
Liana menghela napas untuk yang kesekian kalinya, terakhir kali kejadian dia membaca buku di perpustakaan hingga lupa waktu dan menyebabkan kekacauan membuatnya terjebak di situasi yang dia benci.
Di sinilah Liana sekarang, duduk seperti patung di ruang kerja pribadi Ayahnya itu, di depannya ada meja yang tersaji dengan berbagai macam camilan.
Aaron sibuk dengan berkas-berkasnya, sesekali melirik Liana yang memakan camilannya dengan kesal.
Sean membenarkan kacamata berlensa tipis miliknya, dia berdiri diam tepat di samping meja Aaron, dengan tangan yang senantiasa memegangi setumpuk kertas.
Ngomong-ngomong soal ruang kerja, kedatangan Alexia ke istana meninggalkan kesan menyeramkan bagi Liana.
Bagaimana tidak, Alexia tinggal selama tiga hari di istana, dan selama itu setiap dia memiliki kesempatan, dia akan menatap Liana dengan tatapan seolah melihat mangsa, ataupun menemuinya.
Tatapannya selalu seperti seorang predator yang mengawasi mangsanya, Liana berpura-pura tidak tahu dan melanjutkan aktivitas seperti biasa, hingga itu memuncak pada hari ketiga.
Liana yang saat itu tengah berlatih pedangnya secara diam-diam di halaman belakang kastil utama tanpa sepengetahuan ayahnya.
Dia berlatih dengan fokus, hingga sebuah kehadiran yang muncul tiba-tiba membuatnya waspada dan langsung menyerang orang itu tanpa mengatakan apapun.
Hampir saja pedang Liana mengenai leher orang itu, bilah pedang Liana berhenti beberapa centi saat melihat siapa orang itu.
"Lady Alexia, Anda mengejutkanku" Liana menghela napas, dia kemudian menyarungkan pedangnya.
Alexia hanya diam, tatapan matanya terlihat haus, dia tiba-tiba mendekat, mempersempit jarak diantara mereka.
"Tuan Putri, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tinggi Liana yang hanya sedadanya membuat Alexia harus menunduk.
Liana mendongak dan menatap acuh saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Alexia.
"Saya pikir tidak, Lady Alexia, Saya pikir ini pertemuan pertama kita" Liana menjawab tanpa kesulitan, tatapannya terlihat santai.
"Anda berbohong" Alexia menjauhkan tubuhnya, tatapan matanya semakin terlihat lebih haus lagi dan lagi.
Liana mengernyitkan dahinya, ah benar, dia lupa dengan kemampuan spesial yang dimiliki oleh Alexia.
Liana berbalik dengan acuh, dia tidak ingin mengekspos sesuatu tanpa sengaja di depan Alexia.
"Lady Alexia, Ayah mencari Anda, lebih baik Anda segera pergi, beliau orang yang paling tidak suka menunggu" Liana pergi meninggalkan Alexia di sana.
Liana menghela napas kala mengingat hal itu, malamnya dia di teror oleh Alexia yang menyamar menjadi Scream.
Pada paginya, Alexia menemuinya, dan dia menyerahkan kantung kecil yang entah apa isinya, Liana tidak berani membukanya takut-takut di dalam ada seorang arwah yang tersegel.
Ngomong-ngomong soal Scream, sebenarnya Scream itu adalah beast yang termasuk kategori mental, bentuknya di gambarkan tubuh manusia dengan kepala hewan.
Soal Liana berkata pernah melihatnya sekali itu bukan kebohongan, malam-malam dia tidak bisa tidur memutuskan membuka jendela, dari kejauhan di dekat hutan.
Ada sosok besar bertubuh manusia dengan kepala rusa, seluruh badannya tertutupi bulu lebat, dan matanya berjumlah tiga dan bersinar dalam kegelapan, sebenarnya bukan hanya kepala rusa, kerbau juga bisa.
Makhluk itu memang menyeramkan, tapi suara jeritan yang dikeluarkannya sangat berbahaya, itu bisa membuat orang biasa yang mendengarnya menjadi gila bahkan mati.
Suara jeritan itu mengandung mana yang akan menyerang mental mangsanya, merusak mental tersebut.
Sekarang lupakan tentang Scream maupun Alexia, Liana benar-benar ingin kabur sekarang, dia sangat bosan!!
Brak!
