Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Awal



"****" serangkaian kata umpatan keluar dari mulut kecil seorang gadis muda yang berwarna peach, dia terpojok diujung jurang yang curam bernama jurang peledak mana.


Matanya berwarna violet melirik kesekeliling sejenak dengan tenang, angin lembut menerbangkan rambut pendeknya yang kusut berwarna sama dengan matanya.


Jurang itu, tempat di mana akan meledak tepat saat seseorang berada di dekat jurang ataupun berada dalam radius 100 meter menggunakan mana barang sedikit apapun.


Gadis itu mengalihkan pandangannya, menatap kearah sekumpulan orang yang tak jauh darinya.


"Bukankah ini saatnya kau menyerah hunter Viona? Semua sudah sangat lelah, kami juga tahu bahwa kau sudah sangat kelelahan, jadi menyerah saja"


Kalimat remeh keluar dari bibir seorang pria dengan pakaian tempur berwarna emas yang hampir rusak, gadis itu, Viona membuat senyum remeh di wajahnya.


Dia adalah seorang Hunter kelas atas, namun dirinya saat ini terpojok di ujung jurang peledak mana. Dia pergi menyerang sebuah dungeon yang berbahaya bersama party nya.


Namun siapa yang menyangka, saat pertempuran terlah berakhir, mereka menunjukkan wajah asli mereka kepadanya.


"Menyerah heh? Dalam mimpimu!!" Viona mengacungkan jari tengahnya kearah sekumpulan orang itu.


Pria dengan pakaian tempur emas sebelumnya menggerakkan giginya, urat-urat menonjol di wajahnya.


Dia mengarahkan tangannya, memberi perintah untuk menyerang kepada sekumpulan orang di belakangnya. Semua orang melupakan sebuah fakta dan termakan amarah.


Mereka menggunakan mana dan melancarkan serangan ke arah Viona, jurang peledak mana yang selalu dipenuhi kabut hitam tampak bergetar.


Cahaya menyilaukan muncul dari jurang, ledakan besar muncul di sana, Viona yang paling dekat dengan jurang itu terkena dampaknya.


Bukan hanya dirinya, namun semua orang yang berada di sana, juga mendapatkan dampak yang sama.


'Ah ... sakit sekali, rasanya sama menyakitkan seperti leherku dipenggal oleh kaisar ....' Viona, menutup matanya, meninggalkan dunia itu.


.


.


.


Suara tangisan bayi memenuhi ruangan, tangisannya begitu kencang dan nyaring, tubuhnya kemerahan dan rambut biru gelapnya basah, menandakan bahwa itu adalah seorang bayi yang baru lahir.


Ruangan itu begitu sibuk, dengan banyak orang berpakaian pelayan berhilir mudik dengan wajah panik, seorang wanita dengan pakaian mirip dengan pakaian steril memiliki wajah kurang sedap dipandang.


Dia melepas sarung tangannya dan membuangnya dengan frustasi ke tempat sampah.


"Permaisuri, telah tiada" ucap wanita itu dengan nada sedih yang mendalam, dia membungkuk pada tubuh wanita di atas kasur dengan hormat.


"Kaisar harus segera tahu hal ini, segera kirim surat ke Medan perang, dan perketat keamanan istana"


Sang wanita memberikan perintah kepada pelayan, beberapa dari mereka mengangguk dan segera pergi, beberapa lagi terlihat tengah memandikan bayi mungil itu.


Sesaat setelah para pelayan kembali dengan bayi mungil itu dan meletakkannya di dekat tubuh tanpa nyawa sang Permaisuri.


Empat anak kecil berjenis kelamin lelaki memasuki ruangan, dan segera wajah mereka dipenuhi dengan air mata.


Satu anak berumur delapan tahun, dua anak yang terlihat kembar berumur tujuh tahun, dan satu anak yang terlihat paling kecil di antara mereka, berumur tiga tahun.


Wajah mereka sembab menangisi kepergian sang ibu, suara mereka keras dan memenuhi ruangan.


Para pelayan menunduk dan menahan air mata mendengar isakan pilu para Pangeran, sang wanita yang membantu persalinan sang permaisuri juga menunduk.


Di tengah suasana pilu dan menyedihkan itu, sang bayi membuka matanya, memperlihatkan iris matanya yang berwarna crimson, tidak ada seorangpun yang menyadari itu.


Bayi itu menatap sekelilingnya dengan merotasikan matanya, menatap dengan polos suasana pilu di ruangan itu.


First POV


Berat ... tubuhku berat sekali rasanya, ugh! Kenapa begitu berisik!?


Aku membuka mataku dengan enggan, cahaya yang menyilaukan menembus retina mata, aku menyipitkan mata menyesuaikan cahaya.


Saat mataku telah beradaptasi dengan cahaya di sekitar, aku merotasikan mataku dengan susah payah, tubuhku berat, terutama kepalaku.


Ah, kenapa terdengar banyak Isak tangis di sini? Aku melihat empat anak kecil menangis mengelilingi seorang wanita cantik berambut merah pudar yang menutup mata.


Dia menutup mata begitu tenang, dan aku tidak dapat merasakan jejak napas padanya, tunggu– dia sudah meninggal?


Aku menatap kembali kearah empat anak kecil itu, seorang anak yang paling besar diantara mereka memiliki rambut biru gelap dengan iris mata berwarna crimson yang sangat kontras.


Dua anak yang tampak memiliki karakter yang sama, rambut merah pudar seperti wanita yang dikelilingi, salah satu dari mereka memiliki iris mata merah crimson, dan yang lain memiliki iris mata gold.


Dan yang terakhir anak yang paling kecil diantara mereka, memiliki rambut biru pudar yang tampak lembut, iris matanya berwarna gold.


Aku baru sadar, mereka semua memakai pakaian yang mewah seperti seorang pangeran.


Dan setelah aku lihat-lihat, wajah mereka tampak familier dan akrab, tunggu–


Jangan katakan bahwa–


Anak yang paling kecil tiba-tiba saja terjatuh tidak sadarkan diri, untung saja dia berhasil ditangkap oleh anak yang paling besar.


"Pangeran Lorenzo!!"


Teriakan terdengar, aku terkejut karena tidak dapat mengetahui bahwa ada banyak orang di sekeliling, dan terdengar suara tangisan bayi, ah, itu bukan aku, kan?