Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
I LOVE YOU



Samuel dan Abisal telah sampai di rumah. mereka berdua duduk di sebuah gubuk di belakang rumah. Bu Diana terlihat khawatir melihat Samuel, namun Abisal menenangkan ibu nya dan menyuruh ibunya untuk tidak menganggu Samuel dulu karena saat ini Samuel sedang dalam mood yang tidak bagus.


"Bu.. ibu di dalam saja bersama kakak, aku akan menemani kak Samuel, kelihatannya saat ini dia ingin minum. aku ambil beberapa beer pemberian Bibi ya, ibu tenang saja aku tidak akan meminumnya, aku akan minum soda saja." ucap Abisal kepada ibunya. melihat situasi saat ini apa yang di katakan oleh Abisal ada benarnya.


"Baiklah. ibu masuk dulu untuk melihat kondisi Lylia. Abisal bawakan selimut untuk Samuel, angin malam sangat lah dingin. oh.. hidupkan juga tungku api agar kalian tetap hangat." banyak hal yang di ingatkan oleh bu Diana kepada Abisal.


"Iya ibu. ibu tidak usah khawatir, aku pergi dulu ya." ucap Abisal berlari ke arah gubuk, di sana Samuel sedang duduk di beranda, menikmati indahnya suasana pada malam hari, namun angin yang dingin menusuk tubuhnya sehingga membuatnya membungkuk menyatukan kedua kakinya sejajar dada lalu di peluknya agar tetap hangat, Abisal yang melihat itu pun tertawa, tidak di sangka di balik wajah dan sifatnya yang dingin ada sisi yang imut bagi Abisal.


"Kak.. masuk lah, ini adalah gubuk milik ayah ku, memang sedikit tua tapi masih sangat layak untuk di tempati, di dalam ada tungku pemanas, kita bisa menghangatkan tubuh di dalam, dan juga aku membawakan apa yang aku katakan tadi." Abisal memperlihatkan beer yang di bawanya, Samuel tersenyum melihat tingkah Abisal yang cengengesan. di gubuk Samuel dan Abisal pun minu bersama walaupun Abisal hanya bisa minum soda di karenakan masih usia di bawah umur. Samuel terus meneguk beer sembari melihat keluar jendela. gunung, bukit dan juga langit malam seolah bersatu memperlihatkan keindahannya. Samuel memakai selimut yang di berikan Abisal sehingga tubuhnya menjadi hangat. dan pad akhirnya Samuel dan Abisal pun tertidur di sofa empuk di dalam gubuk, walaupun gubuk tua namun selalu di rawat dan di bersihkan oleh Bu Diana sehingga siapapun yang masuk bisa merasa nyaman.


Di dalam Lylia terlihat tertidur pulas di kamarnya, saat Samuel pergi menemui Jiordan, Lylia sadar dan ingin pergi mengikuti Samuel namun di larang oleh ibunya, karena nanti Lylia hanya akan semakin memperburuk keadaan. akhirnya Lylia pergi masuk ke kamarnya dengan perasaan kesal dan marah. perasaannya bercampur aduk sulit untuk di ungkap kan sehingga tubuhnya gemetar tak karuan. merasa lelah Lylia pun memutuskan untuk berbaring di kasurnya.


"Samuel.. maafkan aku... padahal aku sudah berjanji untuk akan berusaha membuka hati untuk mu, namun sepertinya hati ku belum mampu seutuhnya terbuka untuk mu, aku harus benar-benar menyelesaikan masalah ku dengan Jiordan, meski pun kami sudah putus namun aku ingin Melakukan sesuatu agar hati ku benar-benar bisa melupakannya, melupakan semua rasa yang pernah ada, semua kenangan yang pernah singgah." ucap Lylia di dalam hatinya, namun perlahan mata Lylia terasa berat hingga akhirnya ia tertidur lelap.


Waktu pun berlalu dengan cepat, matahari pagi menembus jendela kamar Lylia yang membuat silau karena terangnya, Lylia merasa risih karena cahaya matahari menusuk matanya yang membuat Lylia akhirnya bangun, sebenarnya ini bukanlah matahari pagi buta, ini adalah cahaya matahari menuju siang. Lylia bangun kesiangan begitu juga dengan Samuel, sepertinya Bu Diana sengaja tidak membangunkan mereka berdua agar dapat beristirahat lebih lama, terlebih Lylia dan Samuel akan kembali hari ini. melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi Lylia langsung bergegas mandi dan bersiap-siap.


