
Liana berjalan mengendap-endap di samping kastil utama seolah dia adalah seorang pencuri, dia melihat sekitar dan membiarkan tubuhnya merosot menyender pada dinding kastil.
"Huaah, itu tadi menyenangkan!" Liana merasa terlalu senang hingga bersenandung kecil.
Pandangannya tiba-tiba teralihkan pada pohon besar yang dia tidak ingat ada di sana.
"Ku pikir tidak ada pohon ini sebelumnya?" Liana berdiri dari duduknya, menepuk-nepuk gaunnya yang tertempel debu dan pasir.
Lian berjalan mendekati pohon itu, dia mendongak, melihat seberapa tinggi pohon itu.
"Tingginya sama dengan tinggi kastil utama" Liana menyentuh batang pohon yang besar, dahan-dahan pohon yang bercabang tertutup rimbunnya dedaunan.
"Hangat ... pohon ini juga terselimuti oleh mana emas tipis seperti pohon besar di Paradise Land of Dragonaid, ku pikir ini pohon yang sejenis?" Liana memutari pohon itu.
"Apa yang tengah kau lakukan dengan memutari pohon seperti itu?" suara seseorang yang terkesan dengan nada dingin menusuk telinga Liana.
Liana menoleh pada asal suara, terlihat seorang anak laki-laki yang sepertinya baru saja beranjak remaja.
"Bukan urusanmu" Liana menjawab dengan tak kalah dingin dan mendengus, oh ayolah, dari semua kakaknya, kenapa harus si sulung yang keras kepala ini?
Si kembar yang kelakuannya seperti orang bar-bar saja lebih mudah untuk di tangani, tapi Liana berharap bertemu dengan kakak keempatnya, Lorenzo.
Aldrich merasa kesal dan tidak senang dengan jawaban dingin Liana entah kenapa, dia merasa seharusnya tidak seperti ini nada yang digunakan Liana kepadanya.
"Ada apa sebenarnya denganku? Ini bahkan baru pertemuan keduaku dengannya" Aldrich menggelengkan kepala, dia berjalan mendekati Liana yang seolah sibuk memeriksa pohon itu.
"Apa yang sebenarnya tengah kau periksa?" terkejut dengan keberadaan Aldrich di sampingnya yang tiba-tiba, Liana hampir saja memberikan bogeman mentah pada Aldrich.
Liana menatap tajam Aldrich, hampir saja dia akan dalam masalah jika tidak sengaja memukul Pangeran Pertama di depannya ini.
"Jangan muncul tiba-tiba di dekatku, kau seperti hantu" Liana menjauh dari Aldrich sebanyak 5 langkah, tatapannya terlihat suram saat menatap Aldrich.
Aldrich terkekeh geli, tatapannya berangsur melembut tanpa dia sadari.
"Dia tidak tiba-tiba saja menjadi gila bukan? Walau dia yang terburuk, tapi aku tahu kalau dia tidak gila seperti si kembar" Liana menatap waspada kearah Aldrich.
Lagi-lagi Aldrich terkekeh geli, dalam pandangannya Liana terlihat seperti kucing kecil yang tengah menatap waspada kearahnya.
Aldrich mengabaikan rasa gemas dalam hati dan memasang kembali wajah dinginnya, entahlah, kebenciannya lebih besar daripada rasa gemasnya tadi.
"Kembalilah, Ayah mencarimu" nada bicara Aldrich kembali dingin, membuat Liana heran dan menyetujui pemikirannya.
Aldrich melangkah pergi, meninggalkan jejak langkah kaki yang terkesan tengah marah.
"Yah, dia tiba-tiba saja menjadi gila, apa-apaan dengan sifatnya yang seperti orang kesurupan itu?" Liana menggelengkan kepalanya, dia berlari kecil pergi menuju ke pintu kastil utama.
Terlihat Aaron yang sudah menunggunya di depan pintu kastil utama yang terbuka, Liana merasa gugup entah kenapa, dia merasa seperti seorang anak nakal yang ketahuan pergi bermain saat di suruh tidur siang.
