
Dalam perjalanan keluar hutan itu, Liana hanya diam mengikuti langkah kaki Jim, yang dia kira adalah seorang Elf sebagai tangan kanan Kaisar Elf.
Jika Liana perhatikan, Jim itu tinggi, rambut berwarna emasnya pendek dan terkadang tertiup angin lembut, manik matanya berwarna hijau kristal.
Jim yang merasa di perhatikan, menoleh ke belakang.
"Ada apa?" tanyanya singkat, dia menaikkan salah satu alisnya, merasa tertangkap, Liana menyunggingkan senyum lebarnya.
"Tidak ada, siapa nama Paman? Juga, hutan ini sering di sebut apa oleh para Elf? Kalau di kalangan manusia hutan ini di sebut Demon Forest, juga, perkenalkan namaku Viona"
Jim kembali sedikit menaikkan salah satu alisnya, dia heran, apakah anak ini masih orang yang sama yang membunuh Cerberus?
"Salam kenal Viona, namaku Jim, Jim Petra, hutan ini selalu di sebut Blessed Forest oleh para Elf, ngomong-ngomong, bagaimana bisa kau sampai di hutan ini?" Jim balik bertanya, dia cukup heran.
"Itu nama yang berkebalikan, itu, sebenarnya aku lupa menentukan kemana aku akan pergi saat berteleport, dan alhasil mana milikku terkuras" Jim kemudian berhenti, dia membalikkan badannya seutuhnya.
"Jangan bercanda! Kau pengguna dua mana?!" menghadapi teriakan Jim, Liana menutup telinganya.
"Menurutmu?" Liana mendengus, sembari menggosok telinganya yang terasa berdengung.
Jim menghela napas saat sadar akan kelakuannya sendiri, "Sudahlah, kita sudah hampir mencapai ujung hutan, hati-hati dengan bandit di luar" Jim kembali melangkah.
Mendengar kata bandit, Liana memiliki mata bersinar, jika ada bandit, pasti akan ada banyak uang di sana, ah, Liana harus mampir ke tempat para bandit itu.
Jim memiliki keringat dingin di punggungnya, lebih lama bersama anak di belakangnya, semakin buruk rasanya baginya.
"Anak siapa ini? Kenapa pikirannya seperti orang gila?" Jim meringis dalam hati, lupakan, sebentar lagi mereka akan berpisah saat sudah mencapai ujung hutan.
"Kita sampai" Liana tersadar dari lamunan gilanya, dia menatap ke depan, benar saja, mereka sudah sampai di ujung hutan.
"Paman, terima kasih sudah mengantarkanku, walau itu kau hanya menuruti perintah Kaisarmu, sampai jumpa lagi Paman Jim" Liana menundukkan kepala sebagai ucapan terimakasih.
Kemudian melesat pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
"Siapa yang mengajari anak itu? Tapi aku yakin dia berlatih sendiri" Jim menggeleng, kemudian dia berbalik, berniat kembali ke desa.
[Rupanya anak itu tersesat di hutan ini]
Mendengar suara di dekatnya, Jim menoleh, dalam penglihatannya ada seekor tupai berbulu merah tengah melayang.
"Anda?!" Jim terkejut, dia pikir orang di depannya sudah tiada atau bagaimana.
[Kau sudah besar ya, bagaimana kabarmu selama ini? Juga, ucapkan terima kasihku pada Kaisar mu itu]
Jim menunduk hormat, "Saya baik tuan Leonel, Saya senang Anda baik-baik saja, akan Saya sampaikan kepada Yang Mulia Kaisar"
[Baiklah, sampai jumpa lagi Jim, jaga dirimu baik-baik]
Tupai itu– Leonel, kemudian pergi menyusul Liana yang sudah melesat jauh.
"Aku akan melapor pada Kaisar, kita tidak boleh membuat anak itu merasa kesal lebih jauh" Jim kemudian pergi, kembali ke desa.
...
"Di mana batang hidung mereka? Kata Jim ada bandit di dekat sini" Liana menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dari kejauhan, Liana bisa mendengar suara besi yang saling beradu, Liana pergi ke arah suara itu, berharap ada bandit yang tengah menyergap sebuah kereta.
Liana berhenti, melihat pertarungan dari atas pohon.
"Ketemu kalian, hm? Oh, itu kereta kerajaan di bawah kekaisaran yang di pimpin ayah, nama kerajaannya ... ku pikir itu Cannavaro?"
Satu persatu kesatria yang melawan mulai tumbang, Liana melihat keadaan kemudian melompat ke bawah.
"Kenapa kalian tidak mengatakan ada pesta besar di sini? Padahalkan aku juga ingin ikut dalam pesta!" mendengar suara seseorang, semua orang di sana mengalihkan pandangan.
Kesatria yang masih mampu bertarung menatap kearah Liana dengan waspada, sementara sekelompok bandit yang berjumlah puluhan itu mengernyitkan dahinya.
Kesatria yang mengawal kereta kuda itu ada 10 orang, sementara bandit itu berkisar 30 orang.