"Ya ampun, bagaimana bisa aku bangun jam segini. ah! aku harus menghubungi Lean, handphone.. mana handphone ku?" Lylia terlihat sangat terburu-buru dan mencari handphone yang di taruh di bawah bantal tidurnya. berhasil mendapatkan handphonenya Lylia langsung menghubungi sahabatnya Lean.


"Hallo.. Lean?" ucap Lylia yang berhasil menghubungi Lean.


"Iya hallo Lylia.. ada apa kau menghubungi ku pagi-pagi? apa kau tidak bekerja?" tanya Lean.


"Lean kau dimana sekarang?" tanya Lylia.


"Aku? aku sedang di jalan menuju ke toko bunga. kenapa kau bertanya? sebenarnya ada apa? kau dimana?" tanya Lean kembali yang merasa ada yang aneh dengan Lylia.


"Tunggu, jangan pergi ke toko bunga dulu, kau harus menemaniku saat ini. saat ini aku sedang di desa, Jangan bertanya apapun dulu, nanti akan aku jelaskan, kau tunggu aku di tempat biasa kita duduk minum teh, aku akan segera kesana, di perjalanan aku akan menghubungi paman untuk meminta izin membawa mu bersama ku." ucap Lylia yang terburu-buru dan langsung mematikan handphone nya.


Lylia turun dari kamarnya yang berada di lantai dua dan terus berlari keluar dan tidak menghiraukan siapa pun, Lylia hanya berlalu pergi begitu saja, membuat ibunya dan Samuel keheranan, Samuel sudah bangun dan duduk di dapur sedang menyantap sarapannya. Bu Diana yang hendak membangun kan Lylia pun terkejut melihat Lylia turun dengan terburu-buru tanpa mengatakan sepatah kata pun. melihat hal itu Samuel pun bangun dan mengejar Lylia.


"Lylia! Lylia... tunggu! Lylia!?" panggil Samuel sambil berlari mengejar Lylia yang terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Samuel. Lylia sadar jika dia berhenti sekarang maka tidak ada yang terselesaikan. namun sayangnya Samuel mampu mengejar Lylia dan menarik tangan Lylia yang membuat Lylia berputar dan jatuh ke pelukannya Samuel. dengan nafas yang tersengal-sengal Samuel terlihat sangat kesal karena tidak mengetahui alasan yang membuat Lylia berlari di pagi hari tanpa menyapa siapa pun.


"Lylia! kau kenapa? ada apa?" tanya Samuel yang khawatir.


"Lylia!! sadarlah!! kaki mu berdarah! demi tuhan Lylia katakan ada apa? apa yang hendak kau lakukan?" ucap Samuel frustasi melihat tingkah Lylia yang tidak di pahami nya.


Lylia yang melihat kondisi kaki nya pun akhirnya runtuh dan jatuh terduduk di tanah, Lylia menangis sejadi-jadinya membuat Samuel ikut bersedih melihat kondisi kekasihnya dan tidak dapat melakukan apapun untuk membuatnya merasa lebih baik. Samuel memutuskan untuk mengendong Lylia dan membawanya masuk ke rumah sedangkan Lylia masih terus menangis di dada Samuel. melihat kondisi Lylia saat ini Samuel terus menggertakkan gigi nya. sejujurnya Samuel sangat tau penyebab kenapa Lylia berlari keluar dengan terburu-buru, Lylia ingin menjumpai Jiordan dan menyelesaikan semuanya, namun sesungguhnya perasaan Lylia sedang kalut dan memaksa kehendaknya karena rasa bersalahnya terhadap Samuel.


Bu Diana sangat terkejut melihat kondisi Lylia yang di gendong oleh Samuel, kondisi kaki nya terlihat sangat buruk. Lylia memaksakan kaki nya yang sedang terluka untuk berlari, padahal untuk berjalan dengan benar saja Lylia butuh tongkat, untuk naik ke kamarnya saja Lylia harus tertatih-tatih di anak tangga, tapi pagi ini dia berlari dari lantai dua sampai ke luar rumah tanpa merasakan sakit di kakinya sehingga membuat kaki nya terluka lebih parah dan mengeluarkan darah karena lecet.


