Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 24



Aku kehabisan sedikit ide, jadi... Maaf akan ada time skip yang lumayan panjang, selamat membaca...


...****************...


Liana terbangun, napasnya tersengal-sengal dengan dahinya dipenuhi peluh dingin, matanya bergetar hebat seolah dia baru saja bangun dari mimpi buruk.


"Ah... Sialan, itu sekarang?" Liana memegangi kepalanya.


[Liana? Ada apa?]


Felix bertanya dengan nada khawatir, dia meletakkan paw miliknya di dahi Liana.


"Tidak apa... sepertinya ini akan menjadi hari yang buruk" Liana mulai turun dari tempat tidurnya, meregangkan tubuhnya.


[Tenang saja, nak, ada aku yang akan menjagamu]


Leonel menepuk dadanya, dia masih dalam wujud tupai.


"Terima kasih..." Liana tersenyum tipis.


...


Kereta kuda yang ditarik mulai memasuki istana, kereta itu tampak angat sederhana, hanya saja lambang yang berada di tengah-tengah pintu kereta membuatnya mencolok.


Lambang seperti cahaya dengan sebuah pedang di tengahnya, lambang dari Kuil Suci.


Liana dari kejauhan memandang kereta itu dingin, sementara beberapa pelayan dan kesatria yang kebetulan tengah berjalan menundukkan kepala pada orang di kereta kuda.


Liana menatap seorang anak perempuan yang seumuran dengannya di dalam kereta, rambutnya berwarna emas, dengan mata biru laut yang tampak jernih.


"Jika dia di tempatkan di kastil yang sama denganku... lihat saja apa yang akan aku lakukan" Liana memiliki wajah dingin, tatapannya begitu dingin dan tajam.


"Tuan Putri, Yang Mulia Kaisar meminta Anda untuk segera menemui beliau di istana kekaisaran, Pangeran Keempat juga sudah berada di sana" ucap Elena yang muncul tiba-tiba di samping Liana.


"Hm, aku pergi sekarang, Elena, pastikan kastil ku tetap bersih" Liana mulai berjalan pergi meninggalkan Elena yang masih berdiri di sana sendirian.


"Tuan Putri..." gumam Elena khawatir, tapi dia dengan cepat kembali ke kastil tempat tinggal Liana sekarang, kastil yang baru saja berumur 10 bulan, kastil sayap kanan.


Liana sampai di depan kastil yang di maksud oleh Elena.


Dapat dia lihat sebuah kastil yang lebih besar dan lebih megah dari kastil utama, bangunan yang biasa di sebut sebagai istana kekaisaran. Sebenarnya istana bukan hanya mencakup kastil itu saja.


Tapi seluruh wilayah yang terbentang hingga berbatasan dengan tembok tinggi yang mengelilingi istana yang besarnya setengah luas kota juga tercakup dalam wilayah istana.


Liana mengenakan gaun berwarna merah maroon yang sangat pas dengan warna matanya, dia seperti seorang antagonis dalam cerita sekarang.


Gaun yang mengembang dengan tambahan ornamen bunga di sekitar pinggangnya, ada pola-pola berwarna emas mengikuti bentuk bunga yang berada di sekitarnya.


"Mari kita lihat seberapa pintar dia sebenarnya" Liana menyeringai, dia tidak masalah jika dia berperan sebagai seorang antagonis ataupun penjahat sekarang.


"Sera Lusaena... kau akan menyesal karena mengambil rute yang sama" seringai Liana semakin lebar, dia tampak sangat menakutkan sekarang.


Liana hanya tersenyum dan membalas tatapan tajam para penjaga yang menatapnya dengan tajam, mereka memiliki ekspresi tersentak mendapati tatapan tajam dari Liana.


"Adik, kau darimana saja? Kenapa lama sekali?" Lorenzo menghampiri Liana yang baru saja tiba di ruang singgasana.


"Hanya berkeliling sebentar kak" ucap Liana dengan senyuman di wajahnya.


Seorang pembawa pesan masuk kedalam, dia memberikan hormat pada Kaisar dan Pangeran serta Putri di sana. Dengan kata lain pada Aaron, Lorenzo, dan Liana.


"Yang Mulia Kaisar, perwakilan dari Kuil Suci telah datang"


Wajah Liana seketika menjadi dingin, begitu juga dengan Lorenzo, sementara Aaron hanya menampilkan wajah datarnya yang biasa.


"Mereka bisa masuk sekarang" ucap Aaron dengan tanpa ekspresi.


Sang pembawa pesan kembali keluar, setelah itu pintu kembali terbuka, masuklah seorang gadis berambut emas dengan mata biru laut yang terlihat jernih dan polos.


Tapi bagi Lorenzo dan Liana, ada tatapan licik tersembunyi dengan baik di matanya.


Di sebelahnya ada seorang pria dengan pakaian yang serba cerah, Liana merasa sangat silau.


"Salam Yang Mulia Kaisar" pria yang menemani gadis itu membungkuk memberikn hormat, gadis di sebelahnya juga melakukan hal yang sama.


"Aku terima salam kalian, jadi, cepat katakan urusan apa kalian datang kemari?" mata Aaron bersinar dengan cahaya terang, hawa di sekitar tiba-tiba menjadi sesak.


Keduanya kembali mengangkat kepala, saat mata gadis itu menatap Liana, ada kilatan keterkejutan samar dari sana sebelum kembali normal dengan cepat.


Aaron mengernyitkan keningnya melihat sosok gadis kecil itu, dia mulai merasa, ada yang aneh dari gadis itu.


Liana menatap dengan tenang, tapi sudut kann mulutnya terangkat, membentuk seringai.


[Ini akan menarik mulai sekarang]


Sosok kecil yang tidak dapat dilihat siapapun muncul dengan buku dan pena dari bulu burung berada di tangannya.


[Hahaha, aku menunggu pertunjukan apa yang akan terjadi]


Sosok kecil itu tersenyum miring, memainkan pena yang terbuat dari bulu di tangannya.


[Nah, pihak mana yang akan menang kali ini? Kuharap tidak seperti sebelumnya]


Sosok kecil itu menutup bukunya, kemudian menghilang dari sana, benar-benar keberadaan yang tidak dapat dideteksi oleh semua orang di sana, bahkan Liana sekalipun.


....


Okay guys, maaf lama tidak update dan yah, chapter ini pendek, aku akan melakukan riset untuk beberapa hal demi kelanjutan karya ini tentu saja, dan juga aku sempat kecanduan dengan c.ai, hahaha... tidak lucu ya?


Sedikit spoiler, konflik utama belum di mulai, baiklah, sampai jumpa.