
Liana memandangi sebuah gua dengan tatapan mata bersinar, ah, dia tidak sabar untuk menjarah hasil rampasan para bandit itu.
Bagaimana bisa Liana sampai di sarang para nandi? Jawabannya mudah, satu orang bandit yang sengaja Liana biarkan kabur itu kembali ke sarangnya, dan Liana tinggal mengikuti dari belakang.
"Dengan begini Aku tidak akan kelaparan saat si brengsek Sera datang bukan? Koin-koin emas ku, Aku datang" Liana mulai masuk ke dalam gua itu, dia menggunakan shadow step untuk menyelinap.
Sampailah Liana di ujung gua, ada sebuah pintu besar di sana, dan pintu itu sedikit terbuka.
"Dasar tidak berguna! Bagaimana bisa kita kehilangan 29 anggota hanya karena seorang anak kecil belaka?!" suara gelas pecah terdengar.
Liana mengintip hal itu dan bersiul dalam hati, wow, pertunjukan yang menarik.
"T-tapi ketua, anak itu begitu kuat! Kemungkinan dia ada di tingkat 7" suara takut-takut terdengar.
Liana mengurungkan niatnya untuk langsung menerobos, itu hanya akan menguras tenaganya.
"Sepertinya tidak apakan kalau aku menggunakan itu?" Liana tersenyum, dia masuk kedalam diam-diam, mencari tempat dimana di simpannya harta rampasan itu.
"Ketemu" Liana memasukkannya kedalam ruang dimensinya, kemudian dia melesat pergi keluar gua, dan menghancurkan pintu masuk gua.
"Baiklah, biarkan kalian membusuk di dalam sana" Liana menebarkan serbuk berwarna hijau, dan menggunakan angin untuk membuat serbuk itu masuk ke dalam celah-celah bebatuan.
"Yah, ku pikir ini sudah cukup" Liana berbalik, dia hendak langsung kembali ke istana, namun pikirannya mengarah pada Aelius.
Anak dengan rambut berwarna hitam dengan gradasi biru di ujung rambutnya, manik matanya berwarna biru sejernih kristal yang tampak tajam.
"... Aku akan menemuinya sebentar" Liana menggunakan teleport, pergi menuju Padang rumput terakhir kali dia datangi.
...
Aelius mengayunkan pedangnya dengan wajah dingin, walau begitu, pikirannya berkecamuk.
Anak yang dia temui kurang dari dua Minggu lalu selalu mengganggu pikirannya, Aelius mengayunkan pedangnya secara horizontal dan kemudian menancapkannya ke tanah.
"Siapa anak itu? Selalu saja menggangguku" Aelius kemudian duduk di atas rerumputan, seekor burung Pipit kecil hinggap di bahunya.
"Halo, bagaimana kabar keluarga mu saat ini?" Aelius mengelus burung itu pelan.
Cit cit cit
"Bagus jika seperti itu" Aelius menyunggingkan senyum tipis.
"Bo! Jika ada orang lain yang melihatmu mereka pasti akan menganggapmu gila, apalagi kalau itu orang awam" suara seorang gadis yang terkesan cempreng terdengar.
Aelius mengalihkan pandangan, dapat dilihatnya gadis ini yang selalu mengganggu pikirannya.
"Viona?" Aelius berdiri, dia menepuk-nepuk celananya yang kotor.
"Yah, aku mampir sebentar ke sini, kau selalu saja di sini ku pikir. Di mana rumahmu?" Liana mendudukkan dirinya di rerumputan, dia mengambil sesuatu dari ruang dimensinya.
"Rumahku ada di pinggir kota itu, aku kemari untuk berlatih" Aelius kembali mendudukkan diri di samping Liana setelah mencabut pedangnya.
"Tanpa seorang pelatih?" Liana menoleh kearah Aelius.
Aelius terdiam sejenak, kemudian dia mengangguk.
Cit cit cit
Burung Pipit sebelumnya yang merasa terabaikan membuka suara, dia memandang marah kearah Liana seolah Liana adalah seorang pengganggu.
"Oh, halo little bird, aku memiliki biji-bijian untukmu" Liana menunjukkan segenggam biji-bijian di tangannya.
Seolah tidak pernah marah, burung Pipit itu mulai memakan biji-bijian di tangan Liana.
Tak lama biji-bijian di tangan Liana habis, dia mengambil sesuatu yang terbungkus kain putih kecil.
"Ambillah, makan bersama keluargamu" paham dengan maksud Liana, burung Pipit itu menggigit kain itu dan terbang pergi.
Aelius terkekeh kecil, merasa lucu dengan interaksi keduanya. Liana mengeluarkan sesuatu, oh, itu adalah buah dari Roshan Vines.
