraan.


"Dua minggu lagi akan di adakan pesta penyambutan dan perayaan yang di adakan oleh keluarga militer, mereka adalah salah satu klien tetap perusahaan kita, keluarga Jenderal Emanuel Smith baru saja menikahkan anak perempuan sulungnya dengan salah satu Letnan di kemiliteran yang sama, yaitu Letnan Giordan Scar yang menikah dengan Selena Smith. Silvan... ayah harap kau memperbaiki hubungan mu kembali dengan Sasha Smith, Ayah mendapat kabar bahwa kalian telah putus? hentikan sikap kekanak-kanakan mu dan kembali lah bersama Sasha. sudah cukup dengan apa yang kakak mu lakukan terhadap Selena." ujar sang Ayah yang membuat Silvan merasa sangat keberatan. begitupun Samuel yang tidak suka masa lalu nya juga di ungkit sang Ayah.


"Ayah... aku tidak bisa kembali bersamanya. kami tidak saling mencintai, dan lagi dia berselingkuh dari ku, aku bahkan tidak dapat menghitung berapa banyak laki-laki yang dekat dengannya." ucap Silvan yang menjelaskan alasannya tidak ingin kembali bersama Shasha.


"Silvan! apa kau ingin punya restoran sendiri? jika memang ingin maka lakukan lah apa yang ayah katakan. dan juga ini untuk kebaikan kita bersama." ujar sang ayah yang terlihat tidak ingin mengetahui alasan Silvan.


"Apa? kenapa ayah membawa masalah ini dengan restoran? jika memang harus seperti itu, maka aku akan memilih untuk tidak memiliki restoran sama sekali. dan juga, ini bukan demi kebaikan kita bersama tapi hanya demi Ayah dan ambisi Ayah saja." ucap Silvan yang untuk pertama kali membalas perkataan Ayahnya dengan lantang. dan nSilvan pergi meninggal kan keluarganya begitu saja di meja makan, yang membuat sang Ayah murka.


"Jika kau pergi seperti itu, maka pastikan kau tidak pernah kembali, bahkan ke Hotel sekalipun." sang ayah mengeluarkan kartu terakhirnya untuk membuat Silvan tunduk akan perintahnya.


Samuel yang sedari tadi hanya mendengar perbincangan antara ayah dan adiknya pun kini angkat suara.


"Bukankah ini sudah sangat berlebihan? Ayah? tidak bisakah kau menjadi seorang Ayah saat sedang berada di meja makan ini? jika Ayah ingin membicarakan perihal pekerjaan kita bisa melakukannya saat di kantor, dan ini semua tidak ada hubungan dengan nya, kau hanya perlu menyampaikan nya kepadaku. aku lah yang akan mengatur semuanya, jadi berhenti di sini pembahasan ini. dan juga Shasha sudah melakukan hal yang tidak pantas di belakang calon tunangannya, demi nama baik keluarga ini aku menolak hubungan yang di latar belakangi oleh bisnis."


ujar Samuel dengan panjang lebar, Samuel mengeluarkan semua pendapatnya yang membuat sang Ayah tidak mempunyai pilihan lain dan hanya mengikuti saran dari Samuel.


"Heemm... benarkah seperti itu? baiklah ayah percayakan semuanya kepada mu." jawab sang ayah yang terlihat sangat memercayai Samuel.


Silvan untuk pertama kalinya melihat sang kakak membelanya pun tertegun untuk beberapa saat, Silvan merasa sangat emosional, ingin rasanya memeluk dan berterima kasih kepada sang kakak, namun Silvan memilih untuk tidak melakukannya karena akan sangat canggung, melihat fakta bahwa kakaknya masih membelanya saja sudah membuatnya sangat senang.


Silvan kembali ke kamarnya untuk mengambil beberapa barangnya, saat ingin keluar dia di kaget kan oleh kehadiran Samuel yang telah menunggu nya di depan pintu kamar.


"Kakak? ada apa?" tanya Silvan yang terkejut akan kehadiran sang kakak, hal ini sangat jarang terjadi, bisa di katakan hampir tidak pernah terjadi sebelumnya.


"Aku ingin bicara dengan mu." jawab Samuel dingin.


"Ahh... baiklah, apa kita harus masuk ke kamar atau...?" tanya Silvan yang langsung di jawab oleh Samuel.


"Tidak! kita bicara di sini saja. aku hanya ingin mengatakan kepadamu kalau aku dan Lylia sudah berpacaran dan aku akan segera menikahi nya." ucap Samuel, Silvan yang mendengar itu pun jelas sangat terkejut.


"A.. apa? pacaran? menikah? secepat itu? Lylia? dia menerima mu begitu saja? aku pikir dia masih belum bisa melupakan mantannya, ternyata aku salah... kalau begitu selamat untuk mu kak..." jawab Silvan yang benar-benar terkejut akan apa yang di katakan oleh Samuel.


"Aku tahu kau menyukai Lylia, aku mau mulai sekarang kau menjauh darinya, jangan mencoba untuk mendekati nya dengan maksud apa pun, aku akan memantau mu." ucap Samuel yang memberi peringatan kepada Silvan.


Samuel pergi meninggal kan Silvan yang masih tidak percaya,


"Bagaimana bisa mereka berpacaran? sejak kapan? apakah sejak aku pergi dari sana? apakah itu terjadi kemarin?"


Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benak Silvan saat ini, akhirnya Silvan tidak jadi pergi dan memilih menginap semalam lagi di rumah orang tuanya.


Samuel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dia sangat merindukan Lylia saat ini, memikirkan apakah Lylia sudah makan malam atau belum, atau mungkin saat ini Lylia sudah tidur mengingat jam sudah menunjuk pukul 9 malam, namun terlihat sekotak pizza di bangku penumpang bagian depan. ternyata Samuel telah membeli kan Lylia makanan untuk di makan bersama.


Setibanya di apartemen, Samuel langsung menuju ke apartemen Lylia, sandi dari kunci pintu apartemen Lylia masih sama dengan yang di atur oleh Samuel, jadi dia bisa masuk kapan saja, karena Lylia belum menganti kata sandinya.


Samuel masuk ke apartemen Lylia, namun terlihat suasana yang sedikit gelap, banyak lampu yang tidak di nyalakan sehingga menciptakan suasana yang sedikit remang-remang.


Samuel berjalan ke arah sofa dan melihat Lylia yang tertidur pulas, tak tega membangunkannya Samuel memilih untuk membopong Lylia masuk ke kamarnya dan menidurkan Lylia dengan baik.


Samuel melihat wajah mungil Lylia dengan sangat dalam, tidak ingin meninggal kan Lylia sendiri akhirnya Samuel juga ikut tidur di samping Lylia, Samuel tidur dengan memeluk Lylia dari belakang, Lylia terlihat tidak menyadari dan tidur dengan baik.