Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 02



"Nona, turunlah dari sana, itu berbahaya, bisa saja Nona jatuh dari sana!" teriakan khawatir Elena terdengar, dia saat ini berdiri di bawah pohon apel yang rindang dan tinggi.


Elena saat ini tengah memanjat pohon apel itu, dan duduk di salah satu dahan pohon.


Liana mendengar teriakan Elena di bawah, menundukkan kepala dan menunjukkan senyum lebar.


"Jangan khawatir Elena, aku tidak akan jatuh" Liana menatap langsung mata Elena dengan sebuah apel di salah satu tangannya.


"Nona, Saya mohon turunlah, Anda bisa terjatuh" mendengar nada memohon Elena, Liana tidak mampu menahan senyumnya, kemudian dia tertawa.


"Haha, baiklah Elena, aku turun sekarang" Liana mulai menampakkan kakinya di dahan pohon satu demi satu, turun dari pohon dengan tidak biasa.


Kemudian saat mencapai dahan pohon terakhir, Liana melompat kebawah begitu saja.


Elena dengan sigap menangkap tubuh Liana yang terjatuh, jantungnya sempat hampir melompat dari tempatnya saat melihat Liana lompat turun begitu saja.


"Astaga Nona, Saya mohon jangan seperti itu lagi, bagaimana jika Nona jatuh dan terluka?" nada Elena semakin khawatir, tak urung juga terdengar nada kesal di sana.


"Tidak akan jatuh, lagipula, Elena akan selalu ada di sisiku dan melindungiku" ucap Liana dengan wajah dan senyum polos.


Dua tahun telah berlalu, dua tahun Elena merawat Liana, dan dia terkadang merasa tertekan.


Bagaimana tidak? Kadang Nona Mudanya itu akan melakukan hal berbahaya, salah satu contohnya adalah seperti tadi, Liana melompat begitu saja.


Elena mendengar ucapan Liana, dia merasa kesal, namun tak ayal, hatinya juga di selimuti perasaan hangat.


Nona Mudanya ini begitu percaya kepadanya, dia berjanji kepada dirinya sendiri, dia tidak akan pernah membuat Nona Mudanya ini kecewa, apalagi mengkhianatinya.


Elena menurunkan Liana, dia menunduk dan menatap Liana dengan mata tersenyum, senyuman yang sedikit mengerikan.


"Apa Nona mulai merasa lapar? Saya pikir ini sudah hampir waktunya makan siang" Liana berdiri di dekat Elena.


Dapat dilihat tingginya yang hampir seperut Elena, padahal Elena termasuk wanita dengan tubuh tinggi.


"Saat Elena bertanya aku mulai merasa lapar" jelas Liana, dia mendongak menatap Elena.


"Kalau begitu, Saya akan pergi ke dapur dan menyiapkan makan siang untuk Nona, apa yang ingin Nona makan untuk makan siang? Akan segera saya siapkan" Elena membungkuk.


"Masakan Elena semuanya enak, jadi aku tidak akan protes dengan masakan yang dibuat Elena" tukas Liana dengan ceria, Elena mendengar hal itu dan wajahnya tersenyum semakin lebar.


"Baiklah, kalau begitu siang ini kita akan memiliki sup ayam bayam, akan segera Saya siapkan" Elena pamit pada Liana, sebelum pergi dia memberikan salam pada Liana dengan membungkuk.


Selepas kepergian Elena, Liana berjalan di bawah pohon apel sebelumnya dan duduk bersandar pada batang pohon.


Wajahnya yang tampak manis saat bersama Elena menghilang, digantikan dengan wajah datar dan acuh tak acuh.


Mata merah crimson nya menatap sekeliling dengan acuh, sebelum dia mulai membuka mulut, memanggil partnernya.


"Felix, ke marilah, kau bisa keluar sekarang" nada bicara Liana terdengar lembut.


Semak di dekat pohon bergoyang perlahan, tak lama selepas itu Felix keluar dari sana, menampakkan dirinya.


Kyuu kyuu? [Ada apa, Liana?]


