Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 04



Liana berjalan kembali menuju kastil utara, dia berjalan memimpin seolah sudah tahu tata letak istana keseluruhan.


Tentu saja dia sudah tahu, lagipula di kehidupan pertama dia sudah puas berkeliling daerah istana ini hingga mati kebosanan.


"Paman, tadi nama Paman Albert bukan?" Liana membuka mulutnya, sambil melirik kearah Albert yang sedari tadi berkeringat dingin.


"Ya, Tuan Putri. Nama Saya Albert" balas Albert singkat, dia merasa jika terlalu banyak berbicara kepada anak ini. Dia mungkin saja akan mengekspos sesuatu kepada anak ini.


Liana mengangkat sebelah alisnya, dia di panggil tuan putri? sungguh? Si Kaisar tidak memiliki sesuatu di balik lengan bajunya bukan?


"Kenapa orang gi- tidak, kenapa kaisar tadi membawaku begitu saja? Kami bahkan tidak saling mengenal sebelumnya"


Menghadapi pertanyaan polos dari anak kecil di depannya, itu hanya menurut Albert. Albert memutar otaknya untuk memberikan jawaban kepada anak ini, ada dia beri saja tahu semuanya, ya?


"Sebenarnya, Yang Mulia Kaisar sudah memerhatikan Tuan Putri sejak beberapa waktu, kemudian beliau memutuskan mengunjungi Anda pagi tadi"


Liana mengerutkan keningnya, "Aneh, apa kau yakin itu alasannya?" tanya Liana dalam hati.


Liana diam membisu, tidak membalas apa alasan yang dijelaskan oleh Albert.


"Ah, Paman Albert, kita sudah sampai sekarang" mendengar ucapan Liana, Albert mengalihkan pandangan ke depan dan melihat bahwa mereka benar-benar sudah mencapai kastil utara.


Rahang Albert hampir saja jatuh, dia memandang Liana tidak percaya, dia yakin kalau anak di depannya ini belum pernah berkeliling menjelajahi wilayah kastil.


"Anak ini bukan jelmaan Iblis yang menyusup bukan? Dia bukan seorang mata-mata yang menyamar menjadi Tuan Putri bukan?"


Begitulah isi pikiran Albert, sementara itu Liana tersenyum kecut saat mengetahui isi pikiran Albert.


"Jelmaan Iblis atau mata-mata pantatmu, jika aku benar-benar jelmaan Iblis ataupun mata-mata, aku tidak akan mau di suruh memata-matai Kekaisaran ini, itu sama saja cari mati" batin Liana.


"Nona Liana!!" sebuah teriakan menyadarkan kedua orang itu, dapat Liana lihat, seseorang tengah berlari menyambut kearahnya.


"Elena!!" teriakan Liana pecah, dia berlari menuju Elena dan kemudian melompat ke arah Elena.


Jika saja Elena tidak menangkapnya, sudah bisa dipastikan dia jatuh kemudian terluka.


"Astaga Nona, Saya mohon jangan tiba-tiba melompat seperti itu, itu berbahaya, bagaimana jika tadi Saya tidak sempat menangkap Nona dan kemudian Nona terluka?" khawatir Elena panjang lebar.


"Hehehe, tidak akan, lagipula aku percaya Elena akan selalu melindungiku" ucap Liana dengan senyum manis di wajahnya.


Albert sedari tadi menyimak adegan di depannya dan hampir kembali menjatuhkan rahangnya, tuan putrinya ini bisa memiliki dua image yang berbeda, tunggu, tuan putrinya?


"Maaf, siapa tuan kesatria ini?" nada bicara Elena menjadi berbeda, itu terdengar dingin di suaranya.


"Apa ini? Kenapa tuan dan pelayan ini bisa memiliki kemiripan seperti ini?" cibir Albert dalam hatinya.


"Aku? Namaku Albert, aku kesatria pribadi sang kaisar, kau pasti pelayan dari Tuan Putri Liana bukan?"


Elena mengangkat sebelah alisnya, kemudian memandang kearah Liana yang memiliki tampang acuh tak acuh.


