
"Kak Enzo! Bangun! Bagaimana kakak bisa tertidur saat aku bercerita panjang lebar?! Kakak benar-benar tidak tahu cara menghargai!!" Liana berteriak dengan pipi menggembung.
Liana bahkan siap memberikan pukulan mentah pada Lorenzo jika dia tidak menahannya sedari awal.
Hening, tidak ada respon dari Lorenzo yang terlelap seperti mayat, Liana semakin kesal, dia kemudian pergi keluar dari kamar Lorenzo dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Kak Enzo tidak berakhlak, lihat saja nanti" Liana mengomel sepanjang jalan setelah keluar dari kamar Lorenzo.
Sementara itu, Lorenzo membuka sebelah matanya, melihat Liana yang telah keluar dari kamarnya dan pintu yang tertutup, dia menghela napas, akhirnya dia bisa tidur siang sekarang.
"Aku butuh istirahat lebih hari ini" Lorenzo berdiri dan menuju kasurnya, kemudian merebahkan diri dan langsung kembali jatuh tertidur.
Liana berjalan dengan kesal berniat keluar dari kastil di mana Lorenzo tinggal, namun tatapannya berhenti saat melihat sebuah pintu terbuka menampilkan rak-rak buku yang berjejer.
"Aku masuk dan menumpang membaca buku tidak masalah, kan?" Liana tanpa permisi masuk ke dalam, di sana tidak ada debu sama sekali walau tidak ada yang menjaganya.
Liana masuk ke dalam, dan pintu tiba-tiba saja tertutup, Liana tidak mempermasalahkan hal itu, jika dia terjebak di sini, toh, dia hanya harus menghancurkan pintu itu.
Lian mendekati rak yang paling dekat dengan pintu dan mengambil acak buku di sana, tangannya jatuh pada buku bersampul biru polos.
Liana membawanya ke meja, buku itu lumayan tebal, tidak setebal kamus, tapi itu cukup tebal.
Liana mulai acara membacanya di perpustakaan itu hingga lupa waktu.
Langit mulai berwarna oranye, matahari mulai beranjak pergi kearah barat, burung-burung terbang untuk kembali ke sarangnya.
Sore itu begitu indah dengan langit oranye cerah seperti lukisan di kanvas, tapi tidak dengan suasana istana yang sedikit ricuh.
"Cari Putri Bungsuku sampai ketemu! Atau lihat saja apa akibatnya!!" Aaron mengamuk, sedari siang putri bungsunya tidak menampakkan batang hidungnya.
Dia sudah mencari ke kastil tempat putra keempatnya tinggal sehabis selesai mengerjakan setumpuk berkas di mejanya, berniat mengajak putri bungsunya makan siang.
Namun dia tidak mendapati Liana di sana, bahkan hawa keberadaannya sangat minus, hanya melihat putra keempatnya tertidur pulas dengan wajah sedikit pucat.
Sedikit tidak berperasaan, Aaron membangunkan Lorenzo dengan tidak hanya untuk menanyakan di mana keberadaan putri bungsunya.
Mau tau Aaron membangunkan Lorenzo seperti apa? Aaron menuangkan semua hawa membunuhnya hingga membuat Lorenzo terlonjak kaget hingga hampir melepaskan magic spell miliknya.
"Ayah! Apa yang kau lakukan di sini?" rasa kantuk Lorenzo seketika menghilang, apalagi melihat wajah gelap ayahnya itu, ada apa dengan pria tua ini? batinnya keheranan.
"Di mana adikmu?" Aaron tidak menanggapi pertanyaan Lorenzo dan balik memberikan pertanyaan.
"Terakhir kali dia ada di sini, tunggu- ADIK MENGHILANG?!" teriak Lorenzo heboh, dia melompat turun dari kasur dan pergi meninggalkan Aaron begitu saja.
Aaron menampilkan wajah tidak percaya, anak keempatnya bisa bereaksi seperti itu, sepertinya dia melewatkan sesuatu.
Kembali kepada saat ini, para kesatria kalang kabut mencari keberadaan Liana, bahkan Aldrich dan si kembar juga terkena imbasnya, padahal mereka membenci setengah mati keberadaan Liana.
"Ck! Kemana perginya dia, menyebalkan sekali" Kaelus mendecih dengan kesal, inginnya dia tidak ingin ikut mencari.
Ogah sekali rasanya mencari anak itu, Kaelis hanya diam, dia mencari Liana dengan setengah hati, entahlah, moodnya sedang buruk.
