
Samuel yang mendengarkan pertanyaan dari Lylia pun tak bisa berkata-kata, dia hanya terdiam untuk beberapa saat, sebenarnya Samuel sangat ingin mengutarakan perasaannya kepada Lylia, namun dia tak ingin terburu-buru, dia takut Lylia akan menjauh darinya, Samuel ingin memberikan waktu untuk Lylia agar dapat mengenali dirinya jauh lebih dalam mengenali dirinya yang sebenarnya.
"Lylia... bukankah aku sudah barzanj kepada ibumu? bahwa aku akan menjagamu seperti adikku sendiri? jadi jangan protes bagaimana caraku untuk menjagamu, jika kau benar-benar ingin protes, aku sarankan protes kepada ibu, ibumu sudah ku anggap seperti ibuku sendiri, jadi permintaannya adalah perintah bagiku."
jawab Samuel yang membawa-bawa Bu Diana untuk di jadikan alasanku, Lylia yang mendengarkan itu pun tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Apa? Aaahh baiklah, tetapi ku mohon untuk kedepannya jangan terlalu berlebihan seperti ini..." ucap Lylia yang mencoba menerima situasi saat ini.
"Liat itu... sofa itu... dari bentuknya saja sudah sangat mahal, mejanya juga, karpet itu juga... itu... tv itu... bukankah itu terlalu besar untuk ku? aku bahkan bisa masuk kedalam tv itu..."
ucap Lylia sambil menunjuk-nunjuk perabotan rumah yang di belikan oleh Samuel, melihat perabotan yang sangat mewah, kata sederhana harus di tarik kembali.
Lylia yang sudah membawa masuk semua barang-barang nya ke dalam kamar, ingin melihat dapur, sekalian membuka kotak makanan yang tadi sudah di beli, alangkah terkejutnya Lylia saat ke dapur, semua peralatan terlihat tersusun rapi, dan lagi semua peralatan yang ada di dapur merupakan barang bermerk terkenal semua, set pisau yang lengkap, dari pisau untuk memotong tulang, sampai dengan pisau yang digunakan untuk membuat potongan slice sashimi, semuanya terlihat rapi dan mewah.
"Wuaaahh... lihatlah ini, Samuel? apa kau serius?"
tanya Lylia yang tidak habis pikir kepada Samuel, Samuel yang melihat reaksi Lylia pun langsung memotong pembicaraan Lylia.
"Stop! no protes! gunakan saja jika kau perlu untuk menggunakannya, sudah! aku kembali saja."
Samuel yang tidak lagi ingin mendengar protes dari Lylia pun langsung memilih kabur ke kamarnya, yang mana kamarnya itu juga hanya berseberangan dengan kamar Lylia.
"Haaa... Samuel... apa yang harus aku lakukan? ahh.. sudahlah... nanti akan ku pikirkan lagi, aku lapar sekali."
Lylia di dapur bergumam dengan dirinya sendiri, Lylia pun berpikir jika Samuel menyukainya, jika tidak mengapa dia harus melakukan ini semua hanya untuknya? jika dilihat-lihat lagi mereka belum lama berkenalan, walaupun bagi Samuel dia sudah tahu Lylia sejak lama, tetapi bagi Lylia ini hanya baru beberapa hari saja dia mengenal Samuel, Lylia merasa ini semua terlalu cepat, Lylia masih ingin mengenal Samuel lebih jauh.
Di siai lain, Samuel yang berada di kamarnya merasa sangat bodoh, dengan alasannya tadi, menggunakan Ibu Diana sebagai alasannya membuatnya merasa seperti anak kecil.
"Aarrhhgg!!!" teriak Samuel frustrasi mengingat kejadian tadi.
"Lylia... mengapa kau membuat semuanya terasa sulit? mengapa susah sekali untukmu untuk menerima pemberian ku tanpa protes ini itu.."
Ucap Samuel dalam kesendiriannya di kamar yang bernuansa gelap, interior yang di penuhi warna hitam dan abu-abu, kasur dengan ukuran super king yang juga terlihat berwarna abu-abu gelap dan putih, menambah kesan mewah dan maskulin.
