
Di dapur restauran hotel, para staf koki terlihat sangat sibuk dengan masakkan yang akan di hidangkan, api dan asap mengepul suasana yang panas dan suara bising memenuhi dapur restauran. Jiordan masuk menuju ruang kantor kepala koki restauran bersama pelayan hotel.
"Permisi, pak ini ada tamu yang di sarankan oleh pak CEO Samuel untuk bertemu bapak." ucap seorang pelayan hotel.
"Baik, terima kasih.." ucap kepala koki yang ternyata adalah Silvan.
"Perkenalkan nama saya Silvan widmer, saya adalah kepala staf koki di restauran Hotel Hof Weissbad, apa ada yang bisa bantu." ucap Silvan yang memperkenalkan diri dengan sangat sopan kepada Jiordan.
"Ahh... Saya Letnan Jiordan Scar, panggil saja Jiordan." ucap Jiordan yang juga memperkenalkan diri kepada Silvan.
"Letnan ya? baiklah silahkan duduk." ucap Silvan yang terkejut mendengar nama Jiordan, pasalnya ayahnya baru membahas tentang Jiordan saat makan malam kemarin.
"Baiklah, apa yang bisa saya bantu Letnan Jiordan?" tanya Silvan.
"Saya mau membahas perihal menu makanan yang akan di siap kan saat hari pesta nanti, karena saya mempunyai beberapa alergi makanan, jadi saya ingin memastikannya sendiri." jawab Jiordan.
"Ahh begitu ya, sebentar saya ambilkan buku menu yang biasanya kami siapkan untuk acara besar, anda bisa memilih. silahkan di lihat terlebih dahulu." Silvan terlihat sangat sopan memperlakukan Jiordan, beda dengan Samuel yang terkesan kasar.
"Baik, terima kasih..." jawab Jiordan.
"Wuaahh kali ini lumayan ramah, apa-apaan dengan CEO hotel ini, sepertinya ada yang salah dengab temperamennya, kasian sekali mereka harus berkerja di bawah orang yang temperamental" batin Jiordan yang membandingkan Silvan dan Samuel.
Silvan membawakan kopi yang di seduh sendiri untuk Jiordan dan dirinya, Silvan teringat akan pembicaraannya dengan ayahnya mengenai pesta yang di adakan di hotel, sangat jarang pengantin pria yang datang untuk mengurus persoalan catering biasanya perempuan yang melakukannya.
"Hmmm boleh saya bertanya sesuatu tuan Letnan? ah.. maksud saya tuan Jiordan" Silvan mencoba membuka pembicaraan namun Jiordan terlihat bereaksi dengan panggilan letnan, tentu bukan reaksi yang bagus, karena entah mengapa Jiordan tidak senang di panggil dengan nama jabatannya, dia lebih suka di panggil dengan namanya saja jika di luar urusan militernya.
"Anda ingin bertanya apa?" jawab Jiordan sembari terus melihat menu catering.
"Kenapa anda datang sendiri? dimana pengantin anda?" tanya Silvan yang penasaran.
"Dia tidak bisa datang, karena kurang sehat." jawab Jiordan singkat.
"Oh.. begitu..." jawab Silvan yang tidak memperpanjang pembicaraan.
"jadi bagaimana? apakah ada yang anda sukai? atau ingin anda tambahkan?" tanya Silvan yang melihat Jiordan belum menentukan pilihannya.
"Hmmm... apa bisa saya bawa pulang buku menu ini? saya berdiskusi dengan istri saya juga." jawab Jiordan yang terlihat sedikit kebingungan dengan banyaknya pilihan menu.
"Jika memang di perlukan tentu boleh, apalagi anda sudah melakukan pembayaran di muka, jika ada yang ingin anda tambahkan bisa anda tulis saja dan berikan kepada asisten saya, karena saya akan berada di luar kota untuk beberapa hari." Silvan bangun dan berjabat tangan dengan Jiordan yang menandakan pertemuan berakhir, dan Jiordan pun keluar dari kantor staf koki.
Silvan memandangi punggung Jiordan yang berlalu pergi meninggalkan ruangannya, perasaan curiga terus muncul di benaknya.
"Sepertinya aku harus ke Grindelwad, aku akan mencari tau tentang laki-laki yang meninggalkan Lylia." batin Silvan.
Di sisi lain Lylia bangun dari tidurnya dan melihat Samuel tidak ada di sampingnya, Lylia melihat jam di dinding karena penasaran sudah berapa lama ia ketiduran.
