
Di dalam perjalanan Lylia dan Samuel terlihat tidak begitu banyak berbicara, masing-masing sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya mereka berdua ingin membuka pembicaraan.
"Bagaimana jika.." ucap Lylia dan Samuel secara kebetulan terjadi bersamaan, yang membuat suasana canggung. merasa lucu dengan kebetulan itu mereka pun tertawa.
"Lady first" ucap Samuel kepada Lylia. Lylia tersenyum kepada Samuel.
"Lylia.. berhenti tersenyum seperti itu, hati ku tidak mampu menahannya." bisik hati Samuel yang selalu terpana dengan senyuman Lylia. saat ini Samuel bisa di katakan sedang bucin atau tergila-gila terhadap Lylia.
"Ahh... bagaiman jika kita langsung saja pulang ke apartemen? aku ingin langsung istirahat." ucap Lylia yang ingin segera pulang kerumah.
"Hmmm... tapi kaki mu harus di periksa dulu, jika kau ingin beristirahat, kau bisa melakukan di Rumah Sakit, aku akan pesan kamar VIP. bagaimana.?" tanya Samuel. Lylia merasa itu berlebihan untuk memesan kamar VIP di Rumah Sakit, karena biayanya jelas tidaklah murah, namun di saat yang sama Lylia juga teringat jika kekasihnya itu adalah seorang CEO di sebuah hotel ternama, sehingga Lylia mengiyakan saran Samuel untuk beristirahat di Rumah Sakit sementara kakinya di obati dengan benar.
Di sisi lain, Silvan sedang berkutat di dapur hotel. Silvan memasak banyak masakan karena ada acara ulang tahun di hotel. merasa gerah dengan suasana di dapur Silvan pun memilih untuk keluar dan menyerahkan tugasnya kepada asistennya yang memang tinggal sedikit yang harus di selesaikan sehingga dapat di serahkan kepada asisten koki.
Silvan keluar menuju taman belakan hotel, di sana Silvan membuka dua kancing baju chef nya agar dapat bernafas dengan leluasa. rasa sesak nya ini bukan di karenakan panasnya suasana di dapur atau banyaknya menu yang harus di masak, melainkan hati dan pikirannya yang terus tidak dapat bersatu, pikirannya fokus memasak namun hatinya terus membuatnya teringat akan Lylia. walaupun dirinya sudah merelakan Lylia untuk sang kaka, namun tidak dapat di pungkiri jika hatinya tidak bisa melupakan Lylia, apa lagi Silvan pernah sangat ingin menjadikan Lylia sebagai kekasihnya. namun sekarang demi sang kakak dia harus merelakannya. saat sedang melihat ke arah sekitar Silvan menyadari keindahan langit sore yang dulu belum pernah di lihat nya saat berada di taman belakang, yaitu matahari terbenam yang sangat indah. melihat itu Silvan langsung menghubungi Lylia untuk sekedar mendengar kabarnya saja sudah membuatnya merasa lebih baik.
"Hallo Lylia?" tanya Silvan.
"Ya hallo.." Silvan sangat terkejut saat mendengar suara laki-laki yang menjawab teleponnya.
"Siapa ini? kemana Lylia? apa ini Samuel?" tanya Silvan yang menduga jika itu kakaknya.
"Iya ini aku Samuel, ada apa kau menghubungi Lylia?" tanya Samuel jutek karena tidak suka dengan fakta Lylia menyimpan nomor Silvan dengan nama (Temanku Silvan)
"Ahh.. bukan apa-apa aku hanya penasaran dengan kabarnya, apakah dia baik-baik saja? bagaimana dengan kakinya?" tanya Silvan yang merasa kecewa tidak dapat mendengar suara Lylia.
"Dia baik-baik saja, sekarang dia sedang istirahat, dia kelelahan melakukan perjalanan dari Grindelwad." ucap Samuel dengan nada yang datar.
"Begitukah? syukurlah jika kondisinya baik-baik saja." ucap Silvan yang merasa lega mengetahui kondisi Lylia walaupun merasa kecewa.
"Iya syukurlah, sudah ya, aku juga kelelahan ingin istirahat." ucap Samuel yang langsung menutup panggilan dari Silvan.
"Haaa... Samuel tetaplah Samuel, dia hanya baik dan lembut kepada Lylia, tapi akan menjadi kulkas sepuluh pintu terhadap orang lain. aku yakin dia sedang cemburu saat ini karena aku menghubungi Lylia, dasar manusia kutub." celoteh Silvan sendiri karena merasa kesal.
Akhirnya Silvan pergi dari taman dan masuk kembali ke hotel, sialnya Silvan saat masuk ke lobby hotel dia berjumpa dengan orang yang sangat tidak ingin dia temui, yaitu Shasha Smith.
"Silvan! kebetulan sekali kita bertemu di sini?" ucap Shasha yang langsung menghampiri Silvan, Shasha bersama tiga orang temannya baru keluar dari restoran.
"Kebetulan? ha! iya! sungguh kebetulan! bagaimana tidak ini kan tempat aku bekerja tentu saja kita akan bertemu jika kau sengaja datang menemui ku. bukankah aku sudah mengatakan nya pada mu untuk menjauh dari ku?" ucap Silvan kesal dan langsung pergi meninggalkan Shasha bersama teman-temannya, Shasha tidak terima dengn ucapan Silvan pun berteriak.
