Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 08



Like father like daughter


Belum pernah mendengar kalimat ini? Atau biasanya kau mendengar dengan kalimat like father like son? Ya, itu memang terdengar asing.


(A/n: okey, aku mulai meracau di pagi-pagi buta, aku tidak bisa tidur karena seseorang sekarang, ingin membunuhnya tapi itu adalah hal keji, abaikan saja kalimat ini)


Selepas kejadian pagi tadi, hari sudah mulai beranjak siang, Liana tengah berada di kamar sang Kaisar saat ini, ayahnya, menahannya dan tidak memperbolehkannya keluar dengan alasan dia belum benar-benar sehat.


Liana menjadi tahanan kamar sekarang, untung saja di kamar itu terdapat dua rak buku besar dengan berbagai macam buku.


Liana ingat dengan Kaisar yang suka sekali membaca buku di waktu senggang, dia merasa bahwa mereka memiliki kemiripan dalam banyak hal, seperti hobi ... lupakan saja, apa yang baru saja dia pikirkan?


Liana pergi mendekati rak itu, memandang berbagai macam buku di sana, mengambil buku secara acak yang sekiranya bisa dia gapai.


Buku dengan sampul biru berada di tangannya sekarang, terlihat seperti baru, namun kertas kuning di buku memberitahukannya bahwa buku itu sudah cukup tua.


Kaisar benar-benar pandai menjaga sesuatu yang dia miliki ya ... kecuali dirinya, ah, lupakan saja.


Liana membawa buku itu dan duduk di kursi yang tersedia di ruangan, tepat di depan meja yang digunakan untuk sarapan sebelumnya.


Meletakkan buku di meja, Liana mengelus sampul buku dengan ornamen putih di sana, Liana mulai membuka sampul buku itu, menampakkan judul buku yang tertulis dengan tebal.


'Sejarah Berdirinya Empire of Dragonaid, Kekaisaran yang Hilang' Liana mengangkat sebelah alisnya, nama Kekaisaran yang tertera tampak asing baginya.


Satu halaman kembali terbuka, menampakkan kata pengantar yang ditulis oleh tangan yang terlihat rapi dan indah, sepertinya ini ditulis menggunakan sihir, pikir Liana.


Selesai membaca kata pengantar, Liana kembali membalikkan halaman, awalnya dia membaca dengan rasa malas yang tiba-tiba menghampiri, sebelum sederet kalimat membuatnya terkesiap.


Perang zaman mitos yang tidak banyak orang ketahui.


Liana mulai membaca dengan serius, keningnya bahkan mengerut semakin dalam setiap dia menyelesaikan satu halaman.


... Manusia berada dalam kepunahan saat perang mitos terjadi, sebelum seseorang yang mengaku sebagai dewa turun dan memberikan berkah.


Liana berkedip, satu kata melintas di benaknya, 'mana' dan hanya itu. Dia mulai memikirkan asal mula manusia bisa menggunakan mana, kemudian sihir.


Menjalani tiga kehidupan, membuat pandangan Liana memiliki pandangan yang berbeda dari kebanyakan orang.


Awalnya dia tidak memikirkan bagaimana manusia bisa menggunakan mana, atau kapan manusia bisa merasakan mana dan kapan manusia mulai menggunakan mana.


Dia hanya berpikir itu terjadi secara alami tanpa campur tangan apapun, namun sekarang itu terbantahkan.


Liana mulai menempatkan jari telunjuk dan ibu jarinya di dagu, mulai memikirkan sesuatu.


Menyampingkan pikirannya sejenak, Liana kembali memfokuskan dirinya membaca buku itu, sebenarnya buku itu tidak hanya di tulis dalam bahasa yang di gunakan di Kekaisaran ini.


Namun ada beberapa bahasa yang Liana yakini adalah bahasa kuno, anehnya dia bisa membaca hal itu tanpa kesulitan yang berarti.


Perang mitos mulai mereda, membawa kedamaian di dunia. Itu tidak bertahan lama, kedamaian semu itu perlahan memudar, sebagian orang-orang dengan berkah mulai membuat kekacauan ...


Tampak dejavu, huh? Liana mulai kembali memusatkan pikirannya, semakin banyak yang dia baca, semakin banyak pula pemikiran memasuki kepalanya.


