Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 03



"Permisi, Yang Mulia Kaisar"


Seorang kesatria lelaki dengan rambut pirang pucat membuka mulutnya, sedari awal dia berdiri tak jauh di belakang orang dewasa yang beradu tatap dengan Liana, merasa canggung dan diabaikan.


Entah kenapa Liana dan pria dewasa itu menoleh dan menatap kesatria itu dengan tajam, pada waktu hampir bersamaan.


Wajah sang kesatria memucat, di wajahnya tertulis dengan jelas seakan mengatakan “Hi! Sekarang ada dua Kaisar yang kejam di sini, sama-sama menakutkan!”


Liana tampak menghela napas diam-diam, dan dia mulai memasang wajah dengan tampang polos, matanya terlihat lebih bulat dengan sinar di sana.


"Yang Mulia Kaisar?" suara hangat dan riang Liana terdengar, dia memiringkan kepala dan menatap Kaisar polos. Kesan datar saat pertama kali bertemu tatap dengan Kaisar menghilang.


Kesatria sebelumnya memiliki wajah terkesiap, dia memandang Liana tidak percaya, kemana hilangnya anak dengan tampang datar sebelumnya?


"Nak, kau tidak tahu siapa orang yang berdiri di depanmu?" kesatria itu bertanya, guna mengalihkan pikiran absurd yang dia buat sendiri.


Liana mengerutkan kening dan menyentuh dagunya, membuat pose seolah dia tengah berfikir keras.


"Aku tidak tahu, tapi tadi Paman bilang Yang Mulia Kaisar, berarti, orang ini seorang Kaisar?"


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Liana, Kesatria itu memiliki punggung yang berkeringat dingin, takut jika sang Kaisar marah dan menghukum anak manis di depannya ini.


Kaisar tampak memiliki tampang linglung sebentar, sebelum dia mulai mengedipkan mata tiga kali, dan dia memiliki senyum miring di wajahnya, menyeringai.


"Apa? Pria ini tidak menjadi jauh lebih gila bu-" batin Liana terpotong oleh ucapan yang keluar dari mulut Kaisar.


"Anak kecil yang menarik dan pemberani, siapa namamu?" Kaisar berjongkok menyamakan tinggi Liana yang tidak mencapai perutnya.


Liana berkedip sekali dua kali, kemudian menjawab dengan senyum lebar di wajahnya.


"Liana, namaku Liana Agustina Lionsword" ucap Liana dengan lugas, memperkenalkan diri dengan senyum semakin lebar, hingga matanya ikut tersenyum.


Namun di balik senyum lebar itu, Liana tengah mengeluarkan berbagai sumpah serapah dalam hatinya.


Secara mengejutkan, tangan besar dan kasar Kaisar terangkat, mengelus rambut biru gelap Liana dan mengusaknya dengan wajah yang masih datar.


Liana terkejut, di sudut matanya memperlihatkan betapa terkejutnya dia, bahkan kesatria yang berdiri di belakang Kaisar sudah membulatkan matanya, seolah ingin mengeluarkannya dari rongga mata.


"Liana, ya, di mana pelayanmu? Mengapa kamu memakai pakaian seperti ini?" tanya Kaisar, wajahnya menjadi sedikit gelap saat mengajukan pertanyaan.


Sebelum sempat Liana menjawab, dia merasakan kakinya tidak lagi menapak tanah, dia menunduk dan melihat bahwa dia diangkat dengan mudah oleh Kaisar.


Wajah polos yang Liana buat hampir saja hancur, namun dia merasakan sebuah tangan menyangga bagian pantatnya dan sebuah tangan melingkar di sekitar tubuhnya, menggendongnya.


Rahang kesatria di belakang Kaisar hampir saja lepas dari tempatnya, di tambah dengan mata melotot.


First POV


Aku baru saja keluar dari kastil dan kemudian bertemu dengan Kaisar gila ini yang sialnya adalah “Ayahku”, keberuntungan yang buruk.


Aku sempat beradu tatap dengannya sebelum seorang kesatria pribadi orang ini membuka suara, dan segera aku memasang tampang pura-pura polosku.


Dia mulai berbicara dan bertindak keluar dari karakternya yang aku tahu, setahuku saat kami pertama kali bertemu dia sudah memiliki wajah tidak senang denganku, seolah aku adalah seorang penyusup.


"Liana, ya, di mana pelayanmu? Mengapa kamu memakai pakaian seperti ini?" pria ini memiliki wajah gelap saat bertanya, dia tidak akan menghukum Elena karena ku bukan?


Saat aku akan menjawab dan memberikan alasan, aku merasakan kakiku sudah tidak menapak tanah, aku menunduk sejenak sebelum melihat kedepan, melihat bahwa pria gila ini mengangkatku.


