Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 20



"Yang Mulia Kaisar dan Tuan Putri Liana memasuki ruangan"


Pintu ruangan itu terbuka, menampakkan isinya, ada meja besar panjang dengan puluhan kursi, penghuni di dalam seketika menoleh segera setelah penjaga mengumumkan siapa yang hadir.


Para pangeran berdiri, begitu juga dengan Alexia yang sudah berdandan rapi dengan gaun putih.


"Salam Ayah/Yang Mulia" ucap mereka serempak.


Aaron menatap kelima orang itu, empat putranya dan seorang gadis duduk di bagian kiri meja, sementara sisi kanan kosong.


"Kalian bisa duduk kembali" tanpa aba-aba, Aaron menggendong Liana, berjalan menuju kursi di ujung di tengah-tengah, dan mendudukkan Liana di sisi kanan pada kursi pertama dekat dengan kursinya.


Kelima orang itu dan beberapa pelayan yang tengah mempersiapkan makanan terdiam, bukankah itu tempat duduk Permaisuri?



Kira-kira seperti itu meja makannya, dan di sisi pojok ujung biasanya di tempati oleh tamu dari kerajaan lain seperti Raja atau Kaisar.


Aaron menyadari pemikiran semua orang, namun dia mengacuhkan saja, sementara Liana dalam hati sudah mengutuk habis-habisan pada Aaron.


"Mulai sajikan makan malamnya" perintah Aaron pada pelayan di sana, para pelayan tersadar, dengan dengan cepat menyiapkan makanan di atas meja.


Makanan telah tersusun, Aaron memandang ke sekeliling sebentar sebelum mulai membuka mulutnya.


"Aku ucapkan selamat datang ke Kekaisaran Calvucura, Putri Alexia dari Kerajaan Cannavaro, mohon nikmati acara makan malam ini sebagai penyambutan"


Alexia berdiri, dia membungkuk hormat dan mengucapkan rasa terimakasih.


"Terima kasih atas sambutannya, Yang Mulia" Aaron mengibaskan tangannya sekali, dan Alexia kemudian kembali duduk.


Aaron mulai mengangkat garpu dan pisau kecilnya, mulai memotong steak dan memakannya.


Melihat Aaron sudah mulai makan, semua yang ada di meja makan mulai menyantap makanannya.


"Steak, steak dan steak lagi, tidak bisakah di ganti saja? Seperti sate daging atau ayam bakar" gerutu Liana dalam hati, walau begitu dia tetap memakannya.


Menyadari ketidakpuasan dari Liana, Aaron mengangkat sebelah alisnya.


"Ada apa?" tanya Aaron singkat, yang mampu membuat semua orang berhenti makan.


Liana menatap kearah Aaron sejenak, sebelum menggelengkan kepala pelan.


"Katakan saja, apa makanannya tidak enak?" pelayan yang berdiri di pojok ruangan seketika berkeringat dingin, takut saja jika Tuan Putri menjawab iya.


"Ayah, tidak seperti itu, sudah Ayah lanjutkan saja makannya, lihat mereka juga ikutan berhenti makan melihat Ayah berhenti makan" jawab Liana terkesan riang, tapi terdengar nada ketus di kalimatnya.


Aldrich, Kaelus dan Kaelis menatap kearah Liana dengan tajam, sementara Lorenzo diam-diam menahan tawa di dalam benaknya.


Alexia mengangkat sebelah alisnya, entah kenapa Tuan Putri yang tidak pernah dia lihat ini menarik, sama menariknya dengan Viona, pengembara cilik yang dia temui sebelumnya.


Aaron yang langsung paham apa perkataan Liana langsung kembali menyantap makanannya.


Liana kembali makan dengan acuh, dan telah menyelesaikan satu piring steak itu, walau dia tidak suka, dia juga tidak suka membuang-buang makanan.


Sesi makan itu berakhir hening, hingga dessert di bawa keluar dan di sajikan di atas meja.


Tatapan bersinar dari si kembar dan Lorenzo terlihat, jarang-jarang ada puding karamel sebagai dessert yang di sajikan.


Liana menatap puding karamel di depannya dan mulai menggunakan sendok untuk melihat seberapa lembutnya puding di depannya.


"Aku harap tidak terlalu manis" Liana menyendok kecil puding itu dan memakannya, rasa manis yang tidak terlalu berlebihan menyebar di mulutnya.


"Ini pas" Liana menikmatinya dengan wajah kekanakan yang tidak sadar dia keluarkan.


Alexia memekik gemas dalam hati melihat Liana, sementara Aaron tidak melanjutkan menyantap pudingnya dan memilih menikmati wajah Liana yang tengah memakan puding.


Lorenzo juga menikmati wajah manis Liana, rasa ingin melindungi Liana dalam dirinya semakin besar, dan semakin besar.


Liana baru saja menyelesaikan pudingnya seketika tersadar dan menatap ke sekeliling, tatapannya jatuh pada Aaron yang tampak melamun, begitu juga dengan yang lain.


"Ada apa ini? Melamun berjamaah? Aku boleh ikut, kan?" pikiran Liana terdengar begitu menggelikan.


"Ayah, kenapa kalian melamun? Apa tadi ada Scream yang lewat atau bagaimana?" celetuk Liana menyadarkan semua orang.


Aaron sedikit terkejut mendengar Liana tahu makhluk bernama Scream di dunia ini.


Melihat perlakuan manis Aaron pada Liana yang notabenenya sebagai putrinya, keempat putranya bergidik ngeri, sisi Ayah mereka yang ini terlihat menyeramkan.


