Why Are You So Disinterested In Affection?

Why Are You So Disinterested In Affection?
Bab 14



"Ah sial, seharusnya aku mendengarkan apa kata Paman El dan Felix tadi" Liana menambah kecepatan berlarinya, melarikan diri dari kejaran makhluk di belakangnya.


Suara gonggongan dan geraman terdengar dari makhluk di belakangnya, bagaimana Liana bisa terjebak dalam situasi ini?


Flashback–


Pagi-pagi sekali, Aaron bersiap pergi di temani keempat putranya, sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Liana, tapi dia sudah terlanjur berjanji dan Liana tidak mau di ajak.


"Jaga diri baik-baik okey? Ayah dan kakak akan kembali nanti sore" Liana mengangguk, Aaron mulai menaiki kereta kuda.


Aaron menatap tepat ke arah mata Liana sebelum dia menutup pintu kereta kuda, langkah kaki kuda mulai terdengar.


Kereta kuda itu telah melesat pergi meninggalkan istana, tidak ada banyak orang di sana, sebagian besar pelayan libur hari ini, dan hanya tersisa para kesatria yang juga sebagian pergi mengawal sang Kaisar.


Sepeninggalan Aaron, Liana menunjukkan seringai lebar yang terlihat sedikit menakutkan.


[Liana, mungkin lain kali saja keluarnya, firasatku buruk tentang rencana jalan-jalanmu di luar]


Felix dalam bentuk burung merpati berbulu putih hinggap di bahu Liana, dia bisa berubah menjadi lebih banyak hewan lain, dan bahkan bisa mengatur warna bulunya.


[Itu benar, firasat Paman juga tidak enak tentang kamu yang akan menyelinap keluar]


Leonel menimpali, dia melayang rendah tepat di depan wajah Liana, menatap langsung kearah manik mata Liana yang berwarna merah crimson.


"Paman El juga? Tapi tenang saja, aku cukup kuat untuk menyelesaikan permasalahan yang mungkin aku hadapi" Liana membuat postur tubuh membanggakan diri, menatap Leonel dengan mata penuh percaya diri.


[Terserah kau sajalah Liana]


Felix terbang menjauh, Liana mengabaikan hal itu dan dia segera pergi ke temat di istana yang sepi, dia mengambil jubah dari ruang dimensi kemudian menghilang dari sana.


"Di mana Aku? Sial, Aku lupa menentukan kemana aku akan pergi" Liana menendang kerikil di dekat kakinya.


Dia saat ini berada di tengah-tengah rimbunnya pepohonan, Liana mendongak, dapat dilihat pohon di sini semuanya tinggi.


Saking rimbunnya pepohonan dengan daun-daun yang lebat, cahaya matahari sulit untuk menyinari dalam hutan itu.


Liana mulai berjalan, berharap dia menemukan jalan keluar dari sini, kenapa dia tidak kembali menggunakan sihirnya seperti sebelumnya?


Sihir yang dipakai Liana bernama teleport, itu memerlukan mana yang banyak dan lagi fokus yang tinggi, namun keadaan Liana tidak memenuhi kedua persyaratan itu.


Mana yang tersimpan di jantung mananya hanya tersisa sepertiga saja, dan lagi dia sedang dalam kondisi sedikit panik hingga sulit untuk fokus.


"Hei, tidak ada seseorang di sini kah? Elf, pemburu, ataupun petualang?" Liana menoleh ke sekelilingnya, tidak dapat dia rasakan jejak mana manusia di sekitarnya.


Liana terus berjalan, sampailah dia di depan gua yang tampak suram dengan mana gelap di sekitar gua itu.


"Sepertinya ini sarang beast demon, akan berbahaya jika aku bertarung, mana milikku belum pulih sepenuhnya, dan lagi aku tidak tahun beast demon macam apa yang ada di dalam sana" Liana mundur perlahan.


Namun sial baginya, dia tidak sengaja menginjak ranting dengan cerobohnya.


Keringat dingin seketika membasahi punggungnya, suara langkah kaki berbulu terdengar berat dari dalam gua, Liana menelan ludahnya.


Rambutnya yang berubah warna menjadi merah pekat tampak basah oleh keringat, manik matanya yang berwarna emas bergetar pelan.


Sesaat setelah makhluk di dalam gua menampakkan dirinya, terlihat seekor anjing besar dengan tiga kepala dan air liur yang menetes ke tanah, menyebabkan tanah itu meleleh karena asam.


"Cerberus!!" Liana mencoba menyamarkan dirinya namun terlambat, tatapannya bertemu dengan salah satu kepala Cerberus itu.


Grrr grrr guk!


Cerberus menunjukkan sikap ingin menerkam, Liana melihat hal itu dan tanpa mengatakan apapun lagi segera berlari.


