
Liana menatap sekeliling dengan penasaran, dia melepaskan genggaman tangan dengan sang Ayah, selesai makan siang tadi, Aaron mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Butuh waktu sepuluh menit dalam perjalanan, Liana menatap sebuah taman yang indah, penuh dengan berbagai macam bunga Peony yang berwarna-warni.
"Ah benar, ibu suka dengan bunga Peony, apa ini taman yang di buat khusus oleh Ayah untuk ibu?" batin Liana, dia melihat ke sekeliling sekali lagi, memang ada banyak bunga Peony berbeda warna.
Namun warna bunga di taman itu dominan berwarna merah dan merah jambu, yang mana warnanya mirip dengan rambut sang Ibu.
Liana berhenti, dia berbalik dan melihat Aaron tengah menatap kosong kearah langit, dengan satu tangan mencoba menghalau sinar matahari.
"Ah benar, ini adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa di masuki Sera, tempat di mana ibu sering menghabiskan waktu" Liana menjauh dari Aaron.
Dia berkeliling di taman itu, jalan taman yang terbuat dari bebatuan yang tersusun rapi, hingga Liana bisa melihat ada air mancur di tengah-tengah taman.
"Indah ...." Liana tanpa sadar mendekat kearah air mancur, langkahnya terhenti saat mendengar bunyi klik samar.
Liana menunduk, melihat dia menginjak satu batu yang terlihat seperti sebuah mekanisme.
Liana mundur selangkah, jalan bebatuan di sekitar air mancur mulai bergeser, terbelah menjadi dua, Liana terdiam sejenak, dia menunduk, ada tangga kecil menuju ke bawah dengan lorong yang gelap.
"Apa ini? Apa ini jebakan? tapi kalau iya, pasti yang terkena pertama kali adalah Ayah, bukan Aku, dia kan yang sering berkunjung ke taman ini" Lina bermonolog dalam hatinya.
Memandang dengan penasaran kearah tangga dan juga menyimpan rasa ragu. Liana mulai menampakkan kakinya pada anak tangga pertama.
Mulai menuruni tangga yang akan membawanya entah kemana. Saat Liana menginjak anak tangga ke sepuluh, jalan menapaki tangga mulai tertutup.
"... Di sini gelap" sebelum sempat Liana merapalkan mantra cahaya, sumber cahaya tiba-tiba saja muncul dari sisi dinding di tangga kecil yang dia masuki.
Liana melihatnya dengan seksama, cahaya itu berasal dari sebuah tanaman merambat yang berada di dinding, akar tanaman itu menempel kuat di dinding, daunnya lebar menjari berwarna hijau.
Liana menyentuhnya, dapat dia rasakan aliran hangat energi yang tidak terlalu familiar dengannya. Rasanya aliran itu begitu nyaman.
Felix yang sedari awal menyamar menjadi sebuah gelang mengubah dirinya kembali, dia ikut mengamati tanaman merambat itu.
"Roshan Vines" celetuk Liana, dia kembali mengelus tanaman merambat itu, Felix memiliki wajah terkejut.
Kyuu kyuu? [Liana, Kau tahu?]
"Kenapa kau terkejut seperti itu? Aku pernah membacanya sekali di buku, di sana tertulis kalau Roshan Vines sudah mulai punah" Liana dengan lembut mengelus tanaman merambat itu.
"Yah, aku bisa memaklumi itu, penggunaan sekala besar tanpa ada pelestarian, karena tumbuhan ini sangat bermanfaat bagi para penyihir" Liana mulai kembali melangkah.
Semakin jauh dia melangkah, tanaman merambat yang terlihat semakin rimbun, bahkan sudah ada yang menghasilkan buah.
Liana memetik satu buah, bentuknya mirip dengan buah markisa di luar sana, dengan warna buah berwarna merah dan bercahaya dalam kegelapan.
Namun tekstur dari buahnya seperti buah apel.
"Manis" Liana kemudian mengambil satu buah lagi dan memberikannya kepada Felix yang berada di pundaknya, rasanya mirip dengan buah anggur.
"Makanlah, ini bagus untukmu" Felix memiliki tampang ragu, dan dia mengambil buah itu, mulai memakannya.
Kyuu kyuu kyuuang [Benar! Ini manis, dan rasanya enak!]
Satu buah Roshan Vines pun habis dilahapnya. Felix di kelilingi oleh mana hijau yang menyegarkan, berputar di sekelilingnya, Felix membulatkan mata melihat hal itu.
Liana melihat hal itu dengan pandangan biasa, sudah terlalu banyak kejutan yang dia alami di kehidupan sebelumnya.
Liana terus menuruni tangga, satu persatu hingga dia sampai di anak tangga terakhir, terlihat sebuah pintu kayu bercat hitam.
"Ruang bawah tanah? Aku pikir ini jalan menuju lain tempat" Liana menoleh ke sekeliling, bukan hanya ada sebuah pintu, ruang di sana terlihat lebih besar.
"Cantik ...." Liana mengelus ukiran itu, dia mengagumi setiap goresan yang membentuk ukiran.
Bukan apa, tapi firasatnya mengatakan setiap goresan itu di buat dengan bermandikan keringat yang lebih dan lebih.
Berhenti mengagumi ukiran, Liana melihat bahwa kotak itu tidak di kunci, Liana dengan mudah membukanya, memperlihatkan apa yang ada di dalamnya.
"Hanya liontin dan kunci? Di kotak sebesar ini?" Liana mengambil keduanya, sebuah liontin tanpa kalung, warnanya berwarna merah crimson.
Serta kunci itu terbuat dari perak, besarnya seukuran genggaman tangan kecil Liana.
"Tampak familier, tunggu, bukankah ini liontin yang di pakai oleh si Sera itu? Dia menemukannya di sini?" Liana memandangi dengan seksama, dan benar saja.
Kyuu kyuu kyuuang? [Ada apa Liana?]
Felix yang sedari tadi terfokus pada mana hijau yang mengelilinginya seketika mengalihkan perhatiannya saat merasakan bahwa Liana tiba-tiba saja merasa kesal.
"Ah, tidak ada Felix" Liana berdiri, dia pergi menghampiri pintu itu dengan kunci di tangannya, liontin yang dia temukan dia masukkan kedalam ruang penyimpanan.
Felix mengikuti langkah Liana, kaki kecil bercakarnya menapak di lantai yang dingin dan terkesan kotor.
Liana memandang pintu yang memiliki tinggi tiga meter, dengan lebar dua setengah meter, dia menjulurkan tangannya, sedikit mengalirkan mana pada pintu itu.
Mana milik Liana mengalir dengan cepat, memenuhi sudut pintu bercahaya, membentuk pola sihir, pada awalnya pintu itu begitu polos, tanpa gagang ataupun lubang kunci.
Perlahan pola sihir itu meredup, terlihatlah dua gagang pintu yang berdampingan, ada lubang kunci di sana.
Liana memasukkan kunci di lubang kunci, dia memutarnya dengan perlahan, lalu mendorongnya.
Kriett...
Suara derit pintu bergema dengan nyaring dan keras memenuhi ruangan, Liana berjalan masuk ke dalam sana, diikuti Felix di belakangnya.
Liana terkesiap, pemandangan yang jarang dia lihat dapat dia lihat di sini.
Felix membulatkan mata, tempat dalam legenda yang hanya pernah dia baca terpampang jelas di depannya.
Roshan Vines yang tumbuh memenuhi lantai, di tengah-tengah ruangan yang sangat besar ada sebuah pohon besar di sana, cahaya menyorot dari atasnya, ada juga anak sungai kecil di bawah akar pohon yang menjuntai.
Sebelum Liana melangkah lebih jauh, daun-daun di pohon besar itu bergoyang, kemudian sesuatu menggelinding jatuh ke bawah.
"Apa ini? Tupai?" Liana berjongkok mengamati sesuatu berbentuk bulat yang menggelinding itu.
Dapat dia lihat sesuatu meringkuk membentuk bola dengan bulu berwarna merah pudar, Liana melirik Felix dan hal itu bergantian.
Cit cit cit
Suara cicitan kecil terdengar, sesuatu yang meringkuk itu mulai bergerak, dan dapat Liana lihat, perawakannya sangat mirip dengan tupai.
Sesuatu yang mirip dengan tupai itu mengangkat kepalanya, melihat kearah Liana yang tengah jongkok di dekatnya.
[Akhirnya kau datang, jadi kau putri bungsu Rafaela?]
Suara seperti seorang anak kecil terdengar di telinga Liana, dia menatap mata bulat tupai itu yang juga menatapnya.
"Kau kenal dengan ibuku?" celetuk Liana dengan wajah polos, Felix memperhatikan hal itu diam-diam.
Jika Liana sudah seperti ini, pasti ada sesuatu yang dia simpan di otak kecilnya itu.
"[Sungguh, memang penampilan bisa menipu]"