"Kau anak kecil, lebih baik segera pergi dari sini" salah satu bandit dengan kekuatan yang lebih besar di antara bandit lainnya membuka suara.
"Serang anak itu! Jangan biarkan dia ikut campur!" beberapa bandit menyerang Liana, Liana menyeringai melihat 5 orang bandit yang menyerangnya.
Dalam hitungan detik, kelima bandit itu telah tergeletak di tanah, dengan darah segar mengalir dari leher.
"Siapa yang akan kau kirim selanjutnya, Paman?" seringai Liana semakin lebar, darah terciprat mengenai pipinya, membuatnya terlihat seperti seorang psikopat yang haus akan darah.
"S-semuanya! Serang anak itu bersamaan!!" seluruh bandit yang tersisa menyerang Liana, kecuali orang yang memberikan perintah, dia diam-diam menyelinap pergi.
Liana memandangi sekumpulan bandit dengan malas, mereka hanya ada di tingkat 3 hingga 5.
"Shadow area" sesuatu berwarna violet muncul dari bawah kaki Liana, kemudian itu membentuk sebuah area hingga melingkupi seluruh bandit yang berniat menyerangnya.
Para bandit itu merasakan firasat buruk dari hal ini, namun terlambat untuk menghindar.
"Dead!!" dari area itu muncul jarum-jarum yang tajam dan menusuk beberapa bagian titik vital para bandit itu.
Argh!!
Tolong!!
Mereka berteriak kesakitan, dan dalam beberapa detik, mereka semua mati.
Shadow area, itu masih satu skill milik Liana, memungkinkan penggunanya membentuk domain (ruang buatan yang memungkinkan menjebak musuh, dan sepenuhnya berada di bawah otoritas pemilik).
Liana menarik domain miliknya, dia mengusap darah yang berada di pipinya dengan jari.
Liana mengibaskan pedangnya, membuat darah di pedang itu menciprat mengenai tanah.
Liana kembali menyarungkan pedangnya, namun tidak seperti sebelumnya, rambut dan matanya masih mempertahankan warna violet.
"Apa kalian baik-baik saja?" Liana mendekat, kesatria yang masih sadar memasang kuda-kuda bertarung, waspada dengan Liana.
Liana hanya menggelengkan kepala, dia mengambil sesuatu dari ruang dimensinya dan memberikannya pada salah satu kesatria itu.
"Baiklah, urusanku di sini telah selesai, aku akan per-" ucapan Liana terpotong oleh suara seorang gadis muda yang keluar dari kereta.
"Bisa tunggu sebentar, penyelamat?" Liana melihat kearah gadis itu, umurnya sekitar 15 tahun, seumuran dengan Aldrich, rambutnya berwarna perak dan matanya berwarna Lilac.
Dia mengenakan sebuah gaun berwarna putih, Liana sedikit menyipitkan matanya, semuanya terlalu terang.
"Tuan Putri, Anda tidak perlu turun seperti itu" salah satu Kesatria bersiap di dekat gadis muda itu.
"Tidak apa-apa Jean, perkenalkan namaku Alexia Winter Beatrice, Aku adalah Putri sulung dari kerajaan Cannavaro" Alexia menunduk, memberikan salam hormat.
Liana hanya menatap dingin, "Hm, namaku Viona, dan Aku seorang pengembara"
Jean, menggenggam erat pedangnya, lihatlah anak di depannya ini, sangat tidak sopan!
"Di umur semuda ini? Juga, sikapnya itu sedikit menantang, tidak ada seorangpun yang berani bersikap seperti ini setelah tahu aku seorang Putri, anak yang menarik"
"Baiklah Tuan Putri, jika tidak ada hal lain, saya pamit undur diri" tanpa mengatakan apapun, Liana kemudian pergi, menghilang meninggalkan jejak bayangan.
"Anak yang dingin, ngomong-ngomong Jean, apa yang ada di tanganmu itu?" Alexia melihat sebuah kantung kecil di tangan Jean.
"Ini diberikan oleh anak tadi Tuan Putri" Jean memberikan kantung itu pada Alexia.
Alexia membukanya, dilihatnya di dalam sana ada banyak healing potions, dan itu semua tingkat tinggi. Alexia sedikit membelalakkan mata.
Satu potion tingkat tinggi saja bisa mencapai 100 koin emas, dan di dalam kantung ini ada sekitar 20 buah, di tambah kantung ini ada formula ruang dimensi yang digunakan.
"Setidaknya ini sekitar 3.000 koin emas" Alexia memberikan kembali kantung itu pada Jean.
3.000 koin emas bagi kerajaannya itu sudah cukup untuk membangun barak militer kecil, anak ini tidak biasa.
"Tuan Putri?" tanya Jean, dia bingung dengan apa yang di maksud Alexia.
"Gunakan itu untuk mengobati luka kalian, jika sudah selesai, ayo kita lanjutkan perjalanan ke kekaisaran" Alexia kembali menaiki kereta kuda.