Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 12



Liana memandang kearah Aaron dengan jengah, sudah 3 jam berlalu dan orang ini masih memeluknya! Dia sudah mulai lapar sekarang.


"Ayah, bagaimana kalau kita makan dahulu? Hari sudah mulai sore, dan bahkan aku belum mandi" pinta Liana dengan melas.


Aaron terkekeh kemudian sedikit menjauhkan tubuhnya dari memeluk Liana, dia mengusap lembut rambut Liana.


"Kalau begitu Liana mandi dulu, biar Ayah siapkan makan malam untuk kita" Aaron berniat beranjak pergi dari sana.


"Ayah bisa masak?" pertanyaan Liana menghentikan langkah Aaron, dia berbalik dan menatap putri bungsunya itu dengan senyuman yang jarang di wajahnya.


"Lihat saja" Aaron pergi meninggalkan Liana di kamar miliknya.


Tanpa melakukan hal lain lagi, Liana mandi di kamar mandi yang berada di kamar Kaisar, tak butuh waktu lama, Liana kembali keluar dengan keadaan segar dan bersih.


Gaun yang dia pakai juga sudah berganti dengan gaun lain yang bersih.


Liana merebahkan dirinya di kasur besar nan empuk milik Kaisar, dia menatap kearah langit-langit kamar.


"Kalian akhirnya kemari, jangan katakan bahwa kalian sempat tersesat?" Liana mendudukkan dirinya, dia menatap kearah jendela yang terbuka, dan masuklah Felix dan Leonel ke dalam.


"Paman El juga tersesat?" Liana memiringkan kepalanya.


Leonel mendengus, dia kemudian mendarat tepat di salah satu pundak Liana.


[Y-ya, siapa yang mengira dalam beberapa tahun istana ini akan berubah begitu banyak]


Leonel membuang muka, tidak ingin di permalukan karena dia ikut tersesat.


[Katakan saja bahwa kau sudah melupakan jalannya karena terlalu lama tertidur]


Felix membalas ucapan Leonel dengan dengusan, awalnya dia tersesat, tapi saat Leonel kembali dan memimpin jalan, mereka malah tambah tersesat.


Yah, banyak hal berubah di dalam istana beberapa tahun terakhir, juga, besar istana kekaisaran tidak main-main, itu lebih dari setengah luas ibukota kekaisaran, bayangkan saja luas ibukota yang mencapai 1.056 km².


Tidak heran, masih banyak lahan kosong yang ada di dalam istana.


Leonel menggaruk kepalanya, dia memilih untuk kembali melayang, mendekat kearah rak buku di dalam kamar itu.


[Nak, kau membaca hal itu dari sini?]


Liana menoleh, dan dia mengangguk tanpa ragu.


"Ya, Aku awalnya membaca karena bosan, siapa yang tahu bahwa itu semua sungguh ada dan masih tersisa? Aku benar-benar terkejut" Liana kembali merebahkan tubuhnya.


Suara langkah kaki terdengar di luar kamar, Leonel menurunkan tubuhnya tepat di samping Liana yang tengah merebahkan diri.


Seketika Liana terduduk, dia memandang kearah Felix, begitu pula dengan sebaliknya.


"[Benar-benar ikatan yang luar biasa, kau bahkan lebih berbakat daripada Rafaela, nak]"


Leonel membuat tampang polos khas seekor tupai, muncul beri di tangannya, dan dia memakannya seolah dia adalah tupai yang normal.


Krek...


Pintu terbuka, menampakkan Aaron yang terlihat mendorong masuk sebuah troli dengan berbagai makanan di atasnya.


Aaron dalam sekejap sudah selesai menata makanan di atas meja.


"Ayo, makanlah" Liana terpaksa mendudukkan dirinya di kursi, menatap makanan yang sesuai dengan porsi makan untuk dua orang.


Menatap dengan ragu makanan yang terlihat menggugah selera, Liana mengambil sesendok sup jamur dan memakannya.


Aaron tersenyum, dia ikut mendudukkan dirinya dan mulai menyantap makanan yang dia masak.


"Enak" Liana bergumam lirih, kembali mengambil sup jamur di mangkuknya.