Liana memberikan satu untuk Aelius, "Ini makanlah, ini bagus untuk mengembalikan stamina mu yang hilang"
Aelius menerima buah itu, dan langsung memakannya.
Sebenarnya buah dari Roshan Vines bukan hanya bagus untuk penyihir, namun itu memang lebih efektif untuk penyihir, seperti kesatria, jika dia memakannya staminanya akan langsung kembali terisi.
Jangan menerima barang dari orang asing atau orang yang tidak betul-betul kau kenal.
Aelius benar-benar mengabaikan kalimat ini, saat dia di dekat Liana, dia selalu merasa aman, hatinya seolah menyuruhnya untuk percaya saja pada gadis di sampingnya.
Satu buah sudah habis, dapat Aelius rasakan staminanya mulai pulih sedikit demi sedikit.
"Terima kasih" Aelius mengatakannya tanpa menatap Liana, dia merasa sedikit malu untuk mengatakannya.
"Terima kasih kembali" Liana tersenyum manis kearah Aelius.
"Aku yakin kau bukan dari daerah sini bukan? Apalagi familiar yang bersama denganmu sebelumnya mengatakan kau menyelinap pergi" Aelius membuka percakapan.
"Aku dari sekitar sini, ya ... Aku tidak diizinkan keluar, padahal mereka tidak peduli padaku" Lian menjawab, suaranya lirih di kalimat terakhir.
Telinga Aelius cukup tajam, dia mendengar jelas ucapan Liana dan menoleh.
Liana hanya tersenyum, seolah-olah tidak pernah mengatakan sesuatu yang salah sebelumnya.
[Nak, kau di sini rupanya, siapa dia?]
Suara yang familiar bagi Liana terdengar, dia mendongak dan menatap seekor tupai yang melayang.
"Paman El!!" Liana berdiri, Leonel turun di pundak Liana.
[Kau belum menjawab pertanyaan Paman, nak]
Leonel menatap Liana sedikit tajam, Liana menggaruk tengkuknya canggung.
"Dia teman Viona Paman, namanya Aelius" Liana menjawab sambil memberikan kode pada Leonel.
"Halo Paman, nama Saya Aelius, Saya adalah teman Viona" walau bingung Aelius tetap memperkenalkan diri dan menunduk, memberikan salam.
[Yah, Paman kira kau tidak memiliki teman Viona, ternyata ada, hari sudah mulai sore, Ayah dan kakak-kakakmu akan segera sampai di rumah]
Liana mendongak, benar saja, langit mulai berubah warna.
"Baiklah Paman, Lius, aku pamit dulu ya? Sampai jumpa lagi" Liana tersenyum, kemudian menghilang dari sana bersama Leonel.
"Sampai jumpa juga, Viona" Aelius tersenyum tipis, dia mendongak, sudah waktunya dia untuk pulang juga.
"Bibi masak apa ya hari ini?" Aelius berjalan pulang ke rumah, selama perjalanan, senyum tipis tak pernah luntur dari wajahnya.
...
"Huaah! Saatnya mandi" Liana meregangkan tubuhnya, dia mengambil handuk dan juga gaun yang akan di pakainya.
Baru saja Liana membuka pintu, seseorang sudah berdiri di depan pintu itu.
"Selamat datang kembali, Nona" Liana mendongak, kemudian menghamburkan diri dalam pelukan.
"Huaaa Elena!! Darimana saja kau selama ini? Kupikir dia mengirimmu ke medan perang" Elena memiliki keringat dingin di dahinya, itu bahkan lebih buruk dari medan perang.
Elena mengelus rambut Liana lembut, "Saya baik-baik saja Nona, mari Saya bantu Anda untuk mandi"
Liana mendorong Elena sedikit menjauh, "Tidak perlu, Aku bisa mandi sendiri" dan kemudian Liana berlari kecil ke kamar mandi.
Elena terkekeh geli, Nona Mudanya tumbuh lebih dewasa hanya dalam kurang dari dua Minggu setelah dia tinggal.
Kyuu kyuu! [Elena kau kembali!]
Elena menoleh, dapat dia lihat seekor musang merah melompat kearahnya, dan di tangkap langsung oleh Elena.
"Ah, tidak Nona Liana, tidak kau sama saja" Elena menjeda ucapannya sejenak.
Elena menusuk-nusuk perut Felix yang sedikit membuncit.
Kyuu kyuu [Ya, bisa di bilang begitu]
Seakan paham dengan ucapan Felix, Elena tersenyum, kemudian dia meletakkan Felix tepat di pundaknya.
"Baguslah kalau seperti itu, sepertinya Nona Muda, tidak, Aku harus memanggilnya Tuan Putri sekarang, beliau pasti rindu masakan buatanku, bukankah begitu Felix?"