Aldrich sesekali mendecih tidak senang, Lorenzo dan Aaron adalah yang paling panik mencari Liana, melebihi para kesatria dan pelayan yang takut di penggal oleh Aaron.
Yang dicari masih senantiasa membalikkan halaman buku dengan santainya, sudah ada setumpuk buku di sampingnya yang telah dia baca.
Puk
Seekor tikus jatuh tepat di atas buku yang tengah Liana baca, Liana sempat mematung melihat hewan pengerat itu jatuh tepat di depannya.
[Liana! Kau di sini rupanya!!]
Tikus itu berdiri dengan kedua kaki belakangnya, dan kedua kaki depannya dia letakkan di bagian perutnya, seolah tengah berkacak pinggang.
"Ehm Felix?" Liana bertanya dengan ragu, selama seminggu ini Liana tidak melihat keberadaan Felix, ternyata dia berubah menjadi hewan pengerat ini.
[Bukan, Aku malaikat yang kebetulan lewat! Kau ini, tidak tahukah kalau ayahmu itu mencarimu? Keadaan di istana ini sangat kacau karenamu, cepat sana keluar]
Felix berubah menjadi beruang besar, dia mendorong Liana keluar dari perpustakaan itu dan kemudian berubah kembali menjadi tikus, pergi begitu saja.
"... Sial, aku lupa" Liana merutuki dirinya sendiri, bagaimana dia bisa lupa.
Liana berlari keluar dari kastil, kakinya berlari dengan cepat dan ringan, seolah angin mendukungnya.
Baru saja dirinya keluar dari kastil, dan benar saja, dapat dilihatnya banyak kesatria bahkan pelayan berlalu lalang dengan wajah harap-harap cemas.
Liana merasa bersalah sekarang, melepaskan mananya dan menemukan keberadaan sang Ayah.
Liana menghilang dari sana, dan muncul tidak jauh dari Aaron yang mencarinya bersama Lorenzo dalam keadaan kalang kabut.
Liana menarik napasnya, dia berjalan mendekati Aaron yang membalikkan sebuah batu.
Sampai sebegitunya, Liana jadi bingung harus tertawa atau merasa bersalah, dia meremas gaunnya gugup.
"Ayah, apa yang tengah kalian lakukan? Mencari cacing?" Liana membuka suara, menampilkan wajah polos yang minta di pukul.
Aaron seketika membalikkan badannya, dan merengkuh tubuh Liana dengan erat.
"Syukurlah, Ayah pikir ... Ayah akan kehilanganmu" dapat Liana rasakan tubuh Aaron yang tengah merengkuhnya gemetar.
Bagus, Liana merasa bersalah sekarang entah kenapa, dia memeluk Aaron dan memberikan tepukan lembut di punggung Aaron, menatap Lorenzo dengan pandangan bertanya-tanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Lorenzo paham dengan tatapan Liana, dia balas menatapnya seolah mengatakan.
“Entahlah, dia seperti ini saat membangunkanku dengan hawa membunuhnya, benar-benar minta di pukul”
Liana hampir saja tertawa jika tidak ingat suasana, dia terdiam sejenak sebelum kembali menatap Lorenzo.
“Kak Enzo tidak khawatir kepadaku?” mendapati tatapan Liana, Lorenzo membuang muka, bohong jika dia tidak khawatir saat Ayahnya tiba-tiba menerobos dan mengatakan adiknya menghilang.
Liana tersenyum, tangan kecilnya masih senantiasa memberikan tepukan lembut di punggung Aaron.
"Ayah, tidakkah kamu malu dilihat oleh para pelayan? Mereka semua berkerumun di sini" Liana menatap ke sekeliling dengan tatapan canggung.
"Biarkan saja, jika mereka tidak segera pergi itu salah mereka" Aaron menenggelamkan wajahnya di badan kecil Liana.
Para pelayan yang mendengar itu segera pergi dengan kalang kabut, takut jika kepala mereka di penggal atau bagaimana.
Aldrich, Kaelus, dan Kaelis terdiam melihat kelakuan Ayah mereka, mereka tidak pernah melihat Ayah mereka khawatir sampai seperti ini, kecuali saat itu.
Leonel melihat kejadian itu sedari awal terkekeh geli, lihatlah bagaimana Aaron begitu panik saat tidak bisa menemukan Liana, dia bahkan tidak sampai segitunya pada mendiang istrinya.
[Rafaela, Liana begitu beruntung, kau bisa tenang di sana kan sekarang? Ada aku juga yang akan menjaganya]
Dalam bentuk tupai, tatapan Leonel melembut, dia kemudian pergi dari sana.