
Liana tenggelam dalam ingatan pada kehidupan pertamanya, menangis dalam pelukan sang Ayah yang tak pernah bisa dia dapatkan sebelumnya.
Hari mulai beranjak sore, Aaron masih setia memeluk Liana, mencoba membuat Liana tenang.
"Permisi Yang Mulia, sudah saatnya Tuan Putri untuk makan, dia belum makan sedari siang tadi" Elena masuk dengan nampan di tangan, Felix berada di pundaknya.
Aaron hanya diam, dia sedikit menjauhkan tubuh Liana dari dekapannya, melihat Liana tertidur.
Mengalihkan pandangan ke arah nampan di tangan Elena, dapat dia lihat ada semangkuk bubur den juga semangkuk obat.
"Letakkan itu di sana, kau bisa pergi" Aaron menatap Elena, memberikan perintah.
Elena mendengus mendengar perintah Aaron, meletakkan nampan di atas meja kecil, kemudian memberikan salam dan pergi.
Aaron menatap wajah Liana yang tenang dalam tidurnya, tangannya menepuk-nepuk pipi Liana lembut, membangunkannya.
"Sayang, putri kesayangan Ayah, bangun dulu ya, makan dan kemudian minum obatnya" suara Aaron begitu lembut, jika orang-orang yang sudah lama mengenalnya mendengar suara Aaron yang lembut.
Bisa di pastikan mereka tidak akan percaya dengan apa yang mereka dengar, dengan mendiang istrinya saja, sang permaisuri, Aaron tidak pernah berbicara selembut ini.
Rafaela yang melihat hal itu dari dunia yang berbeda, menghela napas panjang, senyum hangat terbit di wajahnya, syukurlah, suaminya itu sadar akan kesalahannya dan mencoba memperbaikinya.
Pikirannya melayang, jika saja takdir tidak menghendaki dia mati, dia pasti saat ini tengah berada di sana, menemani anak-anaknya dan memberikan kasih sayang setiap hari, terutama putri bungsunya.
Rafaela tersenyum sedih, dia hanya bisa berharap dan berharap. Ini sudah takdir, dan ketentuan takdir tidak dapat di ganggu gugat.
Liana perlahan membuka matanya, kepalanya terasa pusing dan berputar hebat, mencoba membuka mata lebih lebar, namun tiba-tiba saja perutnya terasa tidak nyaman dan hampir muntah.
Aliran mana hangat kembali mengalir melalui kepalanya ke seluruh tubuh, membuat rasa pusing dan mual berangsur-angsur berkurang.
"Ayah ...." kata itu keluar begitu saja dari mulut Liana, dengan sedikit kesadaran yang ada setelah dua kehidupan lain, dia merasa dia kembali seperti gadis kecil.
Entah ini hanya ilusi Liana, atau ini benar-benar kenyataan, dia bisa melihat tatapan mata ayahnya yang memandangnya dengan penuh kasih sayang.
"Iya sayang, ini Ayah, sudah waktunya makan, ayo, Ayah akan menyuapimu" nada bicara Aaron di penuhi dengan kasih sayang.
Perasaan senang dan hangat menyebar di hatinya, membuat Liana merasakan perasaan manis yang tak pernah dia rasakan.
Aaron mengambil bubur itu, menyendok dan meniupnya pelan, mulai menyuapi Liana.
"Ayo buka mulutnya, bubur yang enak akan masuk ke mulut" Liana dengan senang membuka mulutnya, dan memakannya dengan wajah riang.
Rasa sakit dari pusing dan mual sebelumnya pergi, hilang entah kemana, dan di gantikan dengan rasa hangat yang memenuhi rongga dadanya.
Elena diam-diam mengintip dari celah pintu, senyum terbit di wajahnya, dia melihat betapa tulusnya Kaisar kepada Nona Mudanya.
Felix juga ikut mengintip, dan dia ikut merasakan perasaan hangat, dia tidak pernah melihat Liana yang di penuhi dengan kepolosan anak seusianya, dan dia bisa melihatnya sekarang.
Melalui kontrak kesetaraan, Felix bisa merasakan semua perasaan yang di rasakan Liana, begitu juga sebaliknya.
"[Gadis kecil ini begitu senang, huh?]"
Jika Felix adalah seorang manusia, di wajahnya dapat dipastikan ada senyum tipis yang bertengger di sana.
Suapan terakhir diberikan kepada Liana, Aaron menepuk-nepuk kepala Liana pelan dengan senyum tipis di wajahnya.
"Nah, sekarang di minum obatnya ya, agar Liana cepat sembuh" Liana spontan menggelengkan kepala, menutupi mulutnya dengan tangan.
"Tidak mau Ayah, itu pahit" Aaron melihat hal itu dan merasa gemas di dalam hatinya, ah, dia sepertinya kembali jatuh cinta.