Era penuh kekacauan di mulai, era yang di sebut sebagai era kegelapan oleh orang-orang. Kejahatan terjadi di mana-mana, p*mbun*han, menjadi hal yang lumrah di era ini.


Pikiran Liana mulai berkelana, dia teringat dengan kehidupan keduanya, jika dipikir-pikir lagi, saat itu p*mbun*han menjadi hal yang lumrah, apalagi di dalam dungeon.


Seorang anak merangkak keluar dari dalam kubangan lumpur di era kegelapan itu, dia menyeret sebuah pedang berkarat, tatapannya terlihat penuh kesakitan dan dendam yang mendalam.


Tiba-tiba saja Liana merasa bahwa dia tengah membaca sebuah alur dari cerita klise yang biasa dia temui di kehidupan kedua, yang biasanya tertulis di novel ataupun berupa film.


Dengan membawa pedang berkarat dan perasaan dendam, dia mulai menyingkirkan orang-orang dengan berkah yang membuat kekacauan, membantu orang tanpa berkah.


Dengan hanya mengandalkan pedang berkarat itu, tanpa bantuan berkah yang di miliki oleh orang-orang, dia berhasil membuat kedamaian semu kembali di dunia. Ini, adalah awal mula tubuh mana ...


Manik mata merah crimson Liana seketika berbinar terang, pada awalnya itu hanya di sebutkan jantung mana sebagai berkah dari dewa, dan kemudian muncul tubuh mana.


Sejarah tentang asal muasal mana, jantung mana, dan tubuh mana masih menjadi misteri dunia hingga saat ini. Manik mata merah crimson Liana bersinar, desiran angin mulai terdengar di dalam kamar.


Desiran angin masuk menyelinap melalui jendela kamar yang terbuka, sesuatu berwarna merah terlihat melompat dari bawah menuju jendela itu.


Kyuu kyuuang? [Liana? Apa yang terjadi?]


Ah, itu ternyata Felix, dia menatap Liana yang manik matanya masih bersinar dengan penasaran, seolah Liana akan mendapatkan pencerahan dan menerobos tingkatan pengetahuan yang benar-benar berbeda.


Angin mulai mengitari Liana, seolah tidak mendengar ucapan Felix, Liana mulai menutup matanya, Felix melihat hal itu dan menunggu dengan sabar.


Syung~


Angin semakin kencang berputar mengelilingi Liana, tubuh Liana perlahan terangkat dan melayang beberapa centi di udara, kemudian dia perlahan turun.


Liana kembali membuka matanya, binaran di matanya terlihat berbeda, itu terlihat lebih jernih dan lebih bersinar.


Kyuu kyuu kyuuang [Selamat Liana!! Kau benar-benar berhasil mendapat pencerahan]


Felix menghampiri Liana, dia menggosokkan kepalanya di gaun bawah Liana.


Kyuu kyuu [Ngomong-ngomong, kau cocok dengan gaun ini]


Felix yakin, di masa depan, Liana akan menjadi incaran para lelaki, lihatlah, Liana baru berumur 7 tahun sekarang, dan sudah memancarkan pesona unik yang tidak dimiliki anak seusianya.


Liana mengusak rambutnya pelan, wajahnya menjadi kikuk untuk sementara.


"Terima kasih atas pujiannya, namun aku lebih nyaman dengan menggunakan celana panjang" Liana menepuk-nepuk roknya yang mengembang, dia kembali mendudukkan dirinya di kursi.


Kyuu kyuu kyuuang? [Apa yang tengah kau baca? Liana?]


Felix melompat ke atas meja, dia mengintip isi buku dengan penasaran, Liana mulai membalikkan halaman setelah selesai membaca selembar halaman.


Di bawah pandangan orang-orang, anak itu kemudian di angkat menjadi seorang Kaisar, membangun sebuah Kekaisaran pertama sekaligus Kekaisaran terkuat dalam sejarah benua ini.


Nama anak itu, sekaligus sang Kaisar pertama dari Kekaisaran Dragonaid, juga orang yang bisa dianggap sebagai pahlawan adalah ... David Leonardo Adelle.


Jder!