"Apa!? sudah jam 1 siang? bagaimana aku bisa tertidur selama ini? gawat, aku harus segera kerumah sakit," Lylia buru-buru ke kamar mandi dengan tertatih untuk membersikan diri dari sisa-sisa peninggalan Samuel di tubuhnya.
"Bodoh! bagaimana aku bisa tertidur di mana saja!" Lylia mengutuk dirinya sendiri yang selalu saja melakukan hal-hal yang menurutnya memalukan untuk di lakukan.
Lylia selesai membersihkan diri dan segera berpakaian, saat hendak mengambil tas Lylia melihat secarik kertas yang di selipkan di dalam tas.
"Apa ini?" Lylia sedikit merasa trauma dengan surat, namun tetap berusaha karena rasa penasarannya lebih besar ketimbang rasa traumanya.
Lylia membuka surat dan melihat isi dalamnya, dan ternyata itu memo yang di tinggalkan oleh Samuel untuknya.
"Lylia... aku sangat bahagia hari ini, dna aki sangat bersyukur, terima kasih telah menerima ku, terima kasih karena telah memilih ku untuk menyembuhkan luka mu, aku akan membuatmu mencintaiku sehingga kau merasakan sesak di dada mu ketika tidak melihatku berada di dekat mu, namun untuk saat ini maafkan aku karena telah meninggalkan mu sendirian, aku harus pergi dinas keluar kota, ada hal yang benar-benar tidak bisa ku tinggalkan, dan mengenai kaki mu aku telah menelpon dokter untuk memeriksakan kaki mu, dia akan datang jam dua siang ini, dan jangan hiraukan perihal pekerjaan, aku sudah bicara dengan Sophie Lautner HRD yang kau temui tadi, jadi sekarang istirahat saja di hotel, aku akan pulang malam ini, sekali lagi maafkan aku, salam cinta Samuel 😘"
Lylia membaca memo yang di tinggalkan oleh Samuel yang lebih mirip surat cinta, namun Lylia merasa galau dengan kondisinya saat ini, Lylia merasa sangat kesepian jika terus berada di dalam kamar hotel mewah ini, Lylia sangat ingin berkeliling hotel, namun sekarang sudah pukul satu siang lewat, dokternya akan datang.
"Haaa... membosankan sekali." Lylia menggerutu sembari berjalan ke arah jendela kamar hotel, di luar terlihat sangat cerah, lylia melihat sekeliling hotel dari jendela kamar sampai matanya berakhir ke sosok yang sangat familiar sedang berjalan menuju mobil jeep militer, walau melihat dari jarak yang lumayan jauh namun terlihat jelas di mata Lylia jika itu adalah orang yang di kenalnya.
"Tidak mungkin, Jiordan!" Lylia terlihat tidak percaya, dan mencoba melihat lagi dengan seksama, namun apa daya orang di lihatnya sudah masuk ke mobil dan berlalu pergi.
"Tidak! aku sudah menetapkan hati untuk mencintai Samuel, aku sudah menerima lamarannya, Jiordan memang cinta pertama ku, tapi aku sudah bertekad untuk menjadikan Samuel sebagai cinta terakhir ku, aku tidak ingin menjadi wanita yang tidak memiliki pendirian." Lylia mencoba menyadarkan dirinya sendiri dengan menyakinkan hatinya untuk tetap teguh pada keputusannya yang telah di ambilnya, dan tidak ingin menjadi wanita yang bermain dengan ketulusan laki-laki yang telah mencintainya dengan tulus.
Lylia kembali duduk di pinggiran tempat tidur, memandangi kakinya yang di balut gips.
"kenapa dokternya lama sekali ya?" Lylia terus memandangi kaki nya sembari mengingat kejadian waktu itu,
"walaupun sedikit samar-samar, tapi aku yakin itu suara Silvan, tapi kenapa Silvan mengatakan kalau saat itu Samuel lah yang menolong ku? hemmm... sepertinya aku harus bicara dengan Silvan."
Lylia merasa Silvan tidak berkata yang sebenarnya akan saat kejadian waktu itu.
Tidak lama kemudian suara ketukan pintu pun mengagetkan Lylia yang sedang termenung karena menunggu dokter yang di katakan oleh Samuel.
Lylia pun pergi membukakan pintu, betapa terkejutnya Lylia saat melihat dokter di hadapannya, ternyata itu adalah Sophie Lautner, dokter yang waktu itu datang ke apartemen nya.
"Hai.!" sapa Janny yang mengetahui bahwa Lylia terkejut dengan kedatangannya.
"Oh.! hai.!" jawab Lylia dengan kaku.