Ah, entah apa yang aku jelaskan saat ini.


...


Selama seminggu, Liana hanya makan tidur dan menemani Aaron di kamar, entahlah, dia hanya tidak ingin keluar dari kamar Aaron yang sudah dia klaim menjadi kamar miliknya.


Aaron hanya mengiyakannya, dia bahkan membawa setumpuk pekerjaannya ke dalam kamarnya, membuat Sean selaku sahabat dan asistennya merasa heran.


"Ayah, di mana Elena? Kau tidak menyuruhnya untuk pergi ke medan perang dan bunuh diri di sana kan?" seketika Liana mendapati cubitan di pipinya.


"Apa yang kau pikirkan tentang Ayah hm? Ayah tidak mengirimnya ke sana, setidaknya belum" jawab Aaron, diakhiri dengan gumaman pelan.


Liana memutar mata jengah, dia turun dari kursi dan menuju kearah rak buku, mengambil salah satu buku yang belum di bacanya.


Selama seminggu ini, hubungan mereka menjadi sedikit lebih baik, ingat hanya sedikit.


Terkadang Liana masih bersikap dingin pada Aaron, dan yah, Aaron memakluminya, toh, itu juga salahnya.


Aaron kembali fokus pada berkas-berkas yang dia letakkan di meja baca di dalam kamarnya, dia awalnya sesekali melirik Liana yang terlihat serius membaca buku itu.


Namun melihat buku apa yang Liana baca, Aaron menghentikan tangannya yang sibuk membolak-balikkan berkas.


Aaron bangkit dari duduknya, dan menghampiri Liana. Benar saja dugaan Aaron, buku yang tengah Liana baca adalah buku dengan bahasa kuno yang tertulis di sana.


Liana yang baru merasakan hawa keberadaan Aaron seketika menutup buku itu, walau terlambat.


Merasakan bahwa dia sebentar lagi akan diinterogasi oleh pria didepannya, maksudnya, ayahnya, dia kemudian berdiri dan menatap Aaron.


"Aku akan pergi ke kamar mandi" Liana pergi secepat kilat dari kamar itu.


Aaron menghela napas, dia mengambil buku yang tergeletak di lantai, mengembalikannya ke tempat semula.


Liana yang kabur keluar dari kastil utama, dia kemudian tidak sengaja menabrak seseorang.


"Maaf, aku tidak memperhatikan langkahku" Liana menunduk.


Orang yang dia tabrak hanya diam, manik mata berwarna merah crimson orang itu menatap Liana dengan dingin.


Tidak mendapatkan respon balik, Liana mengangkat kepalanya, seketika dia mematung di tempat.


"Sial! Kenapa harus si sulung berwajah kaku ini?!" Liana merutuki nasib di dalam hatinya.


"Apa yang kau lakukan di sini, huh?" suara kesal Aldrich terdengar di telinganya, Liana diam, memilih kata apa yang harus diucapkannya.


"... Ah benar, aku tersesat, kalau begitu aku pergi dulu" Liana pergi begitu saja, wajahnya tampak menjengkelkan bagi Aldrich.


"Benar-benar bermuka dua" Aldrich memiliki wajah dingin, dia kemudian melangkahkan kakinya kembali ke kastil utama, tempat ayahnya tinggal.


Liana berhenti di sebuah pohon besar, dia menatap ke sekelilingnya, dia tidak sadar bahwa dia telah berjalan hingga hampir ke arah tempat para kesatria tinggal.


Sebuah seringai muncul di di wajah Liana, wajahnya terlihat agak menyeramkan saat ini.


Istana bagian selatan, arena pelatihan.


Terlihat Albert, Kesatria berambut pirang kita yang tengah memberikan instruksi dalam pelatihan yang dilakukan oleh para kesatria lain.


Pandangannya tiba-tiba saja terpaku pada satu kesatria wanita yang belum pernah dilihatnya berada dalam barisan.


"Ah, mungkin itu kesatria magang" pikirnya.


Albert menyuruh para kesatria berhenti, dan dia membuat pengaturan baru.


"Baiklah, sepertinya kita hari ini kedatangan teman baru, kau bisa maju ke depan dan perkenalkan dirimu" Albert memandang kearah kesatria wanita itu.


