Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 17



Pada kehidupan kedua Liana, di dalam labirin.


Viona, nama Liana di kehidupan keduanya. Tengah bersandar pada dinding labirin, mengambil botol air minum yang di bawanya.


Dia mengenakan pakaian khusus yang dibuat untuk membuat pemakainya lebih leluasa bergerak, juga dilapisi dengan armor berwarna putih perak, sebuah pedang yang tersarung berada di pinggangnya.


"Ck! Aku kehabisan air" Viona membalikkan botol kosong itu, dan benar saja, tidak ada setetes air pun yang keluar.


Viona berdiri, sekarang dia mau tidak mau harus pergi mencari sumber mata air yang biasanya ada di pojok labirin.


"Andai saja aku bisa menggunakan kemampuan dimensional storage, argh sudahlah! Mengeluh tidak akan ada gunanya, lagipula, kenapa mereka mengirimku saat Roxana sedang membersihkan gate?"


Viona mulai berjalan pergi, mengikuti tanda yang sudah dia tinggalkan, untung saja labirin ini bukan tipe yang akan berubah setelah beberapa waktu.


Butuh beberapa waktu hingga akhirnya Viona menemukan kolam kecil yang merupakan sumber mata air di labirin.


Viona minum hingga rasa hausnya hilang menampungnya dengan tangan, kemudian mengisi botol kosong sebelumnya hingga penuh.


"Saatnya kembali ke tempat sebelumnya, lalu lanjut mengeksplorasi, aku harap aku segera keluar dari sini dan makan kue buatan Roxana" Viona mulai kembali ke tempat sebelumnya.


Crrt crrt~


"Suara apa itu?" Viona melihat kesekeliling dengan mata waspada, dia melihat kebelakang dan saat berbalik, sepasang taring dan 8 mata bersinar sudah menunggunya.


Viona hampir membuang botol minum yang berada di genggamannya kemudian berbalik dan berlari.


"Aaaaaaa!!! Tidak ada yang mengatakan bahwa ada laba-laba di labirin ini!!" Viona berlari dengan cepat.


Namun kemudian tubuhnya mematung saat melewati satu belokan, tubuhnya kaku, dengan keringat dingin di punggungnya.


"A-apa ... APA-APAAN ITU?!" di depan Viona ada laba-laba besar seperti sebelumnya, namun di atas tubuhnya ada setengah tubuh wanita yang tengah menatapnya.


"S-SIALAN!!" Viona dengan secepat kilat menyimpan botolnya dan menarik pedangnya.


"Mati!!" Viona memenggal kepala wanita itu, dan menebas tubuh laba-laba itu menjadi dua.


Melihat monster itu sudah mati, kaki Viona merasa lemas, napasnya memburu dengan cepat.


"Hah ... hah ... hah ... gasp! Ugh, tolong jangan sekarang" pandangan Viona mulai memburam, tubuhnya lemas.


"Oy Viona, apapun yang terjadi saat aku pulang ke rumah, kau harus baik-baik saja, atau aku akan memukulmu"


Suara Roxana bergema di benaknya, Viona perlahan berusaha untuk bangun, tidak apa-apa Viona, trauma ini tidak ada apa-apanya.


Viona mulai berjalan dengan langkah tertatih-tatih kembali ketempat sebelumnya.


...


"Hah! Gasp! Gasp! Ugh- dari semua mimpi kenapa harus mimpi di labirin itu?" Liana bangun, dia mengatur napas dan mendudukkan dirinya.


"T-tidak, itu lebih baik daripada mimpi itu" Liana mulai menampakkan kakinya ke lantai, pandangan dia edarkan ke kamar milik ayahnya, dan tidak terlihat seorangpun di sana.


"Ini sudah larut malam? Aku melewatkan makan malamku ... ngomong-ngomong, orang itu tidak bergadang lagi untuk mengerjakan berkas bukan? Bisa bahaya kalau dia sakit" Liana mengenakan sendal tidurnya.


Mulai keluar dari kamar, menyusuri lorong dalam kastil yang remang-remang.


"Malam ini terasa dingin" Liana mengusap-usap kedua lengannya yang terasa dingin.


Sreet sreet sreet


Dapat Liana lihat di dalam sana ada sumber cahaya yang Liana pikir itu merupakan sihir cahaya.


"Sepertinya, listrik benar-benar di butuhkan di sini, kasihan juga dengan mereka yang tidak bisa menggunakan mana" Liana mendekati pintu, dia mulai mengintip dari celah pintu.


