Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 25



"Jadi dia di tempatkan di kastil yang sama dengan mu, kak?" tanya Liana dengan nada prihatin.


"Heh ya, itu karena kastil tempat sebenarnya untuk dia belum di bersihkan, jadi dia akan tinggal selama seminggu bersamaku" jawab Lorenzo dengan nada lelah.


"Itu tidak seburuk yang kakak kira, cuman, mungkin, kamu akan terkena pengaruh sihir hitam" ucapan Liana sontak membuat Lorenzo hampir membalikkan meja.


"Hanya kau bilang!? Itu mengerikan asal kamu tahu!!" Lorenzo mengguncang tubuh Liana dengan panik, dia sudah keluar dari karakternya sekarang.


"Ayolah kak, aku hanya bercanda" Liana mencoba melepaskan tangan Lorenzo dari bahunya.


"Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh si pak tua itu sehingga menerima permintaan Kuil Suci? Aku tidak paham" Liana mendengus.


Lorenzo tampak diam sejenak, dia menjauhkan diri dari tubuh Liana.


"Sepertinya... karena dia berhutang pada Kuil Suci? Atau mungkin karena Kuil Suci merupakan salah satu penyokong kuat kekaisaran?" gumam Lorenzo berpikir.


"Kamu ada benarnya... kak, aku pamit dulu, ada hal yang harus aku kerjakan" Liana mendekat kearah Lorenzo, dan dia menyelipkan sesuatu di balik pakaian Lorenzo.


Liana menepuk-nepuk pundak Lorenzo, "Sampai jumpa nanti saat makan malam kak, hati-hati dengan emas" setiap nada yang Liana ucapkan mengandung ejekan.


Lorenzo mengangguk, dia tahu ejekan itu tidak di tunjukkan padanya.


"Baiklah, sampai jumpa lagi nanti saat makan malam, adik" Lorenzo mengedipkan mata dengan pelan beberapa kali.


Liana melambaikan tangan, kemudian pergi dari gazebo, tempat mereka berbincang.


Liana berjalan dengan tenang, seringai di wajahnya melebar.


"Heh, ada gunanya juga aku memasang sihir kedap suara sebelumnya" batin Liana.


[Liana, ada yang aneh dengan anak itu, apa kamu tahu?]


Seekor burung kecil hinggap di bahu Liana, dia mencicit beberapa kali, bagi Liana itu adalah sebuah kalimat.


"Aku tahu Felix, jangan khawatir" Liana mengelus lembut kepala burung itu.


[Kamu harus berhati-hati, aku akan pergi lagi, aku akan melakukan sesuatu, jangan mencariku, Paman Leonel akan menjagamu]


Felix meletakkan paruhnya di pipi Liana seolah menciumnya, kemudian pergi terbang begitu saja.


"Baiklah, sampai jumpa" Liana melambai pada burung itu sejenak, sebelum menyentuh pipinya.


Liana menggelengkan kepala kemudian berjalan kembali ke kastilnya, saat baru saja sampai di halaman kastil, sedikit mana gelap menyebar di sana.


"Hah sialan, padahal ini baru saja beberapa jam, sepertinya aku harus memasang Aray setelahnya" Liana dengan cepat masuk ke dalam kastil.


"Tuan Putri, Anda sudah kembali" Elena membungkuk memberikan salam hormat, dia bisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Liana.


"Ya, aku kembali Elena" Liana mengangguk, dia kemudian pergi ke sudut salah satu ruangan.


"Tuan Putri, apa yang akan anda lakukan?" tanya Elena.


Liana tidak menjawabnya, dia hanya terus berjalan menuju sudut itu, mata merahnya bersinar dengan cahaya dingin.


"Ketemu" wajah Liana dingin, dia meraih sesuatu, dan tiba-tiba di tangannya ada makhluk kecil berbentuk aneh.


Bentuknya bulat seperti bola, ada sepasang sayap kelelawar di sana, dua cakar kecil, dan telinga runcing di atasnya dengan kulit berwarna dark purple.


Makhluk itu meronta-ronta, dia beberapa kali berniat menggigit Liana dengan taring kecilnya.


"Tuan Putri, bukankah itu..." Elena terdiam di tempat, itu adalah sejenis demon.


Sudut mata Elena bersinar dengan cahaya aneh, dia jadi teringat sebuah kenangan buruk dari masa lalu.


Tinjunya mengepal dengan erat, hawa dingin menyebar di sekitarnya.


"Elena, tenanglah" Liana mengangkat makhluk itu dan menatapnya dengan tatapan dingin.