"Darimana saja hm? Katanya hanya ke kamar mandi" Aaron berjongkok menyamakan tingginya dengan Liana.
Liana tersenyum lebar, seringai Liana terlihat menggemaskan bagi Aaron.
"Ehehe ... aku tersesat tadi" itu bohong, Liana hanya memberikan alasan pada Aaron.
Dia sebenarnya bahkan sudah melakukan duel dengan 5 orang kesatria terkuat dari 10 orang terkuat.
Yah, dia adalah Viana, yang Albert anggap sebagai kesatria magang.
"Jangan pergi keluar sendiri lagi okey? Ayah bisa khawatir kalau Liana menghilang tiba-tiba seperti seminggu yang lalu" bagus, Liana merasa sedikit bersalah sekarang.
"Baiklah Ayah, maaf" Aaron menepuk kepala Liana lembut.
"Mari pergi ke suatu tempat" Aaron berdiri, dia menggenggam tangan Liana dan mulai berjalan.
Liana hanya mengikuti langkah kaki Aaron yang akan membawanya entah kemana.
Dari kejauhan, Liana dapat melihat tempat yang sedang mereka tuju, sebuah gazebo yang terlihat besar berada di pinggir danau kecil buatan.
Bukan itu saja, dapat dia lihat siluet tiga orang dengan salah satu dari mereka terlihat lebih muda.
"Tampak sangat menyenangkan, apa yang tengah kalian bicarakan?" mendengar suara Aaron, mereka bertiga berdiri serentak.
"Ah Ayah, tumben sekali Ayah ada waktu luang seperti ini" rambut merah pudar dengan manik mata berwarna merah crimson memasang wajah tengil pada Aaron.
Dia adalah anak kedua Aaron, kakak kedua Liana, yang sifatnya sangat menyebalkan dan kelakuannya yang bar-bar, namanya Kaelus, Kaelus Raonaid Lionsword.
"Sopanlah sedikit pada Ayah, jarang-jarang Ayah memiliki waktu luang" balas kakak ketiga Liana, memiliki rambut berwarna merah pudar dengan manik mata berwarna emas.
Namanya Kaelis Raonaid Lionsword, adik kembar Kaelus, sifatnya sebelas dua belas dengan kakaknya, namun dia terkesan sedikit lebih sopan, ingat, hanya sedikit, itu saja jika dia ada maunya.
Aaron memasang wajah biasa saja dengan sikap tidak sopan anak keduanya, dia paham betul sifat putranya yang satu itu.
"Ya, kebetulan berkas di meja seperlima lebih sedikit daripada biasanya" Aaron berjalan mendekati gazebo yang muat untuk 7 orang dewasa sekaligus.
Liana masih menggenggam tangannya, pandangannya terpaku pada kakak keempatnya, memiliki rambut biru pudar dan manik mata berwarna emas.
Rasa rindu dan senang yang tak tertahankan menyeruak masuk kedalam dadanya, pikirannya memutar kejadian pada kehidupan pertamanya.
Perlakuan Lorenzo yang terkesan perhatian kepadanya, tatapan yang terlihat berbeda dari yang dia dapat dari keluarganya yang lain, dan yang paling memilukan hatinya.
Tatapan sedih dan menyesal kearahnya yang pada saat itu dia akan di eksekusi oleh Kaisar, ayahnya di depan publik.
"Kak Enzo ...." Liana tanpa sadar bergumam, orang yang merasa terpanggil menoleh.
Anak bernama lengkap Lorenzo Maverick Lionsword, menatap langsung kearah tatapan Liana kepadanya, tatapannya terkesan lembut bagi Liana.
Kaelus dan Kaelis menatap kearah Liana yang keberadaannya baru saja mereka sadari, tatapan mata mereka seketika menunjukkan kemarahan dan kebencian yang kentara.
Liana diam-diam membalas tatapan si kembar dengan tatapan dingin dan tajam tanpa di ketahui oleh Aaron.
Aaron bisa merasakan ketegangan di dekatnya entah bagaimana, Aaron berdeham sekali, dia mendudukkan dirinya dan Liana di kursi gazebo yang masih kosong.
