
"Aku ingin pesta yang mewah namun tidak begitu banyak bunga dan pernak pernik, aku ingin kesan yang mewah dan elegan, kau paham kan? Akan maksud ku? Mewah dan elegan dengan warna yang terang, seperti putih dan tambahkan sedikit hiasan hitam dan lampu." jelas Jiordan dengan antusias.
"Haa... harusnya kau bawa istri mu untuk urusan seperti ini, namun jika begitu penjelasan mu akan kami persiapkan, pestanya dua minggu lagi, kami akan membuat contoh desain yang kau inginkan, dan juga untuk menu makanan jika ada makanan tertentu yang kau inginkan, kau bisa menemui kepala koki kami di lantai pertama, jika tidak kau bisa membuat janji dengannya, ini kartu namanya." ucap Samuel yang terlihat ingin segera menyelesaikan pertemuan yang tidak penting ini, karena ini bukan tugasnya ada orang lain yang mengurus bagian pesta, namun Jiordan bersikeras ingin bertemu Samuel sang CEO hotel.
Jiordan yang merasa di perlakukan tidak sepenuh hati pun merasa sedikit tersinggung.
"Kau menanyakan istriku? kenapa dia tidak datang? itu karena dia sedang mengandung, dia tidak boleh terlalu lelah dan harus beristirahat dengan baik." ucap Jiordan yang kesal.
"Selamat, ternyata istri mu sudah mengandung, namun setahuku kau baru saja menikah bukan? Sekitar 4 bulan lalu.?" ucap Samuel yang membuat Jiordan terkejut.
"Bagaimana kau tau?" tanya Jiordan yang penasaran.
"Dari mana aku tau? Tentu saja aku tau, istrimu dulu akan di jodohkan denganku, tapi aku menolaknya dan akhirnya dia menikah denganmu, lalu sekarang adiknya sedang mendekati adik ku." jawab Samuel yang membuat Jiordan semakin terkejut.
"Apa!?!" tanya Jiordan yang tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Samuel.
"Apa kau sedang main-main dengan ku?" tanya Jiordan yang sangat kesal.
"Kenapa kau sangat kesal? aku hanya mengatakan fakta saja, aku juga tau siapa kau, kau berasal dari desa Grindelwad kan? kau mendaftar sebagai anggota militer empat tahun yang lalu, dan belum pernah pulang sekalipun." ucap Samuel yang ternyata sudah mengetahui siapa Jiordan sebenarnya.
"Apa? apa kau menyelidiki aku?" ucap Jiordan yang semakin kesal.
"Tidak! itu adalah perbuatan yang ilegal bukan? aku tidak ingin berurusan dengan hukum hanya untuk mencari tau latar belakang seseorang yang tidak ku kenal, bukankah begitu?" jawan Samuel santai.
"Tenang saja, aku hanya sering ke desa Grindelwad dan memiliki sanak saudara disana, jujur jika di lihat dari asal usul ayah ku, maka aku juga orang dari desa Grindelwad." ucap Samuel lagi, namun Jiordan tidak begitu ingin mendengar perkataan Samuel, dan hanya fokus akan fakta perjodohan istrinya sebelum dia menikah denga istrinya.
"Oh ya disana aku juga menemukan mutiara yang masih mentah, aku membawanya kesini agar bisa berkilau seperti seharusnya, aku akan membuatnya bersinar dan cantik, lebih cantik dari tembaga yang kau temukan." ucap Samuel yang mencoba membuat Jiordan kesal.
"Apa maksudmu? Mutiara apa yang kau bicarakan? dan tembaga? Apa aku menemukan tembaga? bicara apa kau? aku datang kesini untuk membahas soal pesta, kenapa kau membawa pembicaraan ini kemana-mana? apa kebetulan aku membuat masalah dengan mu?" ucap Jiordan yang tidak paham akan maksud dari provokasi Samuel.
"Aahh jadi kau tidak mengerti? Baiklah jika begitu, nanti akan aku perlihatkan mutiara yang aku temui di Grindelwad pada mu, aku harap kau dapat mengucapkan selamat untuk ku nanti." ucap Samuel yang masih belum memberikan penjelasan yang bisa membuat Jiordan mengerti.
"Ah! Sudah! Aku akan keluar dan menemui si koki itu saja, dasar sinting!" ucap Jiordan yang kesal akan sikap Samuel.