Elena mulai melangkahkan kakinya pergi menuju dapur, ngomong-ngomong ini masih di kastil utama, kastil yang tengah di bangun belum selesai, mungkin tiga Minggu lagi hingga kastil itu selesai dibangun.
Kyuu kyuu [Tentu saja, dia selalu mengeluh ingin memakan masakanmu]
Elena terkekeh, dan terus melanjutkan langkah kakinya ke dapur. Beberapa koki terlihat tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga Kaisar.
Kaisar dan para pangeran akan segera kembali, dan mereka semua bekerja dengan sibuk.
Mendengar pintu terbuka, hampir semua koki mengalihkan pandangannya, melihat seorang pelayan yang tak pernah mereka lihat.
"Apa kau pelayan baru di sini?" seorang koki wanita mendekati Elena, Elena menatap kearah koki wanita itu dan kemudian menggelengkan kepala.
"Tidak, saya pelayan pribadi Tuan Putri" Elena menurunkan Felix dan menyuruhnya untuk keluar terlebih dahulu.
Manik mata berwarna dark brown koki itu bersinar, dia menatap kearah koki lain yang terlihat menyimak percakapan dirinya dengan sang pelayan pribadi Tuan Putri.
"Apa yang kalian lakukan? Segera lanjutkan pekerjaan kalian! Kaisar akan segera pulang, apa kalian sanggup menanggung konsekuensi saat Kaisar tahu bahwa makan malam belum siap?!"
Semua koki kemudian kembali melakukan kegiatan memasaknya, koki wanita itu kembali mengalihkan pandangannya.
"Halo, namaku Reina, Siapa namamu? Apa yang akan kau lakukan di sini? Dan bisa ceritakan sedikit tentang Tuan Putri kepadaku?" mendapati pertanyaan beruntun, Elena kemudian tersenyum canggung.
"Salam kenal juga Reina, namaku Elena, aku berniat membuat makan malam untuk Tuan Putri, bukan tidak percaya dengan dapur kastil utama, tapi aku hanya ingin setelah pergi selama lebih dari seminggu"
Elena mulai melangkahkan kakinya, masuk ke dalam dapur lebih dalam.
"Senang berkenalan denganmu, begitu rupanya, kalau begitu apa makanan kesukaan Tuan Putri? Aku sangat penasaran" Reina mengekori Elena yang tengah bersiap memasak.
Elena menatap ke sekeliling dan mendapati arang di sana mulai habis, Elena kemudian mau tidak mau harus menggunakan sedikit mana yang tersimpan untuk membuat api.
Whuss!
Reina membelalakkan matanya, pelayan pribadi Tuan Putri adalah seorang pengendali elemen?! Dia bisa merasakan bahwa Elena adalah pengguna tubuh mana, dengan kata lain seorang kesatria.
"Ah benar, Tuan Putri biasanya tidak memilih-milih makanan yang ada, dia tidak suka makanan manis, dan dia paling suka dengan bola daging"
Elena mulai memasak, hanya butuh beberapa menit bagi elena untuk menyiapkan bahan-bahan dan membiarkan nyala api di tungku.
"Kupikir anak-anak seusia Tuan Putri menyukai makanan manis, tetapi Tuan Putri tidak menyukai hal itu, apa Tuan Putri ada alergi makanan? Misalnya dengan udang atau seafood?"
Elena melirik Reina sejenak, "Untungnya tidak ada, jadi Tuan Putri bebas untuk makan apapun, asal itu bersih, sehat dan juga bergizi" Elena kembali fokus pada masakannya.
"Kau tahu Elena, kau sangat beruntung karena bisa menjadi pelayan pribadi Tuan Putri, awalnya aku berniat mendaftar menjadi pelayan pribadi Tuan Putri, tapi aku tidak bisa" Reina memiliki senyum miris.
Elena hanya diam, dia mulai memasukkan beberapa penyedap dan juga garam ke dalam masakannya.
"Ngomong-ngomong, apa musang tadi adalah familiar Tuan Putri? Aku pernah mendengar desas-desus bahwa Tuan Putri memiliki familiar" Reina kembali bertanya.
"Ya, itu tadi adalah familiar Tuan Putri" Elena membenarkan pemikiran Reina, dia mulai mematikan api dengan berhenti menyalurkan mana.
"Wah, itu imut sekali, Tuan Putri memang berbakat" Reina tersenyum bangga, seolah-olah Liana adalah anaknya.
"Aku yakin kau akan lebih terkejut saat tau Tuan Putri adalah pengguna dua mana sekaligus pada saat bersamaan" Elena tersenyum, dia memindahkan masakannya dari wajan ke piring.
"Eh, bagaimana kau bisa membuat bola-bola daging ini dalam waktu singkat? Juga aku yakin tidak ada daging giling di dapur ini" Reina memandangi bola-bola daging di atas piring.
