
Ciuman itu berlangsung untuk beberapa detik dan langsung di lepas paksa oleh Lylia.
"Samuel!!! Kau keterlaluan!!!" Lylia merasa sangat marah kepada Samuel atas apa yang telah dilakukannya, Lylia tidak bisa menerima perlakuan Samuel terhadapnya,
Lylia pergi meninggalkan Samuel begitu saja dengan perasaan menyesal, dia tau tidak seharusnya dia melakukan itu, namun Samuel juga tidak dapat menahan diri, rasa cemburu dan ingin memiliki Lylia terus membara di dadanya, seakan jika dia harus mati, hanya untuk mendapat balasan cinta dari Lylia maka dia akan melakukannya,
Samuel masih berdiri sendiri di dapur rumah apartemen Lylia, memikirkan apa yang telah dia lakukan tadi, Samuel sadar itu cara yang salah untuk mengungkap kan perasaannya, dan setelah ini kemungkinan besar Lylia tidak akan mau bertemu dengannya lagi, tak ingin membiarkan hal itu terjadi, Samuel pun bergegas lari keluar untuk menyusul Lylia, saat hendak keluar Samuel melihat telepon seluler Lylia tertinggal di meja depan tv.
"Sial!!!" geram Samuel yang merasa akan kesulitan mencari Lylia di karenakan dia tidak membawa telepon seluler nya, dan lagi ini hari pertama Lylia berada di kota ini, dia belum tau apa-apa akan kota ini.
"Lylia... Kuharap kau tidak pergi terlalu jauh" batin Samuel.
Langit mulai mendung, angin pun bertiup kencang, Samuel masih belum menemukan Lylia, namun Samuel masih terus mencari Lylia, Samuel berlari melewati taman dengan terus memanggil Lylia,
"Lyliaa!!! Lylia!!! Ku mohon jawablah, Lylia!!! Maafkan aku!!!" Samuel terus berlari mencari Lylia, tidak lama kemudian hujan pun turun deras membasahi seluruh tubuh Samuel dalam sekejap, namun dia tidak peduli dan terus berlari dalam kehujanan dan angin yang terus meniup kencang.
Di sisi lain Lylia yang tadinya berlari karena shock dan kecewa terhadap Samuel, tidak sadar sudah berlari sangat jauh, ketika sadar dia ingin kembali namun tidak tau arah pulang, jalan apa yang di laluinya tadi, Lylia mencari-cari telepon seluler nya tapi sialnya tidak ada, dia baru ingat tadi menaruh telepon nya di atas meja depan tv.
"Ya tuhan... Aku harus bagaimana? aku tidak tau lagi jalan mana yang aku gunakan tadi, bagaimana ini? Hiks.." Lylia yang kebingungan pun menangis, melihat langit yang sebentar lagi akan menurunkan hujan, angin kencang pun terus menerus menghempas tubuh kecilnya itu.
Lylia terus berjalan mencoba mengikuti arah yang dia ingat, namun sayang hujan mulai turun dengan deras yang langsung membasahi seluruh tubuhnya, Lylia mencoba berlari mencari perlindungan, namun naas kakinya terperosok dari trotoar saat berlari yang nembuatnya jatuh seketika.
Kedua lutut Lylia terluka dan mengeluarkan darah segar, telapak tangan dan sikunya lecet, Lylia tidak sadar ketika berlari satu kakinya jatuh dari trotoar jalan yang membuatnya kehilangan keseimbangan, kakinya terkilir, Lylia tidak bisa bangun lagi, walaupun dia terus mencoba untuk bangun namun tetap tidak bisa, kakinya begitu lemas, dan akhirnya dia mencoba menyeret tubuh kecilnya ke pinggir trotoar, lalu mencoba mengangkat tubuh agar bisa duduk di atas trotoar, karena tangan dan sikunya terluka membuatnya sulit untuk mengangkat tubuh sendiri, pada akhirnya ia berhasil duduk, cuaca semakin dingin, Lylia terlihat pusing, perasaan nya campur aduk, dan dia terus mengingat kejadian tadi dengan Samuel, Lylia sangat terkejut dengan tindakan Samuel, hatinya tidak siap menerima perasaan orang lain dalam bentuk apapun.
Cuaca yang semakin dingin, tubuh Lylia tampak sudah lemas dan kedinginan, tubuhnya terus di guyur hujan, tidak ada yang menolongnya karena memang tidak ada orang di sekitarnya saat itu, hari yang sudah mulai gelap, hujan dan angin lebat membuat suasana semakin suram bagi Lylia.