Tidak, bukan cinta antara seorang pria dengan wanita, tetapi cinta seorang ayah dan anak, mengingatkan Aaron saat pertama kali memiliki anak, yaitu Aldrich.
"Minum ya, hanya pahit sedikit, Liana mau sakit terus-menerus?" Aaron mengusap lembut rambut Liana.
Liana menurut, dia mengambil mangkuk obat di tangan Aaron, dan meminumnya dalam satu tarikan napas.
Aaron mengambil segelas air dan memberikannya kepada Liana, meletakkan mangkuk obat yang kosong di atas nampan.
Aaron berdiri, dia mengecup dahi Liana lembut.
"Istirahatlah sayang, Ayah akan kembali lagi nanti" tangan Aaron mengelus kepala Liana.
Ini seperti mimpi saja bagi Liana, dia merebahkan dirinya dan menyelimuti tubuhnya, memandang kearah Ayahnya dan perlahan matanya menutup kembali.
Dua hari telah berlalu.
Liana membuka matanya perlahan, rasa pusingnya telah hilang sepenuhnya sekarang, dia bangun dengan perasaan senang yang jarang dia miliki.
Seakan baru saja bangun dari mimpi indah, Liana menyadari sesuatu, dia tidak berada di kamarnya, kamar ini begitu besar dengan banyak ornamen emas yang berlebihan.
"... Aku tidak di culik atau semacamnya, bukan?" Liana turun dari kasur besar, dia menatap sekeliling dengan penasaran, dia tidak pernah melihat interior kamar seperti ini di ketiga kehidupannya.
Pintu kamar terbuka, menampakkan sesosok pria berambut biru gelap dan mata merah Crimson. Tunggu sebentar- dia tampak familiar.
Itu Kaisar!? Jantung Liana berdegup kencang, padahal dia sudah memiliki niat untuk tidak bertemu dengan pria di depannya ini untuk jangka waktu yang lama.
Wajah Aaron terlihat datar tanpa ekspresi, dia mendekat kearah Liana yang diam mematung di tempat.
"Habis sudah, apa aku akan mati sekarang? Pada usia yang begitu muda?" pikiran negatif memenuhi kepala Liana.
Tepat saat Aaron berdiri di depannya, dia menjulurkan tangannya. Liana refleks memejamkan mata, bayangan tangan yang akan menamparnya muncul dalam benak.
Puk
"Panasnya sudah turun sekarang, apa masih ada yang sakit?" suara Aaron terdengar begitu lembut, Liana membuka matanya, mata bulatnya memandang Aaron dengan tidak percaya.
"Apa masih ada yang sakit? Katakan kepada Ayah, Ayah akan memanggil Jeannie ke sini" Aaron menyamakan tinggi badannya dengan Liana.
"Itu bukan mimpi? Sungguh?" Liana secara tiba-tiba menatap tepat kearah mata Ayahnya, mencoba mencari sesuatu yang salah.
Aaron mendengus geli, lihatlah putri bungsunya ini, dia seperti kucing penurut saat sakit, dan sekarang menjadi seekor harimau yang baru saja bangun saat sembuh.
Aaron mengusak rambut Liana gemas, tanpa mengatakan apapun dia mengangkat tubuh kecil Liana dan menggendongnya.
Liana yang sempat terdiam terkejut dengan tubuhnya yang tiba-tiba di gendong, tangannya mencengkram apa saja di dekatnya, dan berakhir mencengkram erat lengan Aaron.
"Sudah waktunya untuk sarapan, Liana mandi dulu ya?" Aaron melangkahkan kakinya lebar, menuju ke kamar mandi di kamarnya.
Liana masih memproses apa yang sebenarnya terjadi, hingga Liana tersadar saat dia merasa tubuhnya terasa segar.
Liana menatap wajah Aaron dengan mata berkedip beberapa kali, Aaron dengan gemas mencubit hidung mungil Liana pelan.
Tok tok tok
"Yang Mulia Kaisar, Saya telah membawakan sarapan yang telah Anda minta" suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Liana, Aaron pergi membuka pintu kamarnya.
"Bawa itu masuk" nada Aaron terdengar dingin, dan dia kembali mendekati Liana yang masih menatapnya dengan mata penasaran.
Seorang pelayan wanita dengan rambut coklat dengan warna mata yang senada memasuki ruangan dengan mendorong sebuah troli berisi berbagai makanan.
Tatapannya teralihkan pada entitas Liana yang tampak menggemaskan di matanya, mengenakan sebuah gaun kecil berwarna biru tua dengan rok yang mengembang.
Rambutnya yang panjang dengan warna biru tua seperti Kaisar di biarkan tergerai, ah, sepertinya dia jatuh dalam pesona gadis kecil itu.
"Kau bisa keluar sekarang" suara dingin Kaisar terdengar di telinganya, seketika dia tersadar, kemudian menundukkan kepalanya, membungkuk kemudian melangkah pergi.