Seketika aku mengumpat dalam hati, wajah jengkel hampir tampil di wajahku.


Namun saat itu juga, aku merasakan sebuah tangan menyanggaku, dan sebuah tangan lain melingkari sekitar tubuhku.


Huh? Pria ini menggendongku?


Aku melirik ke belakang tubuh pria ini, Kesatria pirang itu hampir saja menjatuhkan rahangnya, berarti pria gila ini sungguhan menggendongku.


Tanpa mengatakan apapun, dia membawaku pergi, lebih tepatnya menculikku? Hei, ada penculik anak di sini! Ah, rasanya aku ingin memukul kepalanya.


Dari jauh, aku bisa melihat tatapan Elena yang diam-diam mengawasi dengan khawatir, aku menatap matanya dengan polos dan berkedip sekali dua kali, dia pasti ingin menolongku namun tidak berdaya, sama sepertiku.


Dia membawaku ke sebuah taman yang indah, jauh dari kastil yang aku tempati selama ini.


Aku bisa melihat ada 4 orang yang duduk di gazebo tengah-tengah taman, oh sialan, mereka adalah iblis berwujud manusia, yang sayangnya adalah “para kakakku”, mereka tidak pergi ke akademi?


Mereka terlihat berbincang, dan kemudian mereka diam saat melihat kami mendekat. Seketika wajah mereka berubah menjadi datar dan dingin, menatapku dengan tajam.


Kalian para pangeran sialan, aku jadi ingin melayangkan pukulan ke kepala kalian, kan jadinya. Liana, kau harus tahan, kau belum boleh memukul kepala mereka.


"Ayah, siapa yang Ayah bawa?" tanya kakak pertamaku, dia memiliki tubuh paling besar di antara kakak-kakakku yang lain, ciri-cirinya sama dengan diriku, rambut biru gelap dan mata merah Crimson.


Dua kakakku yang lain memiliki wajah yang sama, mereka adalah sepasang kakak beradik kembar, menatapku dengan tatapan benci. Semua orang sinting, mereka menyalahkanku?


Sementara, kakak keempatku, dia hanya menatapku sebentar sebelum membuang wajahnya, harus kuakui, aku lebih menyukai kakak keempatku daripada yang lain.


"Adikmu, Aldrich" jawab Kaisar singkat, wow wow wow, kau langsung melemparku ke kandang singa? Astaga, aku jadi ingin memukulmu.


Kakak pertamaku, Aldrich, menyipitkan mata menatapku, terlihat jelas tatapan marah dan bencinya kearahku.


Aku berpura-pura menjadi anak baik dan polos, aku kemudian tersenyum manis menatapnya, dia tampak tersentak? Ada apa dengannya?


Suasana hening dan canggung tercipta di sana, Kaisar membawaku duduk di tempat yang tersisa di gazebo dan memangku diriku.


Dari waktu ke waktu, aku menerima tatapan benci dari kakak kedua dan ketigaku, kakak keduaku namanya Kaelus, dan kakak ketiga bernama Kaelis, kami hanya saling diam dan beradu tatap.


Kakak keempatku, Lorenzo hanya diam-diam melirik kearahku sesekali. Mereka semua memiliki penampilan dingin, sama seperti Kaisar.


Ada beberapa pelayan datang membawa camilan, mereka menatapku penasaran, sebuah pertanyaan terpampang jelas di wajah mereka.


“Siapa anak kecil yang tengah di pangku oleh Yang Mulia Kaisar?” kira-kira seperti itulah pertanyaan yang mereka miliki.


Setelah mereka selesai, Kaisar Aaron, 'ayahku' mengusir para pelayan untuk pergi, mereka dengan patuh pergi, meninggalkan kami berenam di sini.


Bahkan kesatria sebelumnya juga diusir oleh Kaisar. Di meja, ada banyak camilan, dan kebanyakan adalah ... makanan manis? Oh, aku merasakan gigiku berdenyut tidak tahan sekarang.


Kaisar memindahkanku di kursi yang berhadapan dengannya, duduk di antara Aldrich dan Lorenzo. Aku tidak akan memanggil mereka kakak, aku bahkan lebih tua dari mereka.


Aku hanya diam menatap semua camilan itu, mereka mulai mengambil cangkir teh mereka dan menyesapnya.


Kaisar berhenti menyesap tehnya saat melihatku diam saja, kemudian melayangkan tatapan tajam kepadaku, apa salahku sekarang?


Bahkan mereka juga menatapku tajam, oy oy oy! Aku tidak berbuat salah atau apapun, baik?! Dapat aku rasakan punggungku berkeringat dingin, canggung dengan hal yang terjadi.


"Hik ..." bagus, sekarang aku cegukan karena terlalu gugup.


"Kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak suka?" pertanyaan itu keluar dari mulut Kaisar, mereka semua semakin tajam menatapku, aku bisa merasakan tatapan dari si kembar.


“Kau tidak tahu berterima kasih?” kira-kira seperti itu arti tatapan dari si kembar.


Aku dengan sangat terpaksa di bawah tatapan intimidasi mereka mengambil sepotong kue coklat di depanku, aku memandang kue itu sejenak.


"Aku tidak akan langsung memuntahkannya karena terlalu manis bukan?" batinku khawatir, aku mengangkat garpu guna memakan sepotong kue itu.


"Uhm ... selamat makan" aku memotong sebagian kue dengan garpu, memakannya dan mengunyahnya perlahan.


Rasa manis yang berlebihan menyebar di mulut, aku merasakan mual, menahan diri agar tidak memuntahkannya.


Melihat aku memakannya, mereka mulai kembali memakan camilan mereka, atau sekedar menyesap teh.


"Astaga, kapan ini akan selesai?" aku meratapi nasib, dan menyelesaikan sepotong kue coklat kecil.


"Aldrich, kapan kalian akan kembali ke akademi?" Kaisar membuka percakapan setelah lama hening.


Aldrich mengangkat kepalanya, dia sempat melirikku sebelum menjawab pertanyaan Kaisar.


"Aku pikir itu satu bulan dua Minggu lagi ayah, akademi juga mengalami renovasi karena ada dua orang pembuat onar yang mengacaukan asrama" jelas Aldrich sambil melirik sinis si kembar.


Kaisar menyadari arti tatapan itu dan melihat kearah si kembar, meminta penjelasan.


Akademi wajib dihadiri oleh anak dari para bangsawan yang sudah berumur 12 tahun, di sana adalah tempat para anak bangsawan membangun koneksi, walau ada juga dari kalangan rakyat biasa.


Lorenzo hanya diam menyimak, wajahnya terlihat relatif lebih lembut daripada mereka berempat.


"Kami tidak sengaja ayah, ada seseorang yang menjengkelkan, dan kami tidak sengaja membakar setengah dari asrama" Kaelus mengaku.


Kaisar menghela napas lelah dan tampak memijat pelipisnya.


"Kalian selalu saja membuat onar, tidakkah kalian membuat kakak kalian selalu kerepotan?"


Si kembar menunduk, merasa sedikit bersalah, ingat, hanya sedikit. Lagipula Aldrich adalah ketua departemen kedisiplinan yang menjengkelkan di akademi.


Mereka semua berbincang, dan aku hanya diam menyimak percakapan, Lorenzo hanya sesekali menyahut, aku menatap kearahnya secara berkala.


Aku jadi teringat pada kehidupan pertama, kejadiannya seharusnya tidak seperti ini, bukan?


Mereka berhenti berbincang saat mengetahui hari semakin siang, mereka semua memutuskan pergi, meninggalkan aku dengan Kaisar di sini.


"Aku lihat kau hanya memakan sepotong kue tadi, apa kau tidak menyukai camilan yang sudah disiapkan?" nada bicara Kaisar begitu dingin, aku mengepalkan tangan di bawah meja.


"Tidak seperti itu, Yang Mulia, hanya saja Saya kurang suka makanan manis" aku menjelaskan dengan menampilkan senyum terbaik yang aku bisa.


Ini hanya perasaanku saja atau memang pria gila ini baru saja kembali menyeringai? Sepertinya aku mulai mengalami gangguan kecemasan, bagus sekali.


Aku menatap dingin Kaisar dari sudut mataku, mencoba menyembunyikan hal itu, aku berkedip sekali dan mencoba mengatur napasku.


Kaisar kembali menyesap tehnya dengan tenang, sebelum dia kembali membuka mulut.


"Albert" Kaisar membuka mulutnya, kesatria berambut pirang sebelumnya muncul kembali di hadapan Kaisar, tepat di belakangku.


"Baik, Yang Mulia. Apa Anda memiliki perintah?" Albert, kesatria berambut pirang memberikan hormat.


Aku menatap ke sekitar Albert, dapat aku lihat sekumpulan mana di sekitarnya. Hm ... kesatria tingkat delapan, batinku.


Albert memiliki wajah tidak nyaman saat aku menatapnya, ya, aku tidak bisa menyalahkannya, lagipula aku tengah menilainya.


"Antar kembali anak ini ke kastilnya, kemudian pergilah ke ruang kerjaku" ucap Kaisar santai, aku menatap Kaisar sejenak.


"Baik, Yang Mulia" Albert menundukkan kepalanya.


Aku berdiri dan kembali menatap Kaisar dengan mata dingin yang sudah tidak bisa aku tahan.


"Kalau begitu saya pamit, Yang Mulia"


Sudahlah, aku hanya ingin tiduran di kasur sekarang.