"Oh! Aku melihatnya sekali dua tahun lalu! Ayah lepaskan, itu sakit" Liana memegang tangan Aaron yang mencubitnya.


Aaron menyipitkan mata, tangannya yang lain mulai mencubit pipi Liana yang lain juga.


"Ayo katakan yang sejujurnya" seakan lupa dengan anaknya yang lain dan tamunya, Aaron malah menjahili Liana tanpa kenal tempat.


"Pwuah! Liana tidak mau! Ayah lepas!" Liana menatap tajam Aaron, entah hilang kemana rasa takut Liana akan pria di depannya yang bisa saja membunuhnya saat itu juga.


Aaron melepaskan cubitannya di kedua pipi Liana, jika Liana sudah seperti ini dia pasti tidak akan mau menjawabnya.


"Baiklah, kembalilah ke kamar, Ayah ada hal yang harus di bahas dengan Putri Alexia dan Kakak pertamamu" Aaron kemudian berdiri.


Aldrich yang tidak tahu menahu menunjuk dirinya sendiri dan menatap ayahnya seolah bertanya “Aku juga?”


Aaron mengangguk, Alexia dan Aldrich kemudian mengikuti langkah kaki Aaron dari belakang.


Tersisa si kembar, Lorenzo dan Liana di sana, Liana menghampiri Lorenzo yang terlihat ingin mengambil satu puding lagi.


"Kak Enzo! Ayo jalan-jalan sebentar" Liana memegang tangan Lorenzo dan menatapnya dengan tatapan anak anjingnya.


Lorenzo yang berniat menyantap puding keduanya menghela napas, dia kemudian berdiri dari kursinya dan menggenggam tangan Liana.


"Baiklah, ayo" Lorenzo dan Liana pergi dari sana, meninggalkan si kembar yang saling melemparkan tatapan bertanya-tanya.


"Kapan mereka begitu dekat?" Kaelus menatap Kaelis tanpa mengatakan apapun.


"Jika kakak bertanya kepadaku, aku harus bertanya kepada siapa?" Kaelis memutar bola matanya jengah.


Ini mirip dengan telepati antar saudara kembar.


...


"Kak Enzo, boleh aku bertanya?" Liana mendongak, Lorenzo menunduk, dia balas menatap Liana.


"Apa yang ingin ditanyakan oleh adik kakak ini?" Lorenzo kemudian menatap ke jalan kembali.


"Ini kehidupan ke berapa bagi kakak? Atau sudah berapa banyak kak Enzo mengalami reinkarnasi?" Liana menatap kearah depan.


Lorenzo seketika berhenti dan menunduk, yang dibalas tatap oleh Liana, dapar Lorenzo lihat, sebelah mata kiri Liana memiliki kilauan samar, sama dengan mata Rafaela, mendiang ibunya.


Lorenzo menghela napas sekali, dia kembali melanjutkan langkah, hingga sampailah mereka di taman kastil tengah.


Taman ini tidak seindah taman yang dibuat khusus oleh Aaron untuk Rafaela, tapi taman ini masih layak sebagai tempat untuk menghabiskan waktu.


"Darimana kakak harus mulai? Ah, dengarkan dulu cerita kakak okey?" Lorenzo mendudukkan diri di bangku taman, taman itu sedikit remang-remang, faktor tidak ada kristal cahaya yang di pasang.


Lorenzo tahu sedikit mengenai keadaan Liana yang mungkin sama dengannya, dia ingin membagi sedikit ceritanya, jika bisa membuat Liana berbicara juga.


"Ini saat kehidupan pertama kakak, ini terdengar sedikit menyedihkan, kakak saat itu yang baru bisa mengingat, ibu berdiri di depan kakak dan mengatakan apapun yang terjadi agar selalu menyayangimu.


Yah, kakak tidak bisa melakukan itu tepat saat kau lahir, ibu meninggal, kau di pindahkan ke kastil utara oleh ayah, kakak tidak bisa apa-apa, lalu saat kakak 11 tahun, dan kau 8 tahun, itu adalah kali pertama pertemuan kita.


Ini sedikit menyesakkan, Ayah, dan juga kakak yang lain tidak menyayangimu, tapi, mereka menyayangi seorang anak yang diminta oleh Kuil Suci untuk mendukungnya" Lorenzo diam, rasa marah menyeruak di dadanya.


Liana tersenyum, senyum tulus yang sudah sangat lama tidak dia perlihatkan, dia mengelus lengan Lorenzo.


Lorenzo menatap sendu Liana, rasa bersalah selalu menghampirinya setiap kali mengingat kejadian di kehidupan pertamanya.


"Kakak sangat marah saat itu, tapi kakak hanya seorang anak lemah dan hanya bisa diam, hingga ... kakak kehilanganmu" bahu Lorenzo gemetar menahan tangis dan marah.


Setiap kali mengingat ayahnya yang dengan tega mengayunkan pedangnya pada Liana, rasa marah dan benci selalu timbul setiap kali.


"Kakak saat itu benar benar hancur, kakak ... hiks" satu isakan lolos di bibir Lorenzo, Liana tersenyum, dia mengelus lembut punggung Lorenzo.


"Tidak apa-apa kak, Liana tidak apa-apa sekarang, lihat, bahkan masih bisa memberikan senyum manis khusus untuk kakak" Liana menghibur Lorenzo.


Dia tahu betul perasaan Lorenzo, lagipula, dia juga pernah melihat seseorang yang tersayang mati tepat di depannya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Ah, lupakan sejenak kisah sedih ini, mulai sekarang, Liana akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan kakak Enzo tersayang.