Seakan tersambar petir di siang hari, Liana mematung setelah membaca nama itu, ini bukan hanya sebuah kebetulan bukan? Nama itu, sama seperti nama seseorang di kehidupan keduanya.


Liana bisa mengingatnya dengan jelas, itu adalah nama ayah angkatnya atau orang yang merawatnya di kehidupan kedua. Tetapi mana mungkin, mungkin ini hanya sebuah kebetulan, sangkal Liana.


Dia melihat ke arah buku yang ternyata dia sudah mencapai halaman terakhir, dia menutup buku itu, merenungkan sesuatu yang tiba-tiba saja melintasi benaknya.


Liana tiba-tiba saja berdiri dan mengembalikan buku itu ke tempat sebelumnya, dia memandang ke arah keluar jendela kamar Kaisar.


"Hei Felix" Liana memanggil tanpa menoleh, pandangannya masih terpaku ke luar jendela, Felix menoleh, memandang Liana yang tidak seperti biasanya. Mungkin efek setelah demam, pikir Felix.


Kyuu kyuuang? [Ada apa, Liana?]


Liana menoleh, dia kemudian mendekati Felix kembali, dia memandang Felix dengan intens. Felix yang di tatap seperti itu pun merasa gugup entah kenapa.


"Ayo kita menyelinap keluar dari kastil diam-diam dan pergi ke pasar, kau harus ikut" Liana kemudian menoleh ke sekeliling.


Felix yang mendengar itu memiliki pandangan tidak percaya, dia pikir Liana memiliki sesuatu di otaknya, ternyata hanya ini.


Kyuu kyuu kyuuang [Aku pikir ada apa, baiklah, tapi kau yakin untuk menyelinap pergi dengan gaun ini?]


Liana menoleh kearah Felix, kemudian memandang gaun biru tua yang tengah di pakainya.


"Aku bisa menggunakan sihir, seminggu yang lalu aku tidak sengaja mempelajari formula ini, dan aku sudah mencobanya" terang Liana.


Kyuu kyuu kyuuang? [Ha? Tunggu, apa? Kapan kau mempelajarinya? Setahuku itu formula yang tampak sederhana namun sebenarnya rumit, dan kau bilang tak sengaja mempelajarinya?]


Liana menggaruk pipi kanannya yang memang gatal dengan jari, dia kemudian tersenyum canggung.


Kyuu kyuuang [Sudahlah, kau memang selalu mengejutkanku, kalau begitu ayo]


Liana mengangguk, dia memejamkan mata kemudian mengambil napas sejenak. Mulutnya mulai menggumamkan kata-kata yang terdengar asing, ujung jari tangannya bercahaya.


Pakaian yang di kenakan Liana seketika berubah, sebelumnya dia mengenakan gaun biru tua, dan sekarang dia jadi mengenakan sebuah pakaian berwarna biru tua yang tampak seperti kemeja.


Dengan celana panjang berwarna hitam, kemudian Liana mengambil ikat rambut yang entah muncul darimana. Mengikatnya hingga membentuk gulungan.


Dia mengulurkan tangannya ke samping, dan tangannya tampak seperti menembus ruang dengan pola riak air bergelombang, ah, itu adalah formula ruang dimensi yang dia pelajari sebelumnya.


Tangannya dia tarik keluar, memperlihatkan sebuah jubah dengan tudung berwarna hitam, Liana mengaitkan pengait jubah, kemudian memandang kearah Felix.


"Ayo pergi, jangan lupa untuk berubah menjadi kucing, aku tahu kalau Ay- maksudku Kaisar sudah mengetahui bentukmu ini" Liana mengelus kepala Felix, dia mengenakan tudungnya.


Seketika itu, rambut biru gelapnya berubah menjadi warna merah pekat, dengan manik matanya yang berwarna merah crimson berubah menjadi gold.


Kyuu kyuuang [Baik]


Bentuk tubuh Felix mulai berubah menjadi seperti kucing, warna bulunya tidak banyak berubah, namun memiliki sedikit warna hitam di beberapa bagian.


Felix melompat ke pundak Liana, Liana tersenyum kecil melihat penampilan Felix, selama empat tahun ini, Felix juga telah banyak berkembang.


