
Pagi mulai beranjak siang, Albert sudah berada di depan kastil utara saat ini.
Dia memandang kastil utara yang terlihat tidak layak untuk di huni, tembok yang retak di berbagai tempat, tumbuhan liar yang merambat memenuhi tembok.
Seketika itu dia sadar, bukankah kastil utara adalah kastil untuk selir yang tidak diinginkan? Ini sama saja seperti tempat pengasingan.
Albert memandang lingkungan kastil utara yang sepi, tidak ada pelayan yang berlalu lalang di halaman kastil, Albert mengerutkan keningnya, dia sepertinya melupakan sesuatu.
Pintu kecil kastil terbuka, menampakkan sosok Elena yang berniat keluar saat merasakan hawa keberadaan Albert.
Albert terkesiap, dia menatap ke arah Elena yang memandangnya dengan tatapan datar.
"Ekhem, di mana Tuan Putri? Aku di sini datang untuk menjemputnya" Albert berdeham sekali, dia bertanya dengan wajah ingin tahu.
Elena diam sejenak, dia benar-benar melangkah keluar dari pintu kastil, menatap wajah penasaran Albert.
"Maaf, tapi tolong katakan kepada Yang Mulia Kaisar, Tuan Putri saat ini tengah sakit, tadi malam beliau terserang demam, dan saat ini tengah beristirahat di kamarnya yang cukup dingin" jelas Elena dengan kata sindiran di akhir.
Albert mengerutkan kening tipis, kata-kata pelayan di depannya ini, terdengar menyindir. Dia yakin itu adalah kata sindiran untuk Kaisar.
Albert terdiam sejenak, dia memutuskan untuk kembali dan memberitahu kepada Kaisar bahwa tuan putri tengah sakit saat ini.
"Kebetulan sekali, kemarin adalah hari pertama Tuan Putri bertemu dengan Yang Mulia Kaisar, dan malamnya dia terserang demam" batin Albert penuh dengan monolog.
"Ah begitu, Aku akan menyampaikan hal itu kepada Yang Mulia, semoga Tuan Putri lekas sembuh, Aku pamit undur diri" Albert menundukkan kepala sedikit, dan berlalu pergi dari sana.
Tatapan Elena berangsur-angsur lebih buruk, itu tampak dipenuhi dengan tatapan dingin yang kentara.
Elena dalam hati mengutuk Kaisar, dia memejamkan mata kemudian menghela napas panjang, dia harus tenang.
"Hufft- lupakan saja, Aku akan pergi ke hutan mencari tanaman herbal untuk obat Nona" Elena menutup pintu kastil rapat-rapat.
Dia mulai berjalan ke arah barat kastil, di sana ada hutan kecil yang belum terjamah sama sekali, dia tidak khawatir meninggalkan Liana sendiri di kastil, ada satu musang kecil yang mengaku familiar Liana yang menjaganya.
Aaron saat ini tengah berada di ruang kerjanya, sibuk dengan berbagai macam berkas di meja, laporan keuangan, berbagai macam keluhan dari rakyat, serta masih banyak lagi.
Dia menghela napas, memikirkan pemberontakan sudah di tangani dengan baik, dan para pelaku saat ini tengah di tahan di penjara bawah tanah.
Pikirannya terbang, dia memikirkan putri bungsunya yang akan datang kemari, senyum tipis terbit di wajahnya, senyum setipis kertas, dia tidak sabar untuk menghabiskan waktu dengan putri bungsunya.
Tok tok tok
"Permisi Yang Mulia, ini Albert" Aaron mendengar itu, dia menyuruh Albert untuk masuk.
"Masuklah Albert" dia berpura-pura membaca berkas, saat pintu terbuka, Aaron melirik kearah Albert yang sendirian, tanpa putri bungsunya.
Hal itu saat di tangkap oleh mata Albert dengan mudah, dia memberikan salam hormat kepada Aaron sebelum mulai menjelaskan.
"Tuan Putri saat ini terkena demam Yang Mulia, pelayan pribadinya mengatakan Tuan Putri tengah berisitirahat sekarang" jelas panjang lebar Albert.
Aaron mengangkat wajahnya, menatap Albert, seolah tengah menilai apakah Albert berbohong atau tidak.