Jiordan keluar dari ruangan kerja Samuel namun di saat yang sama Lylia juga keluar dari kamar VIP milik Samuel karena merasa bosan, Lylia melihat Jiordan keluar dari kantor Samuel dan langsung pergi menuju lift tanpa melihat kiri kanan lagi, Lylia melihat Jiordan dari samping, walaupun sosok yang dilihatnya memiliki beberapa perbedaan yang sangat mencolok berbeda dengan sosoknya empat tahun lalu, namun Lylia yakin itu Jiordan.
Lylia bergegas berlari menuju arah Jiordan namun sayang saat dia tiba Jiordan sudah masuk ke dalam lift dan menuju melantai bawah, Lylia ingin mengikuti Jiordan dengan menekan tombol lift berkali-kali agar cepat terbuka, namun tanpa di sadarinya Samuel berada tepat di belakangnya dan menggenggam lengan Lylia yang membuat Lylia terkejut.
"Sedang apa kau di sini? bukankah sudah aku katakan untuk menunggu ku di kamar saja.?" ucap Samuel yang tau kenapa Lylia berlari ke lift, Samuel yakin jika Lylia telah melihat Jiordan.
"Aku merasa bosan di kamar dan ingin melihat-lihat sekitar hotel, dan juga sebenar untuk apa kau membawa ku masuk ke kamar mu?" jawab Lylia dengan alasannya, namun Samuel tau jika Lylia sempat melihat Jiordan.
"Ayo ikut saja" jawab Samuel sembari menarik tangan Lylia,
"Bukankah kau sedang jalan sendiri? aku hanya mengenggam tangan mu agar kau tidak jatuh, apa tidak boleh?" jawab Samuel yang membuat Lylia tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ayo ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu, beberapa hari ini aku ke desa Grindelwad, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana." pungkas Samuel.
"Apa? kau ke desa Grindelwad? apa kau juga menemui ibu? apa ibu baik-baik saja?" tanya Lylia yang terkejut dengan apa yang di katakan Samuel.
"Iya... aku menjumpai ibu, beliau baik-baik saja, Abisal juga baik-baik saja, sepertinya dia juga akan pergi dari desa untuk bekerja di masa liburan musim panas." ucap Samuel sembari membuka pintu kamar hotel, mereka berdua masuk ke kamar.
"Apa? Abisal juga akan pergi berkerja? kalau begitu nanti ibu akan sendirian." ucap Lylia yang tampak mengkhawatirkan ibunya.
"Tidak... Ibu mengatakan padaku kalau Jonathan akan pulang, dia mengambil cuti selama seminggu, dan ibu mengatakan padamu kalau kau tidak perlu khawatir, selama Abisal tidak disana ibu akan di temani bibi Rosete." ucap Samuel yang berusaha membuat Lylia tidak terlalu khawatir akan ibunya.
"Bibi Rosete? syukurlah kalau begitu." ucap Lylia yang merasa lega.
"Boleh aku tau siapa Bibi Rosete itu?" tanya Samuel sembari menggendong Lylia dan membawanya ke kasur yang sangat mengah.
"Ahh Samuel apa yang kau lakukan?" tanya Lylia yang sudah dalam posisi terbaring di kasur besar.
Samuel mendekati Lylia dengan bucket bunga Daisy putih dan juga terlihat sebuah cincin permata biru yang di ikatkan di bucket bunga Daisy.
"Samuel... apa ini?" lagi-lagi Lylia di kejutkan dengan hal-hal yang tidak terpikirkan olehnya. Lylia bangun dan duduk di atas kasur sembari melihat bunga Daisy yang di berikan oleh Samuel, dan juga hal yang paling membuatnya takjub adalah cincin permata biru yang sangat indah.
"Lylia... Sebenarnya aku ingin melamar mu dengan benar, dengan suasana mewah dan romantis, tapi sepertinya aku tidak bisa menundanya lagi, akan sangat berbahaya jika aku menunda untuk memiliki mu seutuhnya. Lylia... saat aku kerumah mu kemarin, aku meminta ibu menceritakan masa lalu mu, awalnya ibu tidak ingin menceritakan nya, tapi aku terus memaksanya sehingga akhirnya ibu menceritakan semuanya. Lylia... aku berbeda dengan laki-laki itu, aku tidak sama dengannya, aku bukanlah seseorang yang mampu meninggalkan orang yang aku cintai, aku tau mungkin di pikiran mu aku ini maniak gila, jatuh cinta pada pandangan pertama dan langsung ingin menikah." ucap Samuel.
"Samuel..." Lylia terlihat sangat terharu dengan perkataan Samuel.