Cerberus yang melihat mangsanya kaburpun mulai mengejar, Liana sembari berlari memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Benar, pedang, tapi itu akan sulit untuk mengambilnya di ruang dimensi" salah satu kepala Cerberus hendak menggigit tubuh kecil Liana.


"Ah sial, seharusnya aku mendengarkan apa kata Paman El dan Felix tadi" Liana menambah kecepatan berlarinya, melarikan diri dari kejaran makhluk di belakangnya.


Suara gonggongan dan geraman terdengar dari makhluk di belakangnya, makhluk itu tampak marah karena mangsanya begitu gesit.


–Flashback end


"Ini mungkin cukup untuk menahannya beberapa detik" monolog Liana dalam hati, dia melompat ke salah satu dahan pohon di dekatnya.


"Barrier!!" sebuah bola pelindung tipis yang terbuat dari mana terlihat, warnanya berwarna emas dengan beberapa garis halus di sekitarnya.


Cerberus melompat berniat menggigit Liana, menyeretnya kebawah, barrier itu mulai menunjukkan retakan halus.


Tanpa membuang-buang waktu, Liana menjulurkan tangannya kesamping, sebuah pedang besar yang tersarung dengan warna hitam terlihat di tangannya.


Itu adalah pemberian Leonel kepadanya, sedikit terasa berat, tiba-tiba saja ukuran pedang itu menyusut menyesuaikan tubuh Liana.


Krekk krekk...


Pyar!!


Barrier itu pecah sepenuhnya, Liana menahan mulut salah satu kepala Cerberus dengan pedang yang masih tersarung.


Air liur asam tidak berpengaruh pada sarung pedang, Liana mendorong kebelakang Cerberus dengan pedang dan melompat beberapa kali, membuat jarak antara dirinya dengan Cerberus.


Liana mengambil napas, dia menutup mata sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya.


"Ini tidak akan lama, bukan begitu tuan Cerberus?" Liana terselimuti oleh aura berwarna ungu violet, tudungnya terbuka tertiup angin, rambutnya dan matanya berubah warna menjadi violet yang indah.


Grrr... grr... grrr...


Ketiga kepala itu menggeram bersamaan, seakan paham dengan provokasi yang Liana berikan.


Mana gelap berkumpul di sekitar mulut salah satu kepala, itu semakin besar dan kemudian dia memuntahkan lahar panas.


Liana menghindari serangan itu dengan melompat ke samping, dia melesat maju dengan mengarahkan ujung pedangnya pada mata salah satu kepala Cerberus.


Jleb!


Liana berhasil menusuk salah satu mata, Cerberus itu meraung kesakitan dan mulai memuntahkan lahar panas lebih banyak.


Liana melompat mundur beberapa kali menghindari muntahan lahar panas yang hendak mengenainya.


"Itu dia, ternyata kau menyembunyikannya dengan sihir ilusi ha? Dasar brengsek" Liana menggertakkan giginya marah, dia kembali melesat kearah Cerberus itu.


Seakan mengerti kalau kelemahannya sudah di ketahui, Cerberus itu lebih membabi buta memuntahkan lahar panas, inti kehidupan para beast yang sering di sebut mana beast.


Itu tepat berada di dahi kepala di tengah, manik mata violet Liana bersinar, dia dengan brutal mulai mencongkel mana beast itu dari kepala Cerberus.


Grrr!!


Geraman kesakitan terdengar, Cerberus itu berniat meloloskan diri, Liana seketika mencabut seluruh mana beast dari kepala Cerberus.


Grrr...


Geraman rendah untuk terakhir kalinya terdengar, Cerberus itu kemudian tergeletak tanpa nyawa.


Mana gelap mulai memudar dari tubuhnya, Liana menyarungkan pedangnya dan meletakkannya di ikat pinggang.


Liana melihat mana beast di tangannya, itu seperti kristal sebesar kepalan tangan orang dewasa berwarna ungu gelap.


"Seharusnya ini di sebut mana beast demon" Liana memperhatikan mana beast itu dengan seksama, kemudian dia mengalirkan mananya yang berwarna ungu violet kedalamnya.


"Selesai, nah lebih baik aku segera per-" sebelum Liana menyelesaikan ucapannya, dia melompat kesamping.


Sebuah anak panah menancap di batang pohon, ada ukiran daun di badan anak panah itu.


Liana kembali menarik pedang dari sarungnya, melemparkan mana beast demon yang sudah dia murnikan ke ruang dimensinya.


"Elf!" manik mata Liana bersinar, anak panah kembali dilesatkan kearahnya, bukan hanya satu atau dua, itu empat anak panah sekaligus.


Liana kembali menghindari anak panah itu dan menangkis salah satu anak panah dengan pedangnya.


