
Senyum manis terpatri di wajah Liana, anak laki-laki di depannya tampak tertegun sejenak, dia membalas jabat tangan itu dan memperkenalkan dirinya.
"Begitu, maaf sudah menyerangmu tadi, perkenalkan namaku ...."
"Aelius" mata biru anak itu bersinar di bawah sinar matahari, dada Liana kembali bergemuruh, perasaan yang tak pernah dia rasakan sedang dia rasakan sekarang.
"Ada apa sebenarnya dengan diriku?" senyum Liana semakin lebar, lebih lebar daripada garis bujur bumi yang membentang dari timur ke barat.
"Salam kenal, Aelius" Liana tersenyum lebih lebar hingga matanya menyipit, Aelius membuang muka diam-diam, ujung telinganya memerah.
"Manis ...." batin Aelius, dia merasakan dadanya bergemuruh, dan itu terasa hangat hingga menyebar ke seluruh rongga dadanya.
Adegan musim semi itu harus berakhir saat Felix yang merasa diabaikan membuka mulutnya.
Miaw~ [Viona, apa kita tidak jadi pulang? Bagaimana jika ayahmu tahu kau pergi diam-diam?]
Liana menoleh menatap Felix, benar juga, dia harus pulang. Aelius ikut menoleh, dia memandang Felix dalam bentuk kucing dengan penasaran.
Namun ia urungkan rasa penasarannya dan menatap kearah Liana.
"Kau menyelinap pergi?" Aelius bertanya dengan wajah datarnya, dia memiliki berkah selain dia terbangun lebih awal, dia memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan beast dan hewan.
Ya, sebenarnya tubuh mana bisa di bangkitkan dengan cara manual, begitupun dengan jantung mana. Walau begitu, biasanya itu dapat dilakukan jika orang itu sudah menginjak umur lebih dari 13 tahun.
Terbangun di umur antara 10 sampai 13 adalah hal normal untuk terbangun bukan? Namun sebenarnya, itu hanya berlaku bagi yang beruntung, seperti tubuhnya secara alami telah menyerap mana.
Dan kemudian suatu waktu mana itu mulai menyebar dan kemudian terbentuklah sebuah lingkaran yang mengelilingi jantung ataupun mana itu memenuhi seluruh bagian tubuh dan bergerak ke perut.
Pusat tubuh mana berada di perut, namun ada beberapa kasus dimana tubuh mana tidak memiliki pusat dan itu tersebar di seluruh tubuh, secara sederhana, pusat itu berada di seluruh tubuh.
Ada beberapa keuntungan dengan itu, seperti penggunaan mana yang menjadi lebih efisien.
Selain ada dua cara penyimpanan mana yang membentuk jantung mana dan tubuh mana, ada juga orang-orang yang terlahir dengan kemampuan spesial.
Contohnya seperti Aelius, biasanya orang sepertinya dijuluki penerjemah, memungkinkan dia untuk memahami bahasa hewan maupun beast.
Kemampuan itu dalam penggunaan tidak melibatkan mana sedikitpun. Sebenarnya ada banyak kemampuan spesial lain, tetapi Liana seakan lupa apa saja itu.
"Yah ... Aku tidak bisa menyangkalnya" Liana menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.
"Kalau begitu Aku pamit pulang dulu, sampai jumpa lagi Lius, semoga kita bisa bertemu di masa depan" Liana kemudian berbalik dan dia menghilang di hadapan Aelius, dia tidak khawatir dengan itu.
Toh, Aelius tidak mengenalinya seutuhnya. Melihat Liana menghilang di depannya, Aelius membelalakkan mata, kemudian dia menggelengkan kepala perlahan.
"... Berapa tadi umurnya? Sembilan tahun? Tapi kenapa dia tampak lebih muda dari itu?" Aelius menggelengkan kepala, berhenti memikirkan Liana.
"Dia hanya gadis aneh" Aelius menarik kembali pedangnya dari sarungnya, dia mulai memasang kuda-kuda dan mengambil napas, memulai kembali latihannya yang tertunda.
...
"Puah! Untung saja masih sempat" Liana sampai di kamarnya, dia mengelap keringat di dahinya, pakaian yang dia kenakan telah kembali menjadi gaun biru tua.
Mata dan rambutnya kembali ke warna normal, Liana saat ini tengah menyisir rambutnya yang agak kusut.
Krek
Derit pintu terbuka terdengar, Liana yang telah selesai menyisir rambutnya dan tengah memainkan bulu halus Felix menoleh, Felix yang sudah kembali ke bentuknya juga ikut menolehkan kepala.
Terlihat wajah Aaron agak lelah, menjadi lebih bersemangat saat melihat Liana yang tengah memainkan bulu seekor musang dengan bulu merah.