Albert memiliki keringat dingin di punggungnya, Aaron kemudian berdiri dari meja kerjanya, setelah mengkonfirmasi kebenarannya.
"Albert, pergi cari Sean dan katakan untuk mengerjakan berkas yang ada, Aku akan pergi dulu" Aaron pergi begitu saja, Albert menjatuhkan rahangnya mendengar hal itu.
"Yang Mulia bersikap sama seperti 8 tahun yang lalu- ah" saat itu juga, Albert sadar akan sesuatu.
Seolah tengah di kejar sesuatu, langkah kaki Aaron semakin cepat, dia pergi ke kastil utara, merasa khawatir saat mendengar bahwa putri bungsunya sakit.
Aaron sampai di kastil utara, dia memandangi kastil yang terlihat sangat tidak terawat dengan lingkungan yang sepi.
Aaron seketika merasakan perasaan frustasi di dalam hatinya, putrinya bisa sakit karena lingkungan tidak sehat ini, dia harus membangun satu kastil lagi dekat dengan kastil utama.
Dengan langkah berat, Aaron berdiri di depan pintu kastil yang kecil, sebenarnya tidak terlalu kecil, hanya saja pintu itu bahkan tidak ada setengah dari besarnya pintu kastil lain.
Aaron menerobos masuk begitu saja, pintu kastil itu hampir lepas dari engselnya. terlihatlah dalam kastil itu, di dalam kastil kecil itu tampak bersih.
Aaron melangkahkan kakinya, melewati lorong yang panjang tanpa ruangan lain, kastil utara memang di rancang dengan kastil kecil yang hanya memiliki dua kamar tidur.
Lagipula ini adalah tempat di mana seorang selir diasingkan, ukurannya bahkan tidak ada lebih dari setengah besarnya kastil timur, yang terkenal dengan kastil terkecil.
Langkah Aaron terhenti di depan pintu kamar dengan cat biru, kayunya tampak telah lama termakan oleh usia.
Hatinya terasa dingin, seolah-olah dia baru saja di guyur dengan air es.
"Aaron, sebenarnya apa yang kau lakukan di masa lalu? Apa yang telah putri bungsumu lakukan hingga kau menempatkannya di sini?" Aaron mengutuk dirinya sendiri.
Sekarang dia rela, jika putri bungsunya membencinya, dia tidak akan protes, ini sepenuhnya karena salahnya, tapi, bukan berarti dia hanya akan diam saat putri bungsunya membencinya.
"Ibu ...." suara lirih terdengar dari dalam kamar, tubuh Aaron terasa kaku.
Kriett....
Aaron tersenyum miris mendengar derit pintu yang nyaring, saat pintu terbuka lebar, dapat dia lihat interior kamar yang terkesan sangat sederhana.
Aaron melangkah, masuk dengan langkah kaki penuh kehati-hatian, dapat dia lihat, sebuah gundukan di bawah selimut tipis baginya.
Hati Aaron seakan tertusuk pisau saat itu juga, tangannya bergetar, dan bergerak dengan ragu, menyibak bagian selimut yang menutupi sosok di balik gundukan itu.
Terlihatlah wajah pucat Liana, Aaron meletakkan tangannya di dahi Liana, terasa panas yang membakar kulit.
"Ugh- Ayah ... kenapa kau tidak menatap kearahku sekali saja? Aku hanya ingin Ayah menatapku, sekali saja" Liana mengigau dalam tidurnya, penuh dengan air mata.
Demam yang dia derita membawa kembali kenangan buruk yang sudah hampir dia lupakan dalam bentuk mimpi.
Aaron seketika tegang, sekarang dia semakin yakin, bahwa putrinya itu terlahir kembali, wajah Aaron menjadi sendu, ah, ini semuanya salahnya.
Langkah kaki terdengar, Aaron mengabaikan hal itu, tangannya mengelus kepala Liana lembut.
"Yang Mulia?" suara terkejut terdengar, Aaron menoleh, di lihatnya seorang wanita dengan pakaian pelayan menatapnya dengan mata membulat.
"Elena?" Aaron membuka mulut ragu, dia ingat sekarang, Elena adalah kesatria pribadi Rafaela, mendiang istrinya.
"Apa yang anda lakukan di sini, Yang Mulia Kaisar? Bukankah Anda begitu tidak memperhatikan dan bahkan tidak peduli dengan Nona Muda? Apakah Anda berniat menjilat ludah sendiri?" ucap Elena menyindir.