Felix bertanya, dia berdiri dengan kedua kaki belakang dan menatap Liana dengan rasa ingin tahu.


Liana hanya diam, dia mulai menggerakkan jarinya dengan acak, dan perlahan tanah di dekatnya bergetar perlahan.


Dari dalam tanah, terlihat sesuatu keluar, Felix melihat hal itu dengan mata berbinar, sesuatu yang keluar ternyata adalah bijih besi.


Bijih besi sebesar kepalan tangan orang dewasa terlihat, itu mulai melayang dan kemudian membentuk sebuah pistol glock 19.


Felix memiringkan kepala, hal asing apalagi yang dibuat oleh partnernya ini?


"Makanlah itu, aku tahu kau lapar, jika kau penasaran apa nama benda ini, ini namanya pistol glock 19" jelas Liana dengan setengah hati, dia tidak terlalu paham dengan pistol seperti ini.


Namun dia pernah memegang pistol glock 19 sekali, dan dia pikir ini layak untuk serangan jarak jauh.


Kyuu kyuu kyuuang [Baiklah aku makan, aku heran darimana kau tahu hal seperti ini]


Felix mengambil pistol itu, kemudian mulai mengunyahnya perlahan.


Liana mengelus kepala Felix lembut, matanya sesekali bersinar saat tengah memikirkan sesuatu.


Perkembangan Liana cukup lambat selama dua tahun ini, dia hanya berhasil membentuk satu lingkaran dan meningkatkan satu tingkatan tubuh mananya.


Menurutnya itu termasuk perkembangan yang lambat, dia tidak tahu saja, di luar sana, orang yang bisa mencapai lingkaran ke empat termasuk jarang, apalagi dia baru berumur 5 tahun sekarang.


Di luar seseorang dengan lingkaran ke empat sudah dianggap lumayan kuat, dan biasanya memiliki jabatan yang lumayan tinggi di suatu tempat.


Liana mulai merasakan dia mengalami kemacetan, dia tidak bisa menerobos ke lingkaran ke lima, Liana berpikir, sudah saatnya untuk beralih melatih kekuatan fisiknya.


Sejujurnya, Liana sering berlatih secara diam-diam di malam hari, Elena, pelayan pribadinya tidak tahu akan kelakuannya pada malam hari.


Saat tengah malam, Liana terkadang melakukan hal nekat dengan pergi keluar dari lingkungan kastil dan melihat ke luar kastil.


Pernah sekali dia keluar dan menyelinap pergi ke daerah pasar di dekat kastil, di sana, dia di hadang oleh penjahat pasar yang bersembunyi.


Liana tidak merasa takut sama sekali, dia memberikan mereka masing-masing satu pukulan, dan mereka semua pingsan.


"Nona! Makan siang sudah siap!!" suara teriakan Elena terdengar, Liana tersadar dari lamunannya, bangkit berdiri dari duduknya, mengelus kepala Felix sekali sebelum melangkah pergi.


"Jika sudah selesai kau bisa pergi kemanapun kamu mau, tapi jangan sampai tertangkap penjaga kastil, okey?" Liana memberitahu Felix seperti seorang kakak kepada adiknya.


Kyuu kyuuang [Baiklah Liana]


Liana sampai di halaman kastil utara, terlihat kastil itu yang tidak terawat, Liana mengabaikan keadaan kastil dan masuk kedalam, melihat Elena menyiapkan makanan di meja.


"Silahkan di makan, Nona" Elena memberikan piring dan peralatan makan lainnya, sebelum mulai mengambil dua langkah mundur kebelakang.


"Terima kasih Elena" Liana mulai mengambil makanan dan memakan sup itu, dia makan tanpa sungkan di depan Elena.


Dia tahu para pelayan mendapatkan jatah makannya sendiri, dia akan menghabiskan sup yang di buat Elena untuknya hingga tandas.


Itu adalah cara Liana menghormati masakan yang dibuat oleh Elena, dan setiap kali Liana menghabiskan makanannya, Elena memiliki wajah kepuasan tersendiri.