"Aahh... lelah sekali rasanya, dan mengapa juga jantungku terus berdegup kencang setiap kali melihat Lylia tersenyum, aku tidak tahu sampai kapan sanggup menahan semua rasa ini, aku sangat ingin mengungkapkan semuanya, mengungkapkan perasaan ku kepadanya, dan menjadikannya seutuhnya hanya untukku, menyakitkan jika hanya terus menahan semua perasaan di hati yang kecil ini." Samuel terlihat sangat frustrasi dengan perasaannya sendiri.
"Ahh iya... makanan ku tertinggal di kamar Lylia... aah sudahlah, daripada terus berdebat, lebih baik aku istirahat sejenak" Samuel merebahkan tubuhnya di atas kasur, tangan kanannya di letakkan di atas dahinya seolah memperlihatkan kelelahanya, bukan lelah karena kegiatan, melainkan hatinya lah yang kelelahan, menahan rasa sukanya agar tidak ketahuan, namun juga ingin menunjukkan perasaan yang sebenarnya, kebimbangan inilah yang membuatnya kelelahan.
Samuel yang kelelahan dengan pikirannya sendiri pun akhirnya tertidur.
Di sisi lain, Lylia sedang makan di depan tv, menikmati makanannya dan di sampingnya ada makanan Samuel yang masih terbungkus rapi, Lylia hendak mengantar makanan Samuel saat selesai makan, saat sedang asyik menikmati makanannya, Lylia di kejutkan oleh suara handphone nya yang dia taruh di kamarnya, dengan sigap Lylia berlari menuju kamarnya dan mengambil telepon selulernya yang amat sangat sederhana itu di atas kasur, Lylia melihat nomor baru yang tidak di kenalinya, karena penasaran Lylia memutuskan untuk menjawabnya.
"Hallo.? Dengan siapa?" tanya Lylia dengan suara lembut nya.
"Hallo Lylia... Ini aku... Silvan..."
"Ahh Silvan... Tidak kuduga kau akan segera menghubungi ku, ada apa?" jawab Lylia yang tidak menyangka jika Silvan akan segera menghubunginya.
Lylia berjalan kembali ke meja yang ada di ruang tv dan duduk di sofa sembari berbicara dengan Silvan.
"Tidak ada apa-apa aku hanya penasaran saja, apa kau sudah sampai ke rumah?" jawab Silvan yang ternyata mengkhawatirkan Lylia.
"Iya... Aku sudah sampai di apartemen dan sekarang lagi makan, apa kau juga sudah sampai kerumah?" Jawab Lylia yang juga berbalik bertanya kepada Silvan untuk basa-basi.
"Tidak... Aku tidak pulang ke rumah, aku sedang berada di restoran, tadinya aku ingin membelikan mu makanan lezat khas kota Appenzel untuk makan siang mu." ucap Silvan.
"Aah... Terima kasih, tetapi Samuel sudah mentraktir ku makan siang, sebagai hadiah kedatangan ku ke kota ini." jawab Lylia.
"Owh begitukah.? baguslah jika begitu... Oh iya, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Silvan yang membuat Lylia penasaran.
"tentu boleh, namun aku bebas untuk tidak menjawabnya bukan?" tanya Lylia yang sedikit berhati-hati akan pertanyaan Silvan.
"Iya tentu saja, hmmm... Sudah berapa lama kau mengenal laki-laki itu? Yang tadi datang menjemput mu? Orang yang kau panggil Samuel itu?" Tanya Silvan yang penasaran akan bagaimana Lylia bisa mengenal Samuel.
"Owh... Samuel? Dia pelanggan tetap ibuku di toko, Samuel sering memperbaiki bajunya di toko ibu, dan tidak lama ini kami berkenalan secara resmi, maksudku dia... Samuel sudah sering melihatku, tetapi dia tidak tahu jika aku anak dari seorang ibu yang sering memperbaiki bajunya, begitulah cerita singkatnya, ku harap jawabanku memuaskan mu." jawab Lylia kepada Silvan.