Kembali, sepuluh anak panah kembali dilesatkan kearahnya, Liana masih menghindar dan menangkis, tidak berniat menyerang beberapa Elf yang sudah dia ketahui keberadaannya.


Semakin lama anak anah yang dilesatkan semakin banyak, Liana yang sudah merasa jengkel kemudian menggunakan kemampuannya yang diperoleh pada kehidupan keduanya yang terbawa.


"Shadow step" Liana menghilang, kemudian dia muncul di belakang salah satu Elf dan membuatnya pingsan dengan memukul belakang lehernya.


"Satu tumbang, tersisa 6 lagi" Liana kembali menggunakan shadow step miliknya.


Sebuah kemampuan yang biasa di sebut skill ini memiliki kemampuan untuk memungkinkan penggunanya berpindah tempat dalam waktu singkat dan jarak yang dekat.


Mirip dengan teleport, bisa dikatakan ini sebagai teleport jarak pendek.


Dua, tiga ... Liana sudah menumbangkan lima Elf, tersisa satu Elf yang kemampuannya lebih hebat dari lima elf yang lain.


Liana hendak memukul belakang leher Elf perempuan yang tersisa itu, namun di tahan dengan busurnya.


"Kau hebat juga, anak manusia" manik mata Elf itu berwarna hijau amerald, menatap kearah mata Liana secara langsung.


"Ya, Aku tahu Aku itu hebat, tapi Aku tidak butuh pujian dari orang elf yang berniat mencelakaiku!!" Liana mengayunkan pedangnya secara vertikal, dan di tahan oleh Elf itu menggunakan belati kecil.


"Kkh ... berikan mana beast demon yang kau dapatkan, dan juga serahkan mayatnya pada kami!" suara elf perempuan itu terdengar memerintah.


"Ck! Aku yang mengalahkannya dan kalian seenak jidat ingin merampasnya? Langkahi dulu mayatku!" aura berwarna violet yang menyelimuti Liana menjadi lebih besar.


Sang Elf merasakan tekanan dari aura berwarna ungu violet itu, dia melompat tiga kali kebelakang dan memandang Liana dengan waspada.


"Karena kau begitu ingin mati, ayo kita lihat siapa yang lebih kuat dan hebat dalam pertarungan!" manik mata Liana bersinar dengan sinar dingin.


Dia melesat menuju kearah Elf itu, Liana menebas secara horizontal dan di tahan dengan busur oleh Elf itu.


Liana mulai memberikan tebasan secara brutal namun tetap teratur kearah Elf itu, luka gores mulai memenuhi tubuh sang Elf, wajahnya yang cantik tertutupi goresan.


Baju dan jubah berwarna serba hijau sudah sobek di sana-sini dengan darah yang merembes.


Satu tebasan horizontal terakhir Liana hampir mengenai leher sang Elf, namun sebuah busur lain menghalangi mata pedangnya.


"Kaisar!!" sang Elf perempuan itu berteriak saat melihat seorang Elf lelaki menahan pedang Liana.


Merasakan kekuatan sang Elf yang di panggil Kaisar berbeda jauh dengannya, Liana melompat mundur beberapa kali, manik matanya menajam.


"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah aku menyuruhmu bersama timmu untuk mencari buruan?" Kaisar Elf itu memandang tajam kearah Elf perempuan.


Liana mengangkat salah satu alisnya, ah benar, Elf di era ini juga memakan hewan, bukan hanya sekelompok vegetarian.


"Begini Kaisar, sebenarnya kami melihat Cerberus yang sudah meresahkan penduduk dan membunuhnya, tapi anak manusia ini ingin merampas buruan kami"


Sekarang tatapan tajam Kaisar diarahkan pada Liana, Liana memutar bola mata jengah, oh ayolah, dia sekarang bertemu dengan jenis Elf yang paling dia benci.


Elf yang suka membalikkan kebenaran yang sebenarnya.


"Aku? Merampas buruan kalian? Bukankah itu kalian? Aku sempat di kejar-kejar oleh Cerberus sialan itu dan hampir menjadi santapannya, lalu seenaknya kalian bilang itu buruan kalian?" Liana menjeda ucapannya sejenak.


"Ternyata kalian sama menjijikkannya dengan kami ya, para manusia" Kaisar Elf itu terdiam, dia merasakan ada hal ganjil yang diucapkan oleh Elf perempuan di dekatnya.


"Itu bohong! Kami menemukan sarangnya dan memancingnya, kemudian kami membunuhnya!" cukup sudah, sekarang kesabaran Liana sudah habis.


"Buktikan, buktikan kalau ada bekas anak panah di tubuh Cerberus itu, seharusnya itu ada bukan? Bukankah para Elf memang ahli dalam menggunakan busur?" ucapan Liana tepat mengenai sasaran.


