
"Hallo Janny... apa kau sudah menemui Lylia!?" Samuel sedang menelpon Janny dalam perjalanan pulang.
"Iya sudah, kau tenang saja, dia akan baik-baik saja, mungkin dalam tiga atau empat hari lagi dia sudah bisa berjalan dengan lancar, kau hanya perlu menjaganya itu saja." jawab Janny yang mengetahui jika Samuel sangat mengkhawatirkan kekasihnya.
"Baiklah, terima kasih atas bantuan mu Janny, aku sedang dalam perjalanan pulang sebentar lagi aku sudah sampai. baiklah kalau begitu aku matikan telepon nya." ucap Samuel dan menutup teleponnya.
Akhirnya Samuel sampai dan memasuki area parkiran hotel, di sana Samuel tidak sengaja melihat Silvan bersama seorang wanita namun terlihat tidak baik, Silvan terlibat pertengkaran dengan wanita tersebut.
"Apa yang di lakukannya di parkiran? tunggu, sepertinya aku mengenali wanita itu." Samuel selesai memarkirkan mobilnya dan berjalan ke arah Silvan untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Silvan ada apa ini? dan kau! ternyata kau Sasha, sedang apa kau disini?" tanya Samuel kepada Silvan dan Sasha.
"Ini bukan urusan mu Samuel, pergi saja urus saja urusan mu sendiri, aku punya urusan dengan Silvan." ucap Sasha yang kesal dengan kehadiran Samuel.
"Sayangnya aku gak bisa melakukan itu, Silvan adalah pegawai di hotel ini, dan pekerjaan nya banyak, Silvan tunggu apa lagi? aku dengar ada tamu VIP yang ingin melakukan reservasi, cepat temui mereka, dan kau Sasha.. aku peringatkan agar tidak datang dan membuat keributan di hotel ku, aku tidak peduli dengan status keluarga mu, jika kau membuat masalah di sini kau akan di blacklist dari hotel ini dan tidak dapat memasuki Hotel ini selangkah pun, kau paham!?" Samuel terlihat sangat tegas dan dingin kepada Sasha dan membebaskan Silvan dari Sasha.
"Cih! dasar Gletser tidak berperasaan." Sasha akhirnya pergi dengan perasaan yang sangat kesal kepada Samuel.
"Oh ya, jangan pernah temui Silvan dimana pun, aku tidak mau punya adik ipar seperti mu." ucap Samuel kepada Sasha yang membuat Sasha Semakin meradang.
"Lihat saja nanti, aku pasti akan membalas mu Samuel, akan aku pastikan kau akan menerima akibatnya, tunggu saja." Sasha menggerutu tidak terima dengan perlakuan Samuel.
Samuel pun pergi setelah memastikan Sasha pergi, saat akan memasuki ruangan lift Samuel di kejutkan oleh sosok Silvan yang muncul dari belakang.
"Astaga! kau! kau mau membuat ku serangan jantung? kenapa kau masih di sini?" Ucap Samuel yang terkejut karena Silvan tiba-tiba ikut masuk ke lift tanpa bersuara.
"Maaf kak, ah maaf pak.. saya..." belum selesai Silvan bicara Samuel langsung menyela.
"Kakak, panggil saja kakak," ucap Samuel dingin.
mendengar itu Silvan tersenyum bahagia, akhirnya dia dapat memanggil Samuel dengan sebutan Kakak, sebutan yang sangat ingin di ucapkannya secara langsung.
"Baik kak. terima kasih kak karena telah membantuku." ucap Silvan yang masih sangat bahagia.
"Apa kau sebut dirimu laki-laki? kau bahkan tidak bisa menolak perempuan itu dengan tegas," ucap Samuel yang mengomeli Silvan, namun Silvan malah tersenyum.
"Apa kau ingin bertemu Lylia? dia sendang di kamar ku, bukankah kau temannya? aku pikir akan lebih baik untuk nya untuk bertemu dengan mu, dia sangat kesepian di sini, apa kau menghubungi nya akhir-akhir ini?" tanya Samuel kepadanya Silvan, namun Silvan yang mendengar nama Lylia langsung terdiam, senyum yang tadinya merekah telah hilang, perasaannya bercampur aduk, Silvan teringat akan perkataan kakaknya saat makan malam di rumahnya.
"Apa tidak apa-apa? aku berhenti mengirimi nya pesan saat kau memperingatkan aku malam itu." Jawab Silvan, lift pun berhenti Samuel keluar namun Silvan memilih untuk tetap di dalam lift dan akan turun ke bawah untuk pergi ke ruang staf dapur.
"Kau masih ingat perkataan ku malam itu? baguslah jika kau menurutinya, tapi sekarang aku yang minta kan? cepat aku tidak akan memintanya untuk kedua kali." pungkas Samuel yang membuat Silvan akhirnya mengikuti perkataan Samuel. Silvan sangat bahagia saat ini, dia tidak ingin suasana yang jarang di dapat ini menjadi tak karuan hanya karena perasaannya terhadap Lylia yang jelas-jelas sudah menjadi milik Kakaknya.
Samuel dan Silvan memasuki kamar hotel, namun anehnya kamar itu terlihat sepi, tidak terlihat sosok Lylia di dalam kamar, Samuel pun memanggil- manggil Lylia sambil berkeliling kamar, namun Silvan lah yang lagi-lagi menemukan Lylia yang sedang tergeletak di lantai samping tempat tidur.