" Ooh.... seperti itu... itu jawaban yang memuaskan, aku hanya penasaran saja, sebenarnya masih ada pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tetapi untuk hari ini cukup sampai di sini saja, besok aku akan menanyakannya lagi, setiap hari satu pertanyaan, dan kau juga boleh menanyakan apa pun kepadaku, agar impas." Jawab Silvan yang juga ingin terus bisa memiliki topik pembicaraan kepada Lylia.
"Apa besok kau akan bertanya lagi? tetapi yaaah... Selama itu hanya pertanyaan biasa mungkin aku bisa menjawabnya." jawab Lylia yang menanggapi pertanyaan Silvan.
"Yaa.... Begitulah... tentu saja kau bebas untuk menjawabnya atau tidak, sebenarnya aku ingin berteman dengan mu, tetapi aku tidak mengetahui apa pun tentang mu, jadi aku pikir dengan saling bertanya dan saling mengetahui satu sama lain akan membuat kita saling mengenal lebih dalam, jadi... bagaimana menurutmu?" Tanya Silvan yang ternyata ingin mengenal Lylia lebih dalam.
"Bukankah itu menyenangkan? Punya teman di kota ini akan sangat menyenangkan, baiklah kita akan saling memberikan pertanyaan tentang satu sama lain, dan tentu saja boleh menjawab atau tidak, bukankah seperti itu? hahaha... " ucap Lylia yang menyetujui ide Silvan sambik tertawa kecil.
Menurutnya usalan Silvan ada baiknya, agar mereka saling mengenal satu sama lain, itu bukanlah hal yang buruk bagi Lylia yang memang baru pertama kali datang ke kota besar ini.
"oke... kalau begitu... sampai jumpa lagi Lylia" ucap Silvan yang merasa pembicaraannya sudah cukup untuk saat ini.
"Haaa... Siap ini aku akan berjalan-jalan saja sebentar." batin Lylia sambil menoleh ke arah jendela, wajahnya yang semula baik-baik saja langsung terbelalak, saat melihat ke luar jendela.
"Wuaahh.... Wuaaah... Samuel... Sepertinya apartemen ini bukan seharga 24.000franc."
Lylia merasa takjub dengan pemandangan di luar Jendela yang sangat indah, dan juga dia baru menyadari jika apartemennya berada di lantai yang sangat tinggi, Lylia mencoba mengintip ke bawah melalui jendela kacanya itu, pemandangan yang luar biasa semua ruas jalan terlihat dari atas, gunung, pepohonan, gedung-gedung, juga terlihat jelas dan indah, bahkan sungai dengan air berwarna hijau jernih juga terlihat begitu indah mengitari kota.
Kota Appenzel memang terkenal dengan ke indahan tantanan kota, dan juga sungainya, yaitu sungai Limmat yang memang terkenal dengan keindahan warnanya. dan juga panjangnya sampai ke bagian negara tetangga.
"Samuel... seperti kau berbohong kepadaku tentang harga apartemen ini... tetapi ya sudahlah, aku juga sudah membuat perjanjian dengannya, jika aku harus pindah dari sini aku harus bekerja dahulu untuk mengumpulkan uang agar bisa menyewa apartemen yang lebih murah, apartemen ini mewah dan besar sekali jika hanya untuk di tinggali sendiri." Lylia bergumam memikirkan apartemen mewah ini.
Lylia pergi kedapur untuk membersihkan piring kotor bekas makanannya tadi, dan Lylia baru teringat akan ibunya, dia belum memberi kabar kepada ibunya jika dia sudah sampai, Lylia pun langsung bergegas menyelesaikan cucian piringnya, dan tidak lupa mnegeringkan tangan dengan cepat untuk mengambil telepon seluler, Lylia hendak menghubungi ibu untuk menyampaikan kabar bahwa dia sudah sampai di kota dengan selamat, namun tiba-tiba Lylia di kejutkan oleh suara bel yang menggema di seluruh ruangan, Lylia yang terkejut seakan mematung, untuk mendengar suara bel sekali lagi, dan benar saja untuk kedua kali suara bel berbunyi, Lylia yang awalnya tidak yakin dengan apa yang dia dengar kini menjadi sangat yakin jika itu suara bel rumahnya, Lylia bergegas ke pintu dan melihat siapa yang datang melalui lubang pintu, dan ternyata itu Samuel, Lylia langsung membukakan pintu.