Kemudian Liana melesat pergi dari kamar itu, meninggalkan jejak bayangan hitam yang berkelebat.


...


Miaw~ [Sudah lama sekali kita tidak keluar, bukan begitu Viona?]


Liana mengangguk menanggapi perkataan Felix, dia melihat kearah ramainya kerumunan di pasar.


Miaw~ [Apa yang akan kita lakukan sekarang?]


Liana, dengan nama samaran Viona, menatap ke sekeliling hingga pandangannya jatuh ke sebuah stand makanan.


Liana pergi menghampiri stand itu, dalam penyamaran, tingginya meningkat 3 centi, dan dia nampak seperti anak berusia 9 tahun sekarang.


"Paman, tolong satu tusuk sate dagingnya" Liana menatap ke penjual yang tengah sibuk membalikkan sate yang tengah di panggangnya agar tidak hangus.


"Baiklah gadis manis, satu sate dagingnya akan segera tiba" paman itu terlihat bersemangat.


Liana mulai merogoh kantong kecil di bajunya, mengeluarkan 5 keping uang koin perunggu.


Menunggu beberapa saat, Lina mendapatkan sate dagingnya dan membayarnya.


"Terima kasih Paman" kemudian Liana melenggang pergi dari sana, Liana duduk di bangku taman dekat pasar, dia memakan sate dagingnya dengan nikmat.


"Felix, kau mau?" Liana menawarkan sate dagingnya, Felix memandang dengan tatapan penuh minat, tadi saat dia mencium aroma rempah-rempah yang harum, dia jadi ingin mencicipinya.


Walau Felix adalah makhluk pemakan logam, dia bisa makan seperti kebanyakan hewan beast lain, yang biasanya tergiur dengan makanan manusia yang tampak lezat.


Liana mengambil sepotong daging di tusuk sate dan memberikannya kepada Felix, tangan Liana tampak bersinar redup dan kembali bersih.


Satu potongan terakhir, kemudian dia membuang tusuk sate itu ke tempat sampah.


Miaw~ [Kemana kita akan pergi sekarang, Viona?]


Liana tampak berpikir sejenak, niat awalnya dia hanya ingin pergi keluar dari istana dan bermain-main sebentar.


Namun dia sudah sampai di luar istana yang sangat jarang dia memiliki kesempatan seperti ini, sayang sekali jika langsung kembali ke istana.


"Mari kita berkeliling ke kota kecil di timur sebentar, entah kenapa aku memiliki perasaan baik jika pergi ke sana" Liana mulai melangkahkan kakinya, Felix kembali melompat ke pundak Liana.


Liana tampak santai saja, walau tau ada banyak mata Kaisar di mana-mana, toh, orang-orang itu tidak tahu wajahnya, jika dia ketahuan nanti, dia hanya perlu mempelajari formula pengubah wajah.


Sebuah kota kecil di timur yang memiliki padang rumput luas, kota kecil itu sering dijuluki sebagai Greenland karena luas padang rumput yang besarnya melebihi besar kota itu.


Di tambah, di sisi lain padang rumput, ada sebuah hutan kecil yang membatasinya dengan pantai.


Terlihat anak-anak berlarian di trotoar jalan kota, sesekali kereta kuda melewati jalan batu itu.


Liana menikmati keindahan kota kecil yang memiliki nuansa abad pertengahan, dia tersenyum kecil.


Kakinya terus menyusuri jalanan, hingga sampailah dia di pinggiran kota, terlihat suasana di sana tampak sepi dengan angin berhembus lembut.


Liana menutup mata menghirup aroma rumput yang basah, dia mendongak menatap langit biru dengan awan.


Felix melompat turun dari pundak Liana, dia menapakkan kakinya di rerumputan kemudian berguling tanpa syarat di sana.


Liana tersenyum melihat tingkah laku Felix, dia mengangkat tubuh Felix dan pergi lebih jauh ke tengah Padang rumput itu.


Dari jauh, dia melihat sebuah pohon besar berdiri di tengah-tengah padang rumput itu, Liana berjalan ke sana, dan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang besar.