Dilihatnya wajah dingin Aaron tengah mengerjakan berkas, di temani sang asisten yang wajahnya lebih mirip dengan mayat hidup.


"Aaron, Aku tahu Kau khawatir, tapi jangan tenggelamkan dirimu di setumpuk kertas ini dan juga menyeretku! Aku ingin tidur okey?" Sean protes, walau begitu tangannya masih sibuk dengan berkas-berkas lain.


Kantung mata hitam dan tebal terlihat di bawah mata Sean, rambutnya sedikit acak-acakan dan juga kulitnya agak pucat.


"Kalau begitu tidurlah saja sana, Aku akan mengerjakannya sendiri" balas Aaron acuh, dia masih saja fokus dengan setumpuk kertas itu.


Liana tidak tega melihat hal itu, hati kecilnya menyuruhnya untuk masuk dan meminta sang Ayah untuk tidur, namun batinnya menyuruhnya untuk mengabaikan saja.


Lama berdebat dengan pikirannya, tak sadar Sean mulai melangkah keluar dan membuka pintu, mendapati Liana yang masih sibuk berdebat dengan diri sendiri.


"Tuan Putri? Mengapa Anda berada di sini?" Sean berlutut tepat di depan Liana, menyamakan tingginya.


Liana tersadar, dia mengedipkan mata beberapa kali sebelum mulai menjawab dengan senyuman.


"Ah Paman Sean, Aku terbangun tadi dan berniat pergi ke kamar kecil, lalu tidak sengaja melihat ruangan kerja Ayah masih terang, jadi Aku berhenti di sini" Liana menjawabnya dengan lancar.


"Sungguh beruntung, Kau dikhawatirkan oleh putri semanis ini, sungguh membuat siapa saja iri" Sean mulai bangkit, dia mengelus rambut Liana lembut.


"Masuklah kedalam dan bujuk ayahmu itu, dia bekerja seperti orang gila sekarang" bisik Sean di telinga Liana, kemudian dia tersenyum, menunduk dan pamit undur diri.


Liana hanya diam sembari melihat Sean yang mulai melangkah pergi, dia kembali memandang ruangan itu, dapat dilihatnya ada kantung mata samar di bawah mata Aaron.


"Ah sudahlah, lagipula ini hanya sekali saja" Liana mengetuk salah satu pintu yang tertutup, wajahnya terlihat gugup entah mengapa.


Tok tok tok


Aaron mengalihkan pandangan dari berkas menuju pintu, dilihatnya seorang gadis kecil dengan gaun tidur berwarna biru berdiri di depan pintu.


Aaron berdiri dan kemudian menghampiri Liana.


"Sayangnya Ayah, ada apa hm? Kenapa bangun di tengah malam?" Aaron mengangkat Liana dalam gendongannya, di kecupnya pipi Liana lembut.


"A-aku terbangun karena mimpi buruk, berniat untuk pergi ke kamar kecil namun melihat ruang kerja Ayah masih terang, jadi Aku kemari, Aku khawatir Ayah terlalu banyak bekerja dan berakhir sakit"


Ucapan itu keluar begitu saja tanpa dia inginkan, ucapan yang benar-benar murni dari hati kecilnya.


Senyum Aaron mengembang, dia kembali mengecup hampir seluruh wajah Liana, dia merasa bahwa dia adalah seorang Ayah yang paling beruntung di dunia.


"Jadi anak manis kesayangan Ayah ini mengkhawatirkan Ayah? Terima kasih" Liana hanya diam.


"Ugh-, bagaimana bisa kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku?" batin Liana merutuki dirinya sendiri.


Aaron melirik kearah batu yang menempel di dinding, itu mirip dengan jam dengan angka romawi kuno, ada tiga jarum dengan satu jarum yang terus berputar.


"Sudah lewat tengah malam" Aaron masuk kedalam dengan Liana berada di gendongannya, dia membereskan beberapa berkas yang berserakan dan menutup botol tinta.


Lalu mematikan sihir cahaya yang di gunakan, Aaron kemudian membawa Liana pergi ke kamar kecil dan menurunkannya di depan pintu.


Liana mendongak, dia menatap kearah mata Aaron dan kemudian masuk kedalam kamar kecil dan menguncinya.


"Ini bisa di anggap sebagai sebuah kemajuan, bukan?" Aaron memiliki senyum di wajahnya, berharap ini sesuai dengan isi pikirannya.