Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 18



"Bagaimana kau bisa ada di kastil kami? Pembunuh?" suara dingin Kaelus menyapa indra pendengaran Liana, tubuh Liana kaku sebentar, astaga, ini masih saja membuatnya sakit.


"Pembunuh hm? Di mana? Oh itu ada satu di pohon, juga, Aku kemari karena Ayah yang memintaku, jika tidak aku tidak akan sudi untuk kemari" Liana mendesis, menatap tajam Kaelus.


Kemarin lusa, sehari setelah perjalanan yang di lakukan Aaron dengan keempat putranya, Aaron memintanya untuk mencoba dekat dengan saudaranya yang lain.


Sementara itu, mata-mata yang sudah tertangkap oleh mata Liana hendak kabur, namun kesatria pribadi Kaelis menangkapnya.


Si kembar memiliki wajah tidak percaya, melihat kearah Liana dan mata-mata yang di tangkap bergantian.


"Hmph, tidak ada gunanya Aku kemari, hanya menambah penyakit saja, sampai jumpa lagi nanti saat waktu makan malam, Ayah meminta sekeluarga untuk berkumpul makan malam" Liana menatap keduanya dingin.


Tanpa mengatakan apapun, Liana pergi dari sana, semakin lama dia di sana, dadanya hanya akan semakin sesak, lebih baik dia pergi berlatih dengan Elena yang memberikannya latihan berat.


Kesatria Kaelis, manik matanya yang berwarna madu menatap pertikaian saudara itu dengan sedikit cemas, rambutnya berwarna coklat walnut (Walnut Brown).


"Ada apa dengan kau terus melamun seperti itu, Rav? Cepat kita pergi melapor pada Kaisar dan bawa juga si mata-mata sialan ini" suara berat dengan nada bicara kasar terdengar.


Dia adalah seorang kesatria pribadi Kaelus, rambutnya berwarna coklat walnut, dan manik matanya berwarna kuning amber.


"Ck! Aku tahu Andrew, dan panggil Aku kakak!" kesatria pribadi Kaelis–Aarav, memukul kepala Andrew dengan tangan satu yang tidak memegangi sang mata-mata dengan kesal.


"Seharusnya Aku kakaknya, aku bahkan lebih tinggi darimu dua centi" Andrew menggerutu.


"Itu hanya dua centi, ku pikir sifatnya tidak ada mirip-miripnya dengan ayah maupun ibu, sepertinya benar kalau dia anak angkat" Aarav mulai membawa mata-mata itu pergi.


Ayolah, padahal mereka adalah anak kembar identik, jika Andrew adalah anak angkat, maka Aarav juga anak angkat.


Namun sebelum itu, dia sudah pamit pada kedua pangeran itu.


"Oy tunggu!" Andrew menyusul sang kakak dengan langkah cepat.


"Hah, benar-benar kata gadis itu, masuk ke sini sama saja mencari mati, tau begini aku menuruti apa perkataannya" batin sang mata-mata yang sudah pasrah.


"Kak, dia benar-benar bisa mengetahui hawa keberadaan mata-mata sebelumnya? Yang merupakan tingkat 8?" Kaelis memandang kearah Kaelus, seolah meminta jawaban.


"Entahlah" Kaelus mengabaikan kembarannya dan masuk kembali ke kastil barat, dia pergi ke kamarnya yang terpisah dengan kamar Kaelis.


"Ada apa dengannya?" Kaelis mengangkat bahu acuh, kemudian dia pergi ke belakang kastil di mana ada sebuah tanah lapang yang sedikit luas.


Kaelis mengangkat pedang kayunya yang tergeletak di dekat dinding, dia menutup matanya, mencoba mengingat apa yang dia lihat.


Dalam benaknya melintas siluet seorang wanita berambut violet dengan wajah yang tampak kabur, tubuhnya diselimuti oleh aura berwarna ungu violet yang sama dengan rambutnya.


Sosok wanita itu seolah menyatu dengan pedangnya, menebas semua musuh yang berada di depannya.


Kaelis mencoba mengikuti pergerakan itu, saat mencapai gerakan kelima tubuhnya terasa sangat berat, namun dia tetap terus mencobanya, hingga dia berhasil pada gerakan keenam.