Dia yakin tadi Elena memasak jamur tumis dan bukan bola-bola daging.
"Ah, aku sudah menyiapkan bola-bola daging itu sebelumnya dan itu masih hangat" Reina mengangguk kaku mendengar penjelasan Elena.
Brak!
"Hei apa masakannya belum siap?! Kaisar sudah pulang dan baru saja selesai mandi!! Segera selesaikan jika belum selesai!! Jangan buat Kaisar menunggu!!" kepala pelayan mendobrak pintu dapur.
"Siap! Masakannya sudah selesai!" serempak seluruh koki menjawab.
"Bagus kalau seperti itu" kepala pelayan menutup pintu dapur dengan keras.
"Haih, dia selalu saja seperti itu saat bekerja, sudah hampir rusak pintu itu menjadi korban kekerasannya" Reina mengeluh.
"Dia bukan orang yang buruk" Elena mulai mengambil troli dan meletakkan makanannya di sana.
"Di mana makan malam untuk Kaisar? Biar Aku saja yang membawanya" Elena memandang seluruh koki di dapur.
Reina memandang takjub kearah Elena, beberapa pelayan yang baru magang atau tidak pernah melayani Kaisar akan merasa ketakutan, tapi Elena tidak, yang notabenenya hanya melayani Tuan Putri saja.
Tidak tahu saja kalau Elena adalah mantan Kesatria pribadi mendiang permaisuri.
Reina mengambil beberapa piring yang sudah siap dengan makanan di atasnya, dia meletakkannya di atas troli.
"Antarkan saja ke kamar Kaisar, selama seminggu lebih ini Kaisar selalu saja makan di kamarnya menemani Tuan Putri, benar-benar perlakuan yang manis" Reina tersenyum geli.
Elena hanya tersenyum, dia kemudian hanya mengangguk dan pergi menuju kamar Kaisar.
Kyuu kyuu kyuuang [Elena akhirnya kau selesai]
Felix mulai mengikuti langkah kaki Elena, Elena menunduk dan sedikit tersenyum menatap Felix.
Di sisi Liana, dia duduk di kursi depan meja makan yang sama selama lebih dari seminggu ini dengan wajah lelah.
"Bersabarlah sayang, Ayah yakin pelayan sudah dalam perjalanan kemari" Aaron mengusak rambut Liana hingga berantakan.
Liana hanya diam, dia sebenarnya sedikit lapar, namun dia lelah karena hal lain.
"Sungguh menyebalkan, bagaimana bisa ada serangga dengan empat pasang kaki berbulu di kamar mandi? Dan juga itu sangat besar" Liana melipat kedua tangan dan menenggelamkan wajahnya.
"Ada apa dengan anak ini?" Aaron memiliki wajah cemas.
Tok tok tok!
"Permisi Yang Mulia, makan malam sudah siap" Liana masih menenggelamkan wajahnya walau sudah tau siapa yang ada di balik pintu.
"Masuklah ke dalam" Aaron masih memandangi Liana yang tidak seperti biasanya.
Elena masuk kedalam dengan troli, pandangannya terfokus pada Liana yang menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan.
"Elena, letakkan saja itu di sana" Aaron memandang Elena sebentar dan kemudian kembali fokus ke Liana.
Felix yang berada di belakang Elena melompat ke meja dan berada di samping kepala Liana.
Kyuu kyuu kyuuang? [Liana ada apa? Apa kau baru saja bertemu dengan laba-laba atau bagaimana?]
Felix tahu betul dengan perangai Liana, Liana akan menjadi lebih lelah saat bertemu laba-laba.
Liana tiba-tiba mengangkat wajahnya dan mengambil tubuh Felix dengan tangannya dan mengguncangnya dengan keras.
"Huaa Felix!! Itu sangat besar!! Kenapa bisa itu ada di sana!!" Liana mengguncang tubuh Felix dengan keras, Felix mulai pusing dan mual.
"Tuan Putri, tolong jangan mengguncang Felix seperti itu, lihatlah yang wajahnya seperti mayat hidup" Elena mencoba membantu Felix keluar dari cengkeraman Liana.
Liana melepas Felix dan beralih berdiri dan memeluk Elena erat.
"Huaaa Elena!! Bagaimana bisa ada laba-laba sebesar itu?! Dan bahkan itu ada di kamar mandi!!" Elena mulai merasakan pakaiannya basah.
Liana menangis, Elena mengelus rambut Liana guna menenangkan Liana, Aaron yang mendengar Liana menjadi lebih histeris menghampiri Liana.
Dia mengambil tubuh Liana dan menggendongnya, menepuk-nepuk punggung Liana.
Dan chapter ini di tutup dengan Liana yang histeris akibat traumanya akan laba-laba.