
Tupai itu terlihat memiliki mata berkaca-kaca seolah ingin menangis, Liana melihat hal itu dan merasa lucu di dalam hatinya.
[Ah sungguh, andai saja Aku bisa menolong Rafaela, Kau pasti tidak akan kesepian ... tidak apa-apa! Pamanmu ini akan menjagamu mulai sekarang!]
Suara bersemangat tupai itu terdengar nyaring di kepala Liana.
Liana meringis kecil, oh ayolah, dia bahkan merasakan pening karena suara nyaring tupai itu di kepalanya.
[Ngomong-ngomong nak, siapa namamu? Perkenalkan Pamanmu yang hebat dan akan menjagamu mulai sekarang bernama Leonel!]
Tupai itu–Leonel memperkenalkan dirinya, dia menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
Senyum manis nan lebar segera tersungging di wajah Liana.
"Uhm! Perkenalkan namaku Liana!! Jadi, bolehkah aku memanggil Paman dengan panggilan Paman El?" Liana memiringkan kepala.
Leonel tampak memiliki wajah senang di bentuk tupainya, dia kemudian melompat ke udara dan dia melayang tepat di depan wajah Liana.
[Ya! Kau bisa memanggil Paman seperti itu!!]
Melihat betapa girangnya Leonel, Felix hanya memiliki tatapan mata lucu, benar-benar Liana sangat pintar dalam mengambil hati orang.
"[Ya, itu bagus Liana, dan setelah ini bahkan tanpa sadar tupai ini akan di manfaatkan oleh Liana]"
Felix berbalik, dan dia menatap ke sekeliling dengan seksama, dia berusaha mengingat-ingat tempat yang pernah dia baca dalam deskripsi di sebuah buku.
"Paradise Land of Dragonaid" celetuk Liana tiba-tiba membuat Felix terkejut, dia membalikkan tubuh secepat cahaya dan menatap Liana dengan mata bulatnya.
[Benar! Nama tempat ini adalah Paradise Land of Dragonaid!! Salah satu tempat suci Empire of Dragonaid, kekaisaran yang hilang. Darimana kau tahu hal ini nak?]
Leonel masih melayang di dekat Liana, sebenarnya dia tidak suka wujud ini, tapi karena dia terlalu lama berhibernasi, membuat sebagian kekuatannya menghilang.
Felix juga menunggu jawaban apa yang akan di keluarkan oleh Liana, dia mendekat kemudian melompat ke pundak Liana.
Oh sebelumnya soal mana yang mengelilinginya, itu semua sudah hilang bersamaan dengan rasa hangat yang memenuhi tubuhnya.
"Ada apa dengan wajah penasaran kalian itu? Aku mengetahuinya dari membaca buku di kamar Ay- maksudku Kaisar, ada beberapa buku yang menceritakan tentang Empire of Dragonaid" jelas Liana.
Felix melihat Liana dengan lucu dan manggut-manggut terhadap penjelasan Liana, dia merasa lucu karena Liana entah kenapa malu menyebut Kaisar dengan kata ayah.
Sementara Leonel terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, dia kemudian melihat ke pohon besar di tengah-tengah ruangan itu.
[Ayo ikuti Aku, ada barang yang dititipkan Ibumu kepadaku untuk diberikan kepadamu]
Leonel melayang menjauh memimpin, Liana mengikuti dari belakang, dia sesekali melompat menghindari Roshan Vines di bawahnya.
Dapat Liana lihat dengan lebih jelas pohon besar itu, ada mana tipis berwarna emas yang menyelimuti pohon itu, dia mendongak dan melihat kearah sumber cahaya, yang ternyata berasal dari sebuah kaca.
Sepertinya kaca itu mengarah langsung keluar entah bagaimana, Liana melihat ke bawah akar pohon, ada aliran sungai kecil yang tampak sangat jernih.
Di samping itu, Liana bisa melihat kilauan seperti permata dalam air itu.
[Kau benar-benar berbakat nak, kau bahkan bisa melihat kandungan air dan mana alam sekalipun, sepertinya kau mewarisi semua bakat ibumu]
Leonel mengarahkan tangan kecilnya ke sebuah lubang kecil di pohon itu, dia terlihat menutup mata sejenak, saat Leonel kembali membuka mata, matanya yang bulat berwarna gold bersinar.
Dahan dan ranting pohon itu bergerak dengan gerakan pelan namun halus dan lembut, daun-daun di dahan dan tangkai bergetar, sesuatu menggelinding dari balik dedaunan.
Leonel menangkap sesuatu yang menggelinding itu, dia kemudian memeriksa apakah itu adalah barang yang tepat atau tidak.
Sebuah kantung kecil yang terbuat dari kain goni terlihat di tangan Leonel, dia membuka kantung itu dan melihat ke dalamnya.
[Ambillah, ini semua untukmu, oh iya, kau bisa mengambil beberapa Roshan Vines, tapi ingat untuk tetap pada batasnya, kita tidak ingin mereka punah bukan?]
Leonel melemparkan kantung itu dan di tangkap oleh Liana.
Liana membuka kantung itu, seketika matanya membulat, dia menatap kantung dan Leonel bergantian.
[Ada apa nak? Itu bukan barang yang salah, itu benar-benar milikmu, setidaknya untuk saat ini itu salah satu barang peninggalan ibumu]
Salah satu!? Liana lebih membelalakkan mata, jika sebanyak ini adalah salah satu, lalu bagaimana dengan keseluruhan barangnya?!
"Sebenarnya, siapa Ibu?" Liana membuka mulutnya, dia menatap Leonel yang juga tengah menatapnya.
