Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 05



"Huh? Di mana ini?" Liana menatap ke sekeliling, dia tidak berada di kamarnya saat ini, seingatnya dia terakhir kali tidur di kamar, kenapa dia bisa berada di tengah-tengah hamparan rumput yang luas ini?


"Liana ...." tiba-tiba, suara lembut dan hangat terdengar di telinga Liana, Liana melompat menjauh dari tempat sebelumnya, dia menatap ke sekeliling dengan tatapan waspada.


Tidak ada siapapun di sana, membuat Liana mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan keadaan tempat itu.


Greb!


Sepasang tangan mendekap Liana dari belakang dengan erat, saat akan mencoba memberontak, suara lembut dan hangat terdengar sekali lagi.


"Liana ... nak" Liana terpaku di tempat, suara ini terdengar sangat asing, namun mampu membuat hatinya menghangat.


"Siapa?" Liana berniat membalikkan badannya, sebelum itu di dahului oleh orang yang mendekapnya, dia membalikkan badan Liana, kemudian memberinya kecupan hangat di dahi.


"Anak Ibu sudah besar ya, maaf Ibu baru menemui Liana sekarang, setelah tiga kehidupan" terlihat sosok wanita cantik berambut merah pudar, dengan manik mata berwarna emas.


Liana diam termangu, dia menatap langsung kearah manik mata berwarna emas itu, dapat dia rasakan matanya mulai terasa panas.


Setetes air mata mengalir dari pelupuk mata, wanita di depannya hanya tersenyum, kemudian mengusap air mata Liana.


"Ibu?" kata itu lolos begitu saja dari mulut Liana, wajah si wanita tampak berangsur menjadi semakin baik, senyum lebar bahkan mengembang di sana.


"Iya sayang, ini Ibu" wanita itu memeluk tubuh Liana, memeluknya dengan erat, enggan untuk melepaskannya.


Mata Liana berkaca-kaca, dia membalas pelukan itu dan mulai menangis di dalam pelukan sang Ibu.


Wanita itu, Rafaela Cassandra, menepuk-nepuk punggung Liana lembut, kata-kata penenang keluar dari mulutnya.


"Sudah, jangan menangis lagi, Ibu tahu, pasti sangat berat, kan. Maafkan Ibu tidak bisa menemanimu tumbuh" Liana menangis semakin keras, isak tangisnya memenuhi udara.


Waktu berlalu, selama hampir satu jam penuh Liana menangis, matanya bahkan sampai bengkak karena terlalu lama menangis.


Rafaela mengulas senyum lembut, tangannya terjulur dan menepuk-nepuk kepala Liana pelan.


Liana menikmati perlakuan sang bunda kepadanya, senyum manis tak henti-hentinya selalu terukir di wajahnya.


"Tidak nyaman berdiri terus menerus, kita duduk di sana ya?" Rafaela menunjuk ke satu arah, dan terlihat sebuah bangku taman yang panjang di sana, dengan sebuah meja kecil di depannya.


Mereka berdua duduk di bangku taman itu, perbicangan di mulai saat itu juga.


Di lain tempat ...


Langit gelap penuh bintang bertebaran, di salah satu gang di suatu kota kecil. Terlihat Albert mengenakan tudung, dia berdiri di sana bersama seorang pria berambut cokelat dan mata biru.


Pria itu memiliki bekas luka melintang di kelopak mata sebelah kanannya, dia memiliki poni yang lumayan panjang hingga menutupi dahinya.


"George, apa kau yakin mereka bersembunyi di bangunan ini?" Albert bertanya, sambil memegang erat pedangnya.


Pria berambut cokelat, George mengangguk singkat, dia memandang ke arah Albert, kemudian melihat keatas, menatap langit malam.


"Ya, aku sudah menempatkan kesatria lain di sekitar, berjaga-jaga jika ada yang kabur dari sini" Albert mengangguk, dia memandang George kembali.


"Kita bisa mulai sekarang?" Albert menarik sedikit pedangnya dari sarungnya.