"Samuel?" tanya Lylia.
"Aku lapar... Makanan ku tertinggal di tempat mu" Jawab Samuel lemas, dengan tampilan berantakan.
"Ahh iya... Tadinya aku hendak memberikannya kepadamu, tetapi aku tidak tahu kau tinggal di mana." jawab Lylia sembari melihat penampilan Samuel yang acak kadut, sosok yang belum pernah dilihatnya selama ini.
"Aku? Aku tinggal di sini, di depan pintu rumah mu" jawab Samuel santai sambil menunjukkan pintu rumahnya kepada Lylia, Lylia sangat terkejut, ternyata dia tinggal sedekat itu dengan Samuel.
"Haaa!? Kau tinggal di situ?? Iya aku tahu kau mengatakan jika kita tinggal di gedung yang sama, tetapi aku tidak berpikir akan berhadapan seperti ini" jawab Lylia yang tidak menyangka jika dia tinggal begitu dekat dengan Samuel.
"Yaa begitulah, tenang saja, ini semua hanya kebetulan, aku tidak berusaha menguntit mu jika itu yang kau pikirkan." jawab Samuel santai.
"Haaa!? Ahh sudahlah... Makanan mu ada di dapur, tunggu di sini aku akan mengambilnya"
jawab Lylia pasrah dan menyuruh Samuel untuk menunggunya di depan pintu, Lylia tidak ingin Samuel masuk, karena masih merasa canggung, Samuel mematuhi perintah Lylia dengan perasaan kecewa, padahal Samuel ingin dirinya di ajak masuk, malah berakhir di depan pintu.
"nah ini... sepertinya ini harus di panaskan lagi, karena sudah dingin, apa makanan yang kau pesankan tadi bisa di panaskan?" Lylia menyodorkan makanan Samuel yang tidak lagi hangat.
"Ahh iya, aku memesan Rosti, tentu saja bisa di panaskan dalam microwave dengan suhu tertentu, tetapi aku tidak punya alat itu sekarang, bolehkah aku meminjam punya mu?" Samuel tampak senang karena akhirnya punya alasan untuk masuk ke apartemen Lylia.
"Haa? Sepertinya aku tidak punya microwave" jawab Lylia yang merasa tidak memiliki microwave.
"Apa maksud mu? Tentu saja kau punya, sepertinya kau belum menggunakan dapurnya ya?" jawab Samuel dengan yakin, Lylia yang mendengar perkataan Samuel pun merasa heran dan bertanya-tanya,
"Bolehkah aku masuk? Akan aku tunjukkan di mana microwavenya, tentu jika kau mengizinkan aku masuk." jawab Samuel yang membuat Lylia merasa tidak punya pilihan, karena dirinya juga penasaran di mana letak microwave itu, karena seingatnya dia sudah ke dapur dan tidak melihat benda itu ada di sana.
"Baiklah... silakan masuk." akhirnya Lylia mengizinkan Samuel untuk masuk ke rumahnya, ah lebih tepatnya apartemen.
Samuel langsung menuju ke dapur yang di ikuti oleh Lylia dari belakang, sesampainya di dapur samuel langsung membuka pintu lemari dapur yang berada di atas, dengan tinggi badannya itu tentu bukan masalah namun bagi Lylia itu sangat di luar jangkauannya.
"Haa?? Bagaimana bisa benda itu berada di tempat setinggi itu? Tentu saja aku tidak tahu benda itu ada, dan juga... mengapa rak lemarinya sangat tinggi?"
Lagi-lagi Lylia terkejut dengan apa yang di lihatnya, maklum saja Lylia hanyalah gadis desa yang tidak pernah ke kota besar, semua yang dilihat sekarang adalah hal baru baginya, di desa peralatannya sangat sederhana karena masih menggunakan peralatan lama, dan apa yang dimiliki nya sekarang merupakan benda-benda keluaran terbaru.