Di luar, wajah sang pelayan memiliki tatapan berbinar-binar, dia memiliki bahan pembicaraan yang bagus untuk dibagikan kepada pelayan lain.
Aaron mendorong troli penuh makanan ke arah meja besar di kamar itu, menata makanan di atas meja dengan telaten.
Setelah selesai dia mendekati Liana dan menggendongnya ke arah meja penuh makanan itu, sepertinya dia memiliki hobi baru, yaitu menggendong putri bungsunya.
Mendudukkannya di kursi, tinggi Liana cocok dengan kursi itu, anehnya tingginya tidak lebih dari perut ayahnya.
"Ayo di makan, Ayah ingin mengajakmu ke suatu tempat setelah ini" Liana menatap wajah Aaron yang tampak ... lembut? Bahkan ada senyum tipis yang bertengger di wajahnya.
"... Yang Mulia Kaisar?" Liana akhirnya membuka mulutnya, Aaron yang merasa terpanggil menolehkan kepalanya, alisnya mengernyit tidak suka.
Liana bungkam, dia merasa bahwa dia telah mengatakan hal yang salah.
"Jangan panggil Ayah seperti itu" ucap Aaron tidak suka, ayolah, dia merasa marah sekarang, marah pada dirinya sendiri.
"Ayah?" cicit Liana pelan dengan takut-takut, tidak, dia tidak merasa takut sebenarnya, dia hanya mencoba menjaga citra seorang gadis manis yang lugu.
Wajah marah Aaron berangsur menghilang, dia bahkan memiliki senyum lebar yang sangat jarang dia tunjukkan.
"Benar seperti itu, panggil saja Ayah" tangan Aaron terjulur melewati meja dan mengelus lembut kepala Liana.
Liana mengangguk kecil dan mulai memainkan jari telunjuknya, dia tiba-tiba saja merasa gugup.
Aaron terkekeh pelan, gemas dengan kelakuan putri bungsunya.
Aaron mengambilkan makanan untuk Liana, sepiring daging sapi panggang dan berbagai masakan lain, meletakkannya di depan Liana.
Liana hanya memandang makanan itu, dia tidak berminat, walau dia suka daging, dia lebih suka daging giling yang digoreng dan memakannya dengan nasi, ah, dia ingin Elena memasakkan itu sekarang.
Aaron menopang dagunya, memandang Liana yang masih diam dan tidak menyantap makanan di depannya.
Aaron mengernyitkan keningnya, apa dia tidak suka dengan makanan di depannya? Apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Apa Liana tidak suka?" tanya Aaron tiba-tiba.
"Hik!" terlalu gugup dan terkejut, Liana mendapati dirinya cegukan.
Aaron menuangkan segelas air dan memberikannya kepada Liana, dan Liana dengan enggan meminum air itu.
"T-tidak A-ayah, hanya saja ini terlalu banyak" Liana kembali memainkan jari-jarinya seraya menundukkan kepala.
Aaron menatap Liana sejenak, sebelum kembali membuka mulutnya.
"Jika Liana tidak habis, tidak masalah, Ayah tidak akan marah, lagipula Ayah yang terlalu banyak meminta pelayan untuk menyiapkan makanan" Liana mengangkat kepalanya secepat kilat, wajahnya tampak tidak setuju.
"Tidak bisa seperti itu, Ayah, itu hanya akan membuat Liana merasa bersalah karena membuang-buang makanan, di luar sana masih banyak orang kelaparan dan berharap bisa memiliki makanan" Liana menjeda ucapannya sejenak.
"Sedangkan Liana di sini bisa makan hingga kenyang bahkan kelebihan makanan, bukankah itu tampak seperti Liana tidak cukup bersyukur?" lanjut Liana.
Dia pernah merasakan hal itu, di kehidupan pertama dia sering merasa kelaparan, apalagi saat musim kemarau tiba.
Kemudian di kehidupan kedua, dia sering memasuki dungeon dan kehabisan bekal makanan, hingga memaksanya untuk memakan daging monster yang sekiranya bisa dia makan.
Aaron kembali terdiam, putrinya ini sering kelaparan hingga memiliki pikiran seperti ini? Tidak bisa, dia harus memikirkan sesuatu, perasaan bersalah kembali menyerang dirinya.
Aaron mengambil satu piring lagi, memutuskan mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Liana memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Aaron dengan mata penasaran.
"Makan" ucap Aaron singkat saat dia selesai mengambil makanan dan mulai memakannya.
Liana menurut, menggerakkan tangannya dan dengan lihai memotong daging sapi panggang atau dengan kata lain steak menjadi bagian lebih kecil dan memakannya.
Aaron memperhatikan setiap gerakan yang dibuat Liana, semuanya terlihat sangat halus.
Sesi makan di mulai dengan suasana tenang tanpa ada pembicaraan, yah, mereka berdua memiliki kesamaan, salah satunya adalah makan dengan tenang.