"Ah adik, kau di sini ternyata, Ayah, aku akan pergi bersama adik, sampai jumpa lagi nanti makan malam" Lorenzo menerobos masuk tanpa sopan santun dan kemudian membawa Liana pergi begitu saja.
"Kakak! Pelan-pelan!!" Liana hanya bisa pasrah, tapi dia juga senang, dia tidak harus terjebak di sana dengan bosan.
"Sean, aku ingat kalau kau belum memberikan laporan perihal keuangan istana" ucap Aaron begitu dingin.
Sean hanya mampu menangis, padahal itu bukan tugasnya, itu tugas menteri dan permaisuri... ah Sean lupa, kekaisaran ini tidak memiliki permaisuri sekarang.
...
"Huahh, kak, syukurlah kau tadi menerobos masuk, aku sudah mati kebosanan di sana, Ayah bahkan tidak mengizinkanku membaca buku"
Liana mengeluh dan berterima kasih pada Lorenzo. Lorenzo hanya tersenyum kecil, mereka pergi ke suatu tempat.
"Kak, ku pikir mereka akan kembali ke akademi dalam tiga hari lagi?" Liana memiringkan kepala menatap Lorenzo.
"Ya, mereka sudah mulai bersiap sekarang" Lorenzo masih terus berjalan, hingga mereka tiba di belakang kastil tempat tinggal si kembar.
Mereka melihat Kakak ke tiga mereka, Kaelis tengah mengayunkan pedang kayunya dengan aura merah yang menyelimuti.
Liana membelalakkan matanya, bukankah itu... teknik berpedang miliknya? Bagaimana Kaelis bisa menggunakan teknik pedang miliknya?
Pergerakannya sangat sempurna, hanya saja itu lebih keras daripada tekniknya yang terlihat lembut, tajam, dan lebih cepat.
Tak!
Pedang kayu itu diarahkan pada leher Liana yang masih terpaku, sementara Lorenzo hanya mampu melihat dengan keringat dingin.
"Oh, aku kira kalian penyusup, ada apa kalian kemari?" Kaelis masih memiliki aura merah yang menyelimuti.
"Ah kami–" sebelum Lorenzo menjelaskan, Liana sudah membuka mulut terlebih dahulu.
"Darimana kamu mempelajari teknik ini? Bahkan mengeluarkan aura pedang yang tidak pernah terlihat di kekaisaran?" nada bicara Liana begitu dingin.
Lorenzo dapat merasakan suhu di sekitarnya mulai menurun beberapa derajat.
"Katakan padaku, jelaskan padaku" mata Liana bersinar dengan cahaya dingin dan berbahaya, membuat insting Kaelis menjerit.
"Adik, tenanglah" Lorenzo menepuk pundak Liana lembut, dia mencoba menenangkan adiknya yang tiba-tiba memiliki suasana hati yang buruk.
Kaelis menghela napas lega saat suhu di sekitar mulai kembali menghangat, juga tatapan dingin yang Liana berikan telah lenyap.
“A-apa itu tadi? Aku seperti menghadap pada Ayah yang tengah marah, tapi ini lebih berbahaya” batin Kaelis dengan punggung berkeringat dingin.
"Kak Enzo, aku akan kembali saja, sampai jumpa nanti" Liana pergi begitu saja, moodnya jatuh, dia ingin memukul sesuatu sekarang.
Lorenzo menghela napas, semakin dia rasakan, Liana semakin mirip dengan Ayah mereka, sama-sama mudah memiliki suasana hati yang tidak menentu.
Juga Liana lebih mirip Ayahnya daripada ibu mereka yang lemah lembut.
"Apa dia memang seperti itu?" Kaelis menyingkirkan pedang kayunya, menatap Lorenzo dengan penasaran.
"Entah, cari tahu saja sendiri" Lorenzo kembali ke dirinya yang acuh tak acuh, dia mengangkat bahunya dan kemudian pergi dari sana, tanpa mengucapkan kalimat pamit.
Kaelis bingung, Lorenzo tadi tampak hangat, tapi, dia sekarang kembali menjadi dingin dan juga acuh tak acuh.
"Hah... Ayah, sebenarnya kenapa semua anakmu itu aneh?" Kaelis mengeluh.
Tunggu, berarti kau juga aneh kalau begitu, Kaelis. Karena kau juga anak dari ayahmu.