Sungguh hari pertama yang berat untuk memulai pertualangannya di kota yang besa ini.
Lylia sudah tidak sanggup menahan posisi tubuhnya agar tidak runtuh ke aspal, tangan kecilnya yang juga terluka terus menompang tubuhnya sekuat tenaga, dari kejauhan terlihat seorang laki-laki yang berjalan mengunakan payung, Lylia melihatnya samar-samar sebelum akhirnya tubuhnya tidak sanggup lagi dan akhirnya Lylia terjatuh pinsan, terdengar suara rintihan dari mulut kecilnya.
"Akhirnya..." rintihan Lylia saat akan terjatuh pinsan.
"Lylia!!! Lylia sadarlah!!!" ucap laki-laki yang datang menyelamatkan Lylia, ternyata laki-laki itu adalah Silvan yang entah bagaimana ada di situ dan langsung menggendong Lylia dalam hujan badai.
Silvan tidak peduli dengan dirinya yang basah, dan langsung membawa Lylia menuju ke tempat yang teduh dan hangat, pilihan satu-satunya adalah tempat terdekat, karena tubuh Lylia sudah sangat menggigil kedinginan.
"criing!!!" suara pintu yang di buka dengan kasar, yang membuat pemilik toko terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu.
"Silvan!!! Apa yang kau lakukan? Ada apa ini" tanya pemilik toko yang menjual suvenir, yang juga ternyata teman Silvan.
"Handuk!!! Berikan handuk dan beberapa selimut kering! Cepat!!" jawab Silvan dengan nada membentak karena panik.
Silvan masuk menuju ruang belakang toko yang mana adalah tempat biasanya dia duduk bersantai dengan teman-temannya.
Lylia langsung di tidurkan di sofa, lalu Silvan pergi mencari tempat pengatur suhu ruangan, da langsung menaikkan suhu pemanas ruangan agar Lylia menjadi hangat.
"Silvan!!! Ini handuk dan selimutnya" ucap pemilik toko yang bernama Eric.
"Terima kasih Eric, dan tolong keluar sebentar, aku mohon."
Ucap Silvan dan langsung membuka baju Lylia ketika sudah memastikan Eric keluar, saat membuka baju Lylia, Silvan tidak melihat ke arahnya, Silvan memalingkan wajahnya, dan hanya membiarkan tangannya bekerja, dan terus berusaha agar tangannya tidak menyetuh area pribadi Lylia, ketika merasa sudah selesai membukakan baju Lylia yang juga tidak begitu sulit, karena Lylia hanya pakai dress selutut,
Silvan membungkus Lylia dengan 2 lapis selimut tebal yang hanya menyisakan kedua tangannya saja keluar untuk di obati, rambutnya pun di bungkus dengan handuk, yang membuat Lylia terlihat seperti sosis toping mayo.
"Silvan... dia akan baik-baik saja, aku akan mengambil kotak obat, kau lebih baik perhatikan dirimu juga, tubuhmu juga kedinginan, aku sudah menyiapkan baju untuk mu" ucap Eric kepada Silvan.
Saat Silvan hendak pergi ke toilet terdengar suara pintu terbuka, sama seperti tadi saat Silvan masuk, mendengar itu Eric sangat kesal.
"Apa sekarang orang-orang tidak memiliki tata krama bagaimana cara membuka pintu?" Eric mengomel saat menuju ke ruang toko dan langsung terdiam, tidak percaya dengan apa yang diliat nya, Silvan yang juga penasaran mengikuti Eric dari belakang untuk melihat siapa tamu yang masuk buru-buru seperti dirinya tadi, dan ya! Silvan juga ikut terkejut sama seperti Eric.
"Samuel!? Ada apa!? Kali ini apa lagi?" tanya Eric yang ternyata juga mengenal Samuel.
Samuel yang basah kuyup pun langsung menghampiri Silvan, membuat Eric bingung dengan apa yang terjadi.
"Silvan!!! Mana Lylia? Bagaimana keadaannya?" tanya Samuel kepada Silvan.
"Bagaimana kau bisa tau? apa yang terjadi kepada Lylia? Kenapa kau membiarkan dia berkeliaran sendirian? Ini adalah yang pertama kali dia berada di kota ini, dia belum tau arah dan kondisi di kota ini, bagaimana bisa kau membiarkan dia sendirian?" jawab Silvan yang terkesan menyalahkan Samuel.