"Apa aku boleh masuk!? atau kita lakukan pengobatan di sini saja.?" Janny berbicara dengan nada sarkas kepada Lylia karena belum di persilahkan masuk.
Lylia yang sadar akan kelakuan bodohnya yang selalu saja terkejut akan hal-hal yang baru membuatnya terlihat bodoh.
"Ahh iya tentu saja, silahkan masuk." Lylia dengan perasaan malu dan kesal pada diri sendiri pun mempersilahkan Janny masuk dan mengikutinya dari belakang dengan tertatih.
"Duduk lah di sofa itu agar aku mudah memeriksa kaki mu." pinta Janny yang menunjuk sofa di samping tempatnya tidur.
"Baik..." jawab Lylia yang terus melihat Janny, Lylia terus merasa terpana dengan kecantikan Janny.
"Kenapa?" tanya Janny kepada Lylia sembari membuka perban di kaki Lylia.
"Maaf?" tanya Lylia yang tidak mengerti dengan pertanyaan Sophie.
"Kenapa kau terus melihat ku? apa ada sesuatu di wajahku?" jelas Janny.
"Ahh... tidak aku hanya terus kagum akan kecantikan mu.." jawab Lylia dengan polos dan jujur, mendengar jawaban dari Lylia, Janny pun tersenyum, walaupun pandangan dan tangannya terus melakukan tugasnya memeriksa kaki Lylia namun Janny masih bisa mengajak Lylia bicara.
"Haha kau sangat menarik, tidak heran Samuel tergila-gila kepada mu." jawab Janny yang membuat Lylia penasaran.
"Hmm Janny apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Lylia, Janny yang mendengar pertanyaan Lylia pun langsung menjawab.
"Kenapa? apa kau ingin bertanya hubungan ku dan Samuel? jika memang itu yang ingin kau tanyakan maka aku akan menjawabnya, Samuel adalah temanku sejak kecil, tenang saja aku tidak pernah tertarik pada nya walau hanya sekalipun." Janny langsung menjawab pertanyaan yang ingin di tanyakan oleh Lylia seolah bisa membaca pikirannya.
"Ahh.. sepertinya kau bukan hanya dokter, kau juga peramal ya?" jawab Lylia yang membuat Janny menyeringai mendengar jawaban Lylia.
"Haha kau sungguh lucu. ok kaki mu tidak terlalu parah, mungkin dalam tiga hari ini kau sudah bisa berjalan dengan normal kembali, kaki mu itu bukan patah, hanya saja urat yang ada di pergelangan kaki mu cedera, dan ini tidak terlaku serius, santai saja, namun kau tidak boleh terlalu banyak bergerak dulu, nanti akan aku berikan resepnya kepada Samuel dan memesan agar dia menjaga mu agar tidak banyak bergerak." Janny menjelaskan bagaimana kondisi kaki Lylia sembari mengemas beberapa perlengkapannya.
"Terim kasih, apa kau akan langsung pergi? tinggal lah di sini sedikit lebih lama," pinta Lylia.
"Lain kali saja, aku sangat sibuk hari ini, oh iya apa kau tau? Silvan juga ada disini, tadi aku melihatnya di lobby." jawab Janny dan memberi tahu jika dia bertemu dengan Silvan.
"Apa!? serius? sedang apa dia di sini!?" tanya Lylia yang merasa heran dengan keberadaan Silvan di hotel.
"Apa!? sedang apa dia di sini!? apa kau tidak tau? Silvan adalah kepala staf dapur di hotel ini." jawab Janny dengan santai.
"Sudah, aku pergi dulu, ingat jangan banyak bergerak dulu, aku hanya memberi perban tipis di kaki mu." Janny berlalu pergi meninggalkan Lylia sendiri yang merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh Janny barusan.
"Sepertinya aku harus menghubungi Silvan" batin Lylia sembari mencari keberadaan ponselnya.
"Mana ponsel ku!? aku menaruhnya di mana tadi!?" Lylia mencari-cari ponsel kecilnya sampai akhirnya Lylia melihat ponsel itu di meja dekat jendela kamar.
Lylia pun pergi mengambil ponsel nya, karena terlalu semangat Lylia berjalan dengan cepat dan tidak melihat kondisi sekitar sehingga kakinya tersandung dengan kaki sofa yang tadinya di duduki oleh dirinya dan juga dokter Janny, Lylia pun terjatuh, hidungnya terbentur lantai dengan keras sehingga membuat Lylia pingsan begitu saja dengan darah mengalir keluar dari hidungnya.