Will I Fell Love Again?

Will I Fell Love Again?
APA ARTINYA AKU UNTUK MU?



Bus masih melaju di jalurnya, Lylia yang tadinya tertidur di bahu Silvan, akhirnya bangun, bertapa terkejutnya Lylia saat menyadari jika dia tertidur di bahu Silvan. Lylia menatap wajah Silvan yang juga sedang tertidur. perasaan canggung tidak dapat di hindari. Lylia memperbaiki posisi tubuhnya dan menghadap ke jendela, merasa suasana sedikit pengap Lylia membuka jendela bus sedikit agar udara segar masuk, namun kaca jendelanya sangat keras tidak bisa di geser, saat masih mencoba menggeser kaca jendela, tiba-tiba jendelanya tergeser dengan mudah, Lylia terkejut dan melihat ke Silvan sedang membantunya membuka jendela.


"Apa segini cukup?" Tanya Silvan kepada Lylia.


"Ah ya, sudah cukup, terima kasih" Ucap Lylia dengan canggung, Lylia teringat saat dia tertidur di bahu Silvan membuat suasana kembali menjadi canggung.


"Sebentar lagi kita akan sampai di terminal" Ucap Silvan kepada Lylia.


"Benarkah?" Jawab Lylia senang sembari melihat pemandangan baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Akhirnya untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di kota Appenzel. kota yang hanya dilihatnya melalui majalah dan koran, perasaan senangnya terpancar di wajahnya, senyum merekah dan rasa antusias yang tidak bisa di sembunyikan.


"Apa tidur mu tadi nyenyak? sepertinya semalam kau tidak tidur dengan baik ya?" Tanya Silvan yang seketika membuat Lylia mematung. senyuman nya tadi tampak merekah, seketika hilang. Lylia merasa malu kepada Silvan dan memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Silvan tadi dengan mengalihkan pembicaraan.


"Ah aku harus menelepon seseorang dahulu, sepertinya dia sudah menunggu ku" Ucap Lylia yan memang sengaja mengalihkan pembicaraan. Lylia mengambil telepon genggamnya dan mulai mencari nomor Samuel.


Lylia melakukan panggilan telepon yang dalam hitungan detik sudah terjawab.


"Hallo Lylia, apa kau sudah sampai?" Samuel menjawab telepon dan langsung menanyakan posisi Lylia.


"Ah belum, sepertinya tidak lama lagi aku akan segera sampai, kau di mana?" Jawab Lylia dan juga penasaran dengan posisi samuel saat ini.


"Aku di terminal sejak tadi, menunggu kedatangan mu, ini pertama kalinya kau ke sini jadi aku tidak ingin kau sendirian" Jawab samuel.


"Kau baik sekali, tetapi bagaimana dengan pekerjaanmu? bukankah kau harus bekerja hari ini?" Ucap Lylia.


"Tenang saja, Aku cuti selama dua hari" Jawab Samuel.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya Bus akan segera berhenti, aku matikan dahulu telponnya, karena harus bersiap-siap" Ucap Lylia yang melihat Bus akan segera berhenti yang menandakan tujuan mereka telah sampai.


"Baiklah, Aku sudah melihat Bus yang akan segera berhenti, sepertinya itu Bus yang kau tumpangi" Jawab Samuel dan juga melihat bus yang di tumpangi Lylia.


"Akhirnya kau sampai" Ucap Samuel yang bergumam sendiri. senyum menghiasi wajahnya, perasaan bahagia yang tidak dapat di sembunyikan, akhirnya wanita yang di cintainya sampai, dan akan tinggal dekat dengan dirinya.


Bus berhenti, penumpang mulai turun satu per satu dan mengambil barang bawaannya dari bagasi bus dan di bantu oleh beberapa pekerja.


Samuel mencari-cari keberadaan Lylia, sampai akhirnya matanya melihat wanita dengan rambut oranye yang di sinari cahaya matahari. Samuel langsung berlari ke arah Lylia.