Melihat reaksi Elena, Albert menganggukkan kepala seolah dia paham akan sesuatu.


"Baiklah, sudah waktunya saya untuk kembali, Tuan Putri, besok Saya akan menjemput Anda di pagi hari, Kaisar meminta Anda untuk mengenakan pakaian yang lebih layak" pamit Albert.


"Apa-apaan ini!! Tidak layak dia bilang!? Ini pakaian yang Elena buat sendiri!! Setidaknya belikan aku pakaian! Bukan hanya mengkritik seperti orang buta!" maki Liana dalam hati.


Tolong ingatkan Liana dia harus menahan dirinya jika dia ingin segera pergi dari istana kekaisaran, dia bisa meledak kapan saja sekarang.


Setelah mengatakan itu, Albert pergi dari sana, meninggalkan Elena dan Liana berdiri di sana.


"Liana, jika kaisar kehilangan kesatrianya itu, itu tidak akan menjadi masalah bukan?" tanya Liana dengan mata melotot marah.


Elena berdeham sekali, dia tahu seberapa menakutkannya anak ini jika sudah marah ataupun jengkel dengan seseorang.


"Jangan lakukan itu Nona, atau Anda akan berada dalam masalah" jelas Elena dengan keringat dingin sebesar biji jagung di dahinya.


"Permaisuri, Anda melahirkan seorang monster di sini" batin Elena dengan perasaan tertekan.


Sementara di sisi Albert, dia berdiri di depan sebuah pintu ruangan yang besar, tampak dia menghela napas sekali dan mulai mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Yang Mulia, Albert ada di sini, memenuhi perintah Yang Mulia" nada bicara Albert berbeda dari sebelumnya, itu terdengar serius.


"Masuklah ke dalam, Albert" sahut Kaisar yang telah berada di dalam.


Ada seorang pria dengan rambut berwarna hijau lumut juga berada di sana, memakai kaca mata kotak berlensa tipis yang bertengger di hidungnya.


Manik matanya yang berwarna senada dengan rambutnya menatap Albert, dia adalah Sean, Asisten pribadi Kaisar.


Seseorang yang yang menjadi kaki tangan Kaisar dalam mengurus urusan Kekaisaran, dia adalah orang kepercayaan kaisar sendiri.


"Baiklah Sean, kita bisa mulai sekarang" wajah Kaisar berangsur menjadi serius, dia menautkan jari-jarinya dan meletakkannya di meja.


"Baik, Yang Mulia, Yang Mulia mereka mulai bergerak akhir-akhir ini, Saya khawatir mereka akan membuat kekacauan dalam waktu dekat ini" Sean berbicara sambil sesekali membenarkan posisi kaca matanya.


Sean menyerahkan beberapa lembar kertas kepada Kaisar, Kaisar membacanya, dan wajahnya mengeras setelah membaca laporan itu.


Albert hanya menyimak sedari tadi, dia sudah paham kemana arah pembicaraan akan berjalan.


"Albert" panggil kaisar terdengar menahan amarah.


"Perintah Anda, Yang Mulia" Albert meletakkan tangan kanannya di dada kirinya, menunggu perintah.


"Pergilah bersama George, sudah waktunya untuk membersihkan mereka" Albert mengangkat kepalanya, dia paham apa yang saat ini ada di pikiran Kaisar.


"Baik, Yang Mulia, akan segera Saya laksanakan"


"Pastikan untuk benar-benar memberantas mereka hingga ke akar-akarnya, sepertinya aku terlalu lunak terakhir kali" wajah Kaisar terlihat menyeramkan.


"Dimengerti, Yang Mulia" Albert meninggalkan ruangan itu, Kaisar masih terdiam dengan jari tangan yang masih saling bertautan.


"Yang Mulia Kaisar, apa Anda yakin dengan hal itu? Bisa saja Tuan Putri berada dalam bahaya jika Anda tiba-tiba saja memberikan Tuan Putri perhatian seperti itu"


Sean membenarkan kacamatanya, tatapan khawatir terlihat dibalik lensa kacamatanya. Kaisar Aaron terdiam, namun keputusannya sudah bulat, dia harus menebus kesalahannya yang lalu di kehidupan ini.