Selesai menata makanan itu, ketiga pelayan itu memandang Liana dalam sepersekian detik dan pamit undur diri.
Tatapan Liana jatuh pada keripik kentang di atas meja, tangannya mengambil dengan santai dan memakannya.
Mengabaikan atensi keempat orang lain sepenuhnya.
"Enak, tapi sayang, minyak goreng yang digunakan berbeda dengan duniaku sebelumnya, ini pasti akan terasa lebih enak" Liana terlihat menikmati keripik kentang itu.
Sebuah tangan menyodorkan sepiring keripik kepadanya, Liana menatap sang pemilik tangan, bertatap mata dengannya.
"Ambil punyaku saja" Lorenzo meletakkan piring di atas pangkuan Liana dengan wajah acuh, dia mengambil satu puding di atas meja dan memakannya.
Tatapan terkejut dilayangkan pada Lorenzo oleh ketiga orang lain, Liana hanya tersenyum dan kembali menikmati keripik kentangnya.
Aaron menghela napas, dia merasa kalah selangkah oleh putra keempatnya, tidak apa, dia hanya harus lebih berusaha.
"Masih ada dua Minggu lebih sebelum kalian akan kembali ke akademi, Ayah berniat mengajak kalian keluar bersama, bagaimana dengan itu?" mendengar pertanyaan Aaron.
Semua mata mengalihkan tatapannya, menatap Aaron meminta kepastian, Liana memiliki tatapan berbinar yang tidak dapat dia sembunyikan, pikirannya menjelajah pada daerah di luar istana.
"Tumben sekali Ayah meminta pendapat kami terlebih dahulu, biasanya hanya pada kak Aldrich– Auch! Itu sakit tau!" ucapan heran Kaelus berhenti karena jitakan Kaelis di kepalanya.
"Sopanlah sedikit pada Ayah, kak" Kaelis mendengus.
Aaron segera menjadi penengah, anak kembarnya ini benar-benar membuat kepalanya pusing jika mereka bersama, apalagi dengan semua sifat bar-bar mereka jika digabungkan.
"Sudah sudah, jadi bagaimana?" Aaron menatap kedua anaknya yang lain, Lorenzo hanya mengangguk singkat dan kembali memakan pudingnya.
Liana hanya diam, dia merasa sedikit tidak nyaman, dia ingin ikut, tapi dia juga tidak tahan dengan tatapan mata ketiga kakaknya yang lain yang membuatnya tidak nyaman.
Baru saja dikatakan, tatapan si kembar sudah mengarah pada Liana dengan tajam, Liana menghela napas, dia merapatkan dirinya pada Lorenzo, seolah mencari perlindungan.
"Ayah, izinkan Aku membawa adikku pergi sebentar" tanpa menunggu jawaban ayahnya, Lorenzo pergi menarik tangan Liana.
Sepanjang perjalanan, hati Liana merasa menghangat, kehangatan yang Lorenzo tunjukkan untuknya masih saja selalu hangat.
Saat sudah sedikit jauh dari sana, Lorenzo berhenti, dia melepaskan tangan Liana yang dia tarik paksa dengan lembut.
Lorenzo menunduk, tinggi Liana hanya sebatas hidungnya, entah hanya perasaan Liana atau apa, Lorenzo menatapnya dengan penuh kehangatan.
"Kau pasti bingung dengan situasi tiba-tiba ini, Aku yakin pria tua itu tidak pernah mengatakan apapun tentang kami" Lorenzo tiba-tiba mengusak rambutnya dengan kasar, merasa frustasi.
Liana mengangguk kaku, dia tidak pernah melihat Lorenzo sefrustasi ini di kehidupan pertamanya.
"Mari kita mulai dari awal, halo adik, aku adalah kakak keempatmu, namaku Lorenzo Maverick, panggil saja kakak okey?" Lorenzo mengelus kepala Liana lembut.
"Salam kenal juga kak Enzo, namaku Liana Agustina! Kakak panggil saja Aku Ana" senyum manis Liana mengembang.