Jari telunjuk dari tangan lain diselimuti oleh cahaya emas, dan dia kemudian menusuk tubuh makhluk itu dengan cepat.


Makhluk itu menggeliat, sebelum meledak seperti balon.


"Tanpa anda memintanya, Saya akan melakukannya, Tuan Putri" Elena membungkuk, sebelum dia mulai melakukan hal yang Liana minta.


Liana mengarah ke kamarnya, baru saja masuk aura dingin menyebar dari tubuhnya.


"Hah... benar-benar bajingan" Liana memegangi salah satu matanya, kemudian menyingkirkan tangannya.


"Berniat mengutukku huh? Jangan harap itu bisa dilakukan dengan mudah"


Suara gaduh dan bising kemudian terdengar dari kamarnya, Liana dengan membabi-buta membunuh makhluk aneh dengan kulit hitam lain.


Elena yang sudah selesai melakukan apa yang Liana minta berdiri di depan pintu kamar Liana, dia terdiam mendengar suara gaduh di kamar Liana dengan keringat dingin di dahinya.


Pintu dengan cepat kembali terbuka, Liana keluar dengan penampilan sedikit kacau dan keringat yang membanjiri dahinya.


"Elena, bisa siapkan air dingin untuk aku mandi? Itu tadi benar-benar kacau" Liana tersenyum manis pada Elena.


"... Baiklah Tuan Putri" Elena pamit undur diri untuk menyiapkan air mandinya.


Liana mengusap lembut dahinya, dia kemudian kembali masuk ke kamarnya.


"Berantakan sekali... aku malas membersihkannya, tapi aku tidak suka ini kamarku berantakan" Liana menggunakan mananya, menggerakkan buku-buku yang berserakan kembali ke rak.


Dia memperbaiki kursi dan meja yang patah, juga membuang karpet yang sudah hangus setengahnya.


"Selesai, nanti bisa minta ayah belikan yang baru" Liana tersenyum, lebih tepatnya seringai licik.


Tok tok tok!


"Tuan Putri, airnya sudah siap" suara Elena terdengar.


Liana mengangguk sejenak sebelum membuka pintu, keluar dari kamarnya.


"Baiklah Elena, ngomong-ngomong kenapa sepi sekali hari ini? Di mana Harumi, Kiara, dan Gea?"


Elena terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Liana.


"Mereka diminta untuk membersihkan kastil yang akan di tempati oleh anak dari Kuil Suci, Tuan Putri"


Liana mengangguk, dia kemudian melangkahkan kakinya menuju kearah kamar mandi.


Elena hanya bisa diam di tempatnya, dia bisa merasakan sesuatu yang dingin dan gelap dari Liana, sesuatu... yang menakutkan.


[Nak, kamu harus memperhatikan mana milikmu, kau hampir menyebarkannya dan membuat pelayanmu tersiksa]


Leonel melayang dan memberikan saran pada Liana, sedari pagi, dia merasa mental Liana tidak stabil, ada perasaan benci yang menguar.


"Maaf Paman El, aku memang sedikit lepas kendali tadi" jawab Liana dengan senyuman, benar, dia harus menenangkan diri jika ingin menangani seseorang dengan benar.


[Haih... omong-omong mana milikmu sudah berada di ujungnya, kamu bisa menerobos]


Leonel masih memperhatikan Liana, dia melayang di dekatnya.


"Aku tahu Paman, aku berniat menerobos setelah membersihkan diri. Oh iya Paman, Felix tidak mungkin kamu suruh untuk melakukan sesuatu, bukan?" Liana memandang Leonel curiga.


Leonel hanya membuat gestur tubuh acuh.


[Melakukan sesuatu apa? Paman tidak tahu apa-apa]


Liana memandang Leonel curiga, dia merasa ada banyak hal yang sudah Leonel dan Felix rencanakan di belakangnya.


[Baiklah keponakan Paman yang paling cantik, kamu bisa mandi sekarang, Paman pergi dulu]


Leonel kemudian menghilang, meninggalkan Liana berdiri di depan pintu kamar mandi sendirian.


"Paman El menyebalkan, aku yakin saat Paman memperlihatkan wujudnya yang sebenarnya dia hanya akan membuatku lebih pusing" keluh Liana.


"Sudahlah, saatnya mandi kemudian berlatih" Liana memasuki kamar mandi, ada senyum tipis yang muncul di wajahnya.


Liana, sebenarnya ada apa dengan otakmu itu?