"maaf Lylia... Desain lemari dapur ini sudah sangat standar untuk ketinggian rata-rata orang di negara kita, kamu hanya perlu minum susu dan makan daging yang banyak." ucap Samuel kepada Lylia.
"Kau juga mengatakan hal yang sama dengan apa yang di katakan oleh Silvan, kalian yang tumbuh tinggi sangat menyebalkan." ucap Lylia yang membuat Samuel langsung meletakkan microwave begitu saja sehingga terdengar suara keras di meja dapur.
"Hati-hati dong, bukankah benda itu mahal? Jika kau meletakkannya seperti itu, benda itu akan rusak, kita bahkan belum menggunakannya." Lylia mengomel kepada Samuel sambil mengecek microwave nya apakah rusak atau tidak.
"Lylia... Apa aku terlihat sama dengan teman mu itu? Terus terang aku tidak suka melihat mu berteman dengannya, bukan maksud ku ingin melarang mu untuk berteman dengan siapa pun, tetapi... aku hanya tidak tahan melihat mu dekat dengannya." Samuel terlihat sangat serius ketika mengatakan hal itu, yang membuat Lylia tidak paham dengan apa yang di katakan Samuel.
"Memangnya mengapa?" tanya Lylia yang merasa itu bukan masalah baginya.
"Aku juga baru mengenalnya pagi tadi, ketika hendak berangkat ke sini, dia datang mengantarkan buket bunga titipan dari neneknya untuk ku, neneknya adalah temanku, dia sering datang menemuiku saat aku masih berjualan bunga di toko paman William, dan tadi saat aku berangkat menggunakan bus, dan secara kebetulan dia juga menaiki bus yang sama dengan ku, dan juga duduk di bangku sebelahku..." sambung Lylia lagi.
"Kau baru mengenalnya hari ini? Dan kau juga sudah memberikan nomor mu kepadanya?" Tanya Samuel yang tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, tadi juga Samuel melihat Lylia memberikan nomor ponsel nya kepada Silvan.
"mengapa tidak? Aku juga berencana menjadi temannya, bukankah bagus memiliki teman di kota sebesar ini? Lagi pun mengapa kau terlihat marah? Bukankah kita juga baru berkenalan? Dan mengapa juga aku harus menjelaskan semua ini kepada mu? mengapa aku merasa seperti di interogasi oleh mu?" tanya Lylia yang merasa sikap Samuel terus berlebihan terhadapnya.
"Apa kau masih tidak mengerti mengapa aku seperti ini?" tanya Samuel dengan wajah kecewanya.
"Tentu saja aku tidak mengerti, apakah karena permintaan ibu yang meminta mu untuk menjagaku? Bukankah ini terlalu berlebihan? Aku bukan anak kecil yang harus di jaga dan di atur agar bisa berteman dengan siapa pun." jawab Lylia yang sudah mulai kesal dan juga masih tidak mengerti mengapa Samuel terlihat marah seperti ini.
"Lylia... Sepertinya kau bukan tidak mengerti, tetapi memilih untuk tidak ingin mengerti, menurut ku sikap ku sudah sangat jelas, tetapi jika memang harus... aku akan membuatmu mengerti sekarang juga."
Samuel langsung menarik Lylia ke pelukannya, tangan kanan Samuel memegang pinggul Lylia, sedangkan tangan kirinya memegang pergelangan tangan kanan Lylia, badan Samuel tersadar di sisi wastafel,
Mereka saling memandangi wajah satu sama lain, Samuel memandang Lylia dengan tatapan sendu namun begitu dalam, sedangkan Lylia memandang Samuel dengan tatapan terkejut, matanya yang bulat dengan mulut sedikit terbuka, Lylia tampak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Samuel.
"Samuel!!! Apa yang kau lakukan...!?" bentak Lylia yang langsung di hentikan oleh ciuman impulsif oleh Samuel.