"Lylia... Meski aku seperti maniak namun aku sangat yakin dengan hati ku, aku mencintai kamu semenjak pertama aku melihat mu sampai sekarang, tiap malam dada ku terasa panas karena terus merindukan mu, saat ibu menceritakan tentang mu darah ku rasanya mendidih dari kaki hingga kepala, ingin rasanya aku memberikan pelajaran kepada laki-laki itu, tapi di saat yang sama aku justru merasa bersyukur dia telah pergi dari hidupmu, dengan begitu aku bisa membuat mu menjadi milik ku, maka itu lah Lylia... buka lah hati mu untuk ku, jangan kau tutup hati mu hanya karena satu laki-laki bodoh. Terimalah lamaran ku dan jadilah pendamping hidup ku, akan ku pastikan kau akan hidup bahagia selalu." Samuel berlutut di hadapan Lylia dan melamarnya.
Lylia menangis terharu melihat ketulusan Samuel dan kata-kata Samuel yang membuatnya semakin ingin menangis, walau memiliki sedikit keraguan Lylia mencoba membuka hatinya untuk samuel, namun tidak yakin apakah mampu membalas cintanya Samuel seperti Samuel mencintainya.
"Samuel... sebelum aku menjawab lamaran mu, aku ingin kau mendengar kan isi hati ku, dan kau boleh memikirkan lagi apakah masih ingin melamar ku atau tidak, dan apapun pilihan mu maka itu terbaik." ucap Lylia yang terlihat ingin mengungkap kan isi hatinya.
" Apa!? apakah ada sesuatu? Haaa... baiklah.. ceritakan, dan aku akan mendengarkan tanpa menyela." ucap Samuel dengan perasaan gusar karena ucapan Lylia seakan ada sesuatu hal yang akan membuatnya berpikir ulang untuk melamarnya, walaupun sebentar tekadnya sudah bulat tidak peduli dengan apapun yang terjadi di masa lalu Lylia.
"Baiklah... aku akan berkata jujur kepada mu. jujur untuk saat ini aku belum bisa untuk mencintai siapapun lagi..." ucapan Lylia membuat jantung Samuel berdetak lebih kencang dari biasanya, perasaan risau pun tidak dapat di elakkan.
"Aku jatuh cinta keoada Jiordan saat masih duduk di bangku SMP, namun kami resmi pacaran saat sudah SMA, kami adalah teman sejak kecil, namun entak kapan rasa cinta ini tumbuh seiring berjalannya waktu dan seiring waktu-waktu yang terus berlalu kami terus menciptakan kenangan di setiap sudut desa, bahkan di setiap gunung yang ada di Grindelwad itu memiliki kenangan ku dan jio... sampai akhirnya Jio harus pergi untuk mencapai cita-citanya yang ingin menjadi seorang tentara di kemiliteran dan memiliki posisi yang bagus, saat dia pergi, dia terus berjanji akan pulang dan menikahi ku lalu membawa ku pergi dari desa ini untuk hidup bersamanya di kota besar ini, namun seiring waktu yang aku jalani tanpa dirinya membuat ku merasa sangat tersiksa, namun setiap kenangan yang ada di desa Grindelwad membuat ku teringat akan dirinya dan pada akhirnya aku mampu bertahan, rasa cintaku tidak pernah berkurang segtitik pun untuknya sampai akhirnya aku mendapatkan kabar bahwa dia, laki-laki yang ku tunggu selama empat tahun itu telah menikah dengan wanita lain, dan dia ingin hubungan ku dengannya berakhir hanya melalui sepucuk surat, saat itu rasanya aku sangat membenci diriku sendiri dan mengutuk dunia ini, dan lebih parahnya lagi, aku terus merasa hampa sekalipun saat aku sedang tertawa, aku merasa kosong, dan juga saat aku tidur dengan mu aku tidak dapat merasakan perasaan apapun, aku memang merasakan sensasi yang membuat ku terasa ingin terbang saat melakukan itu denganmu, namun anehnya hatiku tidak begitu berdebar, maka dari itu, jika saat ini aku menerima mu itu hanya karena rasa cintamu yang begiti tulus untuk ku, namun aku tidak bisa membalas cinta mu, aku takut akan menyakiti mu, aku ingin membuka hati ku lagi, tapi aku takut jika aku tidak bisa mencintai kamu seperti yang seharusnya. maka dari itu mulai sekarang apapun keputusan mu aku akan menerimanya."
Lylia menceritakan semuanya, saat ini Samuel terlihat hanya terdiam, tangannya terus mengenggam tangan Lylia dengan tatapan yang terfokus ke cincin permata biru yang masih berada di bucket bunga Daisy.