Miaw~ [Viona, di sini sangat segar]


Liana mengelus kepala Felix, dia kemudian merebahkan dirinya di bawah pohon itu masih mengenakan tudung, menatap langit biru yang membentang indah.


"Kau bisa bermain sebentar Felix, jangan pergi terlalu jauh" Felix yang mendengar itu mengangguk senang, dia mulai berjalan pergi menjauhi Liana. Saatnya untuk mengeksplorasi, batin Felix.


Matahari mulai beranjak ke atas, Liana sempat tertidur beberapa waktu di sana, saat dia membuka mata, waktu telah menunjukkan siang hari.


Liana segera bangkit dari rebahannya, dia duduk bersandar sejenak di batang pohon, dia sudah meminta Felix untuk kembali, sudah saatnya mereka pulang ke istana.


Saat tengah menunggu, Liana bisa merasakan fluktuasi mana yang tidak biasa di dekatnya.


Liana berdiri, dia melangkahkan kakinya dengan penasaran, fluktuasi mana ini jelas tidak terjadi secara alami.


Dalam pandangan Liana, dia melihat seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki memiliki usia sekitar 10 tahun tengah mengayunkan pedangnya di tengah Padang rumput seorang diri.


Rambutnya yang berwarna hitam dengan gradasi biru di ujung rambutnya terlihat melambai tersapu angin, manik matanya berwarna biru sejernih kristal yang tampak tajam.


Liana terpesona dengan gerakan yang dibuat oleh anak itu dalam mengayunkan pedangnya, itu tampak begitu halus dan lembut, namun tajam dan mematikan pada saat yang bersamaan.


Itu adalah gerakan yang biasanya dimiliki oleh seorang yang sudah melatih pedang selama 5 dekade atau memiliki banyak pengalaman hidup dan mati di medan perang.


Kemudian tatapan Liana beralih ke wajah anak laki-laki itu, entah kenapa dia kembali terpesona, jantungnya berdegup kencang. Dapat dia rasakan pipinya memanas.


"Apa-apaan ini? Kenapa rasanya tiba-tiba saja panas?" Liana mengipasi wajahnya dengan tangan, tatapannya masih terpaku pada anak laki-laki itu.


Sebelum dia merasakan niat membunuh, sesuatu melesat hendak mengenainya, Liana melompat kebelakang sejauh tiga meter.


Dia bertemu tatap dengan mata biru sejernih kristal sebelumnya, jika dilihat dari dekat, itu tampak lebih dan lebih mempesona.


"Liana? jangan-jangan kau jatuh cinta? Tidak-tidak, jangan sampai kau jatuh hati pada anak kecil yang tak seumuran denganmu, tapi ... aku kan memang masih tergolong seorang anak kecil"


Liana kembali berdebat dengan batinnya, dia mulai goyah sekarang.


Miaw! [Viona?! Kau!!]


Felix tiba-tiba saja muncul dan menerjang kearah anak laki-laki itu, wajahnya terlihat sangat garang sekarang.


Sang anak melindungi wajahnya dengan tangan dan menutupinya.


"Felix sudahlah, aku tidak apa-apa" Liana merasa kasihan dengan anak itu yang terkena amukan Felix, dia mengambil tubuh kecil Felix dan menahannya.


"Felix, jangan seperti itu, itu tidak sopan kau tahu" Liana memberikan nasehat kecil untuk Felix.


Miaw miaw! [Tapi dia duluan yang memulai!!]


Felix meronta-ronta dalam dekapan Liana, sepenuhnya diabaikan oleh anak dan seekor kucing di depannya, anak lelaki itu membuka mulutnya dan mulai berbicara.


"Siapa kamu? Kenapa kau mengintipku berlatih tadi?" suaranya terdengar dingin, Liana menoleh kearah anak itu.


"Ah, maaf soal itu, sebenarnya aku tidak sengaja merasakan fluktuasi mana yang tidak biasa, aku tidak mengintipmu, dan hai, namaku Viona, siapa namamu?" Liana mengulurkan tangannya.


Senyum manis terpatri di wajah Liana, anak laki-laki di depannya tampak tertegun sejenak, dia membalas jabat tangan itu dan memperkenalkan dirinya.


"Begitu, maaf sudah menyerangmu tadi, perkenalkan namaku ...."