"Lylia... ibu tidak akan bertanya kenapa kau bersikap seperti ini, bicaralah saat kau sudah tenang nanti, sekarang kaki mu harus di obati dulu. ulurkan kaki mu agar ibu bisa memakai kan obat." ucap Bu Diana dengan lembut, dan memberikan obat di kaki Lylia yang terluka, pergelangan kaki Lylia terlihat sangat bengkak karena di paksakan untuk berlari, Bu Diana mengompres pergelangan kaki Lylia agar merasa lebih baik.


Akhirnya Lylia merasa tenang. dan tidak lama kemudian Lean datang, Lean merasa sesuatu terjadi kepada Lylia karena tidak kunjung sampai di tempat mereka seharusnya bertemu. Lean sangat terkejut melihat Lylia yang berada di desa di tambah lagi dengan kondisi kaki Lylia saat ini.


"Lylia? apa yang terjadi pada mu?" tanya Lean yang memeluk Lylia.


"Aku tidak apa-apa Lean, aku hanya terjatuh, maaf aku membuat mu menunggu lama." ucap Lylia sambil tersenyum tipis.


"Ah.. Lean perkenalkan ini Samuel, dia... dia tunangan ku." ucap Lylia yang memperkenalkan Samuel sebagai tunangannya, tentu saja semua terkejut mendengar perkataan Lylia tak terkecuali Samuel, karena awalnya Lylia tidak ingin memperkenalkan Samuel sebagai tunangannya karena di nilai terlalu cepat, namun apa yang terjadi saat ini? Lylia malah memperkenalkan Samuel sebagai tunangannya bahkan di depan ibunya.


"Apa!?" Lean sangat terkejut mendengar pengakuan Lylia.


"Iya Lean, Samuel adalah tunangan ku, aku akan menikah dengannya, Samuel telah melamar ku tidak lama ini." ucap Lylia. Bu Diana merasa sangat bahagia, begitu pula dengan Samuel.


"Ibu... Samuel... Lean... maaf kan aku, aku telah membuat kalian khawatir dan kesusahan karena tingkah ku yang tidak bertanggung jawab, aku sangat ceroboh, aku juga sangat lemah, mudah terjatuh dan terluka, sejak kecil aku telah mengoleksi luka di lutut dan siku ku, ibu sangat khawatir saat itu, namun hingga saat ini aku masih sama saja, maafkan aku ibu. dan alasan sebenarnya kenapa aku berlari tadi adalah karena aku ingin menyelesaikan masalah ku dengan Jiordan, aku tidak tau apakah saat ini dia masih di desa atau sudah pergi, semalam adalah pertemuan ku untuk yang pertama kali semenjak hari itu dia pergi meninggalkan ku, dan tiba-tiba dia berdiri di hadapan ku, jujur saat itu aku sangatlah terkejut sehingga membuat tubuh ku bergetar dan tidak dapat berkata-kata. perasaan ku bercampur aduk. sampai akhirnya aku tidak mampu menahannya lagi. maka dari itu aku ingin menyelesaikan semua nya agar aku dapat melanjutkan hidup ku tanpa bayang-bayang masa lalu, aku ingin bisa membuka hati ku sepenuhnya untu Samuel. Samuel begitu tulus mencintai ku, jujur aku sangat bersyukur Samuel hadir dalam hidup ku, berkata dirinya aku dapat menjalani hari-hari ku lebih baik, namun di saat yang sama aku juga terus membuatnya kerepotan, dari awal bertemu hingga saat ini dia terus kerepotan karena ku. bahkan dia berurusan dengan masa lalu ku yang sebenarnya tidak ingin ku tunjukkan. Samuel... terima kasih atas cinta mu yang sangat tulus kepada ku. dan maaf... karena aku terus membuat mu kerepotan."


Akhirnya Lylia membuka perasaan nya di hadapan orang-orang yang di sayangi nya. di hadapan ibu, sahabat dan kekasih.


Samuel merasa haru dengan kata-kata Lylia pun akhirnya memeluk erat Lylia.


"It's okay Lylia... semua yang aku lakukan adalah bentuk cinta ku pada mu, oleh karena itu tidak ada yang harus kamu selesaikan, semuanya telah selesai Lylia, Jiordan sudah menikah dan istrinya sedang hamil. jadi... semua sudah selesai, kau juga harus melanjutkan hidup mu dan perlihatkan pada mereka semua bahwa kau juga mampun dan kuat menghadapi semua ini." ucap Samuel sembari menggenggam tangan Lylia.


Suasana yang tadinya riuh di karenakan dirinya namun kini berubah menjadi haru dan penuh senyum di karenakan dirinya juga.


"I love you Samuel"