
Hari sudah mulai gelap, suara tapal kuda yang menarik kereta terdengar di kejauhan, Albert sudah menunggu di gerbang selatan kota dengan menunggangi kuda.
"Tamu yang sangat penting? Aku penasaran tamu dari mana itu" Albert menunggu dengan sabar.
Dua kuda yang menarik kereta perlahan melambat, Albert turun dari kudanya dan menepuk pelan kepalanya, menyuruhnya untuk menunggu sebentar.
"Halo, Sir. Albert" seorang pria dengan armor besi bersimbol kerajaan Cannavaro yang merupakan elang terlihat di bagian dadanya.
Rambutnya berwarna black soot, manik matanya tampak tajam berwarna dodger blue. Melihat bahwa itu adalah orang yang dia kenal, Jean, kesatria pribadi putri pertama kerajaan Cannavaro.
"Halo Jean, Selamat datang di kekaisaran Calvucura, Tuan Putri Alexia" Albert memberikan salam pada Alexia yang baru saja turun.
"Terakhir kali aku kemari dua tahun lalu, dan kota ini sudah banyak berubah" Alexia memiliki senyum di wajahnya.
Albert hanya tersenyum sopan mendengar penuturan Alexia.
"Mari saya antarkan ke istana, Yang Mulia sudah menunggu kedatangan Anda"
Alexia kembali menaiki kereta kudanya, melihat Alexia sudah kembali ke keretanya, Albert kembali ke kudanya dan langsung naik.
"Mari ikuti Saya" suara tapal kuda, memenuhi jalanan yang mulai sepi itu.
"Ayah, yang benar saja, ini terlalu berlebihan tau, gaun ini sangat berat" Liana mengeluh, bagaimana tidak, gaun ini memiliki banyak tambahan kain lain.
"Siapapun itu, orang yang merancang gaun ini adalah manusia tak berotak" Liana mengutuk dalam hatinya.
"Benarkah?" Aaron yang sudah hampir selesai bersiap dengan pakaian formalnya mencoba menggendong Liana, dan benar saja, berat Liana menjadi dua kali lipat.
"Benar ini berat" Aaron menurunkan Liana dan memandangnya dengan senyum tak bersalah.
Aaron kemudian memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat, oh, itu Elena.
"Elena, bisa kau kau bantu Tuan Putri berganti pakaian? Entah siapa yang membelikannya gaun itu"
Mendengar permintaan Aaron, Elena mengangkat sebelah alisnya, kemudian dia mendekat kearah pintu, mengintip sedikit dan melihat gaun yang ... terlihat berat.
"Bukankah Anda yang membelikan Tuan Putri gaun itu, Yang Mulia?" tanpa memedulikan tata krama, Elena masuk dan mulai membantu memilihkan gaun lain.
"Bukan Aku, Aku hanya menyuruh seseorang untuk membelikannya" Liana memandang Aaron yang tengah mencoba membela dirinya.
"Sudahlah, lama-lama bisa pusing kepalaku" batin Liana dengan tabah.
Sebuah gaun panjang berwarna navy yang terlihat polos ada di tangan Elena, dia meletakkannya di kasur dan kemudian mendorong Aaron pergi.
"Yang Mulia silahkan keluar terlebih dahulu, biarkan Tuan Putri berganti gaun terlebih dahulu" setelah Elena berhasil mendorong Aaron, dia menutup pintu dengan kencang.
Beberapa saat kemudian.
"Selesai Tuan Putri, Anda terlihat lebih cantik dan mengemaskan saat ini" Elena mengagumi bagaimana gen Aaron dan Rafaela yang diturunkan pada anak-anaknya.
"Nah, sekarang mari kita tata rambut Tuan Putri" Elena kembali sibuk dengan mendandani Liana.
Beberapa saat kemudian.
"Baiklah Tuan Putri, semangat ya" Elena keluar terlebih dahulu dari kamar Aaron, dia pergi dengan wajah senang.
Aaron yang masih berdiri di lorong sambil membaca buku kecil melihat Elena dengan bingung, alisnya terangkat satu, sebuah kacamata baca bertengger di hidungnya.
"Ayah, aku sudah selesai" Liana keluar dari kamar, penampilannya saat ini benar-benar lebih baik dari pada sebelumnya.
Aaron sempat terpaku dengan penampilan Liana, benar-benar mirip dengan sang mendiang istri.
"Putri Ayah malam ini lebih cantik" Aaron mengecup kening Liana.
Liana menggosok keningnya, dia tidak terlalu suka dicium.
"Ayah, sebenarnya ada keperluan apa tamu itu datang kemari? Atau Ayah mengundangnya dan berniat menjodohkan salah satu anak Ayah?" Liana bertanya dengan wajah polos.
"Y-ya dan tidak, Ayah mengundangnya kemari, dan kebetulan juga, ada hal lain yang perlu di bahas" Aaron memalingkan wajahnya.
"Yah, Alexia kemari karena ada masalah di perbatasan, juga kalau tidak salah dia akan bertunangan dengan Aldrich, menariknya ke sisiku sebagi pendukung tidak buruk juga bukan?" monolog batin Liana.
"Ayo pergi" Aaron menggandeng tangan Liana pergi ke ruang makan di kastil terbesar di lingkungan istana, kastil tengah.
"Tempat di mana seluruhnya bekerja dan di atur di sini, ada banyak arsip rahasia juga di sini, wah, keamanannya sangat ketat" Liana melihat kesekeliling, menatap interior yang ada.
"Eh tunggu, kalau aku pikir-pikir kembali, pria ini di kehidupan lalu selalu menghabiskan waktu di sini bukan, hingga sebelum akhirnya si Sera datang" Liana sedikit bernostalgia.
"Sekarang siapa yang mengurus urusan kekaisaran jika pria ini selalu ada di dekatku?" Liana kembali memfokuskan diri dengan langkah kakinya.
Siluet seorang pria berambut hijau lumut dan mata senada melambaikan tangan dengan darah mengalir mulutnya “Itu aku”.
Penjaga pintu melihat kedatangan Kaisar dan Putri Liana mulai mengumumkan kedatangan mereka.
"Yang Mulia Kaisar dan Tuan Putri Liana memasuki ruangan"
Selesai
Author: Ugh! Aku melakukan kesalahan!!! Argh!!! /Frustasi dan tertekan
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini sudah terlalu jauh!
B-bagimana jika kita anggap tidak ada masalah selama dua Minggu di Kekaisaran ini sehingga Kaisar bisa meninggalkan singgasananya dengan sesuka hati?
Walau Aaron, Kaisar kita ini memang suka berbuat seenaknya, seperti lebih suka mengurung diri di kamar daripada dia bertemu dengan para penasehatnya ...
Aku benar-benar melupakan poin penting ini!! Aku akan sedikit merevisi di satu atau dua Chapter sebelumnya, jangan lupa untuk memberikan vote dan komen, okey? Maaf atas ketidaknyamanannya.