"Lylia!!!" Panggil Samuel sambil berlari menuju ke arah Lylia, namun kakinya terhenti, Samuel melihat seseorang yang dia kenal di samping Lylia, mereka terlihat turun bersama dari bus, langkah Samuel yang tadinya berlari mendadak hanya berjalan pelan. otaknya sedang menganalisa situasi apa yang di lihatnya.


"Samuel!!! Akhirnya aku sampai!!" teriak Lylia kegirangan yang sudah melihat Samuel tepat di hadapannya.


"Lylia senang melihatmu akhirnya kau sampai ke kota ini. bagaimana perjalanan mu? apa perasaan mu baik-baik saja?" tanya Samuel sambil melirik ke arah Silvan.


"Aaahh aku bahagia sekali" ucap Lylia yang memang terlihat sangat bahagia, barang bawaannya sebagian di bawa oleh Silvan, karena Silvan hanya membawa ransel jadi dia bisa menolong Lylia membawakan barangnya.


"Hmmm Lylia??? mau di bawa ke mana barang ini?" Tanya Silvan kepada Lylia, Lylia baru sadar akan kehadiran Silvan yang berada di sebelahnya dan juga membawa barang bawaannya.


"Ahh... Silvan... maafkan aku, itu pasti berat ya, sudah tidak apa-apa letakkan saja di situ, nanti akan aku bawakan sendiri, terima kasih banyak atas bantuannya Silvan." ucap Lylia yang berterima kasih kepada Silvan.


"Ahh ini bukanlah apa-apa Lylia. mau kau bawa ke mana barang ini? apa mau ku pesankan taksi?" tanya Silvan kepada Lylia.


"Tidak perlu, letakkan saja di situ barangnya. Lylia akan pergi bersama ku, jadi tidak perlu memesankan taksi untuknya, dan apa pun itu terima kasih sudah membantu Lylia, sampai di sini akan aku ambil alih." ucap Samuel dingin kepada Silvan.


Lylia merasakan hawa dingin dan panas di sekitarnya yang di pancarkan oleh kedua lelaki yand berada si hadapannya.


"Hmm... baiklah... Silvan terima kasih atas bantuannya kau sangat membantu. aku tidak akan melupakan kebaika mu " ucap Lylia kepada Silvan. suasana pun kembali normal.


Namun tatapan Samuel kepada Silvan sangat dingin, Lylia merasakan jika Silvan dan Samuel memiliki hubungan, tetapi dia tidak tahu apa, dan juga sangat tidak mungkin menanyakannya.


"Baiklah Lylia, kita pergi sekarang. ucapkan selamat tinggal pada temanmu. pastikan itu ucapan selamat tinggal bukan sampai jumpa." ucap Samuel kepada Lylia. Lylia yang melihat sikap Samuel langsung teringat akan adiknya Abisal. karakter mereka sedikit sama.


"Silvan... aku pergi dahulu... selamat tinggal" ucap Lylia sesuai yang diinginkan oleh Samuel.


"Lylia... tunggu... bolehkan aku meminta nomor telepon mu? kita sudah berada di kota yang sama, dan aku bisa menjadi temanmu di kota ini" Ucap Silvan yang meminta nomor telepon Lylia dengan alasan yang sangat klise. mendengar permintaan Silvan, tentu Samuel tidak tinggal diam.


"Apa? nomor telepon??? teman?? mengapa juga Lylia mau berteman denganmu? dan juga Lylia tidak sendiri di kota ini, aku ada bersamanya, jadi urungkan niat mu itu" ucap Samuel sini kepada Silvan. Lylia yang melihat Samuel seperti anjing dan kucing. dan semaki yakinlah Lylia jika mereka memiliki hubungan satu sama lain, namun tetap tidak bertanya.


"Samuel... tidak apa-apa. aku memang sudah menganggap nya sebagai temanku. dia adalah cucu dari temanku, jadi aku harus bersikap baik kepadanya." Jawab Lylia dengan polosnya.