Tanpa dia ketahui sebuah aura berwarna merah ruby mulai menyelimuti tubuhnya, rambutnya berwarna lebih gelap menjadi merah darah.


Saat Kaelis menyelesaikan gerakan ke 16, gerakan terakhir, dia membuka matanya, terlihat manik mata emas itu bersinar, matanya membulat melihat aura berwarna merah menyelimutinya.


"A-apa ... ini ... aura pedang?" Kaelis mengangkat kedua tangannya, dan pedang kayu yang terselimuti oleh aura merah itu, terlihat itu dapat di kendalikan.


"Siapa ... siapa wanita itu? Kenapa dia bisa muncul dalam mimpiku? Apa maksud perkataannya?" Fokus Kaelis terpecah, aura merah ruby yang menyelimutinya menghilang.


Kaelis terduduk di tanah, pikirannya mengembara pada mimpi yang dilihatnya.


Mimpi itu muncul selama satu bulan penuh sebelum libur di berikan, awalnya hanya seorang wanita berambut pendek violet berdiri diam di tengah ruangan gelap.


Pakaiannya terlihat aneh, sebuah armor putih perak dengan bentuk asing dilihatnya, dia memegang erat gagang pegangnya yang masih tersarung.


Kemudian Kaelis terbangun dengan napas memburu, itu berlangsung selama dua hari, dan pada hari ketiga, si wanita mulai menarik pedangnya, memperlihatkan bilah pedang yang tajam.


Aura berwarna ungu violet mulai menyelimutinya, Kaelis terpental, dan kemudian mimpi di hari ketiga berakhir.


Di bagian yang sama, itu bertahan hingga di hari ke empat belas, dan pada hari kelimabelas, wanita itu mulai mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang tidak dapat di tangkap oleh mata.


Itu berlangsung hingga hari ke 29, dan pada hari terakhir, wanita itu membuka mulutnya.


"Lihat dengan lebih jelas, semuanya hanya ilusi, kegelapan yang kau tahu sebenarnya adalah cahaya, dan cahaya yang kau tahu sebenarnya adalah kegelapan"


Wanita itu menyarungkan pedangnya, memunggungi Kaelis yang berdiri di ruangan itu.


"Ingat apa yang aku perlihatkan dan pelajari, nasib dunia bukan hanya ada padaku, tapi pada seluruh orang, dan kau adalah salah satu yang akan berpartisipasi di dalamnya"


Selesainya ucapan sang wanita, ruangan di sekitar mulai runtuh, dan tubuh wanita itu perlahan berubah menjadi partikel.


"Tunggu-" ucapannya kembali terpotong.


"Tolong perlakuan Aku dengan baik kali ini ya, Kaelis" Kaelis yakin, wanita itu menunjukkan senyum sedih di wajahnya yang kabur, dan ruangan itu benar-benar runtuh.


Pada saat itu, Kaelis terbangun dalam mood yang buruk, dan itulah mengapa dia menyetujui ajakan saudara kembarnya untuk berbuat onar.


"Argh! Ini hanya membuat kepalaku lebih pusing!" Kaelis mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.


"Entah kenapa tapi ... sepertinya aku sudah mengganti jalan pedangku, jalan untuk menemukan kebenaran? Terdengar konyol" Kaelis mendengus.


Kaelis berdiri, kembali mengangkat pedang kayu yang tergeletak.


"Apapun itu ... Aku ingin menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi, Aku ingin melampaui wanita itu, dan akan Aku buktikan" tubuh Kaelis kembali terselimuti aura merah ruby, mengayunkan pedang kayunya lagi dan lagi.


...


"Kalau waktu kali ini tidak berubah, maka Alexia akan sampai di sini sesaat sebelum makan malam bukan?" Liana duduk di atas salah satu dahan pohon yang tinggi, dengan memakan apel.


"Dia orang yang menyebalkan" Liana bergumam sambil mengunyah apel.


Lian menghabiskan satu buah apel, dia menepuk-nepuk batang pohon yang menopang seluruh pohon.


"Terima kasih sudah mengizinkanku duduk di sini dan membiarkanku memetik apelmu" Liana kemudian melompat turun.


"Baiklah, Aku pikir Paman Albert tengah beristirahat sekarang, bagaimana kalau Aku mengganggunya?" seringai jahil muncul di wajah Liana.