"Bukan urusan mu, dimana Lylia?" Jawab Samuel dingin kepada Silvan.
"Dia di belakang..." Belum selesai Silvan menjawabnya Samuel sudah langsung ke ruang belakang untuk menemui Lylia.
Samuel melihat Lylia di atas sofa dengan perasaan yang bercampur aduk, terlihat tangannya mengepal begitu kuat sehingga memunculkan urat-urat tangannya.
"Sammy!!! Tenanglah!!! Silvan terpaksa melakukan itu, perempuan itu menggigil kedinginan, kaki dan tangannya juga terluka, sekarang tidak ada gunanya kau marah seperti ini, perempuan itu perlu di hangatkan dan lukanya harus segera di obati agar tidak infeksi! Jadi... Tenangkan dirimu, lihatlah keadaanmu juga, kau juga basah kuyup, cepat ganti pakaianmu, kau juga Silvan, cepat ganti pakaian mu, akan aku siapkan handuk kering dan kopi panas, aku akan mengambil kotak obat untuk mengobati perempuan itu" pungkas Eric kepada Samuel dan Silvan.
Mendengar itu Samuel pun menjadi tenang, Silvan segera meninggal kan Samuel dan pergi untuk mengganti pakaian yang di berikan Eric.
Samuel tidak menghiraukan keadaannya dan pergi ke arah Lylia, Samuel mendekati Lylia yang terlihat pucat, Samuel membelai tangan Lylia yang terluka, dan menciumi tangannya, Samuel sangat merasa bersalah kepada Lylia, air mata Samuel jatuh membasahi pipinya, kini tangannya pun membelai rambut Lylia dengan lembut,
"Maafkan aku... Kau seperti ini karena ku, tindakkan ku sangat ceroboh" Samuel berbicara dengan Lylia yang masih belum sadar.
"Samuel!!! Kakinya terluka parah, dia harus diobati di rumah sakit, bengkaknya sudah sangat besar, prediksiku jika bukan terkilir maka ada yang patah di pergelangan kakinya." ucap Eric yang mengejutkan Samuel.
"Aku akan menghubungi Luki untuk membawa mobil kesini, di luar masih hujan lebat." jawab Samuel yang menanggapi perkataan Eric.
"Iya, terserah padamu, tapi sebelum itu, ganti dulu pakaian mu agar kau tidak mati kedinginan" ucap Eric yang masih terus menyuruh Samuel untuk mengganti pakaiannya.
"Lupakan, berikan saja handuk kering itu, aku akan menyuruh Luki untuk membawakan baju ganti" Jawab Samuel yang menolak baju ganti dari Eric.
"Ya... Terserah padamu." jawab Eric ketus.
Samuel bergegas menghubungi Luki untuk menjemputnya dan Lylia agar bisa segera ke rumah sakit,
"Hallo... Luki, kau dimana?" tanya Samuel.
"Aku? Masih di kantor tentu saja, berkatmu yang mengambil cuti, aku jadi memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." jawab Luki kesal.
"Luki dengarkan aku, ini darurat, segera datang ke toko Eric, bawa mobilku yang kutinggalkan di kantor, kau bisa menemukan kuncinya di laci, dan tolong belikan baju untukku ketika kau menuju kesini, dan juga satu set baju perempuan..." Samuel yang belum selesai memberikan instruksi nya langsung di potong pembicaraannya oleh Luki.
"Apa??? Apa kau bilang? Satu set baju perempuan??? Apa kau serius???" tanya Luki yang keheranan.
"Iya... Kau tidak salah dengar, maka dari itu cepat, baju perempuan kira-kira ukuran L, lebih baik kebesaran dari pada kekecilan, aku tidak tau dia pakai ukuran apa, cepat kita juga harus segera ke rumah sakit, seperti yang aku bilang ini darurat, kau harus sampai dalam waktu 15 menit."
Samuel memberikan perintah kepada Luki tanpa memberikannya kesempatan untuk membantahnya, telponnya pun di matikan.
Samuel duduk di sofa samping Lylia sembari memperhatikan Eric yang memberikan pengobatan pertama kepada Lylia, Eric sangat mahir dalam hal mengobati karena dulu dia pernah sekolah di universitas kedokteran, namun tidak melanjutkannya karena beberapa alasan pribadi yang hanya di ketahui oleh segelintir orang.
Silvan yang sudah selesai mengganti pakaian pun masuk untuk melihat kondisi Lylia, Silvan ingin berbicara hanya berdua saja dengan Samuel mengenai Lylia.