Aaron terdiam, wajahnya menunjukkan mimik penyesalan, dia tidak marah dengan sikap kurang ajar Elena, dia pantas untuk itu.
Jika boleh jujur, Elena sangat ingin memukul Kaisar di depannya ini, dia masih ingat dengan janji yang Kaisar ini katakan.
Namun apa? Dia mengingkarinya, dan Elena membenci seorang yang tidak menepati janjinya, apalagi itu adalah sebuah janji yang di buat dengan mendiang permaisuri.
Aaron menatap keranjang buah yang berisi berbagai tanaman herbal di tangan Elena, berpikir mungkin itu adalah obat untuk Liana.
Aaron mengumpulkan mana di tangannya yang tengah mengelus kepala Liana, Elena yang melihat itu seketika maju, tatapannya tajam menatap Kaisar di depannya.
Memberikan peringatan untuk tidak berbuat macam-macam kepada Nona Mudanya, Aaron mengabaikan hal itu, dia perlahan menyalurkan mana ke tubuh Liana.
Mana dengan warna keemasan terlihat, mulai mengalir, menyelimuti Liana.
Itu adalah sihir penyembuhan milik Aaron, memandang wajah Liana yang berangsur membaik, Aaron mengulas senyum tipis.
Elena melihat hal itu dalam diam, Felix terlihat keluar dari bawah kolong ranjang dan mendekat kearah Elena.
Tatapan Felix dan Elena bertemu, mereka seperti memiliki satu pemikiran yang sama.
Merasakan mana hangat yang mengalir, Liana perlahan membuka matanya, pandangannya terasa buram, namun dapat dia lihat siluet seseorang tengah berada tepat di sampingnya.
"Ayah? Apa itu kau?" suara serak terdengar, dengan nada tidak percaya.
Sebelum Aaron membuka mulut, Liana sudah kembali berbicara.
"Tapi tidak mungkin, Ayah tidak pernah menyayangiku, tidak pernah mau melihat kearahku, Ayah hanya menyayangi Sera" suara Liana terdengar semakin lirih, hingga satu isak tangis lolos dari bibirnya.
Aaron panik, namun dia masih menampilkan wajah datarnya, sembari terus menyalurkan mana kepada Liana.
Ingatan Liana bercampur aduk sekarang, namun ingatan kehidupan pertama paling dominan muncul, Liana menangis.
Aaron tersenyum sedih, mengarahkan tangan lain dan mengelus lembut wajah Liana, mengusap air mata Liana yang mengalir.
"Sayang, ini Ayah, jangan menangis, maafkan Ayah" suara Aaron melembut, Elena yang hanya diam dan melihat adegan di depannya membulatkan matanya sempurna.
"Bohong, Ayah bahkan tidak mau menatapku, apalagi memanggilku dengan panggilan sayang" air mata Liana mengalir semakin deras, isakan tangis lebih banyak terdengar.
Bagus, Aaron merasa semakin bersalah sekarang, berapa banyak dia meninggalkan luka pada putrinya ini? Dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Aaron mendudukkan tubuh Liana, kemudian memeluknya erat, suaranya terdengar bergetar menahan isak tangis yang bisa saja keluar saat itu juga.
"Maafkan Ayah, Ayah benar-benar menyesal, tolong maafkan Ayah" Liana hanya diam, namun tak ayal tangisannya menjadi semakin keras.
Jika ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan dia, dia ingin merasakan kasih sayang ayahnya kepadanya lebih banyak, dia hanya butuh itu, bukan hal lain.
Elena memiliki mata berkaca-kaca, dia mengambil Felix kemudian pergi keluar, memberikan ruang untuk Kaisar dengan putrinya.
"Permaisuri, sepertinya keajaiban telah terjadi, mungkin, Nona akan bisa merasakan kasih sayang dari Kaisar, Saya akan terus berada di samping Nona, melindunginya" gumam Elena saat dia telah jauh dari kamar Liana.
Felix hanya diam, dia menepuk-nepuk punggung tangan Elena, dan menatap Elena dengan mata bulatnya.
Ini permulaan yang baik, bukan begitu? Aku berharap untuk kebahagiaan semua orang kedepannya.