"Silvan! aku hamil! aku hamil anak mu!!!" teriak Shasha lagi sambil menyengir. semua orang yang berada di lobby kembali melihat ke arah Silvan dan Shasha, suasana riuh pun tidak dapat di bendung. Silvan yng mendengar perkataan Shasha untuk kedua kalinya dia berhenti lagi dari langkah nya, sampai akhirnya dia berbalik dan berjalan dengan cepat ke arah Shasha, Silvan sudah benar-benar tidak tahan dengan kelakuan Shasha yang tidak tau malu, Silvan menarik lengan Shasha dan membawanya ke parkiran mobil. Silvan membuka pintu mobil dan menyuruh Shasha masuk ke mobil, Shasha masuk ke mobil secara paksa dan di pakaikan sabuk pengaman oleh Silvan, tentu Shasha sangat kebingungan dengan reaksi Silvan, rasa takut pun terlukis di wajah Shasha.
"Silvan kita mau kemana? kenapa kau memaksa ku? kau tau? kau dapat ku laporkan dengan tuntutan pemaksaan!" ucap Shasha yang masih mengancam Silvan.
"Kita akan mencari tau apakah kau hamil atau tidak!" ucap Silvan yang siap mengemudi, Silvan terlihat membawakl mobilnya dengan kecepatan tinggi, yang membuat Lylia Shasha ketakutan hingga berteriak di dalam mobil.
"Silvan!! apa kau gila!? kita berdua bisa mati saat ini!!" teriak Shasha yang tidak di gubris sama sekali oleh Silvan.
Akhirnya mereka berdua sampai ke klinik kandungan, Silvan membawa Shasha ke dokter kandungan, tentu saja Shasha tidak mau masuk, namun Silvan menyeret Shasha sehingga Shasha tidak dapat melawan lagi. sesampai di dalam mau tidak mau Shasha mengikuti kemauan Silvan untuk di periksa. Shasha terlihat sangat ketakutan karena apa yang di katakan tadi itu hanyalah kebohongan nya belaka agar dirinya mendapatkan perhatian dari Silvan. Silvan yang tahu akal busuk Shasha sengaja menyeret Shasha ke dokter kandungan agar dia tidak melakukan hal seperti ini lagi ke depannya.
Dokter pun melakukan tugasnya, Silvan duduk di bagian kepala Shasha sehingga tidak melihat bagian perut bawah Shasha, pandangan nya hanya fokus ke monitor USG dan Dokter pun mengucapkan selamat untuk Shasha dan Silvan, dokter mengatakan jika Shasha telah hamil selama empat minggu yang berarti kehamilannya menginjak usia satu bulan, sontak keduanya terkejut, bagaimana tidak, Shasha sama sekali tidak menyangka jika dirinya benar-benar hamil, begitu pula dengan Silvan yang sangat terkejut dan mencoba mengingat kapan terakhir kali dirinya tidur bersama Shasha, yang di perkirakan itu sudah lebih satu bulan yang lalu semenjak mereka berpisah karena Shasha ketahuan berselingkuh yang membuat Silvan pergi ke desa Grindelwad untuk menemui neneknya, Silvan sangat yakin jika itu bukan anaknya.
Shasha terlihat tidak mengatakan apapun, dirinya sangat syok mendengar fakta bahwa ia telah hamil selama satu bulan.
"Ini foto usg bayinya, masih belum terlalu terlihat bentuknya namun anda masih dapat melihat keberadaan bayi anda yang masih sangat kecil..." Belum selesai dokter menjelaskannya Silvan bangun dan menarik foto hasil usg dari tangan dokter sambil berkata.
"Dokter, anak itu bukan anak saya, dan dia bukanlah istri saya, beritahu saya kapan tes DNA dapat di lakukan?" tanya Silva kepada dokter, Shasha yang mendengar perkataan Silvan sontak marah dan bangun dari posisinya yang awalnya berbaring.
"Apa kau bilang? tes DNA? bukan anak mu? bagaimana kau bisa sangat yakin?" tanya Shasha yang masih berusah menjebak Silvan.
"Sadar diri itu akan lebih baik untuk mu dan kesehatan anak mu itu Shasha! ingatlah berapa laki-laki yang sudah tidur dengan mu? aku bukanlah satu-satunya, dan aku sangat ingat kapan terakhir kali kau tidur dengan ku, terus lah bermimpi, pada kenyataannya aku bukanlah ayah dari anak itu! ada baiknya kau melakukan tes DNA agar anak mu tau siapa ayahnya!" ucap Silvan yang mulai sangat lelah menghadapi Shasha yang terus ingin menjebaknya.
"Katakan dokter! kapan tes DNA dapat di lakukan?" tabya silvan lagi kepada dokter.
"Kau bisa melakukan tes itu saat bayi lahir, jika sekarang sangat beresiko." jelas dokter kepada Silvan.
"Baiklah, terima kasih penjelasannya Dokter. saya permisi dulu." ucap Silvan dan berlaku pergi meninggalkan Shasha dalam rungan pemeriksaan.
"Silvan! tunggu!" teriak Shasha yang mengejar Silvan.
Silvan tidak peduli dengan panggilan Shasha dan terus berjalan menuju mobilnya. Shasha masih mengejar Silvan yang sudah akan naik ke mobil.
"Silvan! aku tidak akan melahirkan bayi ini!!! aku akan melakukan aborsi, kau dengar itu? aku akan melakukan aborsi!!!" teriak Shasha yang membuat semua pengunjung klinik kandungan terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Dasar iblis, bagiamana bisa di mengucapkan kata-kata itu di sini.?" ucap salah satu pengunjung klinik, Shasha yang mendengar itu hanya menoleh ke arah orang yang mengatainya dengan tatapan sinis, Shasha tidaj peduli dengan perkataan nya dan pergi dengan mempertahankan gaya nya yang berjalan bak sedang melakukan peragaan busana.
Silvan yang mendengar perkataan Shasha pun tidak ingin bereaksi apapun, dan memilih pergi begitu saja meninggalkan Shasha sendiri. akhirnya Shasha menghentikan taxi dan berlalu pergi.