"Sammy... Aku ingin bicara berdua dengan mu." ucap Silvan yang membuat Eric dan Samuel menatapnya.
"Ada apa? Jika ada yang ingin kau bicarakan, katakan saja disini." Jawab Samuel dingin.
"Hmm... Baiklah, sebenarnya aku hanya ingin tau, apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Lylia?" tanya Silvan kepada Samuel.
Mendengar pertanyaan dari Silvan membuat Samuel geram, karena mengingat kan dirinya pada kenyataan yang memang dirinya dan Lylia tidak ada hubungan yang terlalu berarti, hanya sebatas teman yang di perkenalkan oleh ibunya Lylia, tidak lebih, apalagi sekarang mungkin dia tidak akan bisa berteman lagi dengan Lylia, mengingat apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu, yang membuat Lylia lari hingga mengalami hal seperti ini, lalu Samuel pun hanya menjawab ketus pertanyaan Silvan.
"Bukan urusanmu, kenapa kau begitu ingin tau perihal orang lain?" tanya Samuel ketus.
"Kak... Ada hal yang harus kakak tau, dan aku tidak bisa memberitahukan kakak disini, jika kau peduli kepada Lylia maka kau akan mencoba mendengar kan ku." jawab Silvan lagi untuk menyakin kan Samuel.
"Silvan!!! Berapa kali aku harus mengatakannya kepada mu??? Jangan pernah panggil aku kakak. Karena aku bukan kakak mu!!! hanya karena ibumu menikah dengan ayahku bukan berarti kau akan menjadi adikku!!" ucap Samuel dengan nada marah dan memperingati Silvan agar tidak memanggil nya kakak.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi jangan abaikan apa yang ingin aku katakan padamu, jika kau mencintai gadis itu kau harus tau fakta yang ingin aku sampai kan ini, ini... Mengenai masa lalu nya." jawab Silvan lagi yang tetap berusaha membujuk kakaknya.
Mendengar itu membuat Samuel penasaran dan akhirnya menyetujui ajakan Silvan.
"Baiklah... Ayo!" ajak Samuel yang akhirnya menyetujui ajakan Silvan, mereka pun keluar ke ruang depan dan meninggalkan Lylia bersama Eric.
Eric yang sedari tadi memperhatikan mereka pun akhir paham akan situasinya.
"Haaa.... Ternyata cinta segitiga, seperti di drama-drama saja" Bantin Eric sembari melanjutkan memasang perban luka di siku Lylia.
Di ruang toko Silvan mengubah tanda "open" menjadi "close" yang ada di depan pintu toko, yang artinya toko sedang tutup.
"Baiklah... Katakan, apa maksud mu yang mengatakan mengenai masa lalu Lylia?" tanya Samuel yang memang tidak sabar untuk mendengar cerita dari Silvan.
"Hmmm... Kemarin saat aku ke desa grindelwald untuk menemui nenek, aku melihat Lylia yang sedang berjalan sendirian di malam hari, saat itu aku melihat nya untuk yang pertama kali, dan aku tau kalau aku sudah tertarik padanya saat itu, karena aku tidak tau dia siapa, lalu aku bertanya kepada salah satu pelayan caffe yang berada tidak jauh dari rumahnya, dan mereka mengatakan sesuatu tentang Lylia, mereka mengatakan bahwa Lylia telah di campakkan oleh kekasih nya setelah menunggu nya selama 4 tahun tanpa kabar, kekasihnya adalah anggota militer, dan dia di campakkan hanya melalui secarik kertas, kekasihnya menikah dengan wanita lain, lalu memutuskan hubungannya dengan Lylia begitu saja, yang membuat Lylia menderita selama berbulan-bulan, pilihannya untuk pergi kesini adalah pilihan terakhir untuk nya agar bisa melupakan mantannya itu, itulah kenapa, aku harap kau berhati-hati jika akan memberikannya cinta lagi, aku yakin dia belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu, dan sepertinya hatinya belum siap untuk menerima orang lain. " cerita Silvan dengan panjang lebar kepada Samuel perihal apa yang dia ketahui mengenai Lylia.
"Pecundang gila..." belum selesai Samuel bicara terlihat Luki sedang menuju ke toko dengan payung sambil berlari kecil, dan tiba-tiba Eric masuk ke ruang toko.
"Sammy.... Silvan... Perempuan itu telah sadar."