"Lylia... terima kasih, nanti akan aku hubungi, bersenang-senang lah, nikmati waktu mu sebaik mungkin, dan ingatlah bahwa itu di cintai banyak orang" ucap Silvan sembari pergi dengan berjalan mundur, tangannya melambai ke arah Lylia dan di balas lambaian juga oleh Lylia dengan senyumnya yang membuat banyak orang mulai memperhatikannya


"Lylia... sudah waktunya kita pergi, kau harus makan sesuatu. ini sudah jam sebelas siang. apa kau tidak lapar?" tanya Samuel yang menyadari jika Lylia menjadi pusat perhatian banyak orang, dan langsung mengajaknya pergi, dengan membawa barang bawaan Lylia lalu memasukkan nya ke dalam bagasi mobil mewahnya itu.


Lylia yang melihat mobil mewah Samuel langsung merasa takjub. "wuaah... mobil ini mewah sekali, aku memang tahu jika dia ini kaya. dan bahkan sepertinya dia sangat kaya, apalah aku ini, bagaikan biji semangka." Batin Lylia yang terus merasa takjub dengan mobil jaguar xe milik Samuel.


Akhirnya mereka pergi ke salah satu restoran mewah. awalnya Lylia merasa malu dan tidak pantas untuk masuk ke restoran mewah itu, namun Samuel berhasil meyakinkan Lylia dengan sabar.


Samuel dan Lylia sedang duduk di meja bundar yang sangat terlihat mewah, Lylia merasa sangat tidak nyaman, karena memang ini bukan gayanya. selama dia hidup belum pernah ke restoran semewah itu, perasaan tidak percaya diri Lylia sangat besar, merasa pakaiannya sangat kampungan untuk duduk di meja semewah itu.


Tidak lama kemudian pelayan restoran pun datang membawakan buku menu yang sangat mewah.


"Itu buku apa? besar sekali, jangan bilang itu buku menu!?" batin Lylia yang melihat kemewahan buku menu.


"Lylia silakan kamu duluan yang pilih makanannya, kamu boleh milih apa pun yang kamu." ucap Samuel yang sangat antusias karena berhasil mengajak Lylia makan bersamanya.


Lylia melihat daftar menu berserta harganya membuat rasa laparnya menghilang, nafsu makan Lylia jadi hilang, bukan karena daftar menunyang tidak enak, melainkan harga menu yang sangat tidak masuk akal menurut Lylia, hingga akhirnya dia memilih untuk keluar dari restoran.


"maaf Samuel... aku tidak bisa makan di sini, aku tidak cocok berada di tempat semewah ini, maafkan aku, kami makanlah duluan, aku akan menunggu mu di luar." ucap Lylia kepada Samuel dan bergegas ke luar,


Samuel yang tidak mengerti apa yang terjadi juga memilih mengikuti Lylia.


"Lylia.. Lyli... tunggu aku" panggil Samuel yang berlari di belakang Lylia.


"Lyli... mengapa? kamu gak mau makan di tempat seperti ini? baiklah, tidak apa-apa, ayok kita pesan makanan saja lalu langsung pulang ke apartemen dan istirahat, oke?" Samuel mencoba mengerti Lylia.


"Maafkan aku... aku hanya tidak terbiasa dengan tempat seperti ini, maaf aku merusak rencanamu, aku tahu pasti sulit untuk mendapatkan meja di Restoran semewah ini" jawab Lylia dengan perasaan sedih dan juga merasa bersalah kepada Samuel.


"Lylia... sungguh ini tidak apa-apa, aku hanya ingin membuatmu senang di hari pertamamu berada di Appenzel, jadi jangan merasa sedih, kalau kamu sedih aku akan sangat merasa bersalah." ucap Samuel kepada Lylia.


"Baiklah... lebih baik kita pesan dan bawa pulang saja makanannya" ucap Lylia kepada Samuel sambil tersenyum, melihat senyum Lylia, Samuel kembali tidak bisa mengendalikan detak jantungnya yang memang berdetak sangat kencang.