"Lylia, Silvan berikan Lylia padaku, kau turunlah ke bawah dan bawa para petugas ambulance ke sini, kita tidak dapat mengangkat tubuhnya sembarangan." ucap Samuel yang mencoba untuk tenang dan memangku kepala Lylia sembari terus membersihkan wajah Lylia dari darah.
"Ya ampun Lylia, apa yang terjadi padamu? kenapa kau terus mengalami hal seperti ini?" ucap Samuel dengan suara yang gemetaran.
"Lylia... saat menikah nanti kau ingin memiliki berapa anak?" tanya Jiordan yang berbaring di pangkuan Lylia sembari melihat pemandangan laut biru yang sangat indah, angin pun berhembus menjatuhkan dedaunan kering, pohon cinta yang sangat rindang melindungi dua sejoli dari cahaya matahari yang menyinari setiap lekuk gunung dan bukit di desa Grindelwad.
"Aku? sepertinya dua anak saja sudah cukup, laki-laki dan perempuan, mereka akan memiliki alis dan mata seperti mu, alis yang tegas bagaikan bilah pedang, dan mata yang hijau seperti danau, Jio... aku mencintai setiap centi dari diri mu, entah bagaimana jika aku tanpa mu." Lylia memberikan jawaban serta pujian kepada Jiordan yang membuat Jiordan menciumi bibir Lylia.
"Lylia... aku juga sangat mencintaimu, jika nanti aku pergi tunggulah aku. aku akan kembali untuk menikah dengan mu. aku hanya akan menikah dengan mu Lylia. kau wanita ku, selalu akan menjadi mentari ku." Jiordan membalas kata-kata Lylia dengan perkataan Manis,
Namun tiba-tiba suasana yang manis dan cerah itu pun berubah menjadi hitam pekat, Lylia merasa sedang berdiri sendiri di atas bukit dengan pohon cinta yang terlihat menghitam dan mati. setiap dahannya menghitam hangus,
Lylia merasa begitu panik, nafasnya tidak beraturan, kedua tangannya menutupi telinganya, namun samar-samar Lylia mendengar suara yang memanggil namanya, Suara dari orang yang di kenalnya.
"Lylia! Lylia! sadarlah!"
Dengan perlahan Lylia membuka matanya, Samuel yang melihat itu pun langsung memeluk Lylia erat sambil menangis. Ternyata Lylia memimpikan kenangannya saat bersama Jiordan dulu, kenangan yang membuat Lylia begitu sangat terluka.
"Syukur lah Lylia, syukur lah kau telah sadar, apa yang terjadi padamu? maaf kan aku meninggal kan mu sendiri, maaf..." Samuel merasa sangat menyesal, perasaan bersalah karena telah meninggalkan Lylia sendiri menyelimuti perasaan Samuel.
"Tidak apa-apa. aku baik-baik saja, maaf sudah membuat mu khawatir, aku memang payah, selalu saja membuat mu kesulitan." ucap Lylia yang juga merasa dirinya terlalu payah dan terus terlibat dengan hal yang sama, sebelumnya pingsan saat hujan, sekarang pingsan karena tersandung.
"Aku memang terlalu lemah, maafkan aku." ucap Lylia.
"Tidak Lylia, aku lah yang tidak peka, meninggal kan dirimu sendiri padahal kau juga sedang kesulitan karena kaki mu sakit, terlebih aku pergi saat kau sedang tidur, maafkan aku." ucap Samuel dan memeluk Lylia.
Lylia sadar jika dirinya sedang berada di rumah sakit. dokter datang dan mengatakan jika Lylia baik-baik saja. hidungnya berdarah karena terbentur saat jatuh. namun dokter menyarankan agar Lylia memenuhi asupan gizi nya dengan benar, Lylia mengalami anemia dan kekurangan banyak vitamin lainnya yang membuatnya mudah jatuh saat tersandung.
mendengar diagnosis dokter Samuel pun meminta Silvan untuk di buatkan satu tim khusus untuk mengantar makanan bergizi ke apartemen Lylia setiap jam makan, agar Lylia tidak melewatkan jam makannya dan tidak memakan makanan yang tidak sehat.
Lylia tidak ingin protes lagi akan apapun keputusan yang Samuel ambil. karena dirinya merasa tidak dalam kondisi yang pantas untuk komplain apapun sekarang.
Akhirnya Lylia bisa pulang. Lylia kembali ke apartemennya bersama Samuel. Lylia merasa sangat nyaman karena akhirnya berada di rumah.
"Lylia mulai sekarang kau harus istirahat penuh, mengerti? aku akan di sini sepanjang waktu untuk menemani mu sampai kau benar-benar sembuh dan sehat. mulai sekarang aku akan berkerja dari sini. aku akan minta setiap dokumen yang harus aku periksa dan tanda tangan untuk dibawakan ke sini." ucap Samuel pada Lylia.
"Baik, lakukan saja apapun yang membuat mu tenang, aku tidak punya tenaga untuk melakukan protes apapun sekarang." Jawab Lylia pasrah dan memilih untuk tidur.
Saat akan tertidur Lylia teringat kembali akan apa yang di impikannya saat pingsan tadi. hatinya kembali sakit, namun Lylia tidak membiarkan air matanya keluar setetes pun, sudah cukup air mata yang di keluarkan selama ini.
"Sekarang aku memiliki Samuel yang mencintai ku, aku pantas untuk di cintai." bisik hati Lylia yang mencoba terus tetap menguatkan diri, hingga akhirnya terlelap dalam tidurnya.