"Ayo ajak dia sparring dua putaran!" Liana kemudian dengan langkah riang, pergi menemui Albert.


Albert tengah beristirahat dengan memakan makan siangnya, dia memiliki wajah lega untuk beberapa alasan.


"Paman! Sudah kuduga Paman Albert ada di sini!" mendengar suara gadis kecil yang familiar di telinganya, Albert hampir saja menjatuhkan sendoknya.


"Ugh, Tuan Putri, apa yang Anda lakukan di sini?" senyum kaku muncul di wajah Albert.


"Paman, ayo sparring dua putaran" senyum manis Liana terlihat, yang bagi Albert itu sebuah senyum maut.


"Tidak, mungkin lain kali saja" Albert memakan makan siangnya dengan terburu.


"Paman, ayolah ...." Liana mengeluarkan tatapan berkaca-kaca di mata bulatnya.


Albert yang mendapat tatapan itu mulai merasakan keringat dingin di punggungnya, Albert menyelesaikan makanannya dan kemudian mengelap bibirnya dengan sapu tangan.


"Hah baiklah, kali ini saja okey? Aku bisa terkena masalah karenamu" Albert tidak tahan dan menyetujui permintaan sparring Liana.


"Hore! Paman Albert memang yang terbaik!" Albert memutar matanya jengah.


Setelah sparring dua putaran


Bruk!


"Astaga, ini sangat melelahkan, ini namanya bukan sparring dua putaran, tapi pertempuran antara hidup dan mati, juga, apa-apaan dengan aura membunuhnya itu, dia masih kecil" Albert terlentang di tanah.


"Paman, kau lelah?" Liana berjongkok di dekat Albert dan menusuk-nusuk pipi Albert.


Albert hanya diam tidak menanggapi, terlalu malas. Liana hanya tersenyum, dia merogoh saku celananya dan memberikan sesuatu.


"Ini untuk Paman, terima kasih sudah menerima ajakan sparringku kali ini, ayo lakukan lain kali" Liana meletakkan buah Roshan Vines di tangan Albert dan pergi begitu saja, tak lupa mengambil gaunnya.


"Gaunku kotor, Ayah pasti akan bertanya ini itu kepadaku" Liana pergi ke kastil utama.


"Apa ini?" Albert melihat buah di tangannya, bentuknya seperti buah markisa, tapi saat di genggam teksturnya seperti buah apel.


"Apapun itu makan saja, tidak mungkin juga Tuan Putri berniat membunuhku" Albert mulai memakannya.


"Mirip dengan apel, dan ada bijinya" Albert menghabiskan buah itu, dan melihat biji bulat yang tampak asing.


Stamina yang hilang akibat sparring perlahan pulih, mata Albert membulat, dia berdiri tiba-tiba.


"Darimana Tuan Putri mendapatkan buah ini?" Albert memandang biji itu dan menyimpannya.


"Hah, entah sejak kapan Kaisar membesarkan seorang kesatria tingkat 7 di istananya" Albert salah menebak, Liana baru saja mencapai tingkat enam.


"Apa yang baru saja Anda lakukan hingga pakaian Anda kotor, Sir?" Zack, menghampiri Albert yang memiliki pakaian kotor.


"Ah, tidak ada apa-apa, ada apa Zack?" Albert menepuk-nepuk pakaiannya yang kotor tertutup tanah dan debu.


"Anda sparring dengan wanita kesatria magang misterius sebelumnya?" Zack bertanya tiba-tiba.


Albert menyipitkan mata, entah Tuan Putrinya itu sengaja melakukannya atau tidak.


"Hm ya, jadi ada apa?" Albert mengambil pedang kayu yang tergeletak.


"Kaisar memanggil Anda Sir, Anda diminta untuk menyambut tamu di selatan kota, itu tamu penting" Zack menjelaskan.


"Ah begitu, kalau seperti itu Aku akan berganti baju dulu, Kau bisa pergi Zack, terima kasih sudah memberitahuku" Albert kemudian masuk ke dalam tempat dia makan siang sebelumnya.


Tempat itu merupakan tempat Albert tinggal di istana, dia mulai mengganti pakaiannya.


"Sepertinya Sir. Albert mengenal wanita itu" Zack kemudian pergi dari sana.