"Ya tuhan... bisa mati berdiri aku jika detak jantungku kuat seperti ini, apa mungkin aku kena penyakit jantung? sepertinya aku harus melakukan check up untuk jantung." batin Samuel.


"Ehem... Lylia... jadi kamu mau makan apa??" tanya Samuel yang mencoba mengalihkan perhatiannya.


'hmmm... aku mau makan Alplermagronen saja, kalau kamu?" Lylia menginginkan Alplermagronen yang terbuat dari makaroni yang di campur dengan krim dan beberapa bahan yang menyehatkan.


"Baiklah... aku akan memesan Rosti saja, kau cukup hanya makan Alplermagronen?? apa perutmu akan kenyang hanya makan itu? apa mau aku pesankan daging juga? steak juga enak jika dimakan bersamaan dengan Alplermagronen yang memiliki tektur lembut " jawab Samuel yang terlihat paham sekali mengenai makanan.


"Tidak apa-apa, aku suka makan Alplermagronen begitu saja." jawab Lylia yang menolak saran Samuel, karena bagi Lylia itu sedikit berlebihan untuknya yang memang tidak begitu suka makan, itulah sebabnya Lylia memiliki badan yang kecil.


"Sepertinya kau tidak suka makan ya? kau tahu? kau seharusnya makan lebih banyak daging, agar bisa tumbuh tinggi seperti ku". Samuel yang memiliki tinggi 185cm itu memberi saran kepada Lylia, atau mungkin lebih tepatnya sarkase kepada Lylia yang tidak begitu peduli dengan asupan nutrisinya.


"Aahh begitu kah? tetapi suka tubuhku yang seperti ini." jawab Lylia yang memang tidak begitu peduli.


Samuel tidak membalas lagi perkataan Lylia, dia hanya tersenyum melihat Lylia yang sedikit kesal dengan perkataannya.


Di perjalanan mereka singgah di restoran biasa dan memesan makanan yang di inginkan tadi lalu membawanya pulang ke apartemen, hari pun makin siang.


Sesampainya di apartemen, Lylia langsung tercengang tidak percaya dengan apa yang dilihat, apartemen ini sangat mewah, Lylia bertanya-tanya dalam hatinya, apakah ini benar apartemen yang dia sewa dengan meminjam uang dari Samuel.?


"Sam... ini apartemen yang aku sewa? pantas saja harganya sangat tinggi" tanya Lylia kepada Samuel.


"Iya... dan aku juga tinggal di sini, ayo masuk, aku sudah mengatur semuanya... maaf jika aku tidak bertanya terlebih dahulu kepadamu." ternyata Samuel sudah mengisi semua interior apartemen.


Interior sederhana yang memberi kesan kampung halaman Lylia, rapi dan minimalis, di kamar juga terlihat lukisan mural sebatang bunga Daisy putih berlatar belakang langit biru, menghiasai dinding kamar yang berada tepat di kepala tempat tidur, mural itu sederhana namun tampak megah, padahal hanya sebatang tangkai bungai Daisy putih, bunga kesukaan Lylia.



Lylia yang melihat itu, langsung tidak bisa berkata apa-apa, apa yang telah si lakukan oleh Samuel untuknya itu sudah terlalu banyak, Lylia merasa tidak lagi bisa menerima bantuan dari Samuel, Lylia tidak meragukan ketulusan hati Samuel, hanya saja ini terlalu berlebihan untuknya, Lylia merasa tidak dapat membayar kebaikan Samuel.


*Samuel... mengapa kau seperti ini? sudah cukup untuk ku kau membantu membayarkan apartemen ini walaupun kau mengatakan jika ini hanyalah utang, tetapi dengan ini semua... bukankah ini terlalu banyak hanya untuk ku yang bukan siapa-siapa ini? apakah aku memiliki arti lebih untuk mu?" Lylia yang memang sejak awal merasa aneh dengan sikap Samuel yang terlalu berlebihan dan protektif kepadanya pun, ingin mengetahui niat Samuel yang sebenarnya.