Orang yang merasa di panggil pun maju menuju Albert, diam-diam dia membentuk seringai di wajahnya.


"Ini benar-benar menyenangkan!!" batin wanita itu.


Memiliki rambut berwarna violet, yang selaras dengan warna matanya yang tampak tajam, dia maju ke depan.


"Ah kapten, ternyata Anda mengetahuinya" wanita itu memberikan senyuman.


Albert merasa aneh, senyuman ini pernah dilihatnya sekali di suatu tempat, tidak ingin memikirkan hal itu lebih lama, dia membuka mulutnya.


"Baiklah, perkenalkan dirimu" Albert menepuk pundak wanita itu pelan, sang wanita mengangguk, kemudian dia berbalik dan menatap kearah kerumunan kesatria itu.


"Halo, perkenalkan namaku Viana Linslay, Aku baru tiba hari ini dan lupa untuk menemui kapten terlebih dahulu karena terlalu bersemangat saat melihat arena pelatihan, Aku harap kapten mau memaafkanku"


Senyum wanita itu– Viana kembali terlihat, beberapa kesatria pria memiliki wajah bersemu dan terpesona, Albert tiba-tiba saja merasakan pening.


Entah kenapa, firasatnya tidak enak.


"Ah begitu, Aku bisa saja memaafkanmu dan tidak memberikan hukuman, tapi itu melanggar batasan, jadi, sebagai hukuman, Viana akan melakukan duel dengan 5 kesatria yang aku pilih"


Semua orang tersentak mendengar hal itu, kecuali Viana yang terlihat biasa saja, yah, itu bagus untuknya, tapi tidak untuk 5 orang yang tidak beruntung.


"Kapten! Bukankah itu terlalu berat? Dia pasti kesatria magang yang belum menerima pelatihan apapun!" seorang kesatria pria menentang hal itu.


Viana menatapnya, melihat kearah surai rambutnya yang berwarna light grey dengan manik mata berwarna violet, Viana menyeringai dalam batinnya.


"Ketemu" Viana menatap kearah kesatria itu tanpa minat, Zack, nama kesatria itu, dia merasakan punggungnya dingin entah kenapa.


"Tidak apa-apa, aku ingin menguji kemampuannya, lagipula duel akan berakhir saat salah satu dari mereka mengarahkan pedang kayu kearah titik vital lawannya"


Albert mengacuhkan kesatria itu sepenuhnya sekarang, dia menatap ke sekeliling dan memilih siapa saja yang akan dia tunjuk.


"Aurora, Becky, Julian, Asrahan, Helios, kalian yang akan maju untuk berduel dengan Viana" keadaan di sekitar menjadi semakin berisik.


Para kesatria merasa kasihan pada Viana, karena mereka adalah 5 orang kuat di antara 10 kesatria terkuat.


Viana menampilkan wajah seolah bersemangat, dan itu dapat di tangkap oleh mata Albert.


"Sebenarnya, darimana orang gila ini berasal? Aku yakin tidak ada penerimaan kesatria magang di Minggu ini" Albert mengabaikan isi pikirannya sejenak.


Lima orang yang terpanggil maju ke depan, dua orang wanita, dan tiga orang pria.


Albert melemparkan 6 buah pedang kayu kepada masing-masing dari mereka, Viana mengambil pedang kayu yang tergeletak, dia memeriksanya sejenak.


"Ini akan tahan saat aku memasukkan mana kedalamnya bukan?" Viana menatap kembali kedepan, tatapannya berangsur terlihat membara, tidak sabar dengan duel yang akan di hadapinya.


"Yang pertama Viana akan melawan Asrahan, walaupun mungkin Viana kalah di duel ini, dia akan terus melanjutkan duel dengan empat orang yang lain" pernyataan Albert membuat semua orang menjatuhkan rahangnya.


Kecuali Viana, semuanya memandang tak percaya kepada Albert, kapten sekaligus kesatria pribadi sang Kaisar.


"Dimengerti, kapten" Viana pergi ke arena duel dengan tatapan dan aura membara, dia sudah tidak sabar, dia ingin tau, apakah kesatria tingkat 7 memang sekuat itu.