George mengambil gagang pedang dan menggenggamnya erat, "Kita bisa mulai sekarang"


Mereka berdua menghilang dari gang itu, yah, malam masih panjang, malam penuh darah di sisi mereka pun di mulai.


...


Rafaela tersenyum melihat Liana yang sedari awal selalu berceloteh tentang banyak hal, melihat wajah bahagia putrinya, dia merasa ikut bahagia.


Liana menceritakan banyak hal kepada Rafaela, ibunya, tentang kehidupan pertamanya, keduanya.


Tentang dunia di kehidupan kedua, apa saja yang terjadi, walau begitu Liana hanya menceritakan hal-hal yang membuatnya bahagia, menyingkirkan pikiran menyakitkan.


Tangan Rafaela terjulur, mengelus rambut Liana dengan senyum mengembang. Tangannya mulai terlihat transparan, Liana melihat hal itu dan seketika merasa sedih.


"Tidak apa-apa, walau waktu ibu sudah habis dan tidak bisa menemuimu kembali, ingatlah satu hal, ibu selalu ada di sini, di dalam hatimu, menjagamu" mata Liana kembali berkaca-kaca.


Belum lama dia bertemu ibunya, namun dia harus kembali berpisah, masih banyak hal yang ingin dia ceritakan kepada Rafaela.


"Sudah, jangan menangis, ibu akan selalu memperhatikanmu" Rafaela memeluk Liana, jika bisa, dia tidak ingin berpisah dengan putri bungsunya ini.


Dia ingin selalu berada di sisinya, menemaninya, melihatnya tumbuh secara langsung, namun takdir berkata lain, dia hanya bisa melihat Liana tumbuh dari jauh.


"Ingat pesan ibu, jika Liana ingin membenci ayah, benci saja dia, ibu tidak akan menyalahkan Liana, ibu sudah menyiapkan sesuatu untuk Liana" tubuh Rafaela berangsur menjadi transparan.


Dia mengusap wajah sembab Liana, mengecup lembut hampir seluruh wajah Liana.


"Elena akan menjagamu, dia wanita yang baik, Liana bisa percaya kepadanya, katakan kepadanya, terima kasih karena sudah menjaga Liana. Selamat tinggal Liana, ibu menyayangimu, sangat"


Liana memandangi partikel-partikel itu terbang, air mata mengalir lebih deras.


Di sisi Elena


Elena masuk ke kamar Liana dengan cemas, sedari tadi Liana terus menerus memanggil-manggil ibunya.


Dan benar saja, dapat dia lihat wajah penuh dengan peluh keringat yang membasahi, bibir Liana selalu menggumamkan kata-kata, memanggil-manggil ibunya.


"Nona Muda ... Anda sudah cukup menderita, Anda pasti telah bertemu dengan Permaisuri" Elena mendekat, dia mengelus rambut Liana pelan, tatapannya menyimpan kesedihan.


Rambut Liana lepek dan basah karena keringat, Elena mengusap dahi Liana yang basah, dan dapat dia rasakan dahi Liana terasa hangat.


"Nona terkena demam ...." Elena bangkit, dia pergi mengambil air hangat untuk kompres, mengambil selimut cadangan yang lebih tebal, malam hari ini terasa lebih dingin.


Elena kembali, dan mulai merawat Liana, mengompres dahi Liana, mengusap-usap kepala Liana guna menenangkannya.


Sepanjang malam, Elena bergadang merawat Liana, hingga matahari mulai terbit.


Kelopak mata Liana bergetar, dengan susah payah dia membukanya, matanya sayu menatap wajah Elena yang tampak mengkhawatirkannya.


"Elena ...." Liana memanggil Elena dengan lemah, dia merasa lemas, sangat lemas.


Aliran mana di tubuhnya mengalir dengan lambat, pandangan Liana terasa buram.


"Nona ... akan Saya buatkan makanan untuk Nona, Saya juga akan mencarikan obat, mohon tunggu sebentar di sini" Elena menggenggam tangan Liana, hendak beranjak pergi.


Liana ingin menggapai tangan Elena, namun berhenti saat itu juga, dia tidak bisa menahan Elena di sini, Elena mengkhawatirkannya dan berusaha untuk membuatnya sembuh.