Lorenzo mencubit pipi gemas Liana, padahal umur mereka tidak jauh berbeda, namun bisa dilihat bagaimana dewasanya Lorenzo.
"Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir, kakak akan melindungimu sekarang, kakak janji" Lorenzo memeluk Liana.
Mendengar ucapan Lorenzo, Liana mematung sebentar, pikirannya berkelana dengan tangan yang tanpa sadar balas memeluk tubuh Lorenzo.
"Aku akan melindungimu, aku janji, akhirnya setelah banyak kesempatan, aku bisa bertemu lagi denganmu, adikku, maafkan kakakmu yang lemah ini" batin Lorenzo sedih.
Tanpa diketahui Lorenzo, Leonel melayang tak jauh dari mereka, dia menatap Lorenzo dengan penuh minat.
"[Menarik, dia dipenuhi dengan karma yang biasanya dimiliki oleh seseorang yang telah menjalani kehidupan lebih dari sepuluh kali]"
Leonel bersenandung kecil, dia pergi meninggalkan kedua kakak beradik yang tengah berpelukan itu, pergi memeriksa apakah Felix sudah selesai menyerap barang yang dia berikan.
"Huaah ... Paman El terkadang menakutiku karena kemampuan matanya itu, aku harap dia tidak pernah tahu apa yang telah terjadi padaku, atau dia pasti akan mengamuk" batin Liana yang masih dalam pelukan.
Selama seminggu ini, dia mengenal betul sifat Leonel, dia akan sangat posesif padanya, Liana yakin bahwa Leonel juga memperlakukan ibunya dengan perlakuan yang sama.
Jika saja Leonel masuk mengintip ada ingatan miliknya, bisa dia bayangkan bagaimana kekacauan akan terjadi.
"Lagipula ... kenapa identitasnya begitu menyeramkan? Kesatria pribadi sang kaisar Empire of Dragonaid yang telah lama menghilang ..." Liana melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Lorenzo.
"Ayo kita kembali ke sana" Lorenzo menggenggam tangan Liana lembut, membawanya kembali ke gazebo sebelumnya.
Di sisi lain tempat
Terlihatlah sebuah kuil yang megah di suatu tempat, seorang gadis kecil berambut emas dengan pakaian compang-camping tengah di antar oleh seseorang masuk ke dalam kuil itu.
Terlihat dalam kuil megah itu, seseorang telah berdiri di atas altar membelakangi pintu menatap lukisan besar di depannya.
"Dekan, saya menemukannya, sang gadis suci yang akan menyelamatkan dunia" orang yang membawa gadis kecil itu mendorong sang gadis untuk maju ke depan.
Orang yang di panggil dekan berbalik, terlihatlah manik matanya berwarna Lilac menatap sosok gadis kecil di depannya.
Gadis kecil dengan rambut emas, dan manik mata berwarna biru laut yang jernih.
"Kerja bagus Ken, kau bisa keluar sebentar, ada yang harus aku katakan pada gadis kecil itu" Ken, orang yang membawa sang gadis menunduk hormat.
Rambutnya berwarna biru dongker terlihat menutupi alisnya, manik matanya berwarna senada terlihat menunjukkan kekosongan yang tidak dapat di jelaskan.
"Baik, dekan" Ken pun keluar dari sana.
Sang gadis mulai berjalan mendekat menuruti instingnya, sang dekan terlihat tersenyum, dia kemudian mengelus rambut gadis itu pelan.
"Mulai sekarang namamu Sera Lusaena, semoga kau bisa membawa kembali cahaya ke dunia ini" dekan itu memiliki senyum lebar.
"Baik, terima kasih atas pemberian namanya dan harapannya, dekan" Sera, gadis itu memiliki tatapan mata hangat yang tidak dapat di jelaskan.
Ken yang sedari tadi mendengarkan hal itu, diam-diam mengepalkan tangannya, dia menahan marah hingga urat-uratnya menonjol.
"Tidak dekan, dia hanya akan membawa kegelapan di dunia ini" kilatan marah dan dendam, terlihat di mata Ken.