Asrahan juga pergi ke arena duel, dia memiliki warna rambut berwarna amerald, dengan manik mata berwarna Lilac.


"Mohon bantuannya, senior" Viana menyiapkan kuda-kuda, beberapa orang yang memperhatikan dengan jeli menyadari bahwa itu bukan postur yang bisa dimiliki oleh seorang kesatria magang.


Asrahan hanya diam dan mengangguk, dia memasang kuda-kuda, menggenggam erat pedangnya.


"Baiklah, bersiap ... mulai!" hembusan angin menerpa kulit semua orang, Asrahan melesat dan mengarahkan pedang kearah Viana dengan cepat.


Viana dengan cepat menangkis tusukan pedang, dia mendorong pedang Asrahan menjauh, dia melompat mundur tiga kali dan menatap kearah Asrahan.


"Anak ini ... dia berniat mengobservasi lawan, tapi Asrahan tidak suka membuang waktu dan lebih suka mengalahkan lawan dalam waktu singkat" Albert memberikan komentar dalam hati.


Asrahan melancarkan tebasan, Viana menangkisnya, suara beradu dua pedang kayu terdengar, gerakan mereka berdua lama kelamaan menjadi lebih cepat.


"Ini anak magang? Aku yakin dia bahkan sudah menjadi kesatria tingkat 5, tidak, ini tingkat 6!" Asrahan semakin terdesak, jika dia melanjutkan duel ini lebih lama, bisa dipastikan dia akan kalah.


Sebelum sempat Asrahan mengambil tindakan, tiba-tiba saja pedangnya lepas, dan terlempar kebelakang.


"Aku menang" keadaan Viana baik-baik saja, tanpa ada sedikitpun kelelahan yang terlihat di wajahnya, sementara Asrahan memilik napas memburu.


Asrahan memiliki senyum puas di wajahnya, walau dia kalah dari orang yang kemungkinan satu tingkat di bawahnya, dia tampak tidak marah, namun memiliki wajah bahagia.


"Aku kalah, itu tadi duel yang menegangkan, Viana" Viana tersenyum, dia mengulurkan tangannya kepada Asrahan.


Suasana hening, beberapa kesatria tengah memproses kejadian yang tengah terjadi, beberapa menatap tidak percaya.


"Ekhem, baiklah, selanjutnya Viana akan melawan Aurora" duel kembali berlanjut, Viana dapat dengan mudah menang melawan mereka.


Setelah Aurora adalah giliran Julian, kemudian Becky, dan terakhir adalah Helios. Viana masih memiliki tubuh yang segar dan bugar setelah 4 duel yang dia lakukan.


Kesatria lain memandangnya dengan iri dan rasa ngeri, Helios adalah adalah kesatria terkuat ke 3 di antara 10 orang lainnya.


Helios memiliki wajah tampan yang terkesan dingin dengan alis yang tajam, surainya berwarna Maroon dengan manik mata yang senada.


Duel kembali berlanjut, duel mereka berlanjut dengan sengit, Viana terlihat beberapa kali terdesak, bagaimanapun Helios adalah kesatria tingkat 8 menengah.


Viana dapat melihat sebuah celah di area perut Helios dan berniat melesatkan serangan, benar saja, Helios terdorong mundur dengan memegangi perutnya.


Viana kemudian mengarahkan pedang kayunya pada leher Helios.


"Aku menang" Viana menurunkan pedang kayunya dari leher Helios.


Dia keluar dari arena duel dengan santai, berdiri di depan Albert.


"Nah, aku selesai, aku sudah cukup bersenang-senang hari ini, sampai jumpa di kastil utama Paman Albert, aku harap ini menjadi rahasia diantara kita" Viana tersenyum kearah Albert.


Dia kemudian menghilang dari sana, Kesatria di sekitarnya menampilkan wajah linglung, kecuali Albert dan Zack, kesatria yang di lirik oleh Viana.


"Kenapa kita di sini? dan kenapa pula aku merasa sangat lelah seolah baru saja habis berduel?" Julian bertanya dengan bingung.


Albert tertawa dengan lelah, oh bagus, dia sekarang terjebak dengan seorang anak yang mirip dengan Kaisar yang dilayaninya.