"Jangan pergi terlalu lama" suara Liana terdengar lemah dan serak, Elena merasa hatinya tercabik-cabik, dia memandang Liana dengan khawatir.


"Tidak akan lama Nona, tunggu sebentar, Saya hanya perlu waktu sepuluh menit saja" Elena bergegas pergi, semakin lama waktu terbuang, semakin terasa pula sakit di dadanya.


Liana mengangkat tangannya, Felix yang masih menjadi gelang, kembali ke bentuk aslinya dan berada di dekat Liana.


Kyuu kyuu [Liana, kau demam, aku akan mencarikanmu obat]


Felix hendak pergi, sebelum tangan Liana menahannya, Felix memandang Liana bertanya-tanya.


"Jangan pergi, biarkan Elena yang mencarikan obat untukku, temani aku di sini" Liana menatap Felix dengan tatapan memohon.


Felix memutuskan menemani Liana, dia mengarahkan kaki kecil bercakarnya ke dahi Liana, memang terasa panas.


Tak berselang lama, belum ada sepuluh menit Elena pergi, Elena telah kembali dengan semangkuk bubur dengan air dan obat di satu nampan.


Sesaat Elena masuk, dia melihat seekor musang merah yang tampak asing, namun dia memilih mengabaikannya, merawat Liana yang paling utama sekarang.


"Nona, saya membawakan Anda semangkuk bubur, makanlah dan kemudian minum obat, agar Nona cepat sembuh" Elena mengambil tempat di samping Liana, setelah meletakkan nampan di meja kecil dekat ranjang.


Liana berusaha mendudukkan dirinya, Elena dengan sigap membantu Liana, Felix juga turut membantu, dapat Elena lihat, musang ini tampak menghawatirkan Liana.


Elena mengambil bubur itu, mulai meniup pelan sesendok bubur yang masih panas, dan menyuapi Liana.


Liana menurut, dia mulai menghabiskan bubur yang dibuat oleh Elena, walau perutnya terasa tidak nyaman, Liana tetap memaksakan diri.


Selesai dengan bubur, Liana meminum segelas air dan menelan obat pahit yang buat Elena, nasib di dunia ini yang belum ada obat berbentuk tablet dan kapsul, memaksa harus di minum dalam bentuk cair.


Kyuu kyuuang [Liana, beristirahatlah, aku akan menjagamu]


Felix memandang Liana khawatir, dia belum pernah melihat Liana jatuh sakit seperti ini.


Liana mengelus Felix lembut, dan mengulas senyum di bibirnya.


"Nona, istirahatlah, agar Anda cepat sembuh" Elena juga mengatakan hal yang sama, tangannya sibuk membereskan peralatan makan yang dia bawa.


"Jika nanti kesatria itu menjemput Anda, Saya akan mengatakan bahwa Nona sakit, tenang saja Nona, Saya akan melindungi Anda apapun yang terjadi, bahkan jika harus melawan Kaisar"


Mendengar hal itu, Liana meringis, ibunya benar, Elena wanita yang baik dan bisa di percaya, lihatlah, dia bahkan rela mencari mati demi menjaga Liana.


Liana merasa bodoh sekarang, kenapa pada kehidupan pertama, dia tidak menyadari betapa Elena menyayanginya, ah benar, dia ingat sekarang, Elena bahkan melindunginya, hingga dia kehilangan nyawanya.


"Bodohnya aku saat itu, tidak apa, aku di berikan kesempatan, akan aku gunakan kesempatan itu dengan baik, aku akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi, agar bisa melindungi orang yang ku sayang"


Liana membentuk tekad dalam hatinya, kelopak mata Liana terasa memberat, Liana jatuh tertidur.


Efek tubuhnya yang lemas dan obat yang dia minum membuat Liana tertidur begitu cepat, Elena memiliki senyum di wajahnya, dia memberanikan diri untuk mengecup kening Liana.


"Cepatlah sembuh, Nona" kemudian Elena meninggalkan kamar Liana, dengan Felix yang masih berada di sana.