Pertanyaan yang telah di tunggu-tunggu Leonel akhirnya terdengar juga, dia membuat pose seolah tengah menopang dagu.
[Nah, sepertinya belum saatnya. Tunggu sampai kau mulai memasuki akademi, dan Pamanmu ini akan memberitahumu]
Liana menekuk bibirnya kebawah, dia mendengus dan membuang muka.
Leonel terkekeh, Liana sangat menggemaskan, bahkan lebih menggemaskan daripada Rafaela pada umur yang sama.
"[Ah, Aaron, kau sangat beruntung]"
Sebuah ruang kecil terlihat di sana, Leonel masuk kedalam, tak lama dia kembali keluar dengan beberapa barang melayang di dekatnya.
[Ini, ambillah, ini semua hadiah Paman kepadamu sebagai bentuk salam kenal. Gunakan dengan baik okey?]
Liana menoleh, ada beberapa lusin buah Roshan Vines yang lebih besar daripada yang dia petik dalam perjalanan kemari, juga ada ratusan botol kaca berisi air.
Beberapa tangkai bunga berwarna-warni dengan bentuk mahkota yang unik, ada juga sebuah pedang besar yang terlihat tersarung pada sarung pedang yang terbuat dari kulit lembu berwarna hitam.
"Woah, banyak sekali. Apa Paman yakin memberikan ini semua kepadaku?" Liana bertanya seolah dia tidak percaya.
[Tentu saja, ambillah. Ngomong-ngomong, pedang itu salah satu koleksi Paman]
Leonel kembali membusungkan dada dengan bangga, melayang di udara, Liana merasa heran, dia memiliki firasat kalau wujud sebenarnya Leonel bukan lah ini.
Felix yang merasa terabaikan membuka suara, namun segera, keterkejutan menghampiri dirinya dan Liana.
[Apa tidak ada hadiah untukku?]
Awalnya Felix hanya berniat bergurau, sekarang dia bisa berbicara layaknya manusia.
"[Tunggu! Aku sudah menerobos?! Sejak kapan?!!]"
Liana memiliki tampang tidak percaya dan senang, dia kemudian meraih tubuh Felix dan mendekapnya dengan erat.
"Aaaaaaa!! Akhirnya Felix, partner kesayanganku ini menerobos!!" Liana menggosokkan pipinya pada kepala kecil Felix.
Leonel hanya tersenyum melihat hal itu, dia diam-diam menyiapkan sebuah batu permata kecil berwarna hijau amerald di balik tubuh kecilnya.
[Ekhem, maaf mengganggu kegembiraan kalian, tapi aku yakin Aaron saat ini tengah mencari mu dengan panik Liana]
Liana tersadar, dia kemudian meletakkan Felix di lantai, dan dia dengan cepat mengumpulkan barang yang di berikan Leonel kepadanya, yang masih melayang.
"Kalau begitu terima kasih Paman! Aku pergi dulu" ucap Liana dengan panik, kemudian menghilang dari sana, meninggalkan sekelebat bayangan hitam.
Felix dan Leonel terdiam dalam keadaan tidak percaya, merasa absurd dengan tingkah Liana.
[Apa dia selalu seperti ini, nak Felix?]
Felix masih merasa canggung, dia mengangguk samar dan kemudian menatap kearah Leonel yang perlahan turun.
[Y-ya, dia terkadang seperti itu]
Hening, tidak ada percakapan lain yang terdengar, Felix merasa canggung dan berniat pergi menyusul Liana, sebelum suara Leonel menghentikannya.
[Sebelum kita keluar dari sini, ambillah ini, ini akan membantumu untuk menjadi kuat, dengan begitu, kau akan bisa melindungi Liana, yah, walau aku saja sudah cukup, tapi lebih banyak orang itu lebih baik]
Leonel memberikan batu permata berwarna hijau, batu permata itu berbentuk bulat dengan diameter 3 cm saja.
Felix membulatkan mata saat mengetahui benda apa itu.
[Ini ... Anda yakin ingin memberikannya kepada Saya?]
Leonel hanya mengangguk, dia memberikannya kepada Felix, dan di terima dengan sedikit rasa tidak enak oleh Felix.
[Mohon bantuannya untuk kedepannya ya, Nak Felix]
Leonel mulai melayang pergi, dia berniat keluar dari sana. Felix terdiam, dia memandang batu permata itu sejenak sebelum kemudian menelannya utuh.
[Ya, mohon bantuannya untuk kedepannya, Sir. Leonel]
...
"Astaga sayang, darimana saja kau? Tidak tahukah kau seberapa khawatirnya Ayah?" Aaron memeluk erat tubuh kecil Liana, wajahnya terlihat sembab.
"Ugh, tolong jangan memelukku terlalu erat, Kaisar sialan" batin Liana yang sifatnya kembali seperti sebelumnya, mengumpati Aaron dengan mudahnya.
"Ayah ... sesak" Liana memukul-mukul punggung Aaron.
Aaron melonggarkan pelukannya, dia membenamkan wajahnya di bahu kecil Liana.
"Ah, aku harap ini semua bukan hanya sandiwara yang dia buat" Liana balas memeluk tubuh Aaron.
Aaron merasa manis di sudut hatinya, Liana bersikap canggung dan sedikit dingin kepadanya sejak pertama kali bertemu, dia mengelus belakang kepala Liana.
Leonel melihat hal itu dari atas, dia melihat betapa tulusnya kasih sayang Aaron kepada Liana.
"[Yah kuharap, kau bisa menerimanya Liana]"
Leonel kemudian pergi menghampiri Felix yang tersesat karena dia tinggal.
Felix, kau sangat malang.