Saat selesai makan, Elena mulai membereskan peralatan bekas makan Liana, Liana menghentikan Elena saat wanita itu hendak keluar dengan piring kotor.


"Apa yang Nona maksud? Saya hanya pelayan biasa yang tidak tahu cara menggunakan pedang" balas Elena terdengar begitu tenang.


Liana menyunggingkan senyum miring yang jarang dia perlihatkan, Elena melihat senyuman Liana dan tidak bisa menahan hawa dingin yang menjalar di punggungnya.


"Oh ayolah Elena, Aku tahu dari pergerakan tangan dan kakimu, bahkan kulit tanganmu memiliki bekas kapalan yang tidak biasanya dimiliki oleh pelayan biasa" Elena terdiam mendengar penjelasan Liana.


Helaan napas terdengar dari Elena, Elena memilih mengembalikan piring-piring kotor itu terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Nona Mudanya.


Liana tersenyum manis duduk di kursi, memandangi kepergian Elena.


Tak butuh waktu lama, Elena telah kembali dari meletakkan piring kotor, dia menundukkan kepala, hormat kepada keluarga bangsawan seperti biasa.


"Ayolah Elena, tidak perlu seperti itu" Liana berbicara dengan nada main-main.


"Bagaimana Anda bisa mengetahuinya, Nona Muda?" nada penasaran terdengar dari Elena.


Liana menopang dagunya dan tampak berpikir sejenak.


"Ya, sebenarnya aku hanya menebak" jawab Liana dengan nada main-main, entahlah, dia merasa sedang ingin menggoda Elena lebih jauh sekarang.


"Nona hanya menebaknya?" nada terkejut dan tidak percaya keluar dari mulut Elena, Liana mengangguk singkat dengan wajah serius.


"Bukan itu inti permasalahan sebenarnya" Liana membalikkan tubuhnya menghadap Elena.


"sebenarnya aku ingin memintamu melatihku cara berpedang, tapi jika kau tidak mau aku tidak masalah" lanjut Liana tepat pada intinya.


Elena mengangkat kepalanya, dia menatap Nona Mudanya yang memiliki nada bicara berbeda dari biasanya kepadanya.


Sebenarnya saat pertama kali bertemu dengan Liana, Elena memiliki kecurigaan pada kecerdasan Liana yang jauh lebih tinggi melampaui anak-anak seusianya.


Itu hanya kecurigaannya belaka selama dua tahun ini, namun ternyata kecurigaannya itu terbukti benar.


"Dengan senang hati Saya akan mengajari Anda, Nona Liana" Elena berlutut didepan Liana, Liana melihat hal itu dan segera menyuruh Elena untuk bangun.


"Hei bangunlah, jangan berlutut kepadaku seperti itu, itu terlihat aneh" Liana memiliki wajah aneh saat melihat Elena yang berlutut kepadanya.


Elena berdiri sesuai keinginan Liana, dia memandang Liana dengan tatapan yang berbeda, itu masih sama penuh dengan rasa hangat dan kasih sayang, namun ada tatapan lain, tatapan kagum dan hormat.


Liana melihat tatapan mata Elena dengan jelas, dia merasa canggung yang tidak bisa dia jelaskan.


...


Liana merasakan cahaya matahari masuk kedalam kamarnya, dengan malas Liana bangun dan meregangkan tubuhnya.


"Hoam ... selamat pagi Felix, bagaimana tidurmu tadi malam?" Liana menapakkan kakinya di lantai, sementara tubuhnya masih terbaring di atas ranjang.


Kyuu kyuuang [Selamat pagi juga Liana, tadi malam aku kurang nyenyak, aku bermimpi buruk tadi malam]


"Ho? Kau juga bisa bermimpi buruk juga ternyata, Felix, aku lelah sekali, rasanya aku hanya ingin tidur di kamar seharian, tapi Elena pasti tidak akan membiarkan hal itu" keluh kesah Liana.


Tak terasa, dua tahun telah kembali berlalu, kini Liana berumur tepat tujuh tahun.


Felix sudah bagaikan tempat dan teman curhat Liana selama dua tahun ini, terkadang pelatihan berpedang yang dia dapat dari Elena terasa sangat diluar akal sehat.


Kyuu kyuu kyuuang [Tentu saja aku bisa bermimpi buruk! Aku sudah mengatakan untuk berhenti berlatih tadi malam, padahal pada siang hari kau sudah banyak berlatih, tapi kau tidak mendengarkanku]


Felix menepuk-nepuk dahi Liana dengan kaki kecil bercakarnya, Liana hanya bisa membuat wajah cemberut.


"Bagaimana bisa aku berhenti tadi malam saat aku merasakan akan mendapat pencerahan?" sanggah Liana dengan tidak puas.


Felix menggelengkan kepalanya, kemudian berkata dengan nada menyerah.


Kyuu kyuu [Baiklah-baiklah, tadi malam Liana kita mendapat pencerahan dan berlatih sampai larut malam]


Selama dua tahun ini, Liana sudah lebih banyak berkembang, dia sudah berhasil mencapai lingkaran ke lima, namun, tubuh mananya terhenti di tingkat keenam selama dua tahun terakhir.


Liana bangun dengan malas, teringat jadwal latihannya untuk hari ini dengan Elena.


Dengan setengah hati, Liana pergi ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya, usianya saat ini menginjak tujuh tahun.


Selama itu, dia tidak pernah bertemu dengan keempat kakak laki-lakinya yang menyebalkan di kehidupan pertama, dia juga belum bertemu dengan Kaisar.


Jika tidak salah dalam ingatannya, dia akan bertemu dengan keempat kakaknya dan Kaisar pada umur delapan tahun, saat itu dia tidak sengaja tersesat saat bermain.


Dan saat itulah, penderitaannya mulai berdatangan, mengingat hal itu membuat Liana merasa merinding dan ingin muntah.


"Ugh, aku pada kehidupan pertama terlalu naif dan membuatku mual saja, aaaaaa! Sudahlah, lebih baik aku keluar dari kamar mandi, sudah waktunya untuk sarapan" Liana keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya.


Sesampainya di luar, Liana mulai mencari pakaian yang akan dikenakannya, Liana mengambil satu pakaian putih berlengan panjang dan celana biru tua panjang hingga atas mata kaki.


Liana mengikat rambut biru gelap sepinggangnya gaya ekor kuda, Liana memandangi pantulan dirinya di cermin dan tersenyum puas.


"Felix, seperti biasa" Liana memandangi Felix yang tengah memakan cemilan paginya.


Kyuu kyuu [Baiklah Liana]


Felix mendekat dan kemudian mulai berubah menjadi sebuah gelang yang melingkari tangan Liana.


Bukan hanya berubah menjadi gelang biasa, itu adalah gelang penyembunyi mana, terlihat seperti gelang kayu berwarna merah mengikuti warna bulu Felix.


Tinggi badan Liana lebih dari rata-rata tinggi anak perempuan seusianya, jika rata-rata tinggi mereka 111 cm, Liana memiliki tinggi hingga 117 cm.


Itu karena Liana rajin mengikuti pelatihan yang di berikan Elena.


Saat melihat Elena tidak ada di manapun di kastil utara, Liana pergi keluar melalui pintu depan kastil.


Namun saat baru saja keluar dari kastil, Liana bertemu tatap dengan sepasang mata merah Crimson seorang pria dewasa yang sama dengan warna matanya.


"Sialan" Liana mengutuk dalam hati, seharusnya dia bertemu dengan pria didepannya ini setahun yang akan datang, bukan pada waktu ini.


Liana memandang pria itu datar, dan di balas dengan tatapan tak kalah datar dari pria dewasa di depannya, hingga terjadilah peristiwa adu tatap.


Keadaan di sekitar sungguh sepi dan sunyi, orang lain mungkin tidak akan tahan dengan suasana itu, mereka berdua masih setia beradu tatap sebelum sebuah suara menginterupsi mereka.


"Permisi, Yang Mulia Kaisar"