Sang Elf perempuan terdiam, itu benar, dia menggertakkan giginya marah.


"Dasar anak manusia sialan" merasakan umpatan dalam hati yang ditunjukkan untuknya, Liana memandang Elf itu dan tersenyum sinis.


Seorang Elf dengan pakaian panjang juga dengan jubah berwarna serba hijau tua dengan tambahan emas muncul di dekat Kaisar Elf.


"Yang Mulia, tidak ada bekas luka anak panah di mayat Cerberus itu, hanya ada bekas luka tusukan pedang di matanya dan di dahinya" Elf itu bersimpuh di dekat Kaisar Elf.


Punggung Elf perempuan itu berkeringat dingin, bagus, Kaisar tidak menyukai orang sepertinya, apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini?


"Jadi perkataan mu itu bohong, Alfa? Kembali ke desa dan tunggu Aku di sana, Kau akan menjalani hukuman berat dariku" menggerakkan gigi, Elf perempuan itu kemudian menunduk dengan enggan.


"Baik, Kaisar" kemudian dia menghilang dari sana.


"Anak manusia, maafkan kelakuan anak itu, dia memang kadang bersikap seperti itu jika ada kemauan, mohon kami meminta maaf kepadamu" Kaisar itu menunduk sedikit, menunjukkan rasa bersalah.


Liana memandang sejenak, kemudian dia kembali menyarungkan pedangnya, rambutnya dan matanya yang berwarna violet berubah warna menjadi rambut merah tua dan mata emas.


Kaisar Elf itu membelalakkan matanya, kekuatan yang ditunjukkan Liana mengingatkannya pada salah satu manusia yang pernah ditemuinya beberapa ratus tahun yang lalu.


"Aku terima permohonan maafnya, kalau begitu Aku pamit" Liana hendak berbalik, sebelum suara Kaisar Elf itu kembali terdengar.


"Biar kau di antarkan oleh Jim, Aku tahu kau tersesat, Jim, antar dia hingga keluar hutan ini, oh, berikan juga mayat Cerberus itu padanya" Jim walau bingung menuruti permintaan Kaisarnya.


Mayat Cerberus itu tiba-tiba saja muncul di tanah, di depan mereka bertiga, Liana hanya menggerakkan tangannya, dan mayat Cerberus itu menghilang.


"Kalau begitu ayo tunjukkan jalannya, Kaisar, terima kasih atas bantuannya" Liana menunjuk, kemudian dia berjalan pergi mendahului Jim.


Jim pamit undur diri untuk melaksanakan perintah Kaisar, dia kemudian pergi menyusul Liana.


"Haih, jadi dia keturunan terakhir ya? Juga anak dalam ramalan" Kaisar itu mendongakkan kepalanya, memandang ke celah-celah dedaunan yang membiarkan cahaya masuk.


"Sepertinya, rapat yang tertunda selama ratusan tahun bisa dilakukan sekarang, juga, kita tidak perlu mengasingkan diri lagi" Kaisar Elf tersenyum, kemudian dia menghilang dari sana.


Selesai!!


A/N: Author ada sedikit note di sini! Mohon di baca ya!!


Jadi di cerita ini akan ada beberapa hewan mitologi, seperti Cerberus dari mitologi Yunani, dia adalah penjaga alam baka, peliharaan Hades.


Namun di sini beberapa akan aku jadikan beast demon. Di dunia ini bukan hanya ada manusia, ada lagi ras lainnya, seperti Elf, dwarf, Demon, Beast, Demon beast, dan masih banyak lagi.


Beast di sini berbeda dengan hewan biasa, mereka memiliki kemampuan untuk memungkinkan menyimpan ****mana**** di ****mana**** beast, itu adalah inti pusat kehidupan beast dan pusat kekuatan tersimpan.


Jika mana beast di ambil paksa, maka beast itu akan langsung mati.


Sistem pemerintahan di dunia ini berbasis kerajaan, akan ada tingkatan-tingkatan bangsawan di sini, aku akan menjelaskannya di lain chapter.


Agar lebih jelas dan kalian ingat, pengguna mana di kategorikan menjadi dua di sini, penyihir dan kesatria.


Penyihir menyimpan mana di jantung dan membentuk mana yang mengelilingi jantung itu sendiri.


Sementara Kesatria menyimpannya di perut ataupun seluruh tubuh, namun kasus menyimpan mana di seluruh tubuh termasuk kasus langka.


Biasanya seseorang hanya akan menjadi satu pengguna mana saja, tapi Liana adalah kasus yang unik, dia menjadi dua pengguna mana sekaligus, dan bahkan memiliki kemampuan.


Baiklah, ku pikir itu saja dulu?