Sean menatap kearah Kaisar dan menghela napas, orang di depannya ini, jika dia sudah memiliki tekad, maka tidak akan ada seorangpun yang bisa menghentikannya.


"Kalau begitu, aku akan memperketat penjagaan sekitar istana secara diam-diam, seharusnya jika kau ingin melakukan ini, kau tidak harus mengirim putri bungsumu ke kastil utara dari awal"


Kaisar, Aaron Louis Lionsword, terdiam mendengar ucapan Sean, sahabat sekaligus orang terpercayanya.


"Entahlah Sean, aku merasa ada sesuatu yang menutupi pikiranku saat itu hingga aku melakukan hal itu, apa kau pikir putri bungsuku membenciku?"


Sean menghela napas, kenapa sahabatnya ini menanyakan hal yang sudah jelas? Dia sadar kalau terkadang sahabatnya itu bisa menjadi bodoh jika menyangkut anak-anaknya.


"Kemungkinan besar iya, dia membencimu, lagipula dia sudah kau kirim ke istana utara saat dia bahkan belum bisa merangkak"


Aaron terdiam, benar juga, di tambah lagi di masa lalu dia bahkan mengambil nyawa putri bungsunya seolah putri bungsunya itu adalah penghianat kekaisaran.


Dia mulai mempertanyakan dirinya sendiri di masa lalu, kenapa dulu dia bahkan tega mengambil nyawa putri bungsunya hanya karena seorang anak yang tidak berhubungan dengannya?


Mengingat hal itu membuat Aaron merasa sedih dan kecewa kepada dirinya sendiri, sensasi tangannya yang memegang pedang dan memenggal kepala putri bungsunya sendiri masih melekat segar di ingatannya.


Wajah berlinang penuh air mata itu menatapnya, penuh dengan tanda tanya, saat itu Aaron mengabaikan hal itu, dan melakukan eksekusi mati putri bungsunya di depan publik.


Dia ingat tatapan putra keempatnya, yang menatapnya dengan marah dan kekecewaan yang dalam.


Dia tidak mengerti, kenapa dia melakukan hal itu? Kenapa? Padahal seingatnya, dia memiliki niat melindungi putri bungsunya, kenapa dia ... memenggal kepala putri bungsunya dengan tangannya sendiri?


Kalimat pertanyaan yang sama terus berputar di benaknya, dia tidak paham, apa salah putri bungsunya hingga dia memenggal kepalanya?


Seseorang, bisakah seseorang memberitahukannya alasannya dia melakukan itu pada saat itu? Rasa sesak yang tak tertahankan mulai memenuhi dadanya.


Sean terdiam melihat mata Aaron yang terlihat kacau, dia tahu, walau sahabatnya itu, sekaligus orang yang dia layani tampak tenang di luar, dia memiliki banyak pikiran di benaknya.


Sean menghela napas diam-diam, sahabatnya perlu waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya.


"Yang Mulia, Saya pamit undur diri, Saya akan segera meminta Sir.Arthur untuk menempatkan kesatria di sekitar istana"


Aaron tersadar sejenak, kemudian mengangguk, menyetujui hal yang di katakan Sean.


Melihat tanggapan Aaron, Sean menundukkan kepalanya, kemudian pergi melaksanakan hal yang sudah di rencanakan.


Aaron mengambil sebuah foto di laci meja kerjanya, foto seorang wanita cantik berambut merah pudar yang tengah tersenyum hingga matanya menyipit.


"Rafaela, maafkan aku, aku tidak bisa memenuhi hal yang telah aku janjikan, aku akan menebusnya di kehidupan ini, kumohon, maafkan aku" ucap Aaron menahan Isak tangis, membuat ucapannya terbata.


Aaron mulai tertawa, menertawakan dirinya sendiri di masa lalu, air mata tanpa dia sadari mulai mengalir, pada saat itu dia sadar, dia hanya seorang ayah yang gagal.