"Sudah waktunya makan siang, Liana ingin makan di kamar atau bersama di meja makan?" menghadapi pertanyaan Aaron.
Liana tampak terdiam sejenak, dia belum siap jika harus berada di antara mereka semua, walau dia ingin cepat-cepat bertemu dengan kakak keempatnya.
"Liana makan di kamar saja ya Ayah?" menanggapi kekhawatiran Liana yang dia sadari, Aaron mengangguk mengiyakan.
Lagipula, terlalu cepat untuk mereka berada dalam satu ruangan, dia sangat-sangat hapal dengan perangai ketiga anaknya yang lain.
Ketiga anaknya terlihat menyalahkan Liana atas kematian istrinya, tetapi, anak keempatnya terlihat lebih pendiam dan jarang mengekspresikan dirinya.
"Kalau begitu Ayah akan memanggil pelayan untuk menyiapkan makan siang dan membawanya ke kamar" Aaron berniat berbalik, sebelum dia merasakan tarikan kecil di ujung bajunya.
"Ada apa?" Aaron berbalik, Liana bergerak dengan gelisah saat merasakan sudah berada di ujung.
"Kamar mandi" jawab Liana singkat, Felix melihat hal itu dan menahan tawanya, astaga, kenapa Liana saat ini menjadi lebih menggemaskan?
Aaron memiliki senyum geli di wajahnya, Aaron membuka pintu, kebetulan ada Sean yang tengah lewat.
"Sean, antar Tuan Putri ke kamar mandi, Aku akan pergi dulu" tanpa menunggu jawaban Sean, Aaron pergi begitu saja.
Liana keluar dari kamar dan mencengkram erat gagang pintu, dia melihat kearah Sean seperti anak anjing yang tersesat.
Sean merasakan sesuatu mengenai dadanya, dia menghela napas menyingkirkan rasa marah kepada Aaron yang seenaknya memberikan perintah.
"Mari Saya antar, Tuan Putri"
...
"Lega!! Kamar mandi di kastil utama memang memiliki lebih banyak fasilitas dan juga bersih, ah lupakan, saat Aku belajar formula purification, aku tidak akan memerlukan toilet" Liana menyiram toilet yang dia pakai.
Liana keluar, dapat dia lihat Sean masih menunggu di depan kamar mandi, Liana mendongakkan kepala dan menatap wajah teduh Sean.
"Anda sudah selesai, Tuan Putri?" Sean menundukkan kepala menatap Liana, wajahnya tampak datar.
"Hm ya, ngomong-ngomong, nama Paman siapa? Dan juga, paman lucu dengan kacamata itu" sudut mulut Sean berkedut, saat dia pertama kali memakai kacamata ini, Aaron juga mengatakan hal yang sama.
"Panggil saja Saya Sean, Tuan Putri, terima kasih atas pujiannya" perempatan imajiner muncul di dahi Sean, dia diam-diam menarik napas dan mengelus dada.
"Ah, Sean, apa kau melihat Elena? Dari tadi pagi Aku belum melihatnya" Liana menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, seolah mencari Elena.
"Elena saat ini tengah menjalankan tugas dari Yang Mulia Kaisar, sudah waktunya untuk Tuan Putri makan siang, mari saya antarkan Anda kembali ke kamar" Liana mengangguk dan berjalan terlebih dahulu.
Raut kesal terlihat jelas di wajah Sean, dia benar-benar ingin mencekik Kaisar sekarang, cukup dengan Kaisar saja, sekarang ada anaknya yang sepertinya sifatnya 11/12 dengan Kaisar, sama-sama menyebalkan.
Saat sampai di kamar Kaisar, di atas meja sudah tersedia banyak makanan, Felix melihat dari atas kasur dengan mata penasaran.
"Woah, cepat sekali" batin Liana, dia mulai memasuki kamar, di sana tidak ada siapapun selain Felix.
Sean berhenti di depan pintu kamar, masuk ke dalam kamar Kaisar tanpa ijin sama saja tidak menghormati Kaisar.
Sebuah tangan menekan pundaknya, Sean menoleh, dapat dia lihat Aaron tengah memberinya tatapan.
"Kau bisa kembali sekarang Sean, jangan lupa kerjakan berkas yang kurang penting, aku berniat menghabiskan waktu dengan putri bungsuku" tanpa menunggu jawaban Sean, Aaron masuk ke dalam kamar.
"Dasar Aaron sialan!! Seenak jidat dia memberikan tambahan pekerjaan, oh god, kapan aku bisa pergi berkencan?" Sean meninggalkan tempat dengan wajah suram.
Kau akan bisa berkencan